Netra seindah permen coklat itu berbinar kala menatap senja berarak menyembunyikan birunya langit, Angela merasa hidupnya sempurna saat ini. Tak ada celah, tak ada luka yang tersisa. Benarkah kini takdir baik Tuhan melingkupi dirinya?
Bolehkah ia berharap akan kisah bahagia yang akan terukir di masa depannya? Masa depan dirinya dan Aldrich, juga keluarga kecil mereka yang sedang mereka bangun saat ini. Hanya segudang pertanyaan dengan jawaban yang tak dapat ia terka...
"Senja yang indah..." bisik Aldrich memeluk tubuhnya dari belakang.
Angela terkesiap dari lamunannya dan kini turut memeluk tangan Aldrich yang memeluknya dengan erat, “Ya, senja yang sangat indah seperti suasana hatiku saat ini, hari ini aku benar-benar merasa sangat bahagia, Aldrich..." ucap Angela menatap jauh kedepan dengan binar matanya yang indah.
"Bahagia itu tak hanya milikmu, sayang. Jika kau bahagia, maka aku akan turut merasakan hal yang sama, malah mungkin sama besarnya. Kita semua bahagia dan mensyukuri kebersamaan ini...” ucap Aldrich membuat Angela menghela napasnya pelan.
“Maafkan aku yang terkesan sangat mudah marah dan terus memancing pertengkaran denganmu...” ucap Angela bersambut bibir hangat sang suami pada bibir tipisnya.
“Aku dapat memahami semua amarahmu, sayang. Aku tahu sebagai istri, kau berhak menjaga rumah tangga kita. Seperti yang kita ketahui di dunia ini kita saling memiliki satu sama lainnya dan terikat dalam ikatan pernikahan yang kita perjuangkan dengan sekuat tenaga sejak awal. Jangan terus meminta maaf, karena kesalahan itu tak hanya milikmu sendiri. Aku yang bersalah karena tak dapat menjaga diri dan membatasi akses kehidupan pribadiku dengan baik. Maafkan aku, sayang...” ucap Aldrich penuh sesal.
Angela memutar tubuhnya seraya mendongak menatap wajah tampan sang suami, “Saling memberikan maaf tidaklah buruk, Aldrich. Kedepannya kita bisa menjadi jauh lebih baik dan bisa saling intropeksi diri dari semua kesalahan dan kesalahpahaman ini, bukan?" tanyanya dengan binar matanya yang indah.
Aldrich menangkup wajah cantik Angela, meninggalkan kecupan manis disana, “Rasanya tak sabar untuk terlepas dari semua kesibukan ini dan berfokus menemanimu menunggu hadirnya buah hati kita. Apakah kau bisa bersabar menungguku, begitu pembangunan proyek mulai berjalan, aku rasa bisa mengambil banyak waktu luang untuk menemanimu dalam masa-masa menuju persalinan. Kita akan memiliki waktu yang cukup untuk fokus pada pembukaan jalan lahirnya..." ucapan Aldrich kontan membuat semburat merah menghiasi pipi bulan Angela.
Mengalungkan tangannya pada tengkuk Aldrich, "Suamiku, memang sangat nakal. Untuk menyambut kebersamaan penuh kita selama akhir pekan, tidakkah kita melakukan pembukaan?" tanya Angela sarat akan kode yang menjanjikan.
Mengecup bibir manis itu penuh kasih, “Aku harap kau tak menyesal akan ajakanmu...” bisik Aldrich membuat Angela tergelak seraya mengecup bibir tebal suaminya.
“Kapan aku pernah menyesali ajakanku, Aldrich? Aku adalah istri yang tak pernah lelah untuk mendambamu...” ucap Angela membuat sang suami tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
“Malam ini mungkin akan sangat panjang...” gumam Aldrich seraya menarik tubuh gempal wanita hamil itu kedalam gendongannya.
Mengangguk dalam gendongan erat suaminya, “Aku selalu berharap dapat bertemu dengan akhir pekan seperti ini, Al. Dimana kita dapat menghabiskan waktu hanya berdua dan tak ada yang mengganggu..."
"Aku akan selalu mencari dan meluangkan waktu itu untukmu, istriku yang berharga..." ucap Aldrich meletakkan tubuh indah Angela diatas ranjang mereka.
Mengukung tubuh ramping itu dalam tindihan hangat, tak ada lagi cerita lain yang mereka inginkan saat ini selain memadu kisah kasih penuh kerinduan yang hangat.
"Selamat malam istriku..."
"Selamat malam juga suamiku..." jawab Angela terkekeh geli saat Aldrich mengecup perlahan bibirnya, berulang-ulang kali seraya membuka satu persatu kancing gaun tidurnya.
"Malam ini akan panjang, aku suamimu meminta izin untuk memenuhimu sampai kita menemukan puncak tertinggi itu bersama..."
Angela memejam kala bibir tebal kesukaannya itu mencumbu lehernya dengan cumbuan yang sarat akan godaan, perlahan turun mengabsen keseluruhan tubuhnya tanpa ada satupun yang tertingal.
Mereka menikmati semua itu, saling bebagi, memberi dan menerima dengan kadar yang sama. Bulir keringat merestui persatuan sepasang suami istri yang sedang mabuk dalam gairahnya. Kenikatan tiada tra itu terdengar dalam sayup-sayup desahan yang memenuhi kamar yang besar itu. Suara deburan ombak dan hembusan angin malam seakan menjadi musik latar yang indah untuk peraduan mereka.
“Angela, kau tahu bahwa bagiku kau sungguh wanita yang sangat sempurna...” bisik Aldrich membuat Angela memejamkan matanya.
Angela hanya sanggup menjawab pujian sang suami dengan desahannya yang terbilang gila kala semua rasa nikmat itu memintal perutnya dalam ritme yang tidak sederhana. Percintaan mereka kali ini benar-benar gila, sangat luar biasa.
Keduanya terhenyak dalam pusara kenikmatan yang tidak main-main menghantam mereka. Aldrich yang seakan memeluk tubuhnya dengan erat dan melayang bersamanya. Bulir air matanya terjatuh kala suara berat sang suami berbisik tepat di telinganya.
“Aku tahu kau adalah calon ibu yang hebat, Tuhan pun pasti akan mempercayai kita dengan rahmatnya. Menjagamu dan buah hati kita hingga terlahir kedunia ini tanpa ada kurang sedikitpun, kau dan Baby-boo akan selalu sehat hingga dia terlahir kedunia ini...” bisik Aldrich dengan penuh pengharapan dan Angela mengamini semua harapan dan doa suaminya itu.
"Terima kasih, Aldrich. Kau juga merupakan calon ayah yang baik dan aku yakin bahwa kau akan selalu ada untuk kami..." ucap Angela diiringi air matanya yang terjatuh, “Bagaimana kau menjagaku selama ini dan mempertahankan ku untuk tetap disisi mu hingga kita menikah, seperti itulah kau dapat menjaga keluarga kecil kita. Seperti diriku yang mempercayaimu, Tuhan akan memberikan kepercayaan yang besar untuk pria bertanggung jawab sepertimu..." ucap Angela dengan suaranya yang menjadi begitu serak. Rasa haru dan harapan yang besar seakan berdesakan dan mencekik lehernya.
“Aku telah mengamini semuanya, jangan menangis lagi. Wajar saja jika emosional diri terkadang tiba-tiba datang dan menguasai suasana hati dan pikiran kita. Tuhan akan memberikan kebahagiaan untuk kita, maka dari itu kau harus selalu bahagia dan sehat saat melewati hari-hari penuh berkah yang Tuhan berikan. Percayalah, sesuai dengan impian kita untuk membangun keluarga kecil yang bahagia, kita bisa mewujudkannya...”
Angela hanya dapat menganggukkan kepalanya, “Rasanya, aku akan tertidur lebih nyenyak malam ini...” lirih Angela dalam dekap hangat suaminya.
“Aku akan menjagamu sepanjang malam...” bisik Aldrich membuat Angela menganggukkan kepalanya.
Angela percaya, dalam kegelapan sang suami yang menjaga lelapnya, dirinya percaya bahwa sudah saatnya mereka memungut satu persatu kebahagian yang Tuhan berikan pada mereka dimasa depan.
Perkara Vivian Park, wanita itu hanya remahan debu yang telah tertiup angin dan hanya menjadi bumbu penyedap didalam hubungan rumah tangganya dan Angela berharap wanita itu tak akan pernah kembali lagi.
Malam ini menjadi kisah penutup tentang dilema dan rasa tidak nyaman yang memenuhi hatinya sejak kemarin. Angela sadar bahwa dirinya harus tetap menjaga hatinya untuk tetap percaya pada cintanya dan suaminya, serta berhenti hidup dalam prasangka.
Mencari bahagia yang diharapkan, berjuang bersama untuk menemukan kebahagiaan yang mereka inginkan, ataukah menyerah dengan semua takdir buruk yang membelengu mereka nantinya. Namun sekali lagi, setiap kisah akan menemukan akhir dengan cara mereka masing-masing.
Entah itu bahagia ataukah tidak bahagia...
-
“Daddy, aku mencintaimu...” ucap Angela terengah disisa pelepasannya, memejamkan matanya seraya mendengarkan ritme detak jantung sang suami yang begitu menenangkan.
Mereka sama-sama terbangun saat pukul dua tadi dan melanjutkan percintaan mereka seolah tanpa kenal lelah.
“Aku pun sangat mencintaimu, Sayang. Aku selalu berharap Tuhan selalu memberikan takdir yang baik untuk semua kisah masa depan yang kita harapkan.” ucap Aldrich dalam keadaan mata yang terpejam dengan napas yang terengah-engah.
Membawa tangan Aldrich yang kini mengusap wajahnya hingga berakhir mengusap perutnya, menenangkan buah hati mereka yang terasa bergolak didalam sana, “Aku sangat berharap, cinta kita tak akan pernah pudar meski dalam keadaan apapun, Aldrich...” ucap Angela turut menyatakan harapannya.
“Aku hanya dapat mengamininya, sayang. Selebihnya biarkan semesta yang menunjukkan padamu bagaimana nanti cintaku padamu tak akan pernah berubah. Lanjutkan tidurmu, sayang. Besok kita akan menghabiskan waktu bermain di pantai...” ucap Aldrich membuat Angela membuka matanya dan menatap pada Aldrich.
“Bermain di pantai?” tanya Angela membuat Aldrich menganggukkan kepalanya.
“Orang-orangku telah menyiapkan jetski unyuk kita pergi ke sisi Pantai Hamptons lainnya...” ucap Aldich membuat Angela menggeleng samar.
“Aku sedang hamil besar, Aldrich. Apa kau melupakannya?” tanya Angela membuat Aldrich membuka matanya dan menatapnya penuh tanya.
“Apakah kau tidak boleh menaiki jetski?” tanya Aldrich membuat Angela mengangguk samar.
“Hentakan ombak jelas akan membahayakan kandunganku nantinya, meski ada kemungkinan tidak apa-apa, tapi aku tak ingin mencari resiko fatal nantinya...” ucap Angela membuat Aldrich mengangguk lesu.
“Lihatlah, suamimu ini ingin menyuguhkan liburan yang menyenangkan malah terkesan bisa membahayakan dirimu...” ucap Aldrich membuat Angela menggeleng samar.
“Jangan seperti itu, kita bisa bersenang-senang dengan cara lainnya...” ucap Angela nembuat Aldrich menghembuskan napasnya kasar.
“Catherine akan berkunjung kerumah ibunya besok, aku tidak mau kau mati bosan. Bagaimana jika pergi ketempat lainnya?” tanya Aldrich membuat Angela menggeleng samar.
“Kita bisa menghabiskan waktu berdua dengan menyenangkan, Aldrich. Bermain ke pantai dan melihat matahari terbit, memasak masakan yang enak bersama, menikmati senja di pantai hingga matahari terbenam. Kisa bisa menciptakan momen tak terlupakan hanya berdua disini...” ucap Angela membuat Aldrich tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, sekarang waktunya kita tidur, sayang...” ucap Aldrich membuat Angela tersenyum menikmati usapan sang suami pada punggungnya.
Harapan yang sederhana selalu mereka panjatkan seusai peraduan yang terjadi atas nama cinta, mereka hanya menginginkan restu Tuhan akan kebahagiaan di masa depan...
Hanya sesederhana itu dan Angela tahu bahwa perjalan mereka hari ini adalah perjalanan terbaik yang pernah ada setelah mereka menikah, dirinya berharap selalu menemukan jalan keluar disetiap masalah yang harus mereka lalui...