Damian menggebrak meja. Dia tidak mengerti dengan semua yang dilakukan oleh Adam. Menghancurkan semua rencana yang di buat dan mengacaukan keadaan. Bella terbaring lemah dengan darah yang masih banyak keluar. Darahnya belum bisa di hentikan. Sudah dengan semua cara dilakukan untuk menghentikan pendarahan Bella.
"Bawa di kerumah sakit." Ucap Damian dengan nada khas orang yang sedang menahan amarahnya.
"Kak Ali mana?" Damian langsung menatap Anisa dan menggeleng pelan. Anisa menutup mulut dengan tangannya, tidak percaya dengan semua yang terjadi malam ini.
***
00:00
Sudah larut. Bahkan hari sudah berganti. Semuanya diam. Sunyi. Tidak ada yang membuka pembicaraan, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Anisa terlihat sedang tidur pulas begitupun dengan yang lain kecuali Adam, Damian dan beberapa orang lain. Mereka tidak bisa tidur, berpikur dengan keras rencana yang bagus agar kasus ini cepat terselesaikan. Tidak ada interaksi dari makhluk astral. Tidak ada yang tau apakah semua makhluk astral itu diam sejenak lalu menyerang tiba-tiba atau menunggu gerakan dari Adam dan yang lain?
"Bodoh bodoh bodoh bodoh." Itulah penyesalan Damian ketika rencanya gagal. Menyalahkan diri sendiri adalah cara yang ampuh untu menghilangkan semua beban dalam dirinya dan memikirkan apa yang dia sesalkan sekarang. Dia tau kalau semua makhluk astral behenti sejenak dan secara tiba-tiba nanti akan menyerang. Pikirannya kembali beralih ke Ali, dia hilang. Tidak ada yang tau keberedaannya dan bagaimana keadaanya dia sekarang. Sedangkan Bella, belum ada kabar dari Aulia tentang keadaan Aulia sekarang. Damian mengacak rambutnya. Frustasi.
Adam. Dia sedang menutup mukanya dengan telapak tangannya. Kepalanya terasa sangat pusing. Menutup mata sejenak lalu membukanya lagi agar ngantuknya hilang tapi tetap saja tidak bisa. Adam berdiri lalu hendak pergi keluar tapi dengan cepat Damian memegang tangan Adam dan menggeleng pelan.
"Tetaplah duduk. Kalau kau mengantuk, tidur saja. Jangan membuat masalah lagi." Ucap Damian yang di jawab oleh anggukan dari Adam.
***
Semakin larut malam, semakin banyak interaksi yang diberikan oleh para makhluk astral di sekolah ini, tentu saja setan nenek yang bernama Aminah juga berinteraksi dengan mereka semua. Adam sedang tertidur lelap sedangkan Aulia, Damian dan beberapa teman yang lain yang dari rumah sakit dan sudah berkumpul disini bersama-sama berpikir dengan rencana yang akan mereka lakukan nanti. Suara erangan seperti suara hewan sudah terdengar diluar dan berhasil membuat bulu kuduk mereka berdiri. Bunyi suara benda terjatuh juga terdengar dari luar bahkan yang lebih keras bunyinya adalah suara nenek tertawa yang diyakini Damian sebagai suara ketawanya nenek Aminah.
Damian berpikir keras untu menghentikan semua ini. Bagaimana caranya? Bagaimana cara menghentikan semua ini?
"Kita harus melakukan sesuatu." Ucapnya sambil berdiri.
Semuanya mendongakkan kepala sambil mengernyitkan dahinya. Menunggu Damian melanjutkan ucapannya lagi.
"Kita harus melakukan sesuatu untuk menghentikan semua ini. Dengan-Cara-Apa-Pun." Dia menekan kalimat terakhirnya yang membuatnya terlihat serius dengan semua ini. Terlihat aneh? Tentu tidak. Hal ini yang temen-temen Damian tunggu dari tadi.
"Semuanya ikut. Tidak ada yang tinggal sendiri." Ucapnya lagi.
Aulia berdiri. Damian yang melihatnya langsung mengangkat satu alisnya. "Sebelum lo lakuin itu, gue mau nanya."
"Silahkan."
Aulia menarik nafasnya dalam-dalam. "Kalau semua rencana yang lo buat itu gak berhasil 100 persen, apa lo akan tetap lanjutin, walaupun semua orang disini mati?"
Damian langsung terdiam. Mati. Mati adalah kata keramat untuk dia. Walaupun, telah banyak orang yang bersama dia mati didalam penelusurannya.
"Kenapa lo diam? Apa yang lo pikirin? Denger... lo liat Ali tadi ditarik kan? Dan lo gak bisa nyelametin dia. Mau berapa orang lagi yang akan mati dari semua penelusuran yang lo lakuin?"
Damian tetap diam. Tidak bergeming sama sekali. Samar-samar matanya berkaca-kaca. Mengingat semua yang lalu yang menyebabkan semua orang yang tidak bersalah apa-apa mati.
Aulia menghampiri Damian. Dia memegang pundak Damian lalu menghapus air matanya. "Denger... gue tau lo itu hebat, Dam. Tapi lo juga harus pikir nyawa semua orang disini. Lo juga harus pikir semua nyawa orang yang dengan suka rela ikut dalam semua penelusurannya lo. Gue tau kalau lo ingat semuanya, Dam. Gue cuma mau bilang sama lo, lo harus buat rencana itu dengan baik. Biar semuanya berjalan dengan lancar."
Kali ini Damian memgangguk. Semua yang dikatakan Aulia memang benar. Dia harus membuat rencana yang baik dan tidak sembarang agar semuanya berjalan dengan lancar. Dia tidak mau lagi ada korban yang jatuh dalam penelusurannya kali ini. Cukup Ali saja korban yang terakhir dalam penelusurannya ini.
***
DAMIAN POV'S
Semua kata-kata yang diberikan Aulia benar. Sudah banyak korban yang berjatuhan ketika ikut dalam penelusuran denganku. Sungguh.... aku merasa kalau aku pembunuh sekarang.
Rencana yang gila selalu kulakukan. Selama setengah jam aku berdiam diri. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan penelusuran ini.
Aku berdiri dari tempat duduk. "Keputusanku sudah bulat. Kita semua akan menghentikan ini. Kita semua akan mengakhiri semuanya. Dengan kerja sama yang bagus kita bisa menang." Aulia tersenyum mendengar pernyataan dariku. Aku tau kalau dia sekarang setuju. Dia mengangguk dan diikuti oleh semua anggukan.
Adam dan Anisa bangun. Mereka mengerjapkan matanya beberapa kali. Aku tersenyum melihat mereka berdua. Mereka membalas senyumanku.
"Kalian siap?" Tanyaku sambil terus tersenyum. Mereka mengangguk mantap, membuatku tambah yakin dengan pekerjaan ini.
Kami semua berjalan menelusuri koridor sekolah ini yang terang karena lampu. Aku bisa melihat raut wajah takut dari Anisa. Aku menghela nafas. Sebenarnya di sepanjang koridor, sudah dipenuhi oleh banyak makhluk astral. Aku yakin Adam juga merasakannya.
Aku berhenti ketika aku merasakan ada satu tarikan energi besar dar makhluk astral yang membuatku penasaran untuk pergi ke energi itu tempati.
Aku mendongakkan kepalaku dan menyipitkan mataku ketika melihat ada sesuatu yang tersenyumbunyi di atas pohon ini. Ya... tarikan energi besar itu ada di pohon. Pohon yag besar dan rindang ini.
"Om.. aku bisa melihatnya diatas." Bisik Adam. Aku mengangguk. Aku memang sudah melihatnya. Aku tersenyum melihatnya. Melihat kalau Aminah itu sudah kutemukan.
Aminah tersenyum di atas pohon itu. Matanya yang merah terang membuat semua orang menjadi ketakutan ketika melihatnya. Ya.. sekarang semua orang bisa melihatnya bahkan banyak yang langsung mundur, begitupun Aulia.
Aku melihat Anisa yang mundur tapi dengan sigap aku memegang tangannya agar tidak kemana-mana. Karena aku tau korban selanjutnya adalah Anisa atau Adam yang daridulu di demdamnya.
Aku menutup mataku. Aku menyuruh semuanya untuk menutup mata. Aku berdoa. Aku membacakan semua doa pengusir hantu yang aku pelajari dari omku dulu yang juga seorang paranormal yang religius.
