Bunyi ranjang yang berderit sejak Subuh tadi belum juga usai. Verga masih di ambang antara kenikmatan dan kelelahan. Barack sudah menumpahkan magmanya satu kali dan itu belum cukup. Verga memang candu yang selalu menggugah birahi dan jiwa lelakiannya. Barack terus saja menggerakkan pinggulnya dengan irama yang pas. Beriringan dengan lenguhan Verga dan desahan yang amat terdengar merdu di telinga suaminya. "Aku mencintai, Honey," kata Barack dengan suara yang tersendat namun mantab. Pria itu memang mencintainya dan telah memimpikan hal ini begitu lama. "Aku juga mencintaimu, Hubby," jawab Verga mencengkeram erat punggung Barack yang liat karena tubuhnya seperti dikoyak. Beberapa detik kemudian, mereka melebur bersama. Lelehan yang hangat dan juga manis. Barack melumat lembut bibir Verga

