SS2 – 12. Better than before...

1811 Kata
  Ketika para suami memilih untuk merokok dan bermain biliar, para wanita kini bersantai dikamar tamu yang nyaman dengan rak buku besar dan musik klasik yang terputar disana. “Bagaimana pun usia pria dan seperti apapun mereka terlihat angkuh dan dewasa diluar sana, dirumah mereka tetap seperti anak kecil yang senang di manja dan suka bermain game...” ucap Catherine tersenyum senang mengakhiri percakapan mereka mengenai para suami mereka yang tidak pernah ketinggalan untuk mengikuti pemesanan pertama launching game seri terbaru. Angela bergelut dalam susana sunyi dengan isi kepalanya yang gaduh, ingin menceritakan segala kekhawatiran hatinya dan rasa tidak nyamannya pada Catherine. Namun dirinya takut jika itu menjadi sebuah kesan yang terlalu berlebihan. Catherine mengerutkan dahinya saat melihat Angela hanya terdiam dengan tatapannya yang kosong. Wanita yang memasuki masa kehamilan 30 minggu itu tampak sangat kelelahan dan banyak pikiran. “Angela, apakah kau baik-baik saja?” tanya Catherine membuat Angela terkesiap dari lamunannya dan tersenyum saat menerima tatapan penuh tanya dari mata biru yang indah itu. “Tidak, aku hanya melamun saja...” ucapnya jelas berbohong dan wanita yang sedang dalam masa kehamilan 27 minggu atau memasuki bulan ke-7 dan trismester ketiganya itu jelas sangat tahu akan kebohongannya. Catherine berdecak pelan, “Angela Sharon yang  ku kenal tidak pernah melamun tanpa sebab, pasti ada banyak pikiran yang memenuhi isi kepalanya...” ucapnya menatap Angela penuh selidik. Angela hanya dapat menghembuskan napasnya kasar, “Bagaimana ya, rasanya sulit untuk menceritakannya...” ucapnya membuat Catherine menggenggam tangannya erat. “Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kita sudah seperti saudara kandung?” tanya Catherine menatap Angela dengan penuh kesungguhan. Menggeleng samar, “Sebenarnya bukan sesuatu yang penting, Cath...” ucap Angela membuat Catherine menghembuskan napasnya kasar. “Tapi hal itu cukup mengusik mu, bukan? Angela, pikiran yang kau simpan sendiri akan membuatmu stress. Kita dalam kondisi yang sama, stress akan mempengaruhi kandungan kita. Jadi, bisakah kau berusaha percaya untuk berbagi denganku?” tanya Catherine membuat Angela menghembuskan napasnya kasar. “Eum, sesungguhnya aku merasa sangat berlebihan sekarang...” lirih Angela membuat Catherine berdecak kesal. “Katakan yang jelas, Angela. Agar aku bisa memberikan penilaian dengan objektif bahwa kau berlebihan atau tidak...” ucap Catherine membuat Angela kini terdiam dalam segala pertimbangan yang ada. Angela memiliki sedikit keraguan untuk bercerita sekarang, bukan karena usia Catherine yang terpaut 6 tahun lebih muda darinya. Catherine sangatlah dewasa dan kedewasaan seseorang memang tak dapat dipatok dengan usianya, namun dirinya khawatir dianggap berlebihan atau suaminya yang akan mendapatkan pandangan buruk. “Angela...” ucap Catherine menarik Angela dari segala pertimbangan yang berkecamuk didadanya. Angela mengangguk samar seraya mengambil cangkir teh bunga krisan dengan aroma madunya yang cukup menenangkan, menyesap teh itu berakhir menghembuskan napasnya kasar. Catherine menunggu Angela dengan sangat sabar karena dirinya sangat tahu sulit bagi wanita itu untuk menceritakan segala sesuatu yang bersifat pribadi, terlebih masalah rumah tangganya. “Sebenarnya belakangan ini aku mengalami krisis percaya diri...” ucap Angela membuat Catherine mengangguk samar. “Terhadap apa? Penampilanmu?” tanya Catherine membuat Angela menggeleng samar seraya tertawa hambar. “Mungkin saja itu menjadi salah satu penyebabnya, aku merasa begitu banyak kekurangan hingga menjadi begitu gampang untuk cemburu dengan suamiku. Rasanya aku terlalu berlebihan untuk cemburu ataupun meragukan suamiku...” ucap Angela membuat Catherine mengangguk samar. “Sebagai wanita yang sedang mengalami perubahan fisik yang cukup signifikan wajar saja jika kita merasa tidak percaya diri dan insecure dan membandingkan diri dengan wanita lainnya. Kau lihat tubuhku yang sudah dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya, seringkali aku mempertanyakan apakah Alexander merasa malu atau tidak memiliki istri yang sudah tak lagi cantik dan langsing, tapi dia selalu mengatakan padaku bahwa