SS2 – 8. Overthingking!

1802 Kata
  “Sayang, jangan seperti ini. Dia menelpon untuk keperluan evaluasi terkait rancangannya dan dia harus kembali ke South Korea hari ini.” ucap Aldrich mencoba membujuk istrinya itu. Angela terkesiap dalam semua pertanyaan batinnya yang cukup menyiksa, “Jangan seperti ini bagaimana? Maksudmu aku bersikap kekanakan?” tanya Angela menatap Aldrich dingin. Berdecak kesal, “Aku tidak mengatakan bahwa kau kekanakan sayang, berikan padaku ponsel itu biar aku dapat segera menelponnya dan memberitahukan padanya bahwa hasil revisi rancangannya sudah bagus dan bisa diteruskan sesuai dengan rencana awal.” Aldrich mencoba menjelaskan pada istrinya itu. “Biasanya para klien akan terhubung padamu melalui Brenda dsn Jonathan, tapi sepertinya untuk Vivian Park, segalanya menjadi begitu istimewa, ya?”  tanya Angela dengan nada sarkas. “Sayang, sungguh sama sekali tidak begitu...” “Dia memanggil mu begitu akrab, Aldrich. Bahkan sebagai wanita yang memenjadi sekretaris pribadimu dulu dalam minggu pertama bahkan sampai berbulan-bulan sebelum kita menjalin hubungan aku selalu memanggilmu dengan ucapan formal pada sambungan telepon. Aku rasa Vivian ini mendapatkan perlakuan yang sangat hangat dan istimewa, bukankah begitu Aldrich?” tanya Angela membuat Aldrich menghela napasnya lelah. “Sayang dengarkan aku, kami tidak ada hubungan apapun selain pekerjaan sejak awal dan pertemuan kami hanya baru yang kedua kalinya sejak pertemuan pertama kemarin.” ucap Aldrich membuat sudut bibir Angela membentuk senyuman sinis. Mengangkat kedua bahunya, “Ya, mungkin saja ini baru permulaan. Siapa yang dapat menebak akhir ceritanya?” “Jadi, kau ingin aku bersikap bagaimana agar bisa membuatmu yakin sayang? Kami tidak ada hubungan lebih dari sekedar rekan kerja dan kami hanya dua kali bertemu dalam hitungan beberapa jam dan itu bersama tim Arsitek serta Jonathan. Tidak lebih.” ucap Aldrich berusaha menjelaskan. “Dia mengatakan sudah berada dilobi bandara dan ingin mengajakmu bertemu sebentar, pantas saja kau memutuskan untuk menggunakan helikopter dari bandara ke Shouthampton. Tenyata ada maksud lain...” Mendesah lelah, “Tidak seperti itu , Angela. Kau tahu sendiri bukan, bahwa helikopter minggu lalu digunakan untuk mengantar Mama dan Mommy ke bandara. Jika kau tak in gin ke Bandara, aku akan meminta Logan atau Smith membawakan helikopter itu kemari...” ucap Andrich menbuat Angela bersedekap seraya menghempaskan tubuhnya di sofa. “Rasanya aku sudah malas untuk pergi kemanapun hari ini. Jika urusan pekerjaanmu masih banyak, pergi dan selesaikan lah...” ucap Angela meletakkan ponsel Aldrich di meja, memijat kepalanya yang kini terasa sedikit pening seraya meringis pelan sembari mengusap perutnya yang terasa sedikit nyeri akibat pergerakan bayinya. “Sayang, setauku Jonathan sudah menolak keinginannya untuk bertemu dibandara. Lagipula kita tidak memasuki terminal untuk penerbangan keluar negeri. Aku pun sudah membatalkan semua jadwal hari ini, akhir pekan ini khusus untuk kita. Tidak ada urusan diluar sama sekali.” ucap Aldrich berusaha menjelaskan pada istrinya yang sudah terlihat merajuk dalam amarahnya. “Lupakan saja...” ucap Angela membuka coat musim gugur yang ia kenakan. “Sayang...” ucap Aldrich berusaha memeluk tubuh Angela yang langsung pergi meraih ponselnya pada nakas dekat ranjang. “Aku akan menelpon Mama untuk meredam amarahku dan keputusanku sudah bulat untuk membatalkan semuanya...” tegas Angela membuat Aldrich menggaruk kepalanya bingung. “Bagaimana sayang? Jika kita membatalkannya, beberapa minggu kedepannya aku sudah sangat sibuk dengan perjalanan bisnisku. Bisakah kita tidak membuat masalah ini menjadi begitu serius?” tanya Aldrich membuat Angela kontan menatap tajam padanya. “Jadi kau pikir ini bukan masalah yang serius? Aku tahu dan dapat menebak pola tingkah perempuan itu, Aldrich. Dia tertarik padamu lebih dari seorang rekan kerja!” bentak Angela penuh penekanan. Meraih ponselnya, “Aku memahami perasaanmu, maka dari itu lebih baik kita selesaikan masalah ini sebelum menjadi duri dalam hubungan kita. Sungguh, aku tak ingin kita bertengkar hanya karena kesalahpahaman yang memancing banyak prasangka. Terlebih karena seseorang yang sama sekali tak ada hubungannya denganku” ucap Aldrich seraya melakukan panggilan. Tut.. tuuut... “Aldrich, bagaimana?” Suara wanita itu terdengar begitu menyebalkan bagi Angela. Namun saat Aldrich menatapnya dengan sigap Angela membuang muka. Wanita itu benar-benar marah. “Maaf, Ms. Park. Aku sudah menyetujui semua hasil revisi yang kay tujukkan via email, kau bisa melanjutkan desainnya. Menurutku sudah sangat bagus sesuai dengan apa yang aku inginkan.” ucap Aldrich membuat wanita diseberang sana mendesah lega. “Ahh syukurlah padahal aku ingin kita bertemu sebentar di bandara agar kau dapat melihatnya secara langsung...” Ucapan Wanita itu terdengar tidak rela dan masih kekeuh dalam uasahanya. Ingin rasanya Angela mengambil alih ponsel Aldrich dan memarahi wanita genit itu, namun dirinya lebih memilih bertindak diam agar tak terlihat menyedihkan dimata wanita tak tahu diri itu. “Ms. Park, aku sedikit tidak nyaman jika kita harus bertemu, terlebih kau menghubungi ku diluar jam kerja. Hari ini hingga hari Senin nanti, aku sudah mengambil libur. Bisakah kau sedikit saja menghormatinya? Lagipula, minggu depan kau akan kembali kesini lagi, bukan?” “Ahh, maaf jika sudah membuatmu terganggu, Aldrich...” ucap wanita itu terdengar tidak nyaman. “Mr. Spanos, kita bukanlah teman untuk saling memanggil dengan begitu akrab.” tegas Aldrich membuat wanita itu terdiam sejenak. “Ah yeah, maafkan aku, Mr. Spanos...” ucap Vivian Park dengan nada bicaranya yang terdengar begitu kesal. “Baiklah, jika begitu lebih baik kita berhubungan selayaknya profesionalitas kerja. Jika ada keperluan anda bisa  menghubungi saya lewat Mr. Briks selaku asisten pribadi saya ataupun hubungi Ms. Gonzalez sekretaris pribadi saya di kantor, anda bebas menghubungi baik itu surel maupun telepon. Sampai jumpa sampai dengan deadline yang sudah kita tentukan, Sekretarisku pasti akan menghubungimu. Terima kasih sudah begitu bersemangat mengerjakan tugas dari perusahaan kami. Senang bekerja sama denganmu Ms. Park, selamat berakhir pekan. Semoga penerbanganmu menyenangkan.” ucap Aldrich memutus panggilan itu tanpa menunggu jawaban seraya menatap pada Angela. “Sekarang aku sudah memblokir dan menghapus nomor ponselnya, sayang. Sungguh tak ada muslihat apapun karena memang tak ada yang terjadi diantara kami.” ucap Aldrich membuat Angela bersedekap seraya duduk ditepian ranjang. “Rasanya aku sudah tak memiliki selera untuk pergi,  Al...” ucap Angela pelan. Aldrich pun tersenyum seraya memeluk tubuh istrinya erat, “Sayang? Kau lupa seberapa berat masalah yang kita lalui hingga bertemu dengan hari terbaik yang telah kita lewati? Berakhir pekan di Shouthampton dan bertemu dengan ibu hamil kembar berambut pirang, bukankah sesuatu hal yang kau sukai?” tanya Aldrich membuat Angela mendesah lelah. “Ya aku tahu, tapi tak semua yang sudah direncanakan harus berjalan sesuai rencana, bukan? Aku juga tidak sedang ingin bertemu dan berbicara dengan siapapun...” gumam Angela penuh penekanan. Tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Yah, Catherine pasti akan sangat kecewa mendengarnya, padahal aku telah memberitahukan pada Alexander san dia mengatakan akanmenyiapkan makan siang bersama untuk kita karena istrinya menjadi sangat senang. Nah, orang yang kita bicarakan telah menelpon...” ucap Aldrich membuat Angela menatap layar ponselnya yang memuat nama Catherine Swan tanpa selera. Aldrich berdecak pelan, “Sayang, ayolah kita pergi. Jawab panggilan Catherine, aku akan kedapur untuk melihat makanan yang akan kita bawa untuknya, apakah sudah siap? Percayalah bahwa selama penerbangan ke Southampton aku akan membuat suasana hatimu membaik...” ucap Aldrich mengandung janji. Angela melengos, antara masih merasa kesal dan ingin mempercayai perkataan suaminya. Melihat ponselnya yang terus berdering, Catherine seolah tak ingin memberikan tempat untuknya berubah pikiran. Hari ini memang hari yang sudah ia tunggu-tunggu karena sudah lama tak bepergian dan menghabiskan waktu dengan Aldrich di villa nya, namun Aldrich sudah menoreh luka dihatinya. Entah mengapa, wanita bermarga Park itu sukses besar membuatnya memikirkan semua hal secara berlebihan. Dirinya benar-benar menjadi overthingking. “Ya, Cath...” “Aishh, mengapa lama sekali menjawab telepon ku? Apakah kalian sedang- oh Tuhan, jangan bilang aku menganggu cicilan pagi kalian!” pekik Catherine membuat Angela nyaris terbahak, sesungguhnya tidak ada yang terjadi selain perdebatan dingin dengan suaminya. “Big no, tidak seperti itu, Cath. Kami bangun sedikit kesiangan dan baru selesai bersiap-siap. Apa yang membuatmu menelpon sepagi ini, Cath?” tanya Angela dengan wajah memerah, menanggung malu akibat godaan wanita yang sudah seperti adik perempuannya itu. “Aishh, isi kepalaku tidak pernah salah, bukan? Kalian bangun kesiangan karena malam tadi terlalu menggelora.” ucap Catherine seraya terbahak geli. Dan tawa itu sukses menulari Angela, “Sudahi menggodaku, Cath. Kau juga pasti terbangun sepagi ini karena mengisi absen cicilan, bukan?” goda Angela membuat tawa Catherine semakin lepas. “Alex bahkan belum bangun, dia mabuk semalam karena pertemuan dengan rekan bisnis dan yeah lupa diri saat bertemu alkohol...”   Mendesah lelah, “Duo Al memang selalu menyebalkan jika mereka lupa diri...” desis Angela membuat Catherine tergelak. “Yang terpenting tak lupa diri sudah memiliki istri dirumah saat bertemu dengan wanita cantik.”  kelakar Catherine membuat senyuman Angela memudar. “Yak, aku bertanya apa yang membuatmu menelpon sepagi ini?” tanya Angela berusaha mengalihkan topik yang membuatnya overhingking. “Aishh, aku suka melupakan tujuanku karena terlalu senang akan bertemu denganmu, Angela!” seru Catherine terbahak senang membuat Angela turut tersenyum senang. “Cepat katakan, Cath...” ucap Angela penasaran. “Tidak terlalu penting sebenarnya, aku hanya ingin menanyakan lebih baik Beef Wellington atau Roasted Herbs Chicken untuk makan siang bersama kita?” tanya Catherine sontak membuat Angela tergelak ringan. “Ah, ku pikir ada apa. Eum, aku pikir semuanya enak dan aku akan memakannya bersamamu...” ucap Angela membuat Catherine tergelak. “Masalahnya, aku sedang ingin memakan daging ayam dan Alexander ingin memakan daging sapi. Oh God, kami duo karnivora yang tak sejalan...” keluh Catherine membuat Angela terbahak geli. “Dan masalah terbesarnya, kau dan Alexander sama-sama mengidam. Saranku masak saja keduanya dan minta kepada koki rumah untuk menyediakan secukupnya...” ucap Angela membuat Catherine berseru senang. “Baiklah, aku sudah menemukan jawabannya, ngomong-ngomong makanan pendampingnya Lasagna dan Ratatoullie!” seru Catherine penuh semangat. “Wah, semua makanannya enak! Baiklah Cath, aku pasti akan menghubungimu lagi sesampainnya disana...” ucap Angela seraya memutus panggilan tersebut. Dirinya memang lebih baik pergi dan menghabiskan waktu bersama Catherine daripada dirumah sendirian dan bergelut bersama rentetan pikirannya yang menyebalkan. “Ada apa Catherine menelpon?” tanya Aldrich membuatnya menoleh dan pria itu mengecup bibirnya gemas. Cuph! “Entahlah, tidak pemting...” jawab Angela malas. “Jangan marah lagi, bersiaplah kita akan pergi ke bandara sekarang.” ucap Aldrich tersenyum manis hingga senyuman itu menular pada Angela yang turut tersenyum karenanya. Pria itu terlihat begitu bersemangat membawa tas besar yang berisi perlengkapan pribadi mereka dan telah ia persiapkan sejak kemarin. Angela pun tersenyum seraya memakai kembali coat musim gugur berwarna kuning muda bercorak floral yang lembut itu. “Sayang, tolong bawakan tas ku ya dan tolong masukan iPad dan ponsel ku. Oh ya jangan lupa kunci pintu kamar kita.” ucap Aldrich seraya berlalu membawa tas besar itu. Angela pun tersenyum menghela napasnya lelah, “Dia pria yang baik, mengapa kau begitu sensitif terhadapnya beberapa hari ini? Dasar Angela yang bodoh dan posesif...” gumamnya mengumpat diri sendiri. Rasa cemburu ternyata dapat mengganggu ketenangan jiwanya. Benar saja...  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN