Mulai detik ini, lupakan dia, bebaskan diri kamu, jangan tunggu dia kembali, bahagiakan dirimu, lupakan omong kosongnya, kamu punya hak untuk bahagia. --- Tubuhku rasanya enggan untuk menjauh meski apa yang aku lihat saat ini menyakiti hati. Aku benar-benar berdiri dan menyaksikan sampai siaran berakhir. Lolita langsung mematikan televisi setelah siaran itu selesai, mataku masih menatap lurus ke arah televisi yang sekarang sudah berubah menjadi hitam. Apa yang baru saja reporter tadi katakan masih terngiang-ngiang di kepalaku. "Aku, kan, udah bilang, Ra, kalau dia itu cuma laki-laki pembohong, di zaman dia sekolah aja udah kelihatan, kan, bagaimana br*ngseknya dia? Dia laki-laki kasar, otoriter, enggak mau terlihat rendah dari siapa pun, mustahil dia masih ingat kamu, jangan berharap de

