Adinda putri Adalah putri kesayangan orang tua mereka. Dia seorang model yang memulai kariernya dari sekolah menengah hingga sekarang. Menjadi model adalah cita - citanya sejak dulu. Seorang Adinda Putri yang merupakan anak emas mamah dan Ayah nya, sehingga semua yang dia akan inginkan pasti terkabul sehingga membuat dirinya menjadi manja dan seenaknya.
Lain hal nya adik bungsu mereka, Aditya Pratama. Anak dari hasil pernikahan mamah dan ayahnya. Adit selalu sopan pada siapapun dan yang terpenting dia selalu sayang dan menjaga Shanum dan juga Dinda. Dia baru saja kuliah semester 3 mengambil jurusan manajemen bisnis, karena dia putra satu - satunya dari keluarga pratama jadi mau tidak mau dia yang akan melanjutkan perusahaan sang ayah. Sedangkan Dinda kuliah di kampus yang sama dengan Shanum walaupun berbeda jurusan. Shanum mengambil jurusan kedokteran sedangkan Dinda mengambil jurusan Seni.
Perbedaan pun terlihat dengan cara hidup Dinda dan Shanum. Dinda yang sudah lama dibelikan mobil oleh sang mamah tapi tidak hal nya dengan Shanum. Dia harus terima ketika hanya menggunakan motor matic hitam untuk tranportasinya ke kampus. Sebenarnya ayahnya pernah ingin membelikannya mobil seperti Dinda, tapi menurut mamahnya terlalu boros kalau harus membeli mobil lagi dia malah menyuruh Shanum berangkat dengan Dinda untuk menghemat walaupun mamahnya tahu Dinda tak akan pernah mau kalau Shanum harus ikut bersama dengannya dan ayahnya menyetujui hal itu.
" lu gak pernah iri dengan Dinda Num??? " Tanya Renata menghentikan lamunan Shanum yang terdiam sambil menatap Dinda dan teman - temannya berlalu menggunakan mobilnya.
" ngapain iri ren, dia kakak aku. lagian kan kalau mau naik mobil aku bisa minta antar sama Adit. Dia selalu mau kok kalau aku minta diantar. " jawabnya lembut
" Sampai kapan sich selalu harus mengalah Num. Liat kehidupan Dinda yang selalu mewah padahal yang anak kandung ayahmu tu kan kamu bukan dia. Adit aja yang masih semester 3 sudah punya mobil. Seharusnya lu protes dong sama bokap lu"
" gak perlu ren. kan aku sudah punya motor untuk ku pakai. motor sama mobil sama aja, sama - sama bisa buat antar aku kemana pun yang aku mau. Lagian aku sudah janji sama mamah gak akan minta macam - macam asalkan boleh masuk jurusan kedokteran. " ucapnya sambil tersenyum. " kamu kan tahu biaya masuk kedokteran gak murah. "
" geregetan gue ngomong ama lu, susah di bilangin. lu gak usah lah pikirin masalah biaya, yang kerja kan bokap lu bukan nyokapnya Dinda. jadi secara tidak langsung yang lebih berhak itu lu, bukan nenek lampir itu sama anaknya. " ucap Renata dan Shanum hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya ini.
" iya, aku tahu ayah aku yang kerja tapi kan tetap yang ngurus rumah mamah. Dia yang tahu tentang semuanya. Lagian kamu tahu kan sikap ayah ke aku gimana.Dia lebih sayang sama Kak Dinda daripada ke aku. " ucap Shanum sambil menundukkan kepalanya.
" Lu yang sabar ya Num. Lu kan punya gue, Nadya, Alvian dan juga ada Adit yang selalu jagain lu kalau di rumah. " ucap Renata sambil memeluk sahabat nya." Udah ah, gak usah melow begini. " ucapnya lagi sambil menghapus airmata Shanum yang mengalir di pipinya.
" Makasih banyak ya Ren buat semuanya. Kamu dan Nadya selalu ada buat ku. Selalu bersedia mendengar kelih kesah ku. "
" Itu gunanya sahabat Num. Janji ya jangan pernah ada yang lu sembunyiin dari kita semua. selalu cerita, karena kami akan selalu ada bersamamu. " ucap Renata sambil mengangkat jari kelingkingnya
" Iya Ren, " ucap Shanum sambil mengangkat jari kelingkingnya untuk ditautkan pada jari Renata lalu mereka tertawa bersama.
" udahan yuk. waktunya kita pulang. udah sore juga. " Ajak Renata dan di iyakan oleh Shanum.
××××××××××
Shanum sampai di depan rumah, bingung karena ada 2 mobil parkir di carport rumahnya dan dia gak ngenalin milik siapa.
" sepertinya ada tamu nih, lebih baik lewat pintu belakang aja. " batinnya
Shanum membawa langkah kakinya menuju samping rumah untuk ke dapur. dan bibirnya tersenyum melihat mbok darmi sedang sibuk di dapur dan keisengan Shanum pun berlanjut.
" assalamu'alaikum mbok. " suara Shanum mengagetkan mbok Darmi
" eh non Shanum, bikin kaget aja " ucap mbok Darmi sambil mengusap dadanya dan membuat Shanum kembali terkikik.
" Lagian mbok Darmi serius amat, mang nya ada siapa sich mbok??? " Tanyanya penasaran.
" Non Shanum gak tahu siapa yang datang???? " Tanya mbok darmi bingung dan di balas Shanum dengan menggelengkan kepalanya
" Diluar itu calon mertuanya non Dinda juga kakak dan adiknya serta tunangan nya non Dinda. emang non Shanum gak di kasih tahu kalau mereka mau makan malam di rumah ??? " tanya mbok Darmi lagi dan di balas lagi gelengan kepala Shanum
" kalau gitu Shamum ke kamar dulu ya mbok, mau salat ashar dulu, sudah mau jam 5. "
" iya non. "
" kalau Shanum sudah salat nanti turun lagi, mau bantuin mbok Darmi. "
" gak usah non, kan ada Asih disini sama mbok. "
" gak papa mbok, daripada Shanum tidur sore bagus di dapur bantuin mbok. "
" iya deh non. "
baru akan melangkahkan kakinya menuju kamar, mamahnya masuk ke dapur.
" kamu dari mana aja Num?? " tanya mamahnya
" Dari kampus mah " jawab Shanum sambil menundukkan kepalanya
" gak usah bohong, pasti kamu abis keluyuran. Kakak mu aja sudah dari tadi pulang. "
" beneran mah, Shanum gak bohong. Tadi memang masih ada kelas jadi Shanum agak telat pulangnya. lagian Shanum dan kak Dinda kan beda jurusan jadi beda jam pulangnya. "
" gak usah ngeles kamu "
" tapi mah Shan... "
" sudah - sudah kamu cepat bantu bibi di dapur. " potong mamahnya sambil memerintah Shanum
" iya mah, tapi Shanum mau salat ashar dulu. sudah mau jam 5. "
" iya, cepetan sana " ucap nya sambil berlalu pergi meninggalkan dapur
Dan shanum pun bergegas menuju kamarnya di lantai 2. ketika melewati ruang tamu namanya di panggil oleh adiknya.
" Kak Shanum. " panggil adit dan Shanum pun terhenti langkahnya
" sini deh, kenalan sama keluarganya Mas Shaka " ucap adit sambil menarik tangan kakaknya menuju ruang tamu
mau tidak mau Shanum mengikuti langkah adit. dan sampai di ruang tamu.
" ini siapa ya mba Ajeng??? " tanya Miranda mamahnya Shaka
dengan berat hati Ajeng memperkenalkan Shanum pada keluarga besar Shaka.
" oh ini adiknya Dinda. Shanum namanya. " ucap Ajeng
" Shanum itu calon mertuanya kakakmu, ibu miranda dan pak effendy. "
" saya Shanum tante, om. " ucap Shanum sambil mencium punggung tangan keduanya.
" Ini Shaka yang bakal jadi iparmu. " ucap Miranda dan Shaka pun mengulurkan tangan pada Shanum dan di sambut Shanum dengan mencium punggung tangannya pula.
" Yang perempuan itu kakaknya Shaka, mba Raya dan anaknya tyas. " Raya pun mengulurkan tangan dan disambut Shanum dengan mencium punggung tangannya juga.
" Kalau yang sath itu adeknya Shaka. Sakti. " ketika Sakti mengulurkan tangannya Shanum hanya menjabat nya saja.
" kok tanganku gak dicium sich??? " ucap Sakti dan membuat yang lain tertawa tapi Shanum hanya tersenyum.
" Kak Shanum itu lebih tua dari lu bro, gak lama lagi bakal jadi dokter. lu aja baru kemarin sore kuliahnya. " jawab Adit membuat yang lain tertawa.
" Duduk disini Num " tawar Miranda
" Gak usah tante, Shanum mau ke kamar dulu. belum shalat ashar. " tolak Shanum secara " Mari semua " pamitnya sebelum melangkah meninggalkan ruang tamu.
Sampai di kamar langsung dia mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat ashar. setelah itu dia kembali ke dapur untuk membantu mbok Darmi dan bi Asih menyiapakan makan malam.
Adzan magrib berkumandang dan makanan sudah siap, tinggal dihidangkan.
" Mbok Darmi, Shanum duluan ya. mau magriban dulu. "
" Iya non. sisanya nanti mbok aja sama bi Asih yang siapkan. Non Shanum istirahat aja kalau sudah shalat. Nanti mbok panggil kalau makan malamnya sudah siap."
" Shanum gak usah di panggil mbok. Shanum gak usah ikut makan malam bersama mereka. "
" Tapi non.... "
" Gak papa mbok. nanti Shanum makan kalau mereka sudah pulang. Shanum banyak tugas dari kampus. " ucap Shanum beralasan.
" iya dech non, nanti saya sampaikan sama nyonya besar. "
" makasih mbok " ucapnya lalu meninggalkan dapur menuju kamar nya
mbok Darmi menatap kepergian nona mudanya dengan rasa iba. Andai ibu non Shanum masih hidup pasti gak akan seperti ini. Non Shanum pasti gak akan menderita seperti sekarang ini. diperlakukan tidak adil dirumahnya sendiri.