Adam berlari menyusuri koridor sekolah dengan kencang. Dia tidak peduli dengan semua teriakan orang yang di tabraknya. Menurutnya, jika dia menabrak orang maka tidak akan terjadi apa-apa. Dan itu benar!
Adam memegang tangan Anisa. "Lepassin.... A-Adam? H-hai." Ucap Anisa ketika menghempiskan tangan Adam.
Adam berhenti di depan Anisa dan menariknya pergi ke suatu tempat yaitu art room.
"Kenapa kita kesini?" Tanya Anisa.
"Gue cuma mau bilang kalau Damian akan bantuin kita. Lo mau ikut penelusuran di sekolah ini sebentar malam?" Jawab Adam sambil balik bertanya.
"A-apa? L-lo serius? Nggak bercandakan?" Tanya Anisa tidak percaya.
"Gue serius."
"Gimana ya... gue mikir-mikir dulu deh. Mungkin sore baru bisa ngabarin lo." Ucap Anisa lalu di jawab oleh anggukan Adam dan mereka memutuskan untuk masuk kelas.
Tak beberapa lama saat pelajaran berlangsung, tiba-tiba bu Lauren (Guru BP) datang. "Adam! Anisa! Ikut saya!" Ucap bu Lauren dengan suara tegas.
Anisa melirik Adam yang sudah berdiri dan meninggalkannya. Dia langsung mengikuti Adam di belakangnya. Perasaannya sudah sangat tidak enak. Entah apa yang membuat perasaannya menjadi seperti ini.
Tak beberapa lama, akhirnya mereka sampai di ruangan kepala sekolah. Bu Lauren membuka pintu kepala sekolah dan didalamnya ada banyak orang termasuk orang tua Adam dan Anisa. Ada polisi juga didalam ruangan itu. Adam yang gerogi bercampur dengan perasaannya yang tidak enak langsung mengacak rambutnya sedangkan Anisa menunduk menahan air mata yang akan keluar nantinya.
"Silahkan duduk Adam dan Anisa." Ucap pak Tengku (Kepala Sekolah).
Adam dan Anisa mengangguk bersamaan dan duduk bersampingan, tak lama kemudian Damian datang dan duduk disebelah kiri Adam.
"Okay... selamat pagi semuanya, saya sebagai kepala sekolah disini akan mengklarifikasi soal pembunuhan Taylor yang dilakukan oleh saudara Adam dan saudari Anisa." Ucap pak Tengku yang membuat Adam, Damian dan Anisa kaget.
Adam berdiri. "Pak! Saya tidak membunuh Taylor!" Ucap Adam dengan suara keras karena tidak menerima pernyataan yang dilontarkan oleh pak Tengku.
"Apa buktinya bodoh?!" Tanya Steven (Kakak Taylor) dengan nada kasar.
Adam menatapnya tajam lalu duduk. Adam mengacak rambutnya sedangkan Anisa mulai terisak.
"Lo jangan nangis, Nisa." Ucap Adam dengan suara kecil yang di jawab dengan anggukan pelan Anisa.
"Okay.. Adam sudah ada banyak saksi yang melihat kamu menabrak Taylor sampai dia terjatuh dan berdarah." Ucap pak Tengku yang lagi-lagi membuat emosi Adam timbul.
Adam menggebrak meja dengan keras dan membuat semua orang di ruangan kaget. "SAYA TIDAK PERNAH MEMBUNUH TAYLOR! UNTUK APA SAYA MEMBUNUH DIA? DIA ADALAH SAHABAT SAYA! JADI SAYA TIDAK MUNGKIN MEMBUNUH DIA!" Ucap Adam membela diri dengan suara yang sangat keras.
"Mohon untuk tenang Adam." Ucap pak Tengku dan mengisyaratkan Adam untuk duduk tapi Adam tidak mengubrisnya.
"Menurut semua saksi, anda menabrak Taylor dan ketika itulah dia berdarah." Ucap salah satu orang dari pihak polisi.
Adam lagi-lagi menggebrak meja. "APA KALIAN PUNYA BUKTI YANG KUAT? APA KALIAN PUNYA?!! KALAU KALIAN PUNYA TANGKAP SAJA SAYA DAN ANISA! KALIAN SEMUA MENUDUH ORANG YANG TIDAK BERSALAH DAN TIDAK TAHU APA-APA! Biar saya jelaskan! Saya waktu itu keluar dari art room...."
"Sudah tangkap saja dia pak! Kenapa masih menunggu penjelasan dia? Tidak ada gunanya!" Ucap William sekaligus memotong pembelaan dari Adam.
Adam tertawa lalu menggebrak meja lagi. "Anda bahkan tidak mau mendengar pembelaan saya! Kalau disini ada orang yang bisa melihat kebohongan dan kejujuran maka saya rasa anda telah berbohong! Anda telah menuduh orang! Lihat bahkan mama saya tidak bisa berbuat apa-apa disana. Saya tahu kalian mempengaruhi mereka! Kalian mempengaruhi mama saya! Sungguh kalian itu sungguh biadab!" Ucap Adam dengan nada kasar dan keras dengan wajah yang merah padam karena marah.
William menggebrak meja. Semuanya menjadi berantakan. Keributan telah terjadi disini. "Dasar anak kurang ajar!" Ketus William yang menghampiri tempat duduk Adam dan ingin meninjunya tapi dengan cepat Damian menangkap tangan William.
"Jangan pernah menyakiti anak di bawah umur!" Ucap Damian lalu William menghempiskan tangannya dan sedikit mengenai kepala Anisa sampai dia sedikit meringis kesakitan.
"Apa urusan mu? Kamu jangan ikut campur. Kau bukan siapa-siapanya Adam, jadi diam!" Ucap William.
"Pak William! Mohon tenang." Ucap pak Tengku dan dibantu oleh beberapa polisi.
"Saya? Anda bertanya siapa saya? Saya adalah... saya adalah ayahnya Adam!" Ucap Damian dengan gagahnya yang mengaku sebagai ayahnya Adam.
Adam dan Ashlyn tersontak kaget mendengar pengakuan dari Damian. Mereka tahu kalau Damian berbicara seperti itu hanya untuk melindungi Adam.
"Adam, Anisa.. saya ingin biacara sama kalian." Ucap Damian.
"Hey! Kenapa kalian harus berbicara 6 mata? Bicara disini agar kami semua tahu!" Ujar Steven.
Damian tersenyum sinis. "Kalian tidak percaya dengan semua penjelasan Adam dan Anisa, maka penjelasan saya pun tidak ada gunanya." Ucap Damian tegas lalu menarik tangan Adam dan Anisa bersamaan.
***
Adam mendengus kesal ketika semua penjelasannya tidak didengar tadi, bahkan Ashlyn tidak berbuat apa-apa, seperti pembelaan untuk Adam. Begitu takutkah dia?
Adam mengacak rambutnya. Dia mengambil handphonenya dan SMS Damian untuk penelusuran sebentar malam dan meminta izin untuk menginap di apatermennya. Setelah mendapat balasan SMS yang bagus dari Damian, Adam lalu merapikan bajunya dengan senyum gembiranya
***
Anisa menghempaskan dirinya ke tempat tidur queen sizenya. Menatap langit-langit rumah lalu menutup mukanya dengan tangannya. Dia merenungkan atas semua penuduhan yang diberikan oleh orang tua Taylor tanpa mau mendengarkan penjelasannya dengan Adam.
Rasa sakit? Tentu saja itu yang Anisa rasakan. Menangis adalah salah satu cara untuk meluapkan semua emosi. Menangis adalah salah satu cara untuk menenangkan diri.
Truuutt... truuutt.. truuttt.. handphone Anisa berbunyi tanda ada panggilan masuk. Dia menghapus air matanya dan minum air agar suara seperti isakannya tidak terdengar. Dia melihat layar handphonenya. Adam.
"Halo?"
"Halo Nisa.. lo dimana?"
"Di rumah."
Anisa mendengar Adam menghela nafasnya. "Gue nelpon lo karena gue nanya tentang... tentang tadi yang gue bilang di sekolah."
Anisa terdiam. Dia ingin ikut dengan Adam karena bila dengannya dia merasa aman.
Dia menghela nafasnya. "I-iya gue ikut."
"Okay... gue tunggu lo. Gue udah ada di pos satpam sama om Damian. Oh ya, gue juga bakalan nginap di apatermennya om Damian." Ucap Adam dengan suara semangatnya.
"A-apa? K-kenapa kamu nginap di apatermennya om Damian?" Tanya Anisa.
Terdengar dari telpon kalau Adam sedang tertawa kecil. "Aku bosan dirumah. Tidak yang bagus untuk diajak bicara di rumah, jadi aku memutuskan untuk pergi." Jawab Adam.
Anisa lalu terdiam. Dia mau pergi juga. Menurutnya, untuk apa berada di rumah jika semua orang di rumahnya tidak percaya dengannya. Okay, Anisa memutuskan untuk ikut dengan Adam.
"A-Adam?"
"Iya?"
"Aku ikut kamu. Tunggu aku disana."
"Okay."
Lalu teleponpun berakhir. Anisa dengan segera dan secepat mungkin merapikan baju-bajunya dan pergi meninggalkan rumah. Dia tidak peduli dengan semua yang akan terjadi.
Tak beberapa lama kemudian, Anisa sudah dekat dengan pos satpam dan melihat Adam yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan Damian. Entah apa yang mereka bicarakan. Ketika mereka melihat Anisa datang, dengan cepat Adam berlari ke arahnya dan membantunya mengangkat tasnya ke mobil.
"Lo nggak apa-apa?" Tanya Adam ketika sudah ada di mobil yang dijawab oleh anggukan Anisa.
"Serius?" Tanya Adam lagi dan Anisa hanya mengangguk pelan.
"Okay.. jadi kita pergi ke apatermenku, setelah itu saya akan berikan kalian tugas." Ucap Damian.
"Semuanya akan baik-baik saja."
********