Tring!
Dentingan gelas yang berpadu terdengat jelas, sudut bibir keduanya tertarik sempurna dalam sarat yang penuh akan kebahagiaan.
Angela menyesap s**u sapi segar yang suaminya tuangkan pada sloki kristal itu dan Aldrich menyesap s**u tersebut dengan mata biru setajam elangnya yang tak lepas menatap pada istri cantiknya itu.
“Ahh... segar sekali...” desis Aldrich membuat Angela lantas terbahak karenanya.
“Sudah tahu aku sedang tak meminum alkohol, kau malah menyiapkan sloki dan wine...” desis Angela mengingat suaminya yang bodoh pada akhirnya meminta sekotak s**u segar pada Logan dan Smith yang dengan senang hati menyiapkan untuknya.
Pria itu berdecak pelan, “Tidak apa-apa, sebagai manusia bukankah sangat wajar jika melupakan sesuatu yang penting, sayang? Lagipula meminum s**u segar membuatku merasa lebih sehat sekarang...” ucap Aldrich tetap berusaha terlihat keren dalam semua rasa malunya.
Angela tersenyum seraya meletakkan sloki tersebut pada slot penyimpan gelas dan meraih sloki ditangan aldrich, lalu menyimpannya.
Kemudian memeluk lengan dengan otot yang pas milik suaminya itu, lalu menyandarkan kepalanya disana, “Dasar suamiku yang nakal dan penuh gengsi, mengakui kesalahan sekecil ini saja kau tak mau...” ucap Angela membuat Aldrich kini tersenyum malu.
“Maafkan aku, sayang...” ucap Aldrich seraya mengusap kepala Angela dan memberikan kecupan pada puncak kepala istrinya itu.
Menggeleng samar seraya memberikan kecupan tepat dibibir suaminya, “Aku hanya menggodamu, Daddy. It’s normal make mistakes for everything. Maaf juga karena telah menggodamu...” ucap Angela membuat Aldrich kini mengecup pipinya gemas.
“Oh Angela, tidak perlu meminta maaf untuk itu. Serbagai suami aku sangat senang menerima godaan dari istriku...” ucap Aldrich membuat Angela mencubit pipinya gemas, “Ah, suamiku sangat pintar berucap. Jadi, apakah kita akan terus melemparkan rayuan pohon kelapa disini dan tak terbang kemanapun?” tanya Angela membuat Aldrich sontak terkekeh geli.
“Jadi, apakah kau sudah siap untuk terbang denganku, sayang?” tanya Aldrich membuat Angela duduk tegap di kursinya seraya melakukan hormat tangan.
“I’m super ready, Captain!” seru Angela membuat Aldrich mengecup bibirnya gemas.
“Baiklah, sekarang kenakan sabuk pengaman, ma Queen...” bisik Aldrich seraya memasangkan seatbelt itu pada tubuh Angela berakhir mengecup pundaknya dan meninggalkan kecupan untuk perut buncit istrinya itu.
“Boo, ini penerbangan pertama untuk mu,kita tak pergi jauh, hanya pergi menuju keselatan untuk ke Southampton...” ucap Aldrich berbisik membuat Angela terkekeh geli seraya mengusap kepala suaminya itu.
“Ini bukan penerbangan pertamanya dengan helikopter, Aldrich. Bukankah saat pesta pernikahan hingga kita kembali seusai berbulan madu disana, aku sudah mengandung sepuluh minggu?” tanya Angela membuat Aldrich meneguk ludahnya kasar.
“Tidak sayang, saat itu dia masih janin kecil yang baru tumbuh waktu itu...”
“Apa bedanya, Aldrich?” tanya Angela membuat Aldrich memutar kedua bola matanya malas.
“Jelas saja berbeda, sayang. Sekarang Baby-boo sudah tumbuh dan nyaris sempurna di dalam dirimu. Dia mungkin saja mendengar perdebatan kita, tawa bahagia kita, bahkan dia pasti mendengar bagaimana deru mesin helikopter yang menyala dan bagaimana debaran bahagia dihatimu saat kita terbang dan membicarakan semua hal yang menyenangkan...” ucapan Aldrich membuat Angela sontak tersenyum seraya mengusap perutnya yang merasakan pergerakan si jabang bayi.
“Kau benar, dia pasti dapat mendengar segalanya sekarang dan aku tahu, sekarang dia sedang tak sabar ingin melihat bagaimana rasanya terbang di langit biru melalui kedua netraku...” ucap Angela membuat Aldrich kini memakai headphone untuk dirinya sendiri dan memakaikan headphone satunya pada Angela.
“Halo kedua hal yang terpenting di dunia ini bagiku, ayo kita nikmati akhir pekan yang indah ini bersama. Happy weekend, loves...” ucap Aldrich terdengar melalui headphone itu seiring dengan mesin helikopter yang menyala.
Dengan mata yang berkaca-kaca Angela menganggukkan kepalanya, “Happy weekend too, Daddy...” ucapnya dengan helaan napas yang terdengar begitu melegakan.
Perlahan Aldrich membawa helikopter itu terbang di udara dan Angela tersenyum menggenggam tangannya erat.
“Al, kau tahu apa yang ada dipikiranku saat ini?” tanya Angela membuat Aldrich menggeleng samar.
“I have no idea, babe. Please, tell me...” ucap Aldrich meninggalkan kecupan pada punggung tangan istrinya yang cantik itu.
Angela tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Kau ingat saat pertama kali perjalanan bisnis kita ke Meadow Lane?” tanya Angela membuat Aldrich tersenyum seraya mengangukkan kepalanya.
“Ya sayang, aku masih sangat mengingat akan hari itu. Untuk pertama kalinya aku membawa wanita cantik terbang bersamaku, wanita dengan pesonanya yang tidak main-main dan hatiku berdebar untuk mu kala itu dalam sebuah penyangkalan...” ucap Aldrich melemparkan senyuman manis pada istrinya itu.
Tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Ya, hari itu, tidak, malam itu tepatnya. Di musim yang sama dengan hari ini, musim gugur yang begitu penuh akan emosional diri yang meluap-luap. Aku menyadari debaran hatiku untuk mu, untuk seorang pria yang ku pikir adalah suami orang, untuk seorang pria tampan yang menakhlukkan prinsipku hanya dengan kecupannya...” ucap Angela seraya melemparkan tatapan penuh cinta kepada Aldrich.
Aldrich hanya dapat tersenyum turut mengingat saat-saat itu, “Kita dua orang dengan gengsi setinggi langit yang sangat senang berdebat, meskipun saling menikmati debaran yang ada di d**a, tapi kita menyangkalinya...” ucap Aldrich , membuat Amgela tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
“Aku terkadang masih berpikir semuanya terlalu cepat untuk kita, dalam dua tahun yang sangat menakjubkan ini. kebersamaan kita pada akhirnya membawa kita berada di titik yang luar biasa ini. Kita menikah dan sekarang sedang menanti kelahiran buah hati kita...” ucap Angela membuat Aldrich mendesah pelan.
“Rasanya waktu akan selalu berjalan dengan begitiu cepatnya. aku akan menjadi ayah dipenghujung kepala tiga ku dan aku berharap bisa memiliki anak paling tidak dua...” ucap Aldrich membuat Angela tergelak seraya memeluk lengannya.
“Tenang saja, wanitamu ini masih cukup muda, Aldrich. Memiliki anak pertama diusia 27 dan memilki anak kedua diusia 28 atau 29, bahkan tidak masalah diusia 30...” ucap Angela membuat Aldrich terkekeh geli.
“Aku hanya akan memberi jeda sekitar 1-2 tahun saja Angela, dua anak sudah cukup, sisanya jika Tuhan emberi kepercayaan lebih aku akan menyanggupinya selama kau masih sanggup mengandung, melahirkan dan menyusuinya, sayang.” ucap Aldrich membuat Angela terkekeh pelan.
“Jika Tuhan masih memberikan kepercayaannya, itu berarti kita sanggup, Aldrich...” ucap Angela membuat Aldrich tersenyum senang.
Mengangguk samar, “Rasanya aku tidak ingin melewatkan masa-masa terbaik tumbuh kembang anak-anak kita nanti. aku ingin mereka tidak melewatkan satu haripun tanpa kehangatan kedua orangtuanya sampai nanti mereka sagggup untuk hidup mandiri...” ucap Aldrich membuat Angela mengangguk setuju.
“Kita pasti bisa, Aldrich...” ucap Angela seraya menatap langit biru yang teduh itu.
Tersenyum menatap Aldrich yang turut menggenggam erat tangannya, obrolan yang cukup berkesan untuk mereka saat ini.
Berharap Tuhan mendengarkan harapan mereka tentang masa depan dan memberikan umur yang panjang untuk mereka berdua. Memulai akhir pekan di awal musim gugur ini berjalan dengan baik hingga mereka mengakhirinya nanti...