standar kecantikan menurut pandangan matanya bukanlah perihal fisik, dia mencintaiku dan dia selalu menegaskan itu...” ucap Catherine membuat Angela tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. “Alexander memang pria yang manis...” ucap Angela membuat Catherine menggelengkan kepalanya. “Seperti yang kita ketahui, komunikasi sangatlah penting dalam sebuah hubungan. Aku membicarakan rasa tidak percaya diri dan ketidaknyamanan ku pada Alex dan dia begitu terbuka memberikan sudut pandang yang lebih baik agar aku dapat lebih percaya diri. aku rasa kau perlu membicarakannya dengan Aldrich...” ucap Catherine membuat Angela menghembuskan napasnya kasar seraya menggeleng samar. “Kami sudah sempat berdebat dan Aldrich seperti biasa, dia bukanlah pria yang suka dengan pertengkaran yang berlarut-larut. Dia sudah meminta maaf atas semua kesalahpahaman yang terjadi dan aku telah menerimanya, namun aku rasa hatiku tidak gampang untuk berbohong dan melupakan semuanya. Apa aku kini telah menjadi wanita yang begitu egois dan pendendam?” tanya Angela membuat Catherine kini mengerutkan dahinya. “Tunggu, kau sampai terlibat pertengkaran dengan suamimu karena membahas semua kekhawatiranmu?” tanya Catherine membuat Angela menggeleng samar. Menghembuskan napasnya kasar, “Bagaimana ya, mungkin aku yang terlalu cemburu dengannya...” ucap Angela pelan, bahkan terdengar seperti gumaman. “Ceritakan semuanya padaku, Angela. Aku tahu saat ini kau masih dalam semua rasa bimbang yang ada, tapi setidaknya kau akan lega setelah menceritakannya padaku...” ucap Catherine membuat Angela menghembuskan napasnya kasar. “Kau tahu kan, betapa sibuknya Aldrich sekarang? Tidak, mungkin yang benar, kau tahu ‘kan betapa sibuknya suami-suami kita selama ini?” tanya Angela membuat Catherine menganggukkan kepalanya. “Selama bersamanya, lebih dari setahun bekerja sebagai sekretaris pribadinya aku sangat tahu bagaimana kesibukannya selama ini. Bahkan setelah kami menikah, kami melewatkan untuk pergi berbulan madu karena kondisiku yang sedang berbadan dua dan dia yang sudah terlalu banyak mendapatkan libur. Aku pernah bercerita bahwa kami ke Bali saat liburan musim panas dan Aldrich yang mengalami gangguan motorik karena kecelakaan waktu itu...” ucap Angela kembali terjeda saat hembusan napasnya terdengar begitu berat. “Seharusnya aku sudah terbiasa dan maklum dengan kesibukannya, bahkan aku memaklumi saat dia tak bisa menemaniku untuk rutinitas chek-up bulanan kandunganku. Tidak munafik bahwa aku sempat marah dan kecewa, tapi aku selalu berusaha meyakinkan diriku untuk selalu memahami kesibukannya sebagai pemimpin perusahaan besar hingga sedikit abai dengan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga, tapi semuanya menjadi berbeda saat Aldrich pulang dengan aroma parfum lain ditubuhnya kemarin...” ucap Angela sontak membuat Catherine menatap kearahnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. “Tunggu, apakah kau sudah memastikannya dengan suamimu?” tanya Catherine membuat Angela mengangguk samar. “Aku sudah memastikannya, aroma parfum itu dari seorang arsitek yang bekerja dengannya.” “Maksudmu?” tanya Catherine membuat Angela mengangguk samar. “Aldrich pergi ke pusat perbelanjaan bersama arsitek dari South Korea itu untuk karena wanita itu ingin membelikan kado untuk salam perkenalan dan karena wanita itu tahu bahwa istrinya sedang mengandung...” “Jadi, arsitek itu wanita dan dia pergi berdua dengan Aldrich diluar jam kerja?” tanya Catherine membuat Angela menggeleng samar. “Aldrich mengatakan mereka pergi bersama tim Arsitek lainnya dan juga Jonathan tentunya, tapi yang membuatku tak suka adalah wanita itu terlalu lancang untuk melakukan pendekatan diluar jam kerja. Terutama memberikan hadiah untuk kehamilanku yang notabenenya sama sekali tidak mengenalnya dan lebih lancangnya lagi, dia membeli parfum untukku dan Aldrich. Kau tahu sendiri aroma tubuh seseorang adalah sesuatu hal yang sangat pribadi, apalagi aku sebagai istrinya sangat tidak etis menerima parfum dari orang lain, tidak wanita lain. Ah, mungkin aku yang terlalu berlebihan sekarang...” desis Angela membuat Catherine menghembuskan napasnya kasar. “Kau tidak salah untuk marah dan kau berhak menegur suamimu...” ucap Catherine terdengar sedikit menggebu-gebu. Menganggukkan kepalanya, “Aku sudah menegur Aldrich bahwa dia tak seharusnya memberi akses untuk orang asing mendekatkan diri diluar ranah pekerjaan dan aku juga membuang parfum itu. Masalah kemarin selesai dengan baik...” ucap Angela membuat Catherine mengangguk setuju. “Apa yang kau lakukan sudah sangat benar menurutku, Angela...” ucap Catherine memberikan tanggapannya. Angela menghembuskan napasnya kasar, “Kau tahu? Pagi ini wanita itu dengan lancangnnya menelpon Aldrich dan meminta Aldrich untuk bertemu di bandara sebelum dia terbang kembali ke negaranya, ya dengan Alasan klasik untuk membicarakan masalah pekerjaan. Aku tak tahu motifnya apa, tapi aku merasa bahwa dia sengaja melakukannya saat mendapatkan informasi bahwa Aldrich akan mengambil cuti di hari jum’at...” ucap Angela membuat Catherine mengangguk samar. “Memang sangat menyebalkan harus menghadapi wanita-wanita yang memiliki motif untuk mendekati suami orang. Apalagi seorang pria kaya raya seperti suami kita, tapi bukankah wanita itu sudah kembali ke negaranya? Itu berarti dia tak akan lagi menganggu suamimu...” ucap Catherine membuat Angela menganggukkan kepalanya. “Makanya, aku merasa terlalu berlebihan karena tak henti memikirkannya...” ucap Angela membuat Catherine tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. “Itu sangat wajar, Angela. Jika hal itu terjadi padaku, aku juga pasti akan memikirkannya dan terus kepikiran, tapi kau harus percaya pada dirimu sendiri bahwa Aldrich tak akan pernah tega menghianati wanita yang sedang mengandung anaknya. Terlebih lagi kau adalah wanita yang dia cintai dan kalian sama-sama memiliki trauma akan perselingkuhan...” ucap Catherine membuat Angela mengangguk samar. “Aku berharap wanita itu sudah selesai dengan rancangannya dan tak memiliki keperluan lain lagi untuk bertemu dengan Aldrich...” ucap Angela seraya menghembuskan napasnya kasar. Tok! Tok! Tok! “Silakan masuk!” teriak Catherine seraya melemparkan senyumannya pada Angela, “Para suami telah selesai dengan gamenya dan mereka pasti akan bertengkar. Angela, terima kasih telah menceritakan semuanya padaku...” ucap Catherine berbisik membuat Angela tersenyum geli. “Terima kasih juga karena telah membuat suasana hatiku menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya...” ucap Angela membuat Catherine tersenyum sembari menyambut kedatangan suaminya. “Oh Alex, mengapa wajahmu memasam seperti itu?” tanya Catherine masuk kedalam kedua tangan Alexander yang terulur untuknya. “Aldrich bermain curang dan tak mengizinkanku untuk menang sekalipun...” desis Alexander mengadu seperti bocah. Aldrich berdecak kesal, “Jangan menuduhku sembarangan, Alex. Kau yang selalu kalah dariku dan kau harus menerima fakta itu...” ucap Aldrich membuat Alexander berdecak kesal. “Kau jelas curang karena tak mau terus bermain, jika mencobanya dua atau tiga kali lagi, aku pasti akan menang...” sungut Alexander membuat Aldrich sontak terbahak. “Jika menunggumu menang, itu berarti aku hanya menghabiskan akhir pekan ku untuk menemanimu main game. Aku kemari untuk menikmati waktu liburan bersama istriku, bukan denganmu...” ucap Aldrich disela tawanya. Angela hanya dapat menggeleng seraya tersenyum geli melihat tingkah suaminya dan Alexander yang seperti anak-anak jika sudah bermain game. “Setidaknya kau memberikan kemenangan sekali saja untuknya, Al...” ucap Angela membuat Aldrich berdecak kesal. “Dia juga tak mau jika aku mengalah, Angela. Sudahlah, ayo kita ke villa. Kau juga butuh istirahat...” ucap Aldrich membuat Catherine mengangguk setuju. “Aku juga ingin istirahat siang, Alex. Sudahlah lupakan game mu...” ucap Catherine membuat Alexander menghembuskan napasnya kasar. “Aku benar-benar benci kekalahan...” desisnya bersambut gelak semuanya. Alexander memang terkadang sangat kekanakan, jauh dari penampilan luarnya. Kehidupan pribadi para konglomerat muda memang terkadang berbanding terbalik dengan image yang mereka bawakan dimata publik. Angela pun merasa sangat bersyukur karena hanya dirinya yang paling mengenali sifat asli Aldrich suaminya. Kini suasana hatinya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya karena telah membagi ceritanya pada Catherine. Itulah gunanya seorang teman...  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN