Sudah 3 hari Adam menjalankan tugasnya sebagai seorang pelajar, ya... pergi ke sekolah dan 3 hari juga Gery memaksanya untuk pergi ke Universitas kakaknya itu.
Adam akhirnya menganggukkan kepala ketika dia mendengar cerita Gery tentang salah satu mahasiswa di sana yang kerasukan dengan sangat parah dan memotong tangannya menggunakan pisau daging milik kantin.
"Gue cuma bisa ngelihat tapi kalau buat ngebantu lo, gue gak bisa." Ucap Adam.
Gery tersenyum, "Gak apa-apa, Dam... yang penting lo kesana dulu, lihat semuanya sehabis itu lo yang tentuin semuanya. Cuma lo yang bisa bantu gue." Ucap Gery sambil menggenggam tangan Adam.
Adam menghela nafas dan mengguk pelan. Mungkin dengan membantu seseorang bisa mengurangi melupakan kejadian yang baru saja di timpanya.
***
Di malam hari, dia hanya terdiam sambil menatap langit-langit kamarnya. Entah apa yang dia pikirkan, hingga larut malam matanya tetap saja tidak bisa tertutup.
Adam menoleh kesamping untuk melihat jam, sudah menunjukkan pukul 02:00. Dia menghela nafas, entah kenapa matanya tidak bisa terpejam untuk beberapa saat saja.
Dia bangun dari tidur, mengubah posisinya menjadi duduk. Dia melihat bingkai foto yang dihiasi oleh pita merah. Dia tersenyum, itu adalah pemberian dari Anisa, di dalam foto itu terlihat jelas wajah Anisa, Taylor dan Adam di sebuh pegunungan ketika berlibur bersama. Saat itu suasana hati mereka sangat senang karena bisa lepas dari stress karena sekolah.
"Kalian berdua sedang apa disana?" Tanya Adam lirih. "Kangen kalian berdua." Lanjutnya lalu mengubah posisinya menjadi tidur kembali.
Dia merasakan kepalanya nyeri. Dia memijit pelipisnya pelan.
Wushhhh....
Angin berhembus di leher Adam. Sontak dia terkaget. Sebab semua jendela di kamarnya tertutup dan hanya ada Ac saja di dalam kamarnya.
Jantung Adam berdetak sangat cepat. Keringat dinginnya mulai keluar. Rasa was-was menguasai dirinya. "Aku kuat... aku kuat... jangan takut pada mereka... Aku adalah Adam, adik dari Alexandra dan aku kuat sama seperti kakak ku." Kalimat itu yang terus di lontarkan oleh Adam dalam hatinya.
"Alexandra?" Tanya seseorang.
Adam langsung kaget setengah mati sampai jatuh dari tempat tidurnya. Masalahnya, ada sosok wanita Belanda yang pernah digambarnya ketika di kelas. Dia berdiri tidak jauh dari Adam.
"Jangan takut. Aku cuma ingin berteman denganmu." Ucapnya
Adam hanya diam. Pikirannya sudah bercampur aduk. Dengan cepat dia menggeleng dan berusaha untuk bangun. Wajah wanita Belanda itu berubah menjadi sedih. Adam tahu kalau dia adalah setan yang baik, tapi dia tidak ingin berteman dengan mereka yang berbeda dunia.
Adam menyuruhnya untuk pergi dan tidak butuh waktu yang lama buat wanita Belanda itu menghilang. Dia menghela nafas lalu pergi ke tempat tidurnya. Matanya tetap saja tidak bisa tertutup. Dia memutuskan untuk mendengarkan lagu yang bisa membuatnya mengantuk walaupun itu mustahil.
***
Adam berjalan perlahan menuju kelas dengan bantuan tongkatnya. Dia beberapa kali menghela nafasnya.
"Adam!" Teriak Gery di belakangnya yang berlari sangat kencang menuju Adam.
Adam menoleh dan sudah mendapatkan Gerry di belakangnya yang sedang terengah-engah akibat lari dan mengatur nafasnya.
"T-tunggu g..ue Dam." Ucapnya tersenggal-senggal.
Adam mengangguk. Setelah Gerry sudah mengatur nafas, mereka berdua melanjutkan jalan menuju kelas.
Adam menaruh tasnya di laci meja lalu duduk di kursinya sambil menatap taman di luar.
Tak beberapa lama kemudian, Gerry menghampiri Adam yang sedang menatap kosong ke arah taman. Dia duduk disamping Adam, dia memegang pundak Adam dan membuat Adam menoleh ke arahnya dengan wajah datarnya.
Gerry menyalakan laptopnya, Adam tahu apa yang akan dilakukan oleh Gerry, apalagi kalau bukan pembuktian. Memang kemarin malam Gerry sempat memberi Adam pesan singkat yang mengatakan kalau dia sudah mempunyai banyak bukti di kampus kakaknya itu.
"Lihat ini." Ucapnya.
Adam menyipitkan matanya. Ada seseorang yang memakai baju tradisional Jepang yang sering disebut dengan Kimono. Wajahnya tidak terlalu terlihat.
"Dia pake kimono, berarti dari Jepang?" Tanya Adam.
"Ya mungkin. Gue gak tahu." Jawab Gerry.
Mata Adam terus menyipit memperhatikan gambar itu. "Ger, coba lo zoom." Gerry mengangguk dan memperbesar foto itu.
Setelah di zoom, Adam tetap saja tidak bisa melihat wajah perempuan itu dengan jelas. Akhirnya Adam menyuruh Gerry untuk memperlihatkan foto yang lain. Walaupun bel sekolah sudah berbunyi tetapi belum ada guru yang masuk, tapi itu tidak di permasalahkan oleh Adam, karena dengan begitu dia bisa lebih cepat mengetahui ada apa dengan kampus kakaknya Gerry itu.
"Stop." Ucap Adam.
Dia memperhatikan dengan teliti apa yang di lihatnya itu. Adam memutar kembali otaknya, mengingat sosok yang di dalam foto itu. Menurutnya sangat familiar. Sosok hantu Jepang. Wanita itu menggunakan kimono, sama seperti foto yang sebelumnya. Namun ini, foto yang dilihatnya sudah menunjukkan wajahnya yang sangat menyeramkan.
"Pulang sekolah, antar gue ke kampus kakak lo itu. Sinyal yang gue dapat sudah berbahaya." Ucap Adam.
"Hah? A-apa?" Gerry tidak mengerti dengan apa yang Adam katakan.
"Berbahaya. Kita harus siapin diri dari sekarang. Gue mau nuntasin ini dengan cepat." Ucapnya.
Gerry mengangguk tanda mengerti. Dengan cepat dia memperlihatkan salah satu video yang menunjukkan bahwa hantu wanita Jepang yang berpakaian kimono itu dengan jelas menampakkan dirinya.
"Video ini dari seniornya kakak gue. Katanya dia udah 15 kali melihat kemunculan hantu Jepang itu. Gimana menurut lo, Dam?"
Dengan serius Adam memperhatikan video itu. Terlihat dengan jelas wanita Jepang itu yang sedang mengintip di salah satu kamar mandi siswi, tetapi siswi itu tidak melihatnya. Mereka sedang mengobrol sembari merekam apa yang mereka lakukan. Dengan perlahan-lahan wanita berpakaian kimono itu keluar dari tempat persembunyiannya lalu menatap siswi-siswi yang sedang asik mengobrol itu.
Adam makin mempertajam penglihatannya itu.
BENG!!! PRANGG!!!
Hantu wanita Jepang itu memukul sebuah besi lalu melempar sesuatu ke kaca hingga pecah.
"AARRGGHH!!!!" Siswi-siswi itu langsung berteriak histeris.
Suasana semakin mencengkam ketika ada salah satu temannya yang terluka akibat terkena pecahan kaca itu.
"Jess, Buka pintunya cepetan!!!" Teriak salah satu siswi kepada temannya yang bernama Jess.
"Diem bodoh! Ini pintunya gak bisa di buka!" Jawab Jess.
Siswi yang merekam itu langsung menoleh ke belakang ketika ada suara seperti membisikkannya sesuatu.
Ketika menoleh ke belakang, hantu wanita Jepang itu tersenyum jahat dengan matanya yang merah ditambah darah yang mengalir deras dari matanya.
"Aarghhh!!!" Siswi yang merekam itu langsung berteriak histeris ketika melihat hantu wanita Jepang itu.
Semuanya makin panik. Bahkan salah satu siswi yang terluka itu sudah hampir tidak sadarkan dirinya.
"Ris... Risma.. lo jangan kayak gitu! Jangan tambah kita makin panik!" Ucap siswi yang merekam itu, tetapi temannya yang terluka yang bernama Risma itu sama sekali tidak meresponnya.
"Jess, Melly.. cepet!" Teriak siswi yang merekam itu.
"SABAR, JULIA!" Jawab mereka dengan nada yang keras.
BUG!! BUG!!
Jess, dan Melly sekuat tenaga mendobrak pintu itu, tetapi tetap saja tidak bisa terbuka.
Tanpa sadar Risma yang terluka tadi tiba-tiba berdiri di belakang Julia.
Julia membalikkan badannya sambil merekam, dan dengan sangat cepat Risma memukulnya hingga Julia jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.
Kamera Julia yang jatuh itu terus merekam apa yang Risma lakukan. Risma melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya kepada Julia.
Teman-temannya langsung tidak sadarkan diri. Setelah itu, Risma tertawa seperti orang gila dan berbicara menggunakan bahasa Jepang. Tak lama kemudian, Risma jatuh juga tak sadarkan diri.
Adam langsung menutup laptop milik Gerry.
"Okay.. kita harus ambil tindakan cepat." Ucap Adam.
"Dengan senang hati." Jawab Gerry.
Adam merasakan akan ada sesuatu yang terjadi, tetapi dia sama sekali tidak tahu apa itu. Dia mengontrol dirinya untuk terus tenang dan berpikiran positif.
********************