Barack meninggalkan Serly yang sedang merasa terpuruk. Ia duduk di lantai dengan perasaan marah. Air mata yang ia keluarkan sia-sia belaka karena pria itu sama sekali tak menghiraukannya. Jauh-jauh ia datang ke Finlandia untuk menemui Barack. Tapi, pria itu berhati es. Sama sekali tak memiliki simpati padanya! Suara ponsel Serly berdering. Saat mendengarnya ia langsung berdiri dan berjalan menuju sofa tempat tasnya berada. "Hai, Ahmed," sapa Serly dengan nada yang dibuat agar terdengar sedih. Bagaimana pun juga, ia harus menarik simpati Ahmed agar pria itu kasihan dan peduli padanya. "Sudah ketemu Leon?" tanya Ahmed dengan suaranya yang khas. Berat namun lembut dalam waktu yang bersamaan. "Seperti katamu, aku sudah menemuinya di apartemen milikmu. Aku bertemu dengannya tapi Leon tak ma

