Hari ini adalah hari pernikahan Dinda dan Shaka. Pernikahan seorang model dan pengusaha muda, yang pastinya akan sangat meriah mengingat kedua keluarga merupakan seorang pengusaha yang mempunyai banyak teman, sahabat dan para relasi bisnis.
Dari semalam keluarga besar dari Dinda sudah berada di hotel, karena subuh nanti Dinda harus sudah di rias oleh MUA. Akad nikah akan dilaksanakan pukul 10 nanti dan resepsi akan dilaksanakan malam harinya.
Para sahabat dari Dinda, sudah hadir dari pagi. mereka akan menjadi Bridesmaid di acara sakral nya. Mereka sudah siap dengan pakaian seragam yang berwarna nude.
Akad nikah akan dilaksanakan satu setengah jam lagi, pengantin wanita sudah dirias dan sekarang sedang berada di ruang rias yang disediakan oleh pihak hotel.
Shanum sudah berada di hotel, dia berangkat dari rumah jam setengah delapan seorang diri menggunakan motor matic. Sekarang dia berada di lobi bersama Renata dan Alvian sedang menunggu kedatangan Nadya dan Dhika. Dia sengaja mengundang pacar dan sahabatnya untuk menyaksikan prosesi ijan kabul kakaknya, kakak yang tidak pernah menganggap nya ada.
Tiba - tiba ponselnya berdering dan nama Adit terpampang di layar.
" Ya Dit, Assalamu'alaikum "
"..... "
" Kakak di lobi, kenapa??? "
" .... "
" Mamah kenapa??? "
".... "
" Iya, kakak keatas sekarang "
Shanum langsung mematikan ponselnya lalu bergegas menuju lift sehingga mengundang tanya pada Alvian dan Renata.
" Ada apa Num??? " Tanya Alvian
" Mamah pingsan Al... " Jawab Shanum yang kebingungan.
Mendengar jawaban Shanum membuat mereka kalang kabut, ketika akan meninggalkan lobi Nadya datang bersama Dhika.
" Kenapa?? " Tanya Nadya bingung
" Nyokapnya Shanum pingsan, kami mau ke atas. " Jawab Renata
" Kok bisa??? "
" Mana gue tahu, yuk kita keatas. " Ajak Renata
Mereka langsung menuju lift. Di dalam lift Shanum menjadi sangat gelisah. Perasaan gak enak menyelimuti hatinya, tapi dia tidak tahu apa itu.
" Kamu tenang ya Num, Mamahmu pasti baik - baik saja. " ucal Alvian menenangkan pacarnya
Mamahnya sudah berada di kamar, Ayahnya dan Adit membawa ke kamar ketika pingsan tadi dan sekarang dia sudah siuman.
Shanum langsung menuju kamar, dia sangat khawatir pada mamahnya walaupun perhatian Shanum akan dianggap angin lalu oleh mamahnya.
Di dalam kamar sudah Ada Ayahnya, Adit, Tante Miranda dan suaminya, Shaka dan Shakti juga Raya dan suaminya.
" Mamah kenapa yah??? " Tanya Shanum ketika memasuki kamar dan melihat semua dalam keadaan bingung.
" Mamah tadi pingsan kak, tapi sekarang sudah sadar kok. " Jawab Adit.
" Kok bisa sich??? "
" Kak Dinda kabur " Jawab Adit lagi sambil menyerahkan selembar surat yang di dapat diatas gaun pengantinnya
Shanum mengambil surat tersebut dan membacanya
Maafin Dinda Mah
Dinda belum siap
suatu saat nanti Dinda akan jelaskan semuanya
sekali lagi maaf
Shanum membacanya seakan tak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Dia pun bingung harus berbuat apa.
Ditatap Orang tuanya, orang tua Shaka juga Shaka. Wajah sedih dan bingung tergambar disana. Terlebih-lebih Shaka, bingung harus berbuat apa.
" Num, Ayah mau ngomong sama kamu. " ucap Ayahnya mengagetkan Shanum dari lamunan nya.
" Iya Ayah. "
" Bisa yang lain keluar dulu??? " ucap Ayahnya lagi
Mendengar perintah ayahnya, yang lain pada keluar kamar. Tinggal Adit, orang tua Shanum serta keluarga Shaka.
" Gantikan kakakmu sebagai mempelai wanita " Perintah ayahnya
" Apaaaa... " Teriak Shanum karena kaget
" Tapi yah... " ucap Adit
" Kami gak usah ikut campur, kamu belum mengerti apapun tentang ini. " Ucap ayahnya tegas
" Keluarga besar Shaka sudah menyetujui hal ini, sekarang kita gak tahu keberadaan kakakmu. Jadi kami harus menggantikan kakakmu, kalau tidak dua keluarga besar akan malu. " ucap ayahnya lagi
" Shanun sayang, semua keputusan ada ditanganmu. Tante gak akan memaksa kalau kamu tidak nyaman. " ucap Miranda yang sudah berdiri di samping Shanum.
Sebenarnya Miranda dan juga suaminya lebih menyukai Shanum daripada Dinda. Shanum lebih lembut, sopan, cantik dan yang pasti hijab tidak pernah lepas dari kepalanya. itu yang menambah nilai plus buatnya. berbanding terbalik dengan Dinda yang arogant dan seenaknya, tapi karena Shaka mencintainya mau tidak mau dia harus memberi restu pada anaknya itu.
Shanum menatap orang tuanya, orang tua Shaka, Adit, Shakti, dan Shaka. Adit dan Shakti menggelengkan kepalanya berharap Shanum tak menyetujui ide gila ini. Sedangkan Miranda dan Raya tersenyum hangat memandangnya. Ayah dan mamahnya memandang dengan pandangan yang tak bisa Shanum artikan. Sedang Shaka hanya menundukan kepalanya, tak tahu apa yang dia pikirkan.
Kenapa harus aku lagi berkorban???
Kenapa selalu Shanum ya Allah??
Aku juga punya seseorang yang kusayang
Shanum bingung harus berbuat apa ya Allah??
" Num... " panggil Miranda
Mudahan ini yang terbaik buat semuanya.
Bantu Shanum ya Allah
kuatkan Shanum
Bismillah
" Shanum bersedia yah " ucapnya akhirnya dan membuat yang lain tersenyum lega. terutama ayah dan mamahnya
" Kak... " teriak Adit yang tak terima keputusan Shanum
" Cukup Dit, kakakmu sudah menyetujuinya. " ucap ayahnya
Kuatkan Shanum ya Allah untuk menjalani takdir ku selanjutnya
Hamba mohon
Adit yang marah langsung meninggalkan kamar. Melihat Adit yang keluar kamar dengan kemarahannya membuat yang lain bertanya- tanya.
" Ada apa Dit??? " tanya Alvian
" Maaf bang, Adit gak bisa berbuat apa - apa. Maafin kak Shanum. " ucap Adit sebelum berlalu pergi.
Mendengar perkataan Adit membuat yang lain bingung, terutama Alvian. Dan makin bingung ketika melihat semua keluar dari kamar.
" Sudah, semua siap - siap sebentar lagi acara di mulai. " Ucap Miranda dan membuat yang lain makin bertambah bingung.
Shakti yang melihat Alvian merasa kasian. Dia tahu tentang hubungan Alvian dan Shanum. Dia bertanya pada Adit semua tentang Shanum, termasuk masalah Shanum yang selalu di nomor duakan.
" Yang sabar bang... " ucap Shakti sebelum meninggalkan mereka dan lagi - lagi membuat yang lain semakin bingung.
Di depan kamar hotel tinggal Shanum, Alvian, Renata, Nadya dan Dhika.
" Ada apa sich Num??? " Tanya Renata penasaran.
" Maafin aku Al, aku gak bisa menolak keinginanan orang tuaku. " ucap Shanum yang mulai terisak.
" Maksud lu apa sich Num?? " tanya Nadya
" Aku harus menggantikan posisi kak Dinda sebagai mempelai wanitanya. " ucap Shanum yang mulai menangis dan Renata langsung memeluknya.
" Apa... " teriak Nadya dan Dhika bersamaan
Lain halnya Alvian, kecewa dan marah terpampang nyata diwajah tampannya tapi dia tak tahu harus melampiaskan kemana. Hanya bisa mengepalkan tangan untuk menahan amarahnya. Terlebih lagi melihat Shanum manangis pilu, membuat hatinya semakin pilu.
" Maafin aku al... " Ucapnya pilu disela tangisannya
Alvian menarik Shanum dalam pelukannya. membuat yang lain terkejut begitu pula Shanum. Shanum ingin melepaskan pelukan Alvian tetapi Alvian mendekapnya semakin erat.
" Biarkan sebentar saja Num. Biarkan aku memelukmu untuk pertama dan terakhir kalinya. Aku mohon. " Ucapnya
Shanum akhirnya pasrah dan semakin menangis pilu di pelukan Alvian. Renata, Nadya dan Dhika yang melihatnya pun ikut menangis.
" kenapa harus lu Num, aku sangat mencintaimu. aku tak tahu apakah aku bisa melewati itu semua. " batin Alvian sambil memeluk Shanum dan ikut menangis
" Kak... " Suara Adit terdengar membuat Alvian melepaskan pelukannya
" Maafin Adit kak, Adit gak bisa berbuat apa - apa. Adit gak bisa... " ucapnya lagi sambil menangis memeluk kakaknya
" Gak papa Dit. Mungkin ini sudah takdirnya Kakak. Kita gak bisa melawan kehendak yang di atas. " ucap Shanum dalam pelukan adiknya.
" Tapi ini gak adil buat kak Shanum. Kak Shanum gak cinta sama mas Shaka. Kak Shanum cintanya sama bang Al. " ucap Adit lagi dan itu membuat hati Shanum semakin pilu
" Gak papa Dit, gue ikhlas. Mungkin ini semua yang terbaik. " ucap Alvian mencoba tabah.
Renata menghapus air matanya, begitu pula Nadya dan Dhika.
" Sudah gue antar lu keruang rias ya Num. Gue temenin lu ganti pakaian. " Ucap Nadya
mereka pun semua meninggalkan lorong kamar menuju kamar rias pengantin. setengah jam lagi acara akan dimulai.