SS2 – 4. It’s okay...

1726 Kata
-Spanos’s House- Flashback “Di usia kehamilan 7 bulan di minggu ke-29 tepatnya, bayi anda memiliki ukuran yang normal dan sehat untuk janin seusianya, dia memiliki panjang 38 cm dan berat 1,28 kg. Perkembangan otak bayi sangat pesat sehingga menyebabkan kepala janin membesar dan akan berkontribusi pada berat lahirnya secara keseluruhan. Otot dan paru-paru bayi juga semakin matang. Dalam fase ini, bayi akan semakin terasa aktif dan lebih peka terhadap suara-suara dari luar. Fungsi pendengaran janin 7 bulan juga makin baik. Ia bisa memberi respons berupa tendangan jika diberi stimulan berupa suara, ketukan di perut Anda, bahkan sinar cahaya.Di samping itu dalam beberapa minggu kedepan, rambut bayi mulai tumbuh, begitu pula dengan alis dan bulu matanya. Mata janin yang semula tertutup, kini sudah dapat terbuka. Bayi anda akan semakin bertumbuh kembang hingga sempurna.”ucapan dokter itu terdengar menggema bagai angin lalu di telinga Angela yang kini berfokus akan satu hal. Mata indahnya berkedip berulang kali menatap layar monitor yang memperlihatkan wujud dari kandungannya, "Sudah lebih dari tujuh bulan dia berjuang tumbuh dalam rahim ku, ini benar-benar sangat menakjubkan...” ucap Angela diiringi dengan air matanya yang mengalir. Mengusap bulir air mata itu seorang diri dengan hati yang kian sesak, tak ada sosok yang seringkali menangis bersamanya setiap tiga bulan sekali saat dirinya harus mendapatkan USG untuk memantau perkembangan bayinya. Aldrich tak ada disini bersamanya untuk melihat tumbuh kembang jagoan kecil mereka. Sakit, namun rasanya dia terlalu berlebihan karena telah menyimpan rasa kecewa hingga menangis dan marah akan ketidak sanggupan Aldrich memenuhi janji yang pernah pria itu buat sejak dirinya mengandung. Sejak kecerobohannya membuat buah hati mereka nyaris celaka. * “Harusnya aku tak segila itu memakan pisang hingga membuat keselamatan bayi kita hampir terancam ,Aldrich. Ibu seperti apa aku ini?” tanya Angela dalam semua rasa sedih dan keputusasaannya. Rasa kesal dan marah pada dirinya sendiri yang begitu bodoh... Suaminya itu tampak mendesah lelah seraya mengusap kepalanya, "Jangan katakan hal seperti itu sayang, setiap wanita memiliki fase yang berbeda saat kehamilan pertamanya. Calon bayi kita sedang bertumbuh dalam keadaan sehat dan dia tak ingin menyulitkanmu yang sedang melewati trismester pertama dan sangat menyukai pisang, hanya saja pencernaanmu yang bermasalah sekarang. Kau dengar apa yang dokter katakan tadi? Kau mengandung jabang bayi yang sangat tangguh di dalam rahim mu dan mulai sekarang, ayo berjuang untuk membantunya tumbuh dengan baik dan bahagia. Aku berjanji akan menjadi suami yang siaga selama masa kehamilanmu hingga melahirkannya dengan selaman ke dunia ini nantinya..." ucap Aldrich menyatakan janji. “Benarkah seperti itu, sayang?” tanya Angela membuat Aldrich mengecup bibirnya gemas. “Mari menjalani masa kehamilanmu dengan bahagia, USG di trismester pertama hingga trismester terakhir, aku akan selalu menemanimu. Menemanimu melihatnya tumbuh dan berkembang dengan begitu menakjubkan di dalam kandunganmu...” ucap Aldrich melengkapi janjinya. * Janji yang datang menyertai hari bahagia yang mereka raih, dibawah langit musim semi Southampton yang cerah kala itu. Sehari setelah mereka menikah, tepat llebih dari 9 minggu kehamilannya. Aldrich yang berjanji untuk terus mengikuti perkembangan buah hati mereka, namun hari ini kesibukan pria itu merenggut segala janjinya yang pernah tercipta. Pertanyaannya saat ini, mengapa dirinya harus menaruh rasa kecewa dan amarah yang sebesar ini? Jika tidak sibuk, Aldrich tak akan pernah mengabaikan dirinya dan calon bayi mereka. Mengapa hatinya menjadi begitu egois tanpa mau berkompromi? Flashback off “Permisi, Mrs. Spanos...” sapa wanita paruh baya kepala pelayan rumah tangga itu membuat Angela terkesiap dari lamunannya. “Ya, Mrs. Spencer?” tanya Angela membuat wanita paruh