BAB 1

1328 Kata
" Num... " suara teriakan Renata terdengar di seluruh kantin yang otomatis membuat puluhan mata melihat ke arah Shanum dan yang pastinya membuat Shanum jadi salah tingkah karena tatapan itu. Bergegas Shanum langsung menuju ke arah sumber suara untuk menghilangkan tatapan para penghuni kantin yang sedang menikmati makanannya. " Kamu apa apain sih ren??? " tanya Shanum sambil meletakkan bokongnya di atas kursi tepat di depan Renata dan Nadya. " Maksudnya??? " tanya Renata bingung. " Gak usah teriak - teriak kayak tarzan kalau manggil aku, aku belum tuli ren. " " ohhhh, tak kirain apa. lagian yang bilang kamu tuli siapa??? gue kan cuma panggil biar lu gak bingung nyari kita berdua. " jawab Renata dengan santainya dan membuat Shanum makin kesal. " iya, aku tahu. Tapi kan karena teriakan kamu semua orang jadi liatin aku. " " Biarin aja kali, lu kan cantik dan pintar jadi wajarkan kalau mereka ngeliatin sampai segitunya. " ucap Renata sambil terkekeh. " lagian lu dari mana sih, lama banget dari tadi juga di tungguin, gue kan udah laper banget. " ucap Nadya sambil memegang perut yang sudah berdendang dari tadi minta diisi. " sorry sayang sayangku, tadi singgah ke ruang Pak Jamal biasa serahin tugas. lagian kalau kalian lapar kan bisa makan duluan gak usah tunggu aku. " ucap Shanum menjelaskan. " kami kan setia kawan, gak mungkin kami tega biarin lu makan sendirian. masa di rumah makan sendiri eh di kantin makan sendiri juga. gak etis tahu. iya gak nad??? " tanya Renata dan di balas anggukan oleh Nadya. " iya deh, kalian sudah pesan makanan???? " " belum " jawab Renata dan Nadya berbarengan. " kalau gitu biar aku yang pesan deh, kalian mau makan apa??? " Tanya Shanum " gue makan bakso aja Num. lu apa Ren?? " tanya Nadya. " gue bakso juga deh sama es teh ya. " jawab Renata sambil mengeluarkn uang di dalam dompet hitamnya. " Gak usah, biar aku yang bayar. " ucap Shanum ketika melihat Renata akan menyerahkan uang merah padanya. " Gak usah Num, lu simpan aja uang lu. Mana tahu ada keperluan mendadak lainnya. " ucap Renata dan di iyakan oleh Nadya yang duduk disampingnya. " Gak papa kali, sekali kali aku yang teraktir kalian. Gak bakal bikin aku bangkrut kok. Lagian nih aku dapat bonus dari Pak Jamal karena udah bantuin dia. Jadi kalian tenang aja. " ucap Shanum menjelaskan. " Tapi kan uangnya bisa kamu simpan Num. mana tahu nanti lu butuh untuk yang lain, daripada lu minta sama nenek lampir di rumah. " ucap renata " Iya Num, simpan aja ya " Nadya pun ikut memujuk Shanum. " Sayangku, nenek lampir yang kau bilang itu mamahku loh, istrinya Ayah. Jangan lupakan itu. " ucap Shanum sambil tersenyum. Renata dan Nadya memang selalu perhatian pada Shanum. Pertemanan yang terjalin dari mereka sekolah menengah hingga sekarang sehingga mereka tahu bagaimana Shanum menjalani hari - harinya di rumah itu. Rumah Ayah Shanum yang seharusnya milik Shanum tetapi malah Shanum yang seakan - akan menumpang. Karena semenjak menikah semua keputusan menyangkut masalah rumah hanya mamahnya yang mengurus. Ayah Shanum hanya sibuk mengurus perusahaannya saja, tanpa mau tahu apa keinginan anak perempuannya itu. " iya dech, kami pasrah. Tapi cukup kali ini saja ya. Gue sama Nadya gak mau lagi lain kali. " ucap Renata yang akhirnya mengalah karena dia tahu percuma berdebat dengan Shanum kalau akhirnya dia akan tetap membela Mamahnya dan juga saudara tirinya, Adinda. " Kalau gitu kalian tunggu disini ya, aku mau pesan dulu. " Ucap Shanum lalu pergi menuju stand penjual bakso untuk memesan makan siang mereka. Bakso datang dan mereka menikmati dalam diam. Segelas es teh dan juga semangkok bakso yang super pedas tandas dalam sekejap mata. Usai makan mereka meninggalkan kantin dan bersiap - siap untuk pulang. " lu pulang sama siapa Num??? " tanya Renata " Aku bawa motor Ren. " " Gila aja lu, ini panas banget Num. entar gosong loh. " pekik Nadya " Ikut gue aja yuk, gue bawa mobil. Atau ikut Nadya, tuh supirnya udah datang. " ucap Renata sambil menunjuk mobil pacar Nadya yang datang menjemputnya. " Gak usah ah, masa motorku mau di tinggal lagi disini. lagian juga gak hujan ren. Kalaupun ikut Nadya bisa - bisa aku di jadiin obat nyamuk dalam mobilnya si Dhika " " lu tu ya, susah banget di kasih tahu. lagian juga Alvian lama banget sich keluar kotanya. " gerutu Nadya dan hanya di balas senyuman oleh Shanum. Pacar Shanum yang bernama Alvian memang sedang keluar kota bersama keluarganya. keponakan dari mamahnya yang merupakan sepupu dari Alvian menikah dan itu mewajibkan baginya untuk menghadiri acara tersebut walaupun dia enggan hadir disana. " Udah gak papa kali kalau aku naik motor, lebih cepat sampai. " ucap Shanum beralasan. " Lagian Adit mana sich, coba kalau pagi dia antar lu dulu kan bisa baru dia ke kampus nya. Biar Nadya sekalian bisa lihat wajah gantengnya adekmu. " ledek Renata sambil menyenggol bahu Nadya. " kok aku sich yang di bawa - bawa. jangan sekate - kate lu Ren, gue gak naksir Adit hanya sekedar mengagumi wajah nya yang super cute kayak oppa - oppa korea kesayangan gue. " " mulai lagi ni halu nya " " Gue gak ngehalu non, hanya berhalusinasi dengan oppa - oppa. lagian kan gue udah punya ayank dhika, cukup 1 aja karena gue itu tipe cewek setia. " ucap Nadya disambut gelak tawa Renata dan Shanum. Shanum yang melihat kelakuan dua sahabatnya hanya bisa geleng - geleng kepala. Dia tidak pernah marah walaupun mereka selalu membicarakan keluarga besarnya, baik ataupun buruk. dua sahabatnya ini sudah mengetahui semua tentang dia. tak pernah ada satu hal pun menyangkut diri Shanum yang mereka tak tahu. Mereka berhenti tertawa ketika mobil sudah terparkir rapi di depannya dan Dhika keluar dari mobil menuju ke arah Nadya. " Sudah lama yank??? " Tanya Dhika ketika sudah berdiri di depan Nadya " Gak yank, baru aja kok. " " Udah makan??? " " Udah makan bakso sama Shanum dan Renata. Sudah selesai meeting nya??? " " Sudah jadi langsung bisa kesini jemput kamu. Sekalian mau ajak kamu ke rumah. Kak fira datang pengen ketemu kamu, kangen katanya. ryo juga cari aunty cantik nya dari tadi. " " Kapan datang yank??? " " Tadi pagi. jadi bisa kan kita ke rumah ??? " tanya Dhika pada Nadya. " Bisa kok. " Jawab Nadya di sertai anggukan " lu yakin gak ikut Num??? kami bisa kok antar lu dulu baru ke rumah Dhika. " tanya Nadya pada Shanum. " Gak usah Nad, makasih banyak. Aku pulang sendiri aja. " Jawab Shanum " Yakin??? " Tanya Nadya sekali lagi " iya, udah deh pergi gih. sudah di tunggu calon mertua sama calon kakak ipar. Salam aja sama mereka juga sama Ryo ya. kangen pengen cubit pipinya yang gembul. " keponakan Dhika yang bernama Ryo memang menggemaskan. di usia yang baru 3 tahun tapi memiliki tubuh yang bulat dan pipi yang seakan akan mau jatuh membuat orang yang melihat nya ingin mencubitnya karena gemas. "okelah kalau lu gak mau gue akan maksa. kalau gitu gue duluan ya, nanti malam gue telpon kalian. " ucap Nadya sebelum meninggalkan Renata dan Shanum. " Gue pinjam Nadya ya. Tenang aja gak gue apa apain kok. " ucap Dhika sambil tersenyum sebelum meninggalkan Renata dan Shanum. " di apa apain juga gak papa kok dhik, asalkan jangan kebablasan. " ucap Renata menggoda Nadya dan di balas Nadya dengan tatapan sengit lalu di balas Renata dengan tawa yang membahana. Shanum dan Renata duduk di pinggir taman dekat parkiran setelah mobil Dhika menghilang dari pandangan mata. Tak lama kemudian sebuah mobil honda jazz merah lewat di depan mata mereka. Siapa lagi kalau bukan kakak tiri dari Shanum, Adinda putri. Tidak semua warga kampus mengetahui hubungan antara Dinda dan Shanum, mereka menutup rapat tentang itu dan itu semua kemauan Dinda. sebenarnya Shanum gak merasa keberatan tentang itu jadi dia tidak perlu menjelaskan apapun pada teman sekampusnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN