Noura tidak bicara apa pun, dadanya terasa sesak sekarang, perasaan ia campur aduk, rasanya ia ingin marah, tapi ia cukup sadar diri kalau ia tidak memiliki hak atas itu, ingin memaafkan, rasanya ia terlalu gampangan—Dane sudah meninggalkan ia selama enam tahun lamanya tanpa kepastian setelah memberikan harapan setinggi langit—ia tidak mau dipandang gampangan, meskipun ia tidak secantik, sekaya, ataupun sebaik wanita di luar sana, ia tetaplah makhluk Tuhan yang drajatnya sama dengan manusia-manusia lain; tanah yang akan kembali ke tanah. Tinggallah sekarang ia bingung harus bagaimana, setelah Dane menyelesaikan ucapannya Noura malah diam saja seperti orang bodoh. Dane mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Wajar kok, kalau kamu marah. Kamu bebas mau bicara apa pun, kamu b

