Sementara ditempat lainnya...
“Aishh, yang benar saja?!” teriak wanita cantik itu kala ia mencoba memastikan sesuatu.
Panggilan ditolak!
“Ada apa denganmu, Vi?” tanya asistennya itu membuat wanita bermrga Park itu membuang napasnya kasar.
“Dia memblokir nomor ku setelah mengatakan semua urusan pekerjaan harus melalui sekretarisnya, mengapa harus separah itu sampai memblokir nomor ku?” tanya Vivian membuang napasnya kasar.
Tatiana Hwang Terkekeh geli, “Sepertinya kau sudah membuat istrinya marah karena kau menghubunginya diakhir pekan, terlebih telah di informasikan bahwa dia mengambil cuti untuk hari ini.” simpul wanita cantik itu membuat Vivian berdecak kesal.
“Aishh, aku tidak sedang menggoda suaminya. Bukankah ini kasar sekali?” tanya Vivian membuat Tatiana terkekeh geli.
“Apakah penolakan suami orang ini membuatmu merasa tertantang? Ms. Park, come on! Mereka belum lama menikah dan istrinya sedang mengandung anak pertama mereka, meskipun Mr. Spanos yang hot itu terlihat begitu dingin, tapi kau harus percaya padaku bajwa dia adalah pria yang penuh cinta. Lagipula rasa cinta mereka masih begitu meluap-luap, jangan terlalu gila jika kau sampai berharap mendapatkan jatah untuk bermain-main dengannya.” ucap Tatiana yang sangat memahami pola tingkah wanita itu jika sudah tertarik dengan seorang pria.
Vivian tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Bukankah semua lelaki sama saja? Mau dia belum lama menikah atau apapun itu? Lelaki mana yang tahan menolak godaan wanita cantik seperti ku?” ucap Vivian dengan pongahnya.
Tatiana berdecak kesal, “Pria sepertinya tak mungkin memiliki istri yabg jelek, mungkin saja kecantikanmu itu tak ada apa-apanya...”
“Yeah, Let’s wait and see...” ucap Park Vivian menggigit bibir bawahnya gemas.
Menepuk punggung pimpinan tim cantiknya itu, “Aishh, kau ini benar-benar jalang nakal!” teriak Tatiana Hwang tergelak geli.
“Yes, I’m a b***h and I’m your boss...” ucap Vivian Park menggigit bibirnya gemas.
VivianPark tidak pernah ingin kehilangan kesempatan untuk memiliki semua yang dia inginkan termasuk Aldrich Spanos, pria luar biasa menawan minatnya, Vivian tak ingin gagal untuk mendapatkan apa yang dia mau. Seperti itulah dirinya...
“Oh gosh! Jaga hubungan ini dengan baik, Aldrich Spanos sangat terkenal di kalangan pebisnis hingga hampir seluruh dunia, dia tak pernah berkompromi dengan seseorang yang berusaha mengacaukan hidupnya. Jangan menimbulkan skandal yang bisa merusak reputasi mu. Kau arsitek yang lumayan sedang diakui dunia dengan label terbaik saat ini, Vi!”
“Tentu saja, aku tahu itu dan kau sebaiknya diam saja. Semuanya pasti akan indah pada waktunya...” gumam Vivian Park dengan telunjuk tepat di depan bibir indahnya.
Tatiana hanya dapat memutar kedua bola matanya malas, “Aku tidak ikutan jika ada masalah kedepannya...” ucap wanita itu membuat Vivian tergelak tanpa dosa.
“Setiap wanita memang harus memperjuangkan yang terbaik untuk kehidupannya, bukan? Jutawan terkaya nomor lima di Amerika Serikat, hanya wanita bodoh yang hanya mau sekedar numpang lewat dalam kisah hidupnya...” desis Vivian membuat Tatiana menghembuskan napasnya pelan.
“Apapun itu, aku tak ingin berdampak pada gajiku...”
“Tenang saja, Tatiana. Bahkan akan ada komisi dariku...”
kedua wanita itu saling melempar tatap, lalu tertawa bersama. Sungguh tak ada yang dapat menebak isi kepala mereka...
***
Ckiit....
Brak!
Tiiiinttt!!!
“Aldrich!” teriak Angela seiring dengan tubuhnya yang terjengkang kedepan dan hampir saja dahinya menghantam dasbor mobil.
Beruntung dengan sigap Aldrich menangkap tubuhnya, “Sayang, kau tidak apa-apa?” tanya Aldrich membuat Angela menganggukkan kepalanya.
“Ya, tidak apa-apa. Bagaimana dengan dirimu, Al?” tanya Angela dengan berjuta rasa khawatir yang memenuhi dadanya.
“Aku baik-baik saja, sayang. Dasar mobil butut, sialan...” desis Aldrich seraya bergerak hendak keluar dari mobilnya, namun dengan sigap Angela menahan tangannya.
“Jangan Aldrich, bagaimana jika pengemudinya orang mabuk!” seru Angela panik dan ketakutan menatap mobil pickup dengan bak tertutup yang berhenti mendadak itu.
Menghembuskan napasnya kasar, “Tidak apa-apa, sayang. Tunggu disini...” ucap Aldrich seraya keluar dari mobil tersebut dan Angela sedikit terkejut saat menangkap Logan yang keluar dari mobil itu dan membungkuk sopan kearah Aldrich.
Melihat keanehan itu membuat Angela turut keluar dari mobil tersebut menghampiri Aldrich.
“Kau hampir membuat kami celaka! Bagaimana jika keselamatan istriku dan kandungannya terancam?!” tanya Aldrich dengan nada membentak.
Menahan lengan Aldrich yang hendak memukul orang kepercayaannya itu, “Aldrich, sebenarnya ada apa?” tanya Angela membuat Aldrich hanya menghembuskan napasnya kasar.
“Si bodoh ini membuat kesalahan yang bisa sangat fatal, beruntung jalan raya sedang sepi.” ucap Aldrich ketus membuat Angela menatap Logan tak mengerti.
“Apakah kau bertugas untuk mengawal kepergian kami?” tanya Angela membuat Logan tergagap menatap Aldrich yang kontan menggeleng samar.
Mengerutkan dahinya saat menangkap keanehan suaminya itu, “Apa yang sedang kalian sembunyikan dariku?” tanya Angela membuat Logan kembali menatap Aldrich yang tergagap dalam kebingungannya.
“Aldrich, katakan padaku!” bentak Angela membuat Aldrich tergagap seraya menggelengkan kepalanya.
“Ti-tidak ada, sayang...” ucap Aldrich tergagap mendapatkan pukulan angela pada lengannya.
“Katakan dengan benar dan jangan berusaha untuk membohongiku!” bentak Angela membuat Aldrich mendesah lelah.
“Logan mengacaukan segalanya...” desis Aldrich membuat Angela mengerutkan dahinya kian tak mengerti.
“Apanya yang telah kacau?” tanya Angela membuat Aldrich menatap Logan seraya mengangkat dagunya.
“Memang tak ada yang berjalan mulus jika disembunyikan darimu...” desis Aldrich seiring dengan Logan yang membuka penutup bak mobil tersebut dan seikat balon terbang membawa buket bunga mawar merah itu dengan gulungan pita besar yang perlahan turun dan menunjukkan tulisan ‘My Beautiful Wife, I’m Sorry’
Angela sontak menutup mulutnya yang terbuka karena rasa takjub yang ada, “Apa ini, Aldrich?” tanyanya untuk sesuatu yang sudah jelas jawabannya.
“Failed suprise...” ucap Aldrich seraya mengambil buket besar mawar merah yang tersisa di bak mobil tersebut dan memberikannya pada Angela.
“Maafkan aku untuk segala kesalah pahaman yang terjadi, Angela...” ucap Aldrich membuat Angela tersenyum seraya menerima buket bunga mawar merah segar yang sangat indah itu.
Menyesap aromanya yang sangat segar, “Terima kasih, Aldrich...” ucap Angela memberikan kecupan pada bibir tebal suaminya itu.
“Maafkan aku untuk kejutan yang tidak berkesan ini, harusnya balon itu tebang saat kita dalam perjalanan...” ucap Aldich membuat Angela tersenyum geli seraya menggelengkan kepalanya.
“Justru kejutan kali ini akan sangat mudah diingat dan paling berkesan...” ucap Angela membuat Aldrich mendesah lelah.
“Syukurlah jika begitu...” ucap Aldrich seiring dengan mobil Bugatti hitam pekat yang menepi tepat diantara mobil mereka dan Smith keluat dari dalam sana.
“Silahkan, Tuan...” ucap pria bertubuh besar itu membungkukkan tubuhnya sopan.
Aldrich tersenyum seraya mengulurkan tangannya pada Angela, “Ayo kita melanjutkan perjalanan kita...” ucap Aldrich membuat Angela lantas tersenyum seraya menyambut uluran tangannya.
Blam!
-
Menarik tangan halus istrinya itu dan meninggalkan kecupan disana, “Terima kasih banyak karena sudah memaafkan ku, sayang...” ucap Aldrich seiring dengan mobil sport yang membawa mereka itu memasuki jalur khusus menuju landasan terbang dimana helikopter pribadinya terparkir
Mengangkat kedua bahunya, “Aku tidak memiliki pilihan lain, selain memaafkanmu...” ucap Angela datar.
Membuat Aldrich menghembuskan napasnya kasar, “Aku pikir kecupan bibirmu tadi adalah tanda penerimaan maaf...” keluhnya membuat Angela hanya dapat mengulum senyumannya.
“Apakah kau berharap bahwa aku adalah wanita bodoh yang terlalu mudah untuk memaafkan?” tanya Angela memuat Aldrich mendesah lelah.
“Aku sungguh tak menyangka kau akan berpikiran seperti itu, Angela...” desis Aldrich membuat Angela tersenyum bak pemeran antagonis.
“Kau bebas meminta maaf bukan berarti kau bisa memaksa orang untuk menerima maaf mu, right?”
Berdecak kesal, “Berarti kau belum sepenuhnya memaafkan ku? Apa maaf mu tadi tidaklah ikhlas?” tanya Aldrich membuat Angela mengerucutkan bibirnya.
“Aku masih marah padamu. Tidak hanya perihal wanita tadi, tapi sejak malam tadi kau sudah mengecewakan ku dengan bergelut bersama pekerjaanmu saat aku tertidur seolah tiada hari lagi...” ucap Angela bersedekap seraya menatap kearah keluar jendela mobil.
Aldrich pun mengulum senyum mengecup leher kiri Angela, tepat pada tahi lalat nya yang seksi itu, “Apakah kau merasa terlupakan, sayang?” tanya Aldrich membuat Angela mengangkat kedua pundaknya.
“Jangan cium-cium! Kau menyebalkan!” bentak Angela menolak kepala Aldrich yang menempel pada pundaknya.
“Aishh kau ini...” sungut Aldrich mengerucutkan bibirnya, membuat Angela mati-matian menahan tawanya.
“Menyetir dengan benar sebelum kau kini menabrak helikopter itu...” desis Angela membuat Aldrich mendesah lega seraya tersenyum senang, kata tidak Angela adalah sebuah pengiyaan yang sangat jelas.
Perlahan mobil pun berhenti tak jauh dari helikopter abu-abu tua dengan pintunya yang terbuka. seseorang yang telah menunggu mereka pun membukakan pintu mobil tepat disisi Aldrich.
“Silakan, Mr. Spanos...” ucap supir itu membuat Aldrich menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih...”
Aldrich pun tersenyum menatap Angela yang menatap padanya dengan senyuman yang sama lebarnya, “Tunggu, sebentar...” ucap Aldrich berlari kecil menuju pintu penumpang tepat disi kemudi seraya mengulurkan tangan untuk wanitanya itu.
“Let’s go to best weekend with me, my beautiful wife...” ucap Aldrich kontan membuat senyuman Angela tertarik sempurna.
“Aku harap ini akan menjadi sakhir pekan yang menyenangkan dan tak akan terlupakan...” ucap Angela dengan hati yang kontan berdebar bahagia saat prianya itu menganggukkan kepalanya.
Saat Angela menyambut uluran tangannya, Aldrich langsung menarik tangan wanitanya itu hingga masuk kedalam pelukannya.
“Aku akan selalu memastikan kebahagiaanmu, sayang...” ucap Aldrich membuat Angela kontan membelak tak percaya kala menyadari kini mereka berpijak diatas taburan kelopak bunga mawar yang memenuhi sepanjang red carpet menuju helikopter tersebut.
“Kau benar-benar menyiapkan semuanya, Aldrich?” tanya Angela takjub.
“Ya, sayang. Bagiku ini adalah akhir pekan yang istimewa, tapi maaf aku memulainya dengan begitu buruk...” ucap Aldrich membuat Angela mengecup bibirnya gemas.
“Jangan bicarakan hal itu lagi, Al. Jika perjalanan akhir pekan kita kali ini berawal tidak sebaik yang di rencanakan, ingatlah akan banyak akhir pekan dan waktu libur yang akan kita temui bersama. Aku akan selalu bersamamu seumur hidupku...” ucap Angela membuat Aldrich tersenyum menganggukkan kepalanya.
“Kau adalah wanita yang paling terbaik di dunia ini, aku benar-benar sangat beruntung karena memilikimu...” puji Aldrich membuat Angela menganggukkan kepalanya.
“Aku juga merasa sangat beruntung karena memilikimu, Aldrich...” ucap Angela mmbuat Aldrich tersenyum tulus padanya.
“Aku sangat mencintaimu Angela dan rasa ini tak akan pernah berubah sampai kapanpun itu...” ucap Aldrich terucap dari dasar hatinya.
Angela menitikkan air matanya seraya memeluk tubuh sang suaminya dengan seerat mungkin, “Terima kasih banyak, Aldrich. Aku juga sangat mencintaimu...” ucap Angela membuat Aldrich tersenyum seraya mengusap surai lembutnya.
“Fly with me go to Paradise?” ucap Aldrich membuat Angela mengangguk dan sontak berteriak saat Aldrich membawa tubuhnya kedalam gendongan pria itu.
“Aldrich! Hahahaha!” teriakan disertai tawa Angela yang kini sudah terduduk di kursi penumpang helikopter untuk 2 orang tersebut.
Menangkup kedua tangannya di d**a dengan senyuman yang merekah indah, memperhatikan suaminya yang berlari dan melompati tangga helikopter dan duduk di kursi kemudi
“Aku sangat mencintaimu, Aldrich...” ucap Angela seolah tak menemukan titik lelah untuk mengatakan hal tersebut.
Aldrich pun memeluk tubuhnya erat, “Aku juga mencintaimu, sayang...” ucapnya bersambut lumatan bibir ranum istrinya itu pada bibirnya.
Angela melumat bibir sang suami dengan sepenuh hati dan ciuman itu berbalas dengan tak kalah dalam. Angela mensyukuri semua ini, memiliki suami yang mencintai dan dicintainya sepenuh hati.
Suasana hatinya yang merasa sangat buruk sedari pagi, kini merasa begitu penuh akan debaran bahagia yang meluap-luap. Dirinya sungguh akan mengingat hari ini bahkan sampai nanti dirinya harus meninggalkan dunia ini.
Dibawah langit musim gugur yang teduh tepat pukul sepuluh, Angela mengamini semua doa yang terucap dalam hatinya saat ini seiring dengan deru mesin helikopter yang menyala itu, hatinya turut merasakan getaran yang sama dalamnya.
Hari ini, esok hingga suatu saat nanti, dirinya berharap perasan cinta dihatinya dan Aldrich akan tetap sama dan tak akan pernah berubah.
Amen...