BAB 3

1367 Kata
Pagi yang cerah di kediaman Effendy Rahardian, mereka sedang berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan diselingi canda tawa. " Pagi mi... " ucap Shakti sambil mencium pipi mamahnya. " Pagi juga sayang, tumben sudah bangun. biasanya tidur kayak kebo, susah banget di bangunin. " ledek mamah nya dan yang diledek malah senyum - senyum gak jelas " lu kenapa keluar kamar senyum - senyum sendiri??? " tanya Raya " gak ada apa - apa mbak ku yang tersayang dan tercinta " ucap Shakti sambil tersenyum membuat mami dan papinya geleng- geleng kepala. " Gimana rencana pernikahanmu dengam Adinda, Shaka?? " Tanya papinya " Belum tahu lagi nih pi, Dinda masih sibuk pemotretan dan kuliah. " jawab Shaka " Belum selesai kuliahnya Dinda, ka?? " Tanya Raya " Belum mbak, dia sibuk dengan kerjaannya. " jawab Shala lagi. " Kamu kan lelaki Shaka, tegas sedikit dong sama Dinda. suruh dia kurangin sedikit kegiatannya di modeling. Sudah lama kuliah tapi gak lulus - lulus. " ucap maminya lagi " Mi, Shaka kan gak boleh egois. Dinda kan ingin juga mengejar cita - citanya. " " Tapi Shaka, kamu tuh sudah cukup umur buat menikah. " " Shaka juga tahu mi, tapi kan... " " Papi beri waktu sampai bulan depan, kalau Dinda tak bersedia menikah papi akan carikan wanita lain. " " Baik pi.. " ucap Shaka Effendy memang tidak banyak bicara, tapi sekali berbicara tak ada yang berani protes omongannya. Tapi dalam diam pun dia tetap mendengarkan dengan seksama ocehan anak - anaknya tanpa menanggapi. " Mas Shaka... " Panggil Shakti untuk mengurangi keheningan di meja makan. " Iya " jawabnya sambil menatap Shakti " Mbak Shanum itu adek kandungnya Mbak Dinda??? " tanya Shakti " Setahu mas bukan. Dia anak bawaan ayah nya waktu menikah dengan Mama Ajeng. Kenapa??? Naksir?? " Tanya Shaka " Mas tahu aja. " " Sekolah dulu yang betul, baru naksir anak orang. " ejek Raya " Mbak Raya kok gitu sich, emang gak mau punya ipar dokter. sudah pintar, cantik, sopan lagi. " ucap Shakti " hemm kamu tu, liat yang bening dikit aja bilang cinta sudah. " balas Raya " Tapi emang benar kan mi kalau mbak Shanum tu cantik? " Tanya Shakti pada Maminya " Iya, Mami juga suka sama Shanum. cantik apalagi dengan hijabnya. " Jawab Maminya " Mas kok gak pernah ngomong sich kalau punya calon ipar cantik " ucap Shakti " Mana mas tahu, ketemu orang nya baru semalam. Mas hanya tahu dia punya saudara perempuan bernama Shanum. itu aja. " ucap Shaka menjelaskan. " emang kemarin waktu tunangan gak ada ka??? " Tanya Raya " Gak kak, bilang Dinda dia lagi di luar kota. lagian ngapain sich pada bahas Shanum??? " ucap Shaka " Shakti penasaran aja mas, sudah punya pacar atau belum ya??? " " hemmm dasar modus " ucap Raya " masih bau kencur sok sok an mau pacaran. modal masih dari papi juga. " ejek Raya lagi " Biarin mbak, namanya juga usaha. Mana tahu jodohku dokter. " ucap Shakti " Sudah - sudah, habiskan sarapan kalian. " Ucap papinya dan otomatis membuat semua diam lagi " Shaka sudah selesai sarapannya mi, pi. " Ucap Shaka " Pagi ini ada meeting dengan klien, jadi Shaka duluan ya. " pamitnya lagi. " Hati - hati ya sayang " ucap maminya " Papi hari ini mau ke kantor ??? " tanya Shaka " Nanti jam 9 papi ke kantor. " jawab papinya " Ya udah, Shaka duluan. " ******** Di kantor Shaka di sibukkan dengan dokumen yang menumpuk di atas meja, setelah selesai meetingnya belum pernah dia meninggalkan ruangannya lagi. tok tok tok " Masuk " Setelah ada perintah dari yang punya ruangan, Farah sang sekretaris melangkahkan kaki menuju ruangan Shaka. " Maaf Pak Shaka, sudah waktunya makan siang. Bapak mau makan siang apa??? " Tanya Farah Shaka langsung melihat jam tangan yang berada di tangan kirinya " Oh iya, kamu pergilah makan siang. Saya akan makan siang diluar dengan Dinda hari ini. " Ucap Shaka sambil mulai membereskan barang - barangnya di atas meja kerjanya. " Dan mungkin saya akan sedikit terlambat kembali ke kantor. " ucapnya lagi " Baik lah Pak Shaka, kalau begitu saya permisi. " Pamit Farah lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan bosnya. Shaka pun bergegas meninggalkan ruangannya sambil meraih ponsel dan kunci mobilnya. Di lift dia berpapasan dengan Papi dan Asistennya " Mau makan siang pi??? " Tanya Shaka " Iya, papi mau pulang makan siang dengam Mami dan mbak mu. Kamu mau ikut pulang??? " " Gak usah pi, Shaka ada janji sama Dinda makan siang bareng. " " Ingat perkataan papi yang tadi pagi Ka, 1 bulan. " ucap papinya mengingatkan. " Iya pi, Shaka juga ingin membahas ini sama Dinda setelah makan siang nanti. " ucapnya lagi ting... lift sudah tiba di batsmen, Shaka membiarkan papinya berlalu terlebih dahulu setelahnya baru dia menuju ke area parkir mobilnya. Diperjalanan terhalang lampu merah, Shaka berhenti tepat disamping motor yang kendarai seorang wanita berhijab. " Bukannya itu Shanum??? " Tanya nya dalam hati. " cuaca kan terik banget, masa naik motor. " Shaka hendak menegurnya, tapi lampu sudah berganti hijau dan klakson di belakang sudah bersaut - sautan. Jadi dia menjalankan mobilnya sambil melirik ke arah Shanum yang berbelok ke arah kanan. Sampai di restorant, Dinda belum datang. Shaka mencari tempat dekat jendela dan tak lama kemudian Dinda muncul dengan senyum manisnya. Senyuman yang selalu membuat Shaka terpana. " Maaf beibh aku telat, baru selesai pemotretan. " Ucapnya sambil meletakkan bokongnya diatas kursi " Gak papa Din, aku juga baru sampai. " " Sudah pesan??? " " Sudah, dan seperti biasa aku pesankan spagetti buat kita. " " Makasih beibh, kamu selalu tahu apa yang ku mau. " Shaka sudah tahu apa yang di mau oleh Dinda. ketika dia mengatakan ingin makan siang di restorant ini pun dia tahu kalau Dinda Ingin makan spaghetti. Tak lama pesanan mereka datang, mereka menikmati dalam diam. " Beibh, ada yang ingin kamu sampaikan??? " tanya Dinda " Din, kapan kita bisa meresmikan hubungan kita??? " tanya Shaka Dinda yang mendengar pertanyaan Shaka menjadi bingung mau menjawab apa. " Kamu kan tahu, aku masih mau berkarier. Lagian kuliah ku belum selesai. " " Gimana kuliah mu mau selesai kalau hanya sibuk dengan karier mu. " " Tapi beibh... " " Dinda dengerin aku " Ucap Shaka sambil memegang tangan Dinda " Aku gak akan melarang kariermu, kegiatanmu walapun kita sudah menikah nanti. Tetap lakulan apapun yang membuatmu bahagia. " ucapnya lagi " kamu yakin??? kamu gak bohong kan??? " " Gak, lagian tadi pagi papi sudah menyuruhku menikah, dan dia memberikan waktu aku 1 bulan menjalankan nya. kalau tidak..... " ucapannya terhenti " Tapi apa beibh??? " tanya Dinda penasaran " Papi akan menjodohkan aku dengan anak teman bisnis nya yang lain. Jadi aku mohon, mari kita segera menikah. Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, aku gak mau jauh dari kamu Din. " Dinda terdiam mendengar perkataan Shaka. dia sedang berada dalam dilema. Pekerjaan dan Shaka. Pekerjaan yang sangat disukainya dan Shaka yang merupakan lelaki yang sudah menjadi Tunangannya selama 2 tahun. Seorang pengusaha sukses, yang selalu menuruti semua keinginannya, memenuhi kebutuhan hidup yang serba mewah dan yang pasti mencintainya. Tapi Dinda tak tahu apa dia juga mencintai Shaka. Terkadang dia masih teringat lelaki yang pernah mengisi hari - harinya dengan cinta sebelum penghianatan datang. Lelaki itu selingkuh dengan wanita yang diakui sebagai sepupunya hingga hamil, padahal Dinda sudah menyerahkan seluruhnya pada lelaki itu. Dan disaat hatinya sedang terluka Shaka hadir dengan sejuta cinta dan mengobati luka itu. Tak ada yang kurang dari Shaka. Pria tampan, mapan, baik dan sopan. Dia tidak pernah sekali pun menyentuh Dinda, walaupun Dinda sering mengajak nya. Dia selalu mengatakan akan melakukan semua itu ketika mereka sudah halal. Terkadang hal itu membuat Dinda bertanya-tanya apakah Shaka lelaki normal??? " Apakah kamu yakin ngajak aku nikah beibh??? kamu sudah tahu masa lalu ku bagaimana. Aku.... " " Berapa kali aku katakan Din, aku gak peduli masa lalumu bagaimana. Yang aku pedulikan sekarang ini adalah masa depan bersamamu. Aku sayang kamu. " " Baiklah beibh, mari kita menikah. " ucap Dinda akhirnya dan seketika membuat Shaka tersenyum bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN