20

1763 Kata
Previous Keadaan menjadi kacau. Adam dan yang berlari untuk mengejar Aminah yang membawa Anisa itu. Sedangkan aku, aku masih disini. Fokus ke pohon ini. Biarkan mereka mengejar Anisa. Aku yakin Adam bisa mengatasi hal seperti itu. Aku percaya dengannya. Aku menutup mataku lagi. Kali ini angin sangat kencang tapi aneh, tidak ada ranting pohon yang jatuh karena angin ini. Ada sesuatu yang tersembunyi dari pohon ini sesudah ruang bawah tanah di ruang kepala sekolah. Aku maju. Mendekat ke pohon itu. Aku memegang batang pohon itu lalu menutup mataku untuk melihat apa yang terjadi disini. Aku berada di tempat yang aku tidak tau dimana, tapi aku meyakini kalau tempat ini adalah tempat sekolah ini sebelum di bangun. Semua orang yang berlalu lalang disini terlihat biasa saja bahkan diantara semua orang disini terlihat mukanya yang ceria. Pada saat itu, aku menyipitkan mataku ketika menangkap seseorang yang aku yakini adalah tentara Belanda. Wajahnya begitu mencurigakan. Aku tidak tau dia melihatku atau tidak. Yang pasti aku tau ketika matanya bertemu dnegan mataku, dia langsung pergi. Aku penasaran. Aku mengikutinya. Sampai aku melihatnya dengan beberapa pasukan tentara yang lain yang memegang senjata dan di arahkan kepadaku. Dia berbicara tapi aku tidak tau apa yang mereka katakan. Tak lama kemudian mereka langsung menembak. Aku kaget karena semua peluru yang mengenaiku tembus. Aku menoleh ke belakang dan pada saat itu semua orang histeris dan berlari kesana kemari untuk menyelamatkan diri. Ternyata mereka yang membunuh banyak orang disini. Aku menyaksikan semua. "Saya tau kau datang kemari karena kau ingin tau semuanya." Aku kaget ketika tentara yang aku lihat tadi sudah berada di sampingku. "Saya... ini semua bukan salah saya. Sebenarnya saya tidak mau semua ini terjadi. Tapi karena perintah dari dia..." dia menunjukkan seseorang yang aku yakini sebagai provokator penembakan ini. "Dia yang menyebabkan semua ini terjadi. Saya hanyalah prajurit yang menjalankan perintah ketika disuruh oleh kapten atau atasan saya." Dia menunduk. Aku merasakan sakit yang dia rasakan. "Jadi.. apa yang terjadi? Kenapa orang yang tidak berdosa ditembak? Apa salah mereka?" Tanyaku. Dia menghela nafasnya. "Lihat...." dia menunjuk ke suatu arah. Aku menoleh kearah yang dia tunjukkan. "Itu adalah kapten saya, dia adalah orang kedua yang paling kejam di sini." Mereka terus keluarkan tembakannya kesembarang arah dan mengenai hampir semua orang pribumi. Sampai akhirnya suara tembakan itu hilang ketika sebuah bom jatuh tepat di tempat ini dan menyebabkan semuanya mati. Aku tidak bisa lagi berbicara dengan yang aku lihat. Semuanya begitu jelas. Semua orang mati. Semua orang pribumi yang tidak berdosa itu mati. "K-kau... kau siapa?" Aku bertanya sedangkan dia hanya menunduk. "A-aku...." **** Semuanya langsung terhenti. Semua melihat ke arahku. Para tentara itu terlihat menyesal dengan semua yang mereka lakukan, sedangkan para pribumi itu terlihat sangat tersiksa dengan semua wajah ketakutan dan kepanikan mereka. Lalu teriaklah seorang nenek-nenek yang tersiksa. Darah mengalir deras dari tubuhnya yang tertusuk. Wajahnya sudah hancur. "Dia... orang yang kau cari." Ucap tentara itu yang menunjuk kearahnya. Aku mengerutkan dahiku. "A-aminah." Aku langsung melepaskan telapak tanganku yang menyentuh pohon itu. Sekarang aku tau apa yang terjadi sebenarnya di pohon ini. Makhluk yang menghantui Adam bukanlah Aminah, melainkan makhluk lain yang menunjukkan dirinya agar aku dan yang lain ke tempat ini. Tempat dimana Aminah terbunuh lalu di kubur. Tepat di pohon yang besar ini. *** Author's POV "Anisa... pegang tangan gue." Adam mengulurkan tangannya kepada Anisa yang sedang berusaha agar tidak jatuh. Ya... Anisa memegang tali yang hampir terputus itu. Mereka sedang berada di rooftop sekolah mereka. Suara tertawa itu, memekikkan telinga mereka. Aulia dan yang lain juga berusaha menggapai tubuh Anisa agar tidak jatuh. Tangan Anisa sudah mengeluarkan darah. Pelipisnya juga mengeluarkan darah karena beberapa kali terbentur, bahkan ada sesuatu yang menusuk perutnya, sehingga darah itu makin banyak keluar. "Bertahanlah Nis." Ucap Aulia. "Yang lain... tahan tali ini. Jangan sampai terputus." Lanjutnya. Damian berlari sekencang-kencangnya. Dia mendengar suara teriakan Anisa dari atas rooftop, suaranya sangat besar. Banyak makhluk astral yang menghalangi larinya Damian, bahkan dia beberapa kali terjatuh, terseret, dan melemparkannya dengan benda seperti pecahan kaca yang entah darimana asalnya, dan lain-lain. Damian berlari menaiki tangga yang cukup panjang. Dia sempat beberapa kali terjatuh karena merasa kecapekan tapi bukan itu yang sekarang menguasai dirinya. Dia takut terjadi apa-apa di atas sana. Dia takut sesuatu yang paling dia takutkan terjadi lagi. Kematian. Makhluk astral yang menurut Damian sangat nakal juga menggangunya sampai dia harus menghentikan langkahnya untuk membunuhnya. "Kalian adalah makhluk yang bodoh!" Ucapnya lalu menutup mata dan membacakan sesuatu. "KEMBALILAH KALIAN KE NEREKA!" Makhluk itu langsung terbakar dan menghilang. Damian menghela nafas. Damian mendongak kepalanya. Dia sudah di lantai 3 berarti tinggal satu lantai lagi yang harus dia naiki. Dia terus berdoa sampai akhirnya dia sampai di lantai rooftop. Dia mengambil nafas dalam-dalam lalu mendobrak pintu menuju rooftop. Terlihatlah disitu, Adam yang berusaha menggapai tangan Anisa bersama Aulia, sedangkan yang lain berusaha untuk memegang tali itu yang sudah hampir putus bahkan tinggal sedikit lagi tali itu akan putus. "Damian." Ucap Aulia yang dijawab dengan anggukan Damian. Damian menatap makhluk astral itu yang sama sekali bukan Aminah. Dia telah mengirimkan Aminah ketempat yang lebih pantas. "Aku tau kau bukan aminah." Makhluk itu langsung menatap Damian tajam. Raut wajahnya seketika itu menjadi marah. Makhluk itu berteriak sangat kencang sampai kaca di sekitarnya pecah. Sungguh kuat makhluk ini. "Aku tau kau masih dendam dengan mereka. Aku tau itu." Makhluk itu berteriak lagi bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Anisa histeris dan pegangannya sudah tidak kuat lagi. "Dam.. g-gue udah gak kuat." Ucapnya dengan air mata yang keluar dengan derasnya. "Gak.. lo harus bertahan Nis. Demi gue dan yang lain. Gue mohon." Adam menghapus air matanya kasar dengan satu tangannya. "Bertahanlah Anisa." Ucap Damian dengan suara yang agak besar. Damian menutup mata dan dia menyuruh Adam untuk menutup mata juga. Mereka berdua menutup mata. Bibir Damian sudah tampak membacakan sesuatu, begitupun dengan Adam. Suara teriakan histeris, suara orang yang berlarian, suara lemparan bahkan terdengar semua dengan jelas. Anisa terus berusaha untuk tidak melepaskan pegangannya yang sudah tidak kuat itu karena banyaknya luka yang di dapatnya. Makhluk itu berteriak kesakitan. Dia menyuruh Adam dan Damian berhenti membacakan sesuatu yang membuatnya tidak bisa apa-apa. Angin berhembus dengan kencangnya. "Kembalilah kau ke neraka. Kembalilah kalian ke neraka." Damian terus mengucapkan itu. "Kembalilah kalian semua ke neraka. Berbahagialah kalian di nereka. Jauhi kami. Hentikan semua ini, kumohon." Adam juga terus mengucapkan itu. Angin semakin kencang. Damian dan Adam terus bekerja sama, kali inu Aulia dan yang lain juga membantunya. Teriakan kesakitan dari makhluk itu semakin keras. Dan pada akhirnya makhluk itu benar-benar terbakar dan langsung menjadi abu, bersamaan dengan jatuhnya Anisa yang sudah tidak kuat lagi memegang tali itu. Adam yang sadar langsung terlihat shock. Semuanya juga terlihat seperti itu, kecuali Damian. Dia senang ketika makhluk itu telah terbakar dan mati tapi semua yang dia lakukan menjatuhkan korban lagi. Rasa menyesal kembali menyelimuti dirinya. Adam langsung berlari turun. Sesekali dia mengusap air matanya dengan kasar. Dia merasa menyesal tidak bisa menjaga Anisa dengan sepenuhnya. Dia menyesal tentang hal itu. Sangat menyesal. Anisa sudah tergeletak lemas di sebuah rerumputan yang sedikit berbatu, lebih tepatnya di taman. Dia masih hidup. Dia masih bertahan untuk hidup walaupun dia terjatuh dari lantai 4. "Anisa..." Adam langsung mengangkat kepala Anisa. Dia menangis. Bahkan air matanya keluar lebih deras dari sebelumnya. Anisa tersenyum lalu menghapus air matanya Adam. "A-adam.. l-lo g-gak boleh na-nangis." Adam menggeleng. Anisa tersenyum dan menghapus air matanya Adam lagi. "Lo s-sahabat gue ya-yang paling be-berani. Gu-gue... sa-sayang.. sa-sama lo." Tangan Anisa langsung terjatuh dari pipi Adam. Dia tau kalau Anisanya sudah tidak ada lagi. Sahabatnya sudah tidak ada lagi. Cewek yang paling dia sayang walaupun sering bertengkar sudah tidak ada lagi. Adam memeluknya erat. "Jangan tinggalin gue Nis.." Ucapnya, tidak peduli dengan darah yang mengalir keluar dari kepala Anisa. Aulia yang menyaksikan itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Rasa menyesal juga menyelimuti dirinya. Dia berpikir kalau seharusnya dia mencoba untuk lebih nekat agar bisa menggapai tangannya Anisa agar dia selamat, tidak peduli dengan dirinya yang dengan siap menggantikan posisi Anisa sekarang ini. Damian kini berdiri disamping Adam. Dia memegang pundak Adam. Rasa menyesal memang membuatnya hampir putus asa. "Maaf." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Damian. Adam berdiri. "Om... tolong balikin Anisa lagi. Aku mohon om. Biar aku aja yang gantiin Anisa. Aku mohon." Mohon Adam. Damian tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kata-kata yang dia mau keluarkan seperti menyangkut di tenggorokannya. "Aku mohon.... om Damian.... balikin Anisa kembali kesini. Aku mohon." Adam terduduk lemas. Dia mengacak rambutnya frustasi. Menyesal dengan semuanya. *** Pagi yang menyedihkan untuk keluarga Anisa dan murid Indonesia International School. Seorang anak, kakak, adik, sepupu, teman dan sahabat telah pergi untuk selama-lamanya menghadap Sang Pencipta. Tangisan dari keluarga dan teman-teman menggiringi pemakaman yang khitmat ini. Sedih sudah pasti dirasakan semua orang yang hadir di pemakaman ini seperti seorang cowok berambut pendek berwarna hitam dengan jas hitamnya yang hanya memandangi sahabatnya itu di kubur di bawah tanah yang gelap disana. Dia adalah Adam. Air matanya sudah tidak lagi keluar. Tapi hanya hatinya yang sakit ketika melihat temannya itu sudah tertimbun oleh tanah. Damian. Dia juga datang dalam pemakaman ini. Keluarga Anisa tidak menyalahkan Damian karena mereka tau kalau ini semua pasti akan terjadi. Mereka sudah mengkhilaskan anak gadisnya itu pergi untuk selama-lamanya. Para pelayat mulai meninggalkan tempat dimana mereka juga akan berada di rumah terkahir mereka. Tak terkecuali Adam. Dia berdiri tegap di samping pusara Anisa. Dia menatap batu nisan itu. Tidak ada kata-kata yang bisa dia keluarkan dari mulutnya. Air matanya dengan bebas jatuh tanpa disuruh. Dia berjongkok. Menatap terus nisan itu sambil menangis. "Ma-maafin gue Nisa... maafin gue karena gak bisa ngejagain lo. Maafin gue karena selalu bikin lo nangis. Maafin gue karena selalu nyalahin lo dengan semua jawaban yang lo kasih ke murid lain salah. Maafin gue Nisa.. gue mohon." Adam tau dengan semua kalimat yang dia keluarkan tidak akan terjawab oleh Anisa. Damian yang dari jauh melihat Adam, berjalan menujunya. Berusaha menghibur dia. Berusaha untuk tenang. Damian memegang bahu Adam. Dia mendongakkan kepalanya melihat orang yang memegang bahunya. Adam tersenyum melihat Damian, walaupun Damian tau kalau senyuman itu adalah senyuman paksa. "Ikhlasin dia Dam. Kamu cowok yang kuat. Aku juga sama sepertimu ketika seorang yang aku sayangin ninggalin aku untuk selama-lamanya." Damian menghela nafas. "Anisa sudah tenang disana, Dam. Kamu bisa rasain hal itu." Adam mengangguk pelan. Damian mengulurkan tangannya. "Ayo kita pulang." Adam berdiri, membalas uluran tangan Damian. Adam menatap nisan itu, pada saat itu juga angin berhembus pelan. Adam tersenyum. "Gue tau itu lo Nisa. Gue tau lo tersenyum sekarang. Selamat jalan." Adam tersenyum lalu berjalan di samping Damian yang merangkul Adam pergi dari tempat pemakaman. ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN