Setelah bel pulang berbunyi, dengan langkah cepat mereka keluar dari kelas, walau kaki Adam masih sakit tetapi dia tidak mempermasalahkannya. Yang dia inginkan adalah melihat apa yang pernah terjadi di kampus kakaknya Gerry itu.
"Hati-hati, Dam." Ucap Gerry ketika Adam memasuki mobilnya perlahan.
Setelah mereka berada di dalam mobil, Gerry langsung menancap gas. Di dalam mobil sangatlah hening. Gerry yang fokus menyetir, sedangkan Adam yang fokus pada handphonenya.
"Dam." Panggil Gerry memecahkan keheningan.
"Hm?"
"Lo bisa ngelihat apa aja? Maksud gue... lo bisa ngelihat orang yang sudah mati tapi masih bergentayangan?" Tanya Gerry.
"Iya."
"Terus... lo bisa dong ngelihat Taylor sama Anisa? Bukan maksudnya gue ngingetin mereka lagi ya, tapi gue penasaran aja gitu." Ucap Gerry.
Adam menghela nafasnya pelan, "sebenarnya... orang yang sudah meninggal itu gak akan bisa kembali ke dunia kita, dalam artian mereka dan kita itu sudah berbeda alam. Alam kita di dunia, sedangkan mereka juga di dunia mereka sendiri. Ada sebuah tembok yang menghalangi mereka untuk tidak bisa ke dunia kita..."
"Jadi yang sering lo lihat itu apa? Hantu? Atau apa?" Potong Gerry.
Adam terkekeh kecil dan membuat Gerry tambah penasaran. Pasalnya dia tidak pernah tahu menahu soal gaib, apalagi dia sama sekali tidak percaya dengan yang namanya hantu itu, tetapi setelah dia melihat secara langsung apa yang terjadi di kampus kakaknya, dia percaya kalau hantu itu ada.
".... yang bisa gue simpulkan adalah mereka yang sudah meninggal itu tidak akan bisa kembali ke dunia, gue udah bilangkan tadi. Kalau soal 'apa itu'? Yang gue tahu mereka itu adalah sebuah arwah bukan arwah sih, tapi sebuah jin yang biasa lo sebut setan itu yang ada dalam diri lo dan setelah lo mati, dia bakalan keluar dari tubuh lo dan mencari tubuh yang lain buat dia tempatin. Sebenarnya, itu perwujudan dari mereka sendiri...."
"..... kayak misalnya hantu yang ada di kampus kakak lo itu, itu adalah sebuah perwujudan dari orang yang pernah dia tempatin buat hidup. Kenapa dia bisa jadi seperti itu? Gue gak tahu pasti dan yang terpenting, arwah manusia yang sudah meninggal itu gak akan bisa kembali ke dunia kita, kalau misalnya lo ngelihat orang yang lo kenal yang sudah meninggal, itu berarti perwujudan dari jin atau setan yang ada dalam diri dia itu." Jelas Adam.
Gerry mengangguk paham. Sekarang dia mengerti kalau tidak ada arwah gentayangan di dunia ini. Itu semua hanyalah jin atau yang biasa kita sebut sebagai setan yang mungkin sedang mencari tubuh baru yang bagus untuk dia tempati.
Tak lama kemudian, mereka sampai di kampus itu. Gerry memarkirkan mobilnya lalu membantu Adam yang susah keluar dari mobilnya karena kakinya yang masih sakit dan sedikit susah di gerakkan.
Setelah turun, Adam melihat sekitarnya. Aura dingin Adam rasakan. Dia menghela nafasnya lalu Gerry membawanya masuk ke dalam kampus kakaknya itu.
Hampir semua mahasiswa/i yang berada di koridor menatap mereka berdua, mungkin karena mereka berdua masih memakai seragam sekolah atau mungkin hal yang lain? Tidak ada yang tahu.
"Tunggu disini, Dam." Ucap Gerry yang dibalas oleh anggukan dari Adam.
Gerry berjalan menjauh dari Adam. Dia sedang menelpon kakaknya bahwa dia sudah sampai di kampus. Sedangkan Adam, dia menghela nafasnya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kampus yang bisa dia lihat.
Dia menyipitkan matanya ketika melihat sesuatu yang tidak asing di matanya. Seketika itu dia tersentak kaget, akibat dari itu kakinya terbentur kursi yang dia duduki. Gerry langsung menoleh kebelakang melihat Adam yang sedang meringis kesakitan sambil memegang kakinya. Dengan cepat dia menghampiri Adam.
"Lo kenapa Dam? Lo gak apa-apakan?" Tanya Gerry khawatir.
Adam hanya menggeleng sambil memegang kakinya yang terbentur itu. Rasa sakitnya sangat luar biasa daripada ditusuk oleh 2 pisau sekaligus.
Setelah beberapa menit meringis kesakitan, dia langsung teringat akan sesuatu.
"Bantu gue berdiri sekarang."
Gerry mengerutkan keningnya. "Cepet Ger!" Lanjutnya. Dengan cepat Gerry membantu Adam berdiri.
Setelah dia berdiri dengan sempurna, dengan sekuat tenaga dia berjalan menggunakan bantuan tongkatnya.
Diperjalanan Adam sudah melihat makhluk-makhluk aneh. Gerry terus menanyakan 'apa yang terjadi?' tetapi Adam sama sekali tidak menjawabnya. Dia hanya diam dan terus berjalan. Ada sesuatu yang menariknya ke suatu tempat. Di sepanjang koridor juga dia sudah mendengar suara orang berteriak kesakitan dan mencium bau darah yang masih segar.
"Gerry!" Teriak seseorang, yang tak lain adalah kakaknya.
Gerry menoleh kebelakang dan memberi kode kepada kakaknya untuk mengikutinya. Mereka semua mengikuti Adam dan barulah mereka berhenti di suatu ruangan.
"Ini dimana? Kenapa lo bawa kita disini, Dam?" Tanya Gerry.
Adam menghela nafasnya lalu menggelengkan kepala tanda tidak tahu.
"Kak Laras.. kakak tahu ini tempat apa?" Tanya Gerry lagi.
Kakak Gerry yang bernama Laras langsung memutar otaknya, mengingat tempat apakah itu dulunya. Dia mengernyitkan dahinya.
"Ini kayaknya ruang musik...." Ucap Laras ragu. ".... oh iya, bener. Ini ruang musik." Lanjutnya.
Adam mengernyitkan matanya lalu perlahan dia mencoba menggenggam gagang pintu.
"Tunggu Dam. Lo yakin mau buka itu?" Tanya Gerry.
"Ya, karena gue lihat betul dia masuk disini." Jawab Adam.
"Dia?" Laras mengangkat satu alisnya. "Maksudnya apa?"
"Hantu Jepang itu, Kak."
"T-teman lo bisa lihat, Ger?" Gerry mengangguk. "Oh.. Ya Tuhan."
Adam menggeleng-gelengkan kepalanya. "Boleh saya buka pintunya sekarang?"
"Tapi yang gue tahu pintunya itu terkunci, Dam." Ucap Laras.
Adam langsung memegang gagang pintu dan mencoba membuka pintunya.
Dreettt...
Terbuka. Suara pintu nyaring terdengar di telinga, membuat siapa saja yang mendengarnya harus menutup telinganya.
Laras langsung menutup mulutnya dengan tangannya karena tidak menyangka kalau pintu itu tidak terkunci, dia hanya tahu kalau pintu itu sudah lama terkunci dan sudah lama tidak di tempati.
"Mustahil." Ucap Laras.
"Gak ada yang mustahil tentang ini kalau Adam yang ngerjain." Ucap Gerry yang dijawab oleh anggukan setuju dari Laras.
"Kita masuk, Dam?" Tanya Gerry.
Adam mengangguk. "Ger, tolong nyalain senter handphone lo. Handphone gue mati. Kalau kak Laras punya senter di handphonenya, tolong nyalain juga."
Laras dan Gerry mengangguk mengerti. Dengan cepat mereka mengambil handphone lalu menyalakan senter.
Adam mulai berjalan, diikuti oleh Laras di belakang Adam dan Gerry di belakang Laras.
"Kak boleh pinjam handphonenya?" Tanya Adam. Laras mengangguk dan memberi handphonenya kepada Adam.
Ada rasa gugup yang dirasakan Adam karena sudah lama dia tidak merasakan kedatangan makhluk tak kasat mata itu.
Debu yang memenuhi ruangan itu membuat mereka susah untuk bernafas. Laras terus memegang punggung Adam, sedangkan Gerry merasa sangat takut karena dia baru pertama kali merasakan hal seperti ini.
"Dam stop. Gue ngelihat sesuatu." Ucap Gerry.
Adam langsung menoleh ke belakang. "Lihat apa?" Tanya Adam.
"Ada sesuatu yang lari gitu, Dam."
"Dimana?"
Adam menyipitkan matanya lalu menyenterkan ke tempat yang Gerry tunjuk.
"Gak ada apa-apa, Ger." Ucap Adam.
Gerry menoleh ke arah Adam. Seketika itu matanya langsung terbelalak. Dia memberi kode kepada Laras, dengan pelan Laras menoleh ke depan, dia pun langsung terbelalak. Sedangkan Adam, dia terus menyenter tempat yang Gerry tunjuk tadi.
"D-Dam..."
"Hah?"
Gerry menelan ludah dan memberi isyarat kepada Adam untuk melihat apa yang ada di depannya.
Adam langsung menoleh kedepan dan matanya tak kelah lebar. Dia terbelalak.
"AARRGHH!!!!" Laras berteriak dan dengan cepat hantu wanita Jepang itu mendorong Adam sampai terpental jauh.
Bugghh!!
"LARI KAK RAS!" Teriak Gerry, sedangkan Gerry membantu Adam untuk berdiri.
Gerry berlari ke arah Adam dan dengan cepat mengangkat tubuh Adam dan membawanya keluar, sedangakan Adam sudah tidak sadarkan diri.
*******************