Prolog
Prolog
Sore itu ada yang berdiri tegap di tempat kerja Aisyah Nahla, gadis berjilbab dan berparas jelita. Namun, terlahir dari keluarga biasa.
Aisyah Nahlah terlihat memasuki tempat itu, bernama TBA Al-Fatih (Taman Bermain Anak Al-Fatih) banginya TBA adalah rumah kedua untuk Aisyah, barisan stand makanan pun memenuhi tempat itu, salah satunya stand soto ayam kampung yang terkenal lezat di sana.
Kini tangan Aisyah mengepal keras, seraya menggigit bibir bawahnya kuat untuk mengumpulkan sebuah kekuatan, tatkala melihat sosok Hamdan Alamsyah sudah berada diantara pengunjung yang datang dan sudah berada di hadapannya.
"Aisyah ...," seru Hamdan.
Namun, Aisyah mengabaikan panggilan darinya dan melewati pria itu begitu saja.
"Kamu kenapa, Syah?" tanya Hamdan, sembari mencoba meraih tangan lembut Aisyah. Namun, berhasil gadis itu tepis.
"Kenapa gak ada kabar sama sekali? Hampir seminggu, kamu menghindar dariku. Apa ada kata, perbuatan atau ... kesalahan apa yang sudah aku lakukan sama kamu, Aisyah?!" tanya Hamdan lagi tanpa jeda, terlihat jelas ada kepanikan, menghiasi raut wajah tampannya.
Ya, pria berjonggot tipis itu sangat mencintai tambatan hatinya, saat ada perubahan dari wanitanya, wajar jika pria berusia dua puluh tujuh tahun itu khawatir.
Sayangnya, Aisyah memilih bungkam dan tetap melangkah untuk menghindar yang sebenarnya ia pun sangat mencintainya.
Bahkan, Aisyah tidak sanggup melihat wajah tampan berpadu manis itu begitu lesu dan tidak semangat.
Hamdan masih setia menanti sebuah jawaban, seraya terus mengikuti langkah dari wanita yang hampir setahun lebih menjadi kekasihnya.
Tempat yang cukup luas. Taman yang menyediakan banyak tempat permainan danmenjadi favorit anak-anak itu, kini seakan sunyi. Bahkan Hamdan mengabaikan ramainya pengunjung, beberapa dari mereka melihat ke arahnya.
Para orang tua yang menunggu anaknya bermain, bisa duduk santai nan asyik menikmati hidangan berbagai jenis makanan yang disediakan oleh barisan stand di sana. Dengan mengusung konsep Outdoor membuat TBA Al-Fatih selalu ramai pengunjung.
Di tempat lain tak jauh dari Aisyah dan Hamdan. Adelia Revina, gadis yang memiliki paras cantik dan berambut panjang itu menatap pasangan kekasih itu heran. Mata bulat indahnya melebar, raut wajah penuh tanda tanya terlihat jelas pada gadis berdarah Minang itu.
TBA Al-Fatih, menjadi tempat di mana mereka berkumpul sembari menemani Aisyah bekerja tanpa menganggu aktivitasnya. Berlokasi di perumahan elit, membuat Adelia nyaman berkunjung ke sana, meskipun untuk sekedar ngopi dan berbincang santai.
Akan tetapi, akhir-akhir ini ada yang berbeda dengan kedua sahabatnya, Adelia menyipitkan kedua matanya dan masih menatap ke arah Hamdan dan Aisyah, meski tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, gadis itu yakin hubungan keduanya sedang tidak baik-baik saja.
"Kalau kamu diam aja aku nggak akan pernah tau kesalahan apa yang udah kulakukan."
Aisyah terus berjalan dan masih menghiraukan pria-nya.
"Baik, jika dengan ini membuatmu senang, silahkan ... lakukan! Setidaknya tolong bicara meskipun cuma satu kata, Aisyah Nahla?!"
Hamdan menghentikan langkahnya. Seketika langkah gadis itu terhenti mendengar kalimat lantang dari mulut Hamdan. Aisyah langsung berbalik badan, lalu mengedarkan pandangan ke arah sekitar, benar saja suara teriakan Hamdan berhasil membuat sebagian orang memperhatikannya.
Lalu Aisyah berjalan mendekati pria yang mulai pasrah akan sikap dinginnya.
"Pulanglah, Dan. Biarkan aku bekerja dengan tenang," titahnya lembut.
Gadis berhidung mancung itu kini sudah berdiri di hadapannya.
"Nggak ....!" Hamdan menjeda kalimatnya sebelum ia kembali berucap, "sebenarnya apa yang membuat kamu menghindar kayak gini?"
Aisyah kembali melihat ke arah sekitar, ia begitu malu menjadi pusat perhatian orang sekelilingnya, gadis itu tahu betul. Kekasihnya sangat keras kepala, sebelum ia mendapatkan jawaban pria di hadapannya akan tetap bersikap seperti itu.
"Kamu sudah tau jawabanya, Dan," jawab Aisyah cepat.
Kini gadis anggun dengan jilbabnya itu kembali melangkah dan meninggalkan pria yang hanya terdiam. Hamdan menatap punggung kekasihnya lekat. Aisyah menyibak air mata yang luruh begitu saja.
Hamdan Alamsyah adalah pria yang Aisyah cintai, seorang laki-laki yang berhasil menyembuhkannya dari trauma masa lalunya. Sejak sang Ayah meninggalkan keluarganya demi wanita lain. Aisyah takut membuka hati untuk seorang laki-laki.
Akan tetapi, sifat Hamdan yang tulus, jujur, dan perhatian, membuat gadis bertubuh tinggi 157 cm itu memberanikan diri untuk jatuh cinta dan kini, ia sangat takut kehilangannya sosok Hamdan yang selama ini menemaninya.
Namun, karena perbedaan kasta orang tua Hamdan tidak merestui hubungan mereka, terlebih Ibu Hamdan, dia sering menghina Aisyah bahkan mengancamnya. Tulusnya cinta yang tumbuh diantara mereka menghadirkan rasa yang luar biasa. Meski ditentang oleh keluarga. Hamdan bersikeras memperjuangkan Aisyah Nahla.
***
Hamdan yang masih tidak mengerti akan perubahan sikap sang kekasih, segera menghampiri Adelia yang sedang duduk di seberang sana. Layaknya seorang sahabat yang siap mendengarkan setiap keluh kesahnya.
Hamdan mulai menerka-nerka. Apakah perpisahannya dengan tambatan hatinya sudah di depan mata? Namun, bukan Hamdan Alamsyah namanya jika harus melepaskan Aisyah begitu saja.
"Kamu kenapa, Dan?" tanya Adelia penasaran.
Pria berambut gondrong itu sudah duduk tepat di hadapan Adelia.
"Aku liat kalian sedang ngobrol serius ... kalian berantem? terus masalahnya apa?" tanya Adel lagi, gadis bertubuh bak model itu mulai mengintrogasi Hamdan yang tengah duduk dalam kepasrahan.
Hamdan mengusap wajahnya kasar, napasnya mulai tak beraturan. Perasaan takut, khawatir, bahkan kebingungan kini menyatu menjadi satu. Apakah ini yang dinamakan sakit namun tak berdarah?
"Emm ... atau gini deh, mending kamu biarin Aisyah sendiri dulu, mungkin dia butuh ketenangan untuk saat ini," tutur Adelia, lebih tepatnya sebuah titah halus agar Hamdan pergi dari tempat itu.
"Del, kamu tau, 'kan. Aku sangat memperjuangkan Aisyah dan aku sangat mencintainya," Jawab Hamdan tegas.
Adelia mengangguk pelan dan antusias mendengarkan.
"Apapun kondisinya aku akan tetap bertahan!" kata Hamdan lagi, dengan sedikit berbisik dan penuh penekanan, ia tidak ingin orang lain mendengar percakapannya.
Iris mata khas itu kini memerah, seolah menahan amarah yang tidak bisa ia lampiaskan tangannya mengepal keras. Senyumnya yang khas dan menawan, kini tidak terlihat.
Adelia berusaha mencerna kalimat Hamdan dengan baik, satu sisi ia paham akan perasaan laki-laki yang tengah duduk dihadapannya dan tidak berdaya oleh seorang wanita.
Satu sisi lagi, ada Aisyah sahabat sekaligus seperti saudara perempuan baginya, ia pun yakin Aisyah punya alasan mengapa berbuat demikian. Meskipun untuk saat ini ia belum mengerti dengan apa yang sudah terjadi.
"Gini, Dan ...." Adelia berusaha menasehati.
Namun, belum sempat gadis itu berucap. Erwin Manggala pria berwajah oval itu datang dan turut serta bergabung di meja mereka