baya itu menyodorkan teh hangat kepadanya. “Minum dulu teh herbal ini untuk pelepas penat dan antioksidan...” ucap wanita paruh baya itu membuat Angela tersenyum tipis seraya menyambut gelas tersebut. “Terima kasih, Mrs. Spencer...” “Dengan senang hati, Nyonya. Ngomong-ngomong apakah anda ingin mandi dengan air dingin  atau hangat? Kami akan menyiapkan sesuai dengan permintaan anda...” ucap wanita paruh baya itu menawarkan apa yang Angela inginkan saat ini. Menggeleng samar, “Eum, aku rasa tak ada hal lain yang kuinginkan saat ini selain menikmati sunyi. Biarkan aku sendirian, tidak apa-apa kan?” tanya Angela membuat wanita paruh baya itu tersenyum seraya membungkukkan tubuhnya sopan. “Baiklah, Nyonya. Saya akan memastikan tak ada siapapun yang menganggu anda...” ucap wanita paruh baya itu seraya berlalu. Angela tersenyum seraya mengusap perutnya yang merasakan kembali gerakan janin kecilnya, “Apakah kau merasa sangat bosan, sayang?” tanyanya kini mengambil ponsel dari dalam tasnya dan membuka kontrol untuk mode hiburan dikamar tidurnya. Angela semakin menyandarkan tubuhnya dengan nyaman disofa santai itu, memejamkan matanya seraya mengusap perutnya sembari menggumamkan pada si jabang bayi untuk turut bersantai dengannya. Musik pun perlahan memenuhi kamar tidurnya yang luas itu, musik klasik yang mengalun dengan indahnya hingga memberikan efek relaksasi yang tidak bercanda. “It’s okay, Baby-boo. Daddy tak melakukan kesalahan apapun pada kita, dia hanya sedang sibuk mencari uang untuk kita, untuk masa depan kita...” ucap Angela berbisik seraya terkekeh geli saat gerakan bayinya kembali terasa. Sepertinya sedang memberikan pembelaan, jagoan kecilnya yang selalu berusaha untuk selalu ada menggantikan ketidakhadiran ayahnya saat ini, namun tetap saja terkadang ada saja pikiran berlebih yang terasa begitu sengaja untuk menghempaskan  dirinya ke lantai dasar. Angela kini berusaha memejamkan mata dan memekakan telinga seraya berusaha menghentikan pikiran-pikiran menyebalkan yang nyaris membuat kepalanya hampir pecah dan semua itu melelahkan. Angela kini membuka matanya saat kedua tangan kokoh sang suami merengkuh tubuhnya yang kini masih bersandar nyaman di sofa santai itu. “Angela, akhirnya ku menemukanmu...” bisik Aldrich kini membuat Angela tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. “Jangan berlebihan, Aldrich. Aku hanya pergi Check-up rutin dan seperti biasanya, semua baik-baik saja...” ucap Angela sembari menghembuskan napasnya kasar. Aldrich kini beralih ke hadapannya dan berlutut tepat dihadapannya, “Benarkah begitu, sayang? Maaf tidak bisa menemanimu. Apakah semuanya baik-baik saja?” tanya pria itu seraya menggengam tangannya. Angela kini hanya dapat tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Iya, Aldrich. Cuacanya sungguh saat sendu saat ini hingga membuatku menjadi sangat emosional. Aku benar-benar malu saat harus menuruti amarahku hingga mengikuti rasa cemburu yang berlebihan! Maafkan aku untuk segalanya...” ucap Angela mendapatkan kecupan Aldrich pada punggung tangannya. Perlahan musik jazz yang berputar terdengar semakin menenangkan, “Jangan meminta maaf untuk kesalahan yang tidak kau lakukan , sayang...” ucap Aldrich seraya mengecup dahi Angela dan menaiki ranjang lalu menggantungkan bingkai foto maternity Angela bersamanya yang telah jadi. “Kejutan!” seru Aldrich membuat Angela menangkup mulutnya yang terngaga melihat fotonya dengan gaun putih dan perut yang membuncit dengan Aldrich yang berlutut dihadapannya, berpose memberi kecupan pada perutnya yang sangat besar. “Sungguh, semuanya benar-benar sangat indah...” lirih Angela takjub membuat Aldrich berdecak kesal. “Tentu saja, sayang. kecantikanmu nyaris sangat sempurna mengisi keseluruhan bingkai foto ini dengan kebahagiaan yang tergambar jelas di wajahmu...” ucap Aldrich membuat Angela merasa sedih atau malah senang hingga ingin men angis, semua perasaan itu bercampur aduk memenuhi hati dan pikirannya. Lalu mengulurkan tangannya kepada Angela, “Ayo kita berdansa...” ucap Aldrich membuat Angela kontan menggeleng tegas. “Bagaimana mungkin kita berdansa diatas ranjang, Aldrich?” tanya Angela merasa tidak setuju dengan ide Aldrich yang kekanakan. “Bisa, ayolah!” pinta Aldrich menarik tangan Angela hingga tubuh gempal istrinya itu tertarik keatas ranjang dan berakhir di dalam pelukannya. “Aldrich!” teriak Angela marah mendapatkan kecupan bibir tebal Aldrich pada bibirnya. “Ikuti gerakan ku...” ucap Aldrich pertanda tak ingin di bantah. Kedua insan itu menari diiringi dengan lagu kesukaan Aldrich yang berjudul Fall into You, dimulai dari tarian waltz berakhir dengan melompat tak jelas diatas ranjang. Aldrich Spanos mengajak Angela menggila bagai anak kecil demi melepaskan stress yang ada. Tak peduli perut wanitanya yang kini mengandung jagoan kecil mereka yag dia beri nama Baby-boo. Aldrich memang terkadang sangat kekanakan... “Aldrich, sudahlah! Haha!” teriak Angela disela gelak tawanya hingga tubuh keduanya berakhir terhempas diatas ranjang. “Hahahaha!! Seru sekali, sudah lama rasanya tidak melompati trampolin. Hahahaha...” tawa Aldrich berakhir menjadi senyuman bahagia saat Angela menatapnya dengan penuh cinta. “Aku bahagia melihat mu tertawa lepas seperti itu, Aldrich...” ucap Angela membuat Aldrich tersenyum seraya mengecup dahi wanitanya yang cantik itu. “Aku pun bahagia karena kita sudah sampai pada hari ini, sayang. Maaf untuk semua kesibukanku yang menyita waktu untuk kebersamaan kita. Benarkah kau tidak apa-apa?” tanya Aldrich membuat Angela menganggukkan kepalanya. “Aku akan selalu berusaha untuk memahami kesibukanmu, Al. Sungguh, aku tidak apa-apa...” ucap Angela membuat Aldrich tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Membawa tubuh Angela bersandar didalam pelukannya, “Aku ingin tidur dan memeluk mu sepanjang waktu. Jika perlu seumur hidupku. Angela, aku harap kau tak pernah bosan denganku nantinya...” ucap Aldrich membuat Angela terkekeh geli. Mendongakkan kepalanya seraya mengecup dagu prianya itu, “Aku selalu berharap kau tak akan pernah bosan memeluk ku seperti ini, bahkan saat nanti tubuhku semakin membesar karena mengandung sembilan bulan buah hati kita, dan mungkin saja akan tetap bertahan gemuk pasca melahirkan. Aku harap kau tak akan pernah bosan dengan ku, Aldrich...” ucap Angela membuat Aldrich menunduk seraya mengecup bibir manisnya dengan gemas. “Aku tak akan pernah merasa bosan, karena semakin gemuk tubuh mu akan semakin empuk. Benar-benar sangat menarik...” goda Aldrich membuat bibir manis itu berdecak kesal. “Berarti menurut mu selama ini, tubuh ku tidak empuk dan tidak menarik?” tanya Angela membuat Aldrich kembali mengecup bibirnya gemas. “Kau selalu nyaman di peluk dan sangat menggairahkan, bahkan sedari dulu, sekretaris seksiku yang sangat menggoda...” bisik Aldrich membuat Angela kontan menenggelamkan kepalanya pada d**a bidang pria itu. “Aku ingin tidur...” “Ya sayang, bercintanya nanti  saja setelah terbangun...” gumam Aldrich asal membuat Angela memukul d**a bidang pria itu kesal. “Jangan berbicara sembarangan, Aldrich. Aku sedang tak ingin bercinta selamanya!” tegas Angela. Membelak tak percaya, “Apa-apaan, Angela?!” “Itu keputusanku untukmu karena ku sungguh sangat sibuk, Mr. Spanos si tukang ingkar janji!” teriak Angela seraya tergelak membuat Aldrich turut tergelak bersamanya. Aldrich pun berharap, tak ada kejadian seperti ini lagi dan tak ada kesalahan konyol yang dia perbuat lagi hingga terjadi kesalahpahaman. Beruntung saja, Angela tidak marah hingga berlarut-larut padanya. Istrinya sungguh sosok wanita hebat yang sulit untuk dia ungkapkan dengan kata-kata... “Maafkan aku, Angela...” bisik Aldrich membuat Agela tersenyum dalam dekapnya. Suaminya yang pekerja keras dan amat sangat dia cintai, sungguh Angela tak tahu caranya untuk mengungkapkan seluruh rasa dihatinya saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN