BAB 4

1089 Kata
Suasana kampus seperti biasa. Shanum sedang duduk - duduk di taman belakang kampus sambil membaca buku di kejutkan kedatangan Alvian. " Sendirian Num??? " Tanya Alvian setelah meletakkan bokongnya di kursi taman " Renata sama Nadya mana??? " " Bentar lagi mereka kesini al, Renata temanin Nadya antar tugas dulu ke dosen. " " Num, nanti malam nonton yuk!!! " Ajak Alvian " Gimana ya, aku takut keluar malam. Kamu kan tahu gimana mamahku. " Alvian hanya terdian mendengar jawaban Shanum. Hampir dua tahun hubungannya dengan Shanum, bisa di hitung hanya beberapa kali mereka jalan bareng. Shanum selalu membatasi intensitas pertemuan mereka. Seandainya pun jalan berdua hanya pergi makan dan nonton. Shanum selalu menjaga jarak aman dengan lawan jenis, Alvian tidak keberatan dengan hal itu. Karena dia sangat mencintai Shanum dan berjanji akan selalu menjaganya. Dan itu membuat alvian semakin yakin bahwa Shanum adalah perempuan terbaik untuk di jadikan istri. Shanum juga sudah kenal dengan keluarga alvian dan mamah alvian sangat menyukai Shanum. Tapi tidak dengan Shanum, dia tidak berani memperkenalkan Alvian pada ayah dan mamahnya. Alvian hanya di kenalkan dengan Adit, dan mereka berdua pun sangat akrab. " Hayo kalian ngapain berdua duaan disini??? nanti ada setan lewat, kesambet baru tahu rasa. " Ucap Renata " Iya, lu setannya Ren. " Balas Alvian sewot " Duh segitunya sampe marah karena acara mojoknya di ganggu. " Goda Nadya " Kalian apa - apaan sich. Sembarang aja kalau ngomong. " Ucap Shanum " lagian dari tadi di tunggu lama banget, untung ada Alvian temanin ngobrol. " " Sorry sayangku, Nadya ni lama banget mojok sama pak Saleh. " ejek Renata " Apaan sich lu Ren, enak aja gue mojok sama kakek - kakek. " ucap Nadya dan disambut tawa oleh yang lain. " Sudah becandanya, kalian semua sudah gak ada kelas kan??? " tanya Alvian dan di jawab anggukan oleh semua. " Kalau gitu sebelum pulang kita hangout yuk. Makan - makan aja. gimana, pada mau kan??? " tanya Alvian lagi " kalau gue sama Renata sich sembarang aja, tapi gak tahu nich si tuan putri. " ucap Nadya sambil melirik Shanum Yang dilirik malah cuek dan asik melihat jam di tangannya, masih awal untuk pulang ke rumah " kamu udah gak ada kelas ??? " Tanya Shanum pada Alvian " Gak ada Num, tadi aku ke kampus hanya serahin judul buat skripsi ku aja. " ucap Alvian menjelaskan " Kalau gitu aku ikut dech, tapi gak bisa lama. Takut kena marah mamah. " " iya sayang, nanti abis makan aku antar kamu pulang. " Shanum pun mengambil ponselnya untuk mengabari Adit supaya gak usah menjemputnya. Tadi pagi dia ikut Adit ketika ke kampus karena ban motornya kempes, dan adit berjanji nanti ketika pulang kampus baru akan dibawa ke bengkel dekat perumahan. " Kalau begitu kita bisa otw sekarang kan??? " Tanya Alvian dan dibalas anggukan yang lain. Mereka menuju mall yang menyajikan segala jenis makanan, karena selera berbeda - beda. Tak lama menunggu pesanan pun datang. " Gimana acara lamaran Dinda semalam Num??? " Tanya Alvian sambil menikmati makanannya " Alhamdulillah lancar " ucap Shanum " Jadi Dinda beneran mau nikah Num?? " Tanya Nadya penasaran dan hanya di balas anggukan oleh Shanum. " Terus kapan Acaranya??? " tanya Renata " InshaAllah akhir bulan ini, masih sekitar 3 mingguan lagi. " " Acaranya dimana??? " tanya Nadya " Di Shangrila. " " Mewah banget pernikahannya Dinda " ucap Nadya " Ya iyalah, secara anak kesayangan dan calonnya pun pengusaha muda sukses, ganteng lagi. " ucap Renata " Kalian apaan sich, kerjanya gibahin orang. abisin makanan kalian. " ucap Alvian " Sirik aja sich " Ucap Renata lalu melanjutkan makannya " Kamu kapan mulai koas num??? " Tanya Alvian " Akhir bulan ini Al, di RSCM. " jawab Shanum " kita bakal jarang ketemu dong, kalau aku kangen gimana?? " Goda Alvian "Apaan sich, " ucap Shanum wajahnya sudah merona menahan malu karena ucapan Alvian. " kami masih disini, lihat - lihat situasi dan kondisi dong Al kalau mau ngegombal " ucap Renata sambil geleng - geleng kepala. " Makanya cepat halalin, biar bisa ketemu tiap hari. bisa manja - manjaan, bisa ehem ehem juga" ucap Nadya menggoda " Shanum nya aja yang gak mau, kalau gue jangankan besok, hari ini juga mau. " " Kode tuch Num... " Goda Renata " Ada yang sudah kebelet nich, udah gak bisa nahan ya Al " ucap Nadya " Astagfirullah, kalian ni otaknya ngeres amat sich. minta dicuci semua. " ucap Shanum yang wajahnya makin merona menahan malu dan yang lain hanya tertawa " Nanti aku mau nikah kalau sudah sumpah dokter. " ucapnya lagi " Beneran nich, jangan - jangan nanti liat Dinda nikah minta dinikahin juga " goda Renata dan semakin membuat yang lain tertawa. Acara makan dan bercanda sudah selesai, dan mereka pun meninggalkan restorant. Shanum diantar Alvian pulang, sedang Renata pulang sendiri karena Nadya dinjemput oleh Dhika di Mall. " Sudah sampai tuan putri. " ucap Alvian setelah memarkirkan mobilnya di depan pagar. " Makasih ya Al, maaf gak bisa ajak kamu masuk. " ucap Shanum ketika akan turun dari mobil. " Gak papa ayyy, aku ngerti kok. Masuk gih, nanti dicari orang rumah. " ucapnya Setelah Shanum turun, Alvian melambaikan tangan lalu menjalankan kembali mobilnya meninggakan rumah Shanum. ketika akan membuka pagar, suara klakson mobil Mengagetkannya. Dilihat mobil berwarna hitam siap memasuki rumahnya, tapi pagarnya masih tertutup. " Eh Num, cepet bukain pagarnya. " perintah suara dari dalam mobil yang di yakini Shanum adalah suara kakaknya, Dinda Tanpa suara dia langsung mendorong pagar. tanpa mengucapkan terima kasih Dinda menyuruh Shaka langsung menjalankan mobilnya. Dilihat Dinda dan Shaka berada di dalam mobil. Shanum melangkah masuk ke rumah, tapi teriakan Adit mengagetkan nya. " Kak Shanum baru pulang??? " Tanya Adit " Iya, kamu sudah dari bengkel??? " " Sudah kak, ini motornya sudah bagus. " " makasih ya, kalau begitu besok sudah bisa aku pake lagi dong. " " Gak usah bawa motor kak, bareng aku aja kalau mau kuliah. " " Gak usah, ngerepotin kamu kalau harus bolak balik. kampus kita kan jauh banget jaraknya. " " gak papa kakak, daripada kak Shanum pulang kepanasan. " " gak papa, sudah biasa. sudah ah, yuk kita masuk. " Ucap Shanum sambil menggandeng tangan adiknya " kakak belum salat ashar " mereka melangkah kan kaki menuju dalam rumah, di ruang tamu ada mamahnya, Dinda dan Shaka sedang bercengkrama. Shanum melihat mamahnya dan langsung menuju mamahnya untuk mencium punggung tangan mamahnya. setelah itu dia langsung pamit untuk menuju ke kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN