Gerry mengacak rambutnya frustasi, sedangkan Laras menangis. Gerry menyalahkan dirinya karena gara-gara dia Adam menjadi seperti ini. Wajah Adam terlihat pucat dan tergambar dari raut wajahnya kalau dia sedang ketakutan.
Ashley dan Damian sudah datang sejak tadi. Ketika Gerry menelpon Ashley, dengan cepat ibu Adam itu langsung pergi ke rumah sakit bersama Damian. Mereka tidak menyalahkan Gerry dan juga Laras, menurut mereka Adamlah yang terlalu memaksakan diri untuk membantu mereka.
"Adam... sayang, bangun nak." Ucap Ashley sambil sesekali menghapus air matanya yang tidak hentinya keluar. Sedangkan Damian, dia terus memberikan ketenangan kepada Ashley.
Sebagai seorang ibu, Ashley pasti sangat khawatir dengan kondisi Adam yang sangat mengkhawatirkan. Dimulai dari sahabatnya Anisa dan Taylor yang meninggal, kakinya yang hanya ada bekasan gigitan tetapi efeknya sangat parah, dan sekarang tidak sadarkan diri karena penelusuran yang dia lakukan tanpa Damian.
Ashley terus menangis sambil menggenggam tangan anak semata wayangnya itu.
"Aku rasa, aku harus berbicara sama teman Adam itu." Ucap Damian.
Ashley mengangguk. "Jangan salahkan mereka. Mereka tidak salah." Ucap Ashley.
Damian tersenyum lalu menghapus air mata tunangannya itu, "tidak akan aku marahi."
Setelah itu, Damian pergi keluar untuk menemui Gerry dan Laras. Ketika sudah keluar, dia melihat kalau mereka sedang frustasi karena memikirkan keadaan Adam.
Damian memegang pundak Gerry. Seketika itu Gerry langsung mendongak dan menatap Damian yang sedang tersenyum tipis kepadanya.
"Cowok kenapa nangis?" Tanya Damian.
Gerry menggeleng lalu menghapus air matanya, begitupun dengan Laras.
"Ayo kita ke kantin. Mungkin dengan secangkir kopi atau teh bisa membuat kalian tenang." Ucap Damian lagi yang dijawab oleh anggukan dari keduanya.
Gerry dan Laras mengekor Damian di belakang, sedangkan Damian sibuk membalas beberapa pesan yang memintanya untuk membantu seseorang menelusuri sebuah tempat. Sebagai seorang paranormal, Damian kerap di panggil untuk membantu seseorang, membersihkan rumah atau bangunan, bahkan menelusuri tempat-tempat yang di anggap angker dan penuh dengan misteri. Tapi kali ini, Damian memilih untuk tidak mengambil job berharganya itu. Dia lebih memilih untuk bersama dengan Adam dan Ashley untuk sementara waktu.
Damian memilih tempat duduk yang dekat dengan meja. Gerry dan Laras hanya berdiri saja, tidak berani untuk duduk.
Damian menatap keduanya lalu tersenyum manis, "kenapa tidak duduk? Kalian takut denganku? Ayolah... anggap kita itu teman, ok?" Ucap Damian halus.
Mereka berdua mengangguk lalu duduk bersampingan. Gerry dan Laras terus menunduk, tidak ingin melihat wajah Damian. Memang mereka merasa bersalah kepada Adam dan keluarganya karena gara-gara mereka Adam masuk ke dalam rumah sakit.
Damian hanya terkekeh kecil lalu memesankan mereka berdua sebuah teh hangat, sedangkan Damian memesan sebuah kopi hitam dengan gula yang sedikit.
"Kalian ini kenapa hm?" Tanya Damian.
Mereka hanya diam. Damian terus terkekeh kecil karena melihat tingkah mereka.
"Hm... om. Sebenarnya kami mau minta maaf, karena gara-gara kami berdua, Adam jadi masuk rumah sakit. Kita gak ada niat jahat kok, om. Kita cuma minta bantuan Adam untuk menelusuri hantu Jepang yang ada di universitas saya om...." Jelas Laras meminta maaf, sedangkan Damian hanya tersenyum.
".... om kenapa cuma senyum aja? Kami berdua sangat-sangat menyesal om karena menyuruh Adam membantu kami. Kami tidak tahu kalau jadinya akan seperti ini. Sekali lagi kami minta maaf, Om." Lanjut Laras.
Damian hanya terkekeh, "kalian memang anak yang berani meminta maaf. Saya suka dengan anak seperti kalian. Sebenarnya, Om gak nyalahin kalian ataupun Adam. Itu memang tugas Adam untuk membantu sesama, walaupun dia harus memiliki beberapa waktu untuk melakukan apa yang kalian mau. Gak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada saat itu kan? Bisa saja nanti Adam yang meninggal atau kalian yang meninggal atau kalian bertiga yang meninggal, jadi gak ada yang tahu. Yang terpenting adalah bagaimana cara kalian membuat sebuah rencana yang kalian yakin itu akan membuat diri kalian baik-baik saja, walaupun semuanya pasti mendapatkan resiko masing-masing." Jelas Damian.
"Jadi Om gak marah sama kami berdua?" Tanya Gerry antusias.
Damian tertawa melihat wajah Gerry. "Tentu saja tidak. Menurut Om itu adalah resiko yang memang harus di tanggung kalian, tapi lain kali selalu hati-hati melakukan sesuatu yang seperti itu. Mengerti?" Gerry dan Laras langsung menganggukkan kepalanya.
"Ok.. silahkan diminum minuman kalian." Lanjut Damian.
***
Adam's POV
Aku terbangun dari kegelapan, tapi entah dimana tempat ini. Seperti tidak ada kehidupan disini. Daripada aku seperti orang gila disini, lebih baik aku berjalan entah kemana yang penting aku bisa mendapatkan sesuatu atau bertemu dengan orang.
Aku terus bejalan tanpa arah. Setelah sekitar 30 menit aku berjalan, aku baru menyadari kalau aku hanya berputar-putar di tempat ini, dalam artian semua jalan yang aju lewati hanya jalan tembus untuk ke tempatku yang semula.
Aku merasakan ada sesuatu yang melihatku dengan tajam tapi aku tidak tahu dimana tempat pasti sesuatu yang melihatku itu.
"Masa bodoh dengan yang sedang memperhatikanku. Aku hanya ingin pulang dan kembali ke tubuhku." Ucapku dalam hati.
Aku memang sedang berada dalam di dunia yang bukan manusia tempati atau yang sering kita bilang sebagai 'Dunia Lain'. Aku mengerti kalau aku sedang berada di dunia itu, sedang melakukan Trip Gaib. Itulah yang Damian pernah katakan kepadaku.
Aku menghela nafas lalu duduk di atas pasir. Entah pasir apa ini, aku tidak peduli.
Tak beberapa lama kemudian, aku melihat ada seseorang yang berdiri tidak jauh dariku. Dengan perlahan aku bangkit dari dudukku dan menghampiri orang itu. Tapi entah kenapa ketika aku mendekatinya dia berjalan menjauh dariku bahkan jalannya semakin cepat, ketika aku mengejarnya dia semakin cepat berjalan dan akhirnya dia hilang entah kemana.
Aku mengatur nafas karena berlari tadi. Siapa tadi? Kemana dia pergi? Aku menangadah pandanganku. Aku melihat sebuah bangunan besar kuno. Seperti rumah tapi apa aku masih bisa katakan 'rumah' kalau bangunan ini mempunyai 5 tingkatan? Kenapa besar sekali? Apa aku harus bilang ini adalah bangunan hotel? Tapi tidak mungkin. Entah kenapa aku menjadi penasaran, dengan perlahan aku berjalan menuju bangunan itu.
Aku tidak mengerti, kenapa orang itu, ah tidak... maksudku makhluk itu membawa ku kemari. Ada sesuatu kah didalam sini? Tapi apa?
Dengan perlahan aku mencoba membuka pintu itu.
Cklekk..
Pintu terbuka. Gelap. Aku mencoba mencari sesuatu yang bisa menjadi sebuah penerangan. Aku melihat sesuatu. Handphone. Aku berjalan mengambil handphone itu. Begitu terkejutnya aku ketika aku mengetahui kalau itu adalah handphoneku. Aku tahu karena wallpaper handphoneku itu fotoku bersama Taylor dan Anisa.
Aku menyalakan senter yang terdapat dalam handphoneku itu. Dengan perlahan aku berjalan menuju manapun yang bisa aku dapatkan sebuah petunjuk.
Dreett...
Refleks aku membalikkan badanku. Apa itu? Aku mendengar sebuah pintu terbuka.
Aku berjalan perlahan menuju sumber suara itu...
"Hei! Apakah ada orang disini?!" Teriakku.
Tidak ada jawaban.
Aku menghela nafas pelan, lalu berjalan ke sumber suara tersebut. Percayalah aku tidak merasakan sakit pada kakiku. Aku harap ketika aku kembali pada tubuhku, kaki ku tidak sakit lagi.
Aku terus mengarahkan senterku ke depan. Perlahan tapi pasti aku melihat ada sesuatu yang memperhatikanku dengan mata merahnya.
"H-hei!! Kamu! Tunggu!" Teriakku sambil berjalan cepat ke arah makhluk itu. Tetapi ketika aku sampai disana dia sudah tidak ada.
Aku menghela nafas. Ketika aku membalikkan badan....
"HAI!"
*******************