Aku tetap memegang tangannya Anisa berharap dia tidak pergi kemana-kemana dalam artian tetap di tempat dan tidak membuat sesuatu terjadi yang bisa merenggut nyawanya.
Suara teriakan histeris bahkan kesakitan terdengar di penjuru sekolah ini, bahkan bel sekolah pun berbunyi dengan sangat kencang dan memekakkan telinga. Angin berhembus dengan kencangnya. Aku terus membaca di dala hati. Aku bisa melihat kegelisahan dari Anisa. Dia takut. Aku tau itu.
Suara benda di lempar juga terdengar bahkan benda itu tepat melayang ke pohon itu dan mengenai tangan Anisa. Dia langsung berteriak histeris karena kesakitan. Aku langsung membuka mata dan pada saat yang sama Aminah yang dari tadi berteriak kesakitan langsung meloncat ke arah Anisa dan menyeretnya kencang.
Keadaan menjadi kacau. Adam dan yang berlari untuk mengejar Aminah yang membawa Anisa itu. Sedangkan aku, aku masih disini. Fokus ke pohon ini. Biarkan mereka mengejar Anisa. Aku yakin Adam bisa mengatasi hal seperti itu. Aku percaya dengannya.
Aku menutup mataku lagi. Kali ini angin sangat kencang tapi aneh, tidak ada ranting pohon yang jatuh karena angin ini. Ada sesuatu yang tersembunyi dari pohon ini sesudah ruang bawah tanah di ruang kepala sekolah.
Aku maju. Mendekat ke pohon itu. Aku memegang batang pohon itu lalu menutup mataku untuk melihat apa yang terjadi disini.
Aku berada di tempat yang aku tidak tau dimana tapi aku meyakini kalau tempat ini adalah tempat sekolah ini sebelum di bangun.
Semua orang yang berlalu lalang disini terlihat biasa saja bahkan diantara semua orang disini terlihat mukanya yang ceria. Pada saat itu, aku mengernyitkan mataku ketika menangkap seseorang yang aku yakini adalah tentara Belanda. Wajahnya begitu mencurigakan. Aku tidak tau dia melihatku atau tidak. Yang pasti aku tau ketika matanya bertemu dnegan mataku, dia langsung pergi.
Aku penasaran. Aku mengikutinya. Sampai aku melihatnya dengan beberapa pasukan tentara yang lain yang memegang senjata dan di arahkan kepadaku. Dia berbicara tapi aku tidak tau apa yang mereka katakan. Tak lama kemudian mereka langsung menembak. Aku kaget karena semua peluru yang mengenaiku tembus. Aku menoleh ke belakang dan pada saat itu semua orang histeris dan berlari kesana kemari untuk menyelamatkan diri. Ternyata mereka yang membunuh banyak orang disini. Aku menyaksikan semua.
"Saya tau kau datang kemari karena kau ingin tau semuanya." Aku kaget ketika tentara yang aku lihat tadi sudah berada di sampingku. "Saya... ini semua bukan salah saya. Sebenarnya saya tidak mau semua ini terjadi. Tapi karena perintah dari dia..." dia menunjukkan seseorang yang aku yakini sebagai provokator penembakan ini. "Dia yang menyebabkan semua ini terjadi. Saya hanyalah prajurit yang menjalankan perintah ketika disuruh oleh kapten atau atasan saya." Dia menunduk. Aku merasakan sakit yang dia rasakan.
"Jadi.. apa yang terjadi? Kenapa orang yang tidak berdosa ditembak? Apa salah mereka?" Tanyaku.
Dia menghela nafasnya. "Lihat...." dia menunjuk ke suatu arah. Aku menoleh kearah yang dia tunjukkan. "Itu adalah kapten saya, dia adalah orang kedua yang paling kejam di sini." Mereka terus keluarkan tembakannya kesembarang arah dan mengenai hampir semua orang pribumi. Sampai akhirnya suara tembakan itu hilang ketika sebuah bom jatuh tepat di tempat ini dan menyebabkan semuanya mati.
Aku tidak bisa lagi berbicara dengan yang aku lihat. Semuanya begitu jelas. Semua orang mati. Semua orang pribumi yang tidak berdosa itu mati.
"K-kau... kau siapa?" Aku bertanya sedangkan dia hanya menunduk.
"A-aku...."
*********