Pagi tadi Alena memang merasa perasaannya tidak enak. Bahkan rasa itu terus bercokol kuat di hatinya sesampai dia tiba di sekolah, selama mengikuti pelajaran, makan siang di kantin, bahkan sampai pulang sekolah. Entah bagaimana Alena merasa ada yang kurang dan terasa aneh. Dia seperti telah melupakan dan melewatkan hal besar. Harinya saat ini terasa lebih nyaman dan tentram dari pada hari-hari sebelumnya karena Devan selalu ... Itu dia! Devan! Alena baru sadar jika seharian ini cowok itu tidak muncul di hadapannya. Padahal biasanya dia selalu menghampirinya di jam istirahat saat di kantin. Atau minimal ngirim chat tidak penting yang bikin keki selama jam pelajaran berlangsung. Tak jarang juga Devan memberitahu Alena jika dia sama sekali benci berada di kelas IPA. Bagi Devan, kelas itu l

