SS2 – 5. Precious time with you...

3091 Kata
Detakan jam perlahan mengantarkan langit oranye meninggalkan kemerahannya yang begitu indah pada beludru abu-abu kelam yang terhampar luas di langit malam. Meninggalkan semua rasa yang ada dalam sebuah peluk yang erat, terjaga dalam debaran yng hangat dan rasa aman yang tiada obatnya. Angela tahu seberapa besar rasa rindu yang mencekiknya saat aroma tubuh sang suami yang khas begitu menjadi sebuah candu yang menenangkan. Keduanya terlelap dalam tidur mereka yang sangat nyenyak, seakan menemukan apa itu namanya pulang kerumah yang sangat nyaman hingga melepaskan semua perkara lelah diluar sana. Sampai pada detik dimana rasa lapar menjadi titik terampuh untuk menarik diri kealam sadarnya. Mata biru dengan bingkai netra setajam elangnya itu trerkuak. Kruuk~ Suara perut yang lapar terdengar sangat tidak memiliki nilai estetika sama sekali hingga sudut bibir tebal pria itu tertarik perlahan. “Bisa-bisanya aku terbangun karena lapar...” desis Aldrich lalu berdecak pelan seraya menatap wajah cantik istrinya yang masih setia terlelap dalam tidurnya. Memperhatikan jam yang menunjukkan sudah lewat tengah malam, Aldrich mendesah lelah seraya menarik gagang telpon dan menekan angka dua untuk terhubung ke kepala pelayan rumah tangganya. “Selamat malam, Mr. Spanos...” “Selamat malam, Mrs, Spencer. Maaf telah mengganggu waktu istirahat anda...” ucap Aldrich kini merasa tak enak hati karena telah mendengar suara kantuk wanita paruh baya itu. “Ah, tidak apa-apa, Tuan. Saya juga belum tertidur karena baru memberikan kopi dan kudapan ringan untuk para bodyguard dan supir. Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan? Apakah Nyonya membutuhkan s**u malamnya?” Tersenyum seraya mengangukkan kepalanya, “Tepat sekali, tapi lebih daripada itu, bisakah anda sampaikan pada pelayan dapur untuk menyiapkan makan malam untuk kami?”  ucap Aldrich membuat wanita paruh baya itu tertawa ringan. “Tentu saja bisa, Tuan. Kami hanya melayani anda dan istri dirumah ini, jadi jangan merasa sungkan...” ucap Mr. Spencer seolah dapat membaca rasa tak enak hati Aldrich. Wajar saja, wanita itu telah bekerja untuk keluarganya bahkan sebelum dia lahir dan wanita itu juga yang telah merawat dan membesarkannya saat sang ibu memilih untuk pergi dan meninggalkannya. Mengusap wajahnya kasar, “Aku hanya tak ingin  mengganggu waktu beristirahat semua orang...” ucap Aldrich membuat hangat tawa wanita paruh baya itu terdengar. “Tidak masalah bagi kami untuk bangun dan melayani kebutuhan anda, Tuan. Jadi jangan pernah merasa sungkan untuk itu, ngomong-ngomong apakah ada pesanan khusus untuk menu makan malamnya?” Pria tampan itu sontak mengusap dagunya, “Eum, seperti biasa jangan pernah lupakan jagung untuk Angela dan aku sedang ingin memakan New England Chowder jika ada kerang...” ucap Aldrich menyatakan keinginannya menyantap sup krim hangat dengan isian kerang itu. Dirinya memang lebih banyak keinginan atau lebih sering mengidam sejak awal Angela mengandung dan menghentikan minatnya pada pisang. “Baik, Tuan. Koki dapur mengatakan akan menghidangkan Buffalo Chicken Wings, New England Chowder, Butter Sweet Corn dan Mashed Potato. Apakah ingin meminta tambahan protein lainnya?”  tanya wanita paruh baya itu kembali memastikan hal tersebut. “Hem, sepertinya Strawberry Soup sangatlah boleh dengan Garlic Bread untuk Angela. Kau tahu sendiri selera makannya sulit di tebak. Siapkan air panas untuk membuat susunya agar aku dapat membuatkan untuknya setelah makan nanti. “Baiklah, Tuan. Makana akan diantar dalam 20 menit lagi...” “Cukup ketuk pintu dan biarkan diluar...” ucap Aldrich membuat tawa wanita paruh baya itu terdengar lagi. “Baik, Tuan...” Pip! Aldrich tersenyum geli seraya meletakkan kembali gagang telepon tersebut ditempatnya, “Sepertinya kemesuman ku sudah diketahui oleh banyak orang...” desis Aldrich seraya terkwkwh geli. Berdecak pelah seraya menyusuri lekuk wajah cantik istrinya itu perlahan, “Apakah rasa kecewa dan marah membuatmu menjadi begitu kelelahan?” gumam Aldrich masih menjaga wanitanya itu dalam dekap ternyamannya. Wanitanya yang bahkan tak terganggu oleh obrolannya pada sambungan telepon itu, namun sedikit saja ia bergerak gaduh, maka Angela pasti akan menemukan titik kesadarannya. Mereka sama, sama-sama tertidur dan melewatkan waktu untuk makan malam... Mengulum senyum, Aldrich kembali mengusap perut buncit Angela yang kini terbalut gaun tidur tipis kesukaannya. “Hei Baby-boo, terimakasih tidak nakal saat Mommy terlelap dalam tidurnya...” gumam Aldrich berbisik ringan. Mengecup ringan rahang dan dagu istrinya yang terlihat semakin hari semakin cantik dengan pipinya yang berisi. Aldrich menurunkan gaun tidur berdada rendah itu dan mencumbunya dengan lembut, hingga Angela terusik dari tidurnya dan menggeliat geli. Seperti biasa, istri cantiknya itu terlihat sangat amat sempurna dan memancing segala keinginan dalam dirinya... Tertarik dari alam bawah dasarnya, mata semanis permen coklat itu terbuka. Angela membulatkan matanya, melihat kelakuan suaminya kini, "Aldrich! Siapa yang menyuruhmu menyentuhku disaat tidur!" pekik Angela lantang menolak wajah suaminya yang kini menyengir tanpa dosa.  “Aku hanya menikmati hak ku, sayang. Apakah perlu meminta izin untuk menikmati s**u malam ku?” tanya Aldrich dengan senyuman mesumnya yang terlihat sangat menyebalkan.  Angela membulatkan matanya, "Menjauh dariku, Aldrich kau berat!" protesnya membuat Aldrich kini mengecup bibirnya gemas. Cup!   Angela mengerutkan dahinya, seolah tanpa beban Aldrich kini mengecup bibirnya dengan kecupan kecil berulang kali. Cup! Cuph! Cuph! “Aldrich!” Seperti biasa, Aldrich tak akan berhenti dengan mudahnya jika sedang menggoda dirinya. Luar biasa sekali suaminya ini... “Hentikan, Aldrich!” teriak  Angela menolak tubuh atletis pria itu dengan sekuat tenaga dan hal itu membuat Aldrich mengerucutkan bibirnya kesal. “Istriku tega sekali pada suaminya, biarkan aku menikmati s**u segar itu langsung dari sumbernya sebelum nanti harus berbagi dengan Little Spanos...” sungut Aldrich membuat Angela tergelak pelan hingga berakhir menguap. “Hoaaam... Aku masih sangat mengantuk, Al. Jangan mengangguku tidur. Aish, menyebalkan sekali...” sungut Angela membuat Aldrich kini mengecup pipinya berakhir dengan berbisik ditelinganya. “Kau belum makan malam sayang, bagunlah dulu. Kita makan malam bersama...” bisik Aldrich membuat Angela menggelengkan kepalanya. “Aku sangat mengantuk, Aldrich. Biarkan aku tertidur...” ucap Angela membuat Aldrich kini mengecup daun telinganya. “Aku akui sangat merindukanmu, sayang...” bisik Aldrich membuat Angela tak mampu meredam hasrat yang menggelenyar dalam dirinya. “Aldrich...” rengek Angela menolak wajah Aldrich yang tak henti mencumbunya. Matanya sungguh sangat mengantuk hingga sulit untuk terbuka dan rasa kantuk itu tidaklah bercanda... "Hei sayang, kau harus mengisi perutmu, Baby-boo pasti kelaparan sekarang." ucap Aldrich bersungguh-sungguh.  Angela mendengus kesal, "Kau tahu kan, aku akan sulit untuk tertidur lagi jika kantuk ku hilang?" tanyanya dengan wajah yang memasam. Aldrich terkekeh, memeluk Angela semakin erat, "Jika begitu, bangun dan minum s**u atau aku yang akan menyusu?" bisik Aldrich seraya menggoda istrinya dengan seduktif.  "Aldrich, hentikan..." ucap Angela pelan seraya menarik tangan Aldrich menjauh. Sungguh rasa kantuknya tidaklah main-main sekarang... Aldrich berdecak kesal, "Hei, Angela. Ayolah bangun dan temani suamimu ini makan malam atau aku yang akan memakanmu...” ucap Aldrich seraya memainkan tali gaun tidur Angela.  “Aldrich, jangan memancingku. Kau lupa bahwa sekarang bahkan kita sudah tak terlalu rutin melakukannya, jangan membuatku terbiasa hingga pada akhirnya kau yang tidak selalu bisa...” keluh Angela lesu.  Aldrich tersenyum geli, "Perkataanmu seperti sebuah ajakan untuk bercinta setiap harinya..." Ucapan Aldrich membuat Angela merona malu, sesungguhnya mereka memang baru tiga kali bercinta dalam sebulan belakangan ini. Aldrich memang menjadi begitu sibuk sejak lelang proyek dimulai dan kini pelaksanaan pembangunan proyek itu sudah akan dimulai, Angela tak tahu akan sesibuk bagaimana lagi suaminya nanti. "Memang, kita harus menjadikan itu rutinitas. Kau tak tahu bagaimana aku merasa sedikit tenang dan rileks setelah bercinta dan Baby-boo selalu merasa tenang saat kau mengusapnya saat aku tertidur..." jawab Angela serius, rasa kantuknya seolah lenyap entah kemana. Aldrich menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tega jika pulangku hanya membuatmu yang terlelap harus terbangun demi meladeniku menuntaskan hasrat biologisku lagipula bukankah sejak mengandung kau mengalami kekeringan, aku tidak ingin menyakitimu..." ucapnya lirih, hingga menyentuh Angela tepat di hatinya. Angela mendongakkan kepalanya, “Aku adalah istrimu, Al. Tidak ada salahnya jika kau menagih hak mu dan aku akan dengan senang hati memberikan hak ku...” ucapnya seraya menatap mata biru kelam pria itu dalam. Wajah mereka berdekatan. Deru nafasnya menyapu bibir pria yang sedang berupaya menyatukan bibir mereka perlahan membuat Angela memejamkan matanya. Bibir tebal nan hangat  itupun menyentuh bibirnya. Pria itu membuka sedikit mulutnya lalu mengecap bibir bawahnya perlahan berganti mengecap bibir atasnya. Angela memejamkan matanya membalas mengecap bibir pria itu tak kalah lembut. Lidah merekapun ikut beradu Angela mengulurkan tangannya, mengalungkan pada leher Aldrich, jemarinya pun menyusuri surai gelap pria itu dengan gerakan sensual. Angela membuka matanya saat tautan mereka terlepas, menatap Aldrich yang juga menatapnya dalam rasa yang sama, pria itu menunduk lagi mengecup ringan hidungnya, turun ke bibir dan perlahan mengecup rahangnya lalu mengecup dan mencumbu lehernya seduktif membuat Angela tak kuasa menahan desahnya saat tangan pria itu menelusuri punggungnya yang terbalut gaun tidur putih berbahan sutera lembut tersebut, turun membelai pinggangnya seduktif. "Aldrich..." Angela memejamkan matanya saat Aldrich mulai memberikan cumbuan pada lehernya, membelai dengan lidah hangatnya dan berakhir menghisap lehernya seduktif. Angela melemah dalam pasrah, terserang gairah hingga tubuhnya panas dingin.  “Jadi, kita akan makan atau bercinta?" bisiknya sensual, menarik Aldrich menoleh padanya takjub. Trersenyum hingga lesung pipinya tergambar dengan jelas, “Sepertinya lelah bercinta akan membuat perut terasa lapar dan semuanya akan terasa nikmat...” Angela tertawa ringan memeluk Aldrich erat, “Suamiku ini memang sangat pintar berbasa basi, jadi haruskah aku yang memulainya?” tanya Angela dengan nada manja yang terdengar sangat intim. "Baiklah, jika Nyonya istri yang memaksa, aku bisa apa?" tanya Aldrich lesu, pasrah yang di buat-buat. Angela hanya dapat tertawa mencubit pria nakal itu gemas. “Angela! Oh s**t!” “Rasakan itu, hahahaha!!!”   - Gelak tawa Angela kini berubah menjadi suasana romantisme yang panas membara. Desahan memenuhi ruangan yang terbilang sangat luas itu. Mereka bercinta, mereka memulai peraduan yang penuh cinta itu. Percintaan dengan sedikit bumbu kekhawatiran karena keadaan Angela sejak mengandung.Berbanding terbalik dengan wanita lainnya, Angela juga mengalami kekeringan pada bagian sensitifnya sejak masa kehamilan, sehingga membuat cairan lubrikasi alaminya berkurang dan tidak seperti biasanya. Hal ini disebabkan oleh fluktuasi hormon saat hamil dan itu terkadang membuat keduanya merasa tidak nyaman, terlebih untuk Angela yang merasa kesakitan sekaligus tak nyaman dengan suaminya. Beruntung Aldrich adalah pria yang penuh kasih dan selalu memperlakukannya dengan lembut dan tidak terburu-buru. Suaminya memang definisi sempurna untuk seorang pria yang tampan, hot dan seksi. Angela sangat beruntung karena bisa memiliki dan dimiliki pria sesempurna Aldrich. Mereka menikmati percintaan tu sehingga dirinya mencapai puncaknya dengan begitu cepat,hingga pada akhirnya mereka meraih puncak pelepasan tertinggi yang pernah ada. Sebuah percintaan yang hangat. Ya, ini adalah percintaan yang hangat dan akan selalu mereka ingat... - Seisi ruangan kamar tidur itu kini tercium aroma makanan yang lezat, letupan krim sup itu didalam mangkuk keramik dengan api yang menyala disertai asap yang mengepul, begitu juga dengan Strawberry sup untuk Angela yang Aldrich turut panaskan. Percintaan yang mereka lakukan tadi membuat semua makanan menjadi dingin semuanya. Angela memakan pipilan jagung dengan butter itu seakan tak membutuhkan makanan lainnya, matanya tak henti memperhatikan sang suami yang memakan krim sup kerangnya yang hangat dengan lahap bersama garlic bread dan mashed potatonya. “Aaa...” ucap Aldrich menyodorkan saya ayam tanpa tulang itu dan Angela sontak menggelengkan kepalanya. “Aku sedang tidak ingin ayam...” ucap Angela mengungkapkan keengganan hatinya yang saat ini begitu nyaman dengan sumber karbohidrat kesukaannya sejak hamil itu. “Padahal sayap ayam ini sangat enak dan gurih...” ucap Aldrich membuat Angela tetap dengan gelengan kepalanya. “Cukup melihatmu makan saja...” ucap Angela membuat Aldrich mendesah lelah. “Apakah bisa kenyang dengan seperti itu?” tanyanya membuat Angela menyodorkan sesedok penuh Butter Corn itu pada Aldrich yang dengan senang hati menerimanya. “Itu sudah sangat nikmat untukku...” ucap Angela aat Aldrich mengunyah jangung yang di panseared dengan butter itu. “Baiklah ayo makan sup stoberi mu ini...” ucap Aldrich seraya mengaduk sup s**u stoberi itu dan meniupnya. Angela mengerutkan dahinya yang tiba-tiba merasa mual saat membayangkan sup merah muda itu masuk kemulutnya, “Apakah enak?” tanyanya membuat Aldrich menganggukkan kepalanya. “Tentu saja enak sayang, bahkan terdapat irisan kacang almond dan pitascio kesukaanmu didalammnya. Aaa...” ucap Aldrich membuat Angela dengan tak rela membuka mulutnya. “Aku tak tahu kenapa, tpi sepertinya aku tidak akan menyukainya, Aldrich...” ucap Angela membuat Aldrich mendesah lelah. “Jadi kau hanya cukup memakan jagung itu, sayang?” tanyanya mendapatkan anggukan dari Angela. Mengfhembuskan nafasnya kasar, “Bagaimana jika Baby-boo tak cukup kenyang?” tanya Aldrich membuat Angela menggeleng samar. “Kan kau belum membuatkan s**u untuk kami, aku akan meminum s**u saja nanti...” ucap Angela membuat Aldrich meletakkan sendoknya dan hendak bergerak. “Eh, mau kemana?” tany Angela seraya menahan tangan Aldrich hingga gerak pria itu terhenti. Aldrich menghembuskan napasnya pelan, “Tentu saja membuatkan s**u untukmu, sayang...” ucapnya membuat Angela menggeram kesal. “Nanti kataku, lanjutkan makanmu...” Berdecak kesal, “Rasanya malas untuk melanjutkannya jika kau hanya menjadi penonton...” lirih Aldrich membuat Angela berdecak malas. “Aku sedang tak ingin memakannya, Aldrich. Jangan memaksakan daripada aku muntah nantinya...” sungut Angela merasa kesal dengan suaminya itu. “Baiklah, kau lihat aku harus menghabiskan makanan sebanyak ini...” sungut Aldrich membuat Angela memeluknya seraya mengusap otot perutnya yang kini sudah bebaur dengan lemak. “Bukankah suami yang baik harus menemani istrinya yang sedang mengandung dengan totalitas?” tanya Angela membuat Aldrich mendesah lelah. “Iya sayang, asalkan kau bahagia...” desis Aldrich membuat Angela berdecak senang. “Ya, aku sangat bahagia! Terimakasih suamiku!” seru Angela membuat Aldrich hanya dapat memutar kedua bola matanya malas. - Angela tersenyum seraya menyesap habis s**u coklatnya, suaminya sungguh sangat cerewet karena dirinya tak sanggup menghabiskan banyak makanan lezat yang terhidang untuk mereka. “Sudah habis, Daddy...” ucap Angela memberikan gelas kosong itu pada Aldrich yang kini kembali sibuk berkutat dengan pekerjaan yang dia tinggalkan tadi. Tersenyum saat menyambut gelas itu, “Good, terima kasih telah menghabiskannya, Mommy...” bisik Aldrich mengecup dahi dan bibir Angela. Mengerucutkan bibirnya, “Haruskah bekerja lagi?” tanya Angela membuat Aldrich mendesah pelan seraya melepaskan kacamata yang bertengger diwajah tampannya. “Mari kita lanjutkan tidurnya, sayang...” ucap Aldrich kini menuntun tubuh Angela untuk kembali berbaring dan mengecup perut buncit istrinya itu. “Maaf telah membuat kekacauan di dalam sana, Baby-boo...” bisik Aldrich bersambut dengan tendangan si jabang bayi mungilnya yang mengenai usapan tangannya. “Dia merasa kesal denganmu, Daddy...” lirih Angela membuat Aldrich terkekeh geli. “Padahal aku sudah menyiraminya dengan cairan cinta...” lirih Aldrich kini turut merebah di ranjang empuk itu dan tanpa menunggu Angela memeluknya dengan erat. “Hentikan omong kosongmu, Daddy. Ayo tidur...” bisik Angela dengan mata yang memejam. Aldrich terkekeh geli seraya mengecup bibirnya penuh kasih, “Mipi indah bersamaku, sayang...” bisik Aldrich tepat di bibir ranum itu. “You too, sayang...” gumam Angela dengan mata memejam, membiarkan diri perlahan larut kealam mimpinya. Demi apapun, malam ini terasa sangat indah untuknya. Angela berharap setiap harinya mampu mereka lewati seperti ini, masalah yang ada seperti datang dan pergi bagai angin lalu. Berharap dirinya akan selalu kuat agar tak di kuasai oleh amarah. Harapan yang akan berusaha dia perjuangkan agar tak menjadi sekedar harap semata. Tuhan tahu bagaimana caranya melapangkan hatinya untuk selalu ikhlas saat kenyataan tak sesuai dengan harapan... *** Keesokan harinya... Bisa dikatakan pagi ini sangat menyenangkan bagi keduanya, mereka menghabiskan banyak waktu mengobrol bersama sejak bangun dan bersiap setelah mandi. Mereka saling menceritakan satu sama lainnya dengan gelak tawa yang menyenangkan. Memang komunikasi jauh lebih penting dari aktivitas ranjang. Tapi, jika keduanya seimbang, bukankah lebih baik? “Nanti sore kita akan melanjutkannya lagi...” bisik Aldrich seraya mengusap rambut Angela agar tak menutupi wajah cantiknya. Dahi wanita itu sontak berkerut, “Eum, melanjutkan apa?” tanya Angela dengan polosnya, tidak, dirinya benar-benar tidak tahu maksud dari ucapan suaminya yang ambigu. “Melanjutkan yang malam tadi, bukankah kita belum cukup puas melakukannya?” tanya Aldrich membuat Angela terkekeh geli. “Sebaiknya kita jangan terlalu sering melakukannya, Aldrich.” ucap Angela sedikit berhati-hati agar tidak melukai hati suaminya. “Kenapa tidak boleh? Apa aku sudah menyakitimu?” tanya Aldrich membuat Angela mengecup bibir tebalnya dengan begitu gemas. “Tidak, sayang. Gairah bercinta bisa saja surut, Aldrich. Aku membaca sebuah artikel dimana percintaan yang berbumbu rindu mengikat pasangan lebih kuat secara emosional...” ucap Angela menyatakan alasannya. Mengecup pipi berisi wanitanya itu penuh kasih, “Aku memiliki gairah bercinta yang besar hanya denganmu, sayang. Bahkan aku merasa sedikit bimbang, waktuku yang terbatas membuatmu merasa jenuh menunggu, terlebih jika kau merasa bahwa aku mengabaikanmu...” ucap Aldrich membuat Angela tersenyum seraya mengusap rahang tegas suaminya itu. “Tidak begitu, Aldrich. Aku sangat tahu bahwa kau juga lelah dengan semua kesibukanmu dan sebagai seorang istri, aku akan selalu menunggumu dan mendukungmu tanpa lelah. Tanpa rasa jenuh sama sekali...” ucap Angela tak dapat menahan rona merah yang sarat akan kebahagiaan  di wajahnya. “Oh angela, kau memang istri yang pengertian nan sempurna untukku. Aku sungguh sangat bahagia karenanya...” ucap Aldrich membuat Angela menatapnya dengan begitu dalam. “Aldrich, terima kasih banyak telah bekerja keras untuk semuanya, suamiku tersayang, aku selalu berharap kau juga memperhatikan kesehatanmu...” ucap Angela dengan mata berkaca-kaca dalam haru. “Iya sayang, terima kasih. Kau tahu bahwa kesehatanmu dan bayi kita menjadi prioritas penting dalam hidupku, sayang? Aku harap kita bisa saling menjaga dan sisanya, kita hanya perlu berusaha dan berdoa untuk itu...” ucap Aldrich mengecup bibir manis itu perlahan berbuah lumatan lembut. Dan seperti biasanya, dering ponsel Aldrich menginterupsi keduanya. Angela pun terkekeh geli saat mendengar decakan kesal keluar dari bibir tebal prianya itu. “Aish, menyebalkan sekali...” desis Aldrich membuat Angela mengecup bibirnya gemas. “Panggilan tanggung jawabmu yang lain sudah menunggu, sayang...” bisik Angela tepat di bibir tebalnya membuat suaminya itu menjawab panggilan tersebut dengan wajah yang memasam. "Ya, Berenda..." ucap Aldrich pada sambungan telepon itu dengan mata yang melirik pada Angela. "Aku tunggu diruangan makan..." lanjut pria itu seraya meninggalkan kamar tidur mereka untuk menuju keruangan makan. Angela hanya dapat tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, "Ya, aku akan kesana setelah bersiap..." ucapnya tak lagi menemukan jawaban dari suaminya itu. Melepaskan gelungan rambutnya hingga tergerai, "Dasar pemarah..." gumam Angela seraya memperhatikan punggung tegap suaminya yang berlalu. Angela tahu rasa hati mereka sama saat ini, tak rela dan terpaksa saat harus mengakhiri kebersamaan mereka yang berharga dan serba terbatas. Tapi dirinya sangat yakin bahwa semua batasan ini hanya untuk sementara. Dirinya harus lebih bersabar dan menikmati saat-saat berharga yang mampu Aldrich berikan disela kesibukannya dengan jadwal-jadwalnya yang kian hari semakin mencekik. “Terima kasih, suamiku. Terima kasih, Daddy...” lirih Angela tersenyum dalam berjuta rasa haru seraya mengusap perutnya yang merasakan tendangan nakal jagoan kecilnya. Dirinya sangat bahagia dan berharap suaminya juga merasakan kebahagiaan yang sama dengannya...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN