" Saya terima nikahnya Shanum Anindya Pratama binti Yoga Pratama dengan mas kawin tersebut. tunai... " Suara Shaka terdengar lantang
Sah
Sah
Sah
suara para saksi terdengar, dan sekarang Shanum sudah resmi menjadi nyonya Shaka Rahadian.
Acara sakral ini hanya dihadiri kerabat terdekat dan sahabat kedua belah pihak. Nanti malam akan dilaksanakan resepsi pernikahannya.
Ijab kabul susah selesai, sekarang Shanum berada dalam kamar pengantin untuk beristirahat ditemani Renata dan Nadya. Alvian dan Dhika sudah meninggalkan tempat acara.
" Kamu yakin baik - baik aja Num??? " tanya Nadya
" Iya Nad... " Jawab Shanum
" Lu yakin semua akan baik - baik aja Num??? " Tanya Renata
" InshaAllah kita serahkan aja semua sama yang di atas. " ucap Shanum.
Renata dan Nadya tahu bahwa Shanum berpura pura kuat agar mereka tidak khawatir. Shanum selalu begitu, terlalu baik sehingga kebaikannya selalu dimanfaatkan oleh orang. Terkadang Nadya dan Renata yang dibuat jengkel dengan sikapnya itu, tapi Shanum selalu mengingatkan agar mereka selalu sabar dan ikhlas.
" Lebih baik kamu istirahat dulu Num, nanti malam akan lebih panjang acaranya. " ucap Nadya
" Iya Num, kamu istirahat. Jadi kami pulang dulu. Nanti kami kembali lagi dan ingat kalau ada apa - apa segera hubungi kami. " ucap Renata juga
" Iya, aku mau istirahat. kalian pulang aja. makasih ya untuk hari ini, kalian selalu ada buat aku. " ucap Shanum sambil memeluk dua sahabatnya.
" Itu gunanya teman Num. "
Dan mereka pun bertiga saling berpelukan untuk menguatkan Shanum.
Sepeninggalan sahabatnya, Shanum mencoba memejamkan matanya tapi tidak bisa. Shanum mengingat kejadian tadi, semuanya berputar putar di kepalanya.
Apa ini yang terbaik???
Apa keputusan yang kuambil sudah benar???
Bagaimana nasib rumah tangga ku selanjutnya???
Apakah kami bisa saling mencintai???
Begitu banyak pertanyaan yang keluar dari benaknya, dan satu pun dari pertanyaan itu ada jawabannya.
Apa sebenarnya yang terjadi sama kak Dinda???
Dimana dia berada sekarang???
Akankah dia segera kembali???
Tanpa terasa air mata Shanum jatuh berderai tanpa dia sadari. Menangis seorang diri di dalam kamar pengantinnya, batinnya pilu dan hatinya sakit. Ingin berteriak tapi suara tak bisa keluar dari mulutnya, ingin protes takdir Allah tapi dia rasa tidak pantas jika harus menyalahkan takdir. Hanya bisa berpasrah diri mengharap kekuatan dari Nya.
Dalam kebimbangan hatinya akhirnya Shanum pergi mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat sunnah. Dia ingin menenangkan hatinya yang sedang dilanda kegalauan.
Selesai melaksanakan shalat sunnah, dia tetap duduk di sajadah. memohon doa dari yang kuasa. Pemilik hati yang sesungguhnya.
Aku ikhlas ya Allah
Aku pasrah kalau memang ini takdir yang harus aku jalani
Tapi aku mohon ya Allah, kuatkan bahu hamba untuk menghadapi semuanya
Bimbing hamba untuk menjadi istri yang berbakti pada suami hamba.
Lelah berdoa tidak terasa Shanum yang masih mengenakan mukena tertidur di atas sajadah nya. Pada saat itu pula Shaka memasuki kamar pengantin mereka, dilihatnya Shanum tertidur lelap di atas sajadah nya.
Shaka mengangkat Shanum yang masih tertidur lelap di atas pembaringan lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Shaka menatap Shanum dengan seksama, tak tahu apa yang harus dilakukan setelah ini.
" Maafkan aku Num, karena harus melibatkanmu dalam situasi ini. aku tak tahu harus berbuat apa sehingga aku menyetujui pernikahan ini. Semoga semua baik - baik saja. Tapi Aku mohon kau mengerti, aku belum bisa mencintaimu seperti aku mencintai Dinda. Aku ingin marah tapi tak tahu pada siapa. Harus kah aku melampiaskan semuanya kepadamu??? " Batin Shaka.
*********
Suasana resepsi pernikahan Shanum dan Shaka sangat meriah. Dihadiri dari berbagai kalangan. Tapi di tengah meriah pesta tetap ada beberapa orang yang bergunjing karena mempelai wanita nya yang berganti, ada pula yang terpesona dengan kecantikan mempelai wanitanya.
Shanum menggunakan gaun dengan ball gown untuk tampil stunning di moment istimewa keluarga besarnya. walaupun semua serba dadakan dia tampil anggun dan mempesona dalam balutan gaun berwarna gold yang dihiasi detail laces cantik. Tak ketinggalan padanan tiara dan long laces veil yang berkelas.
Lain hal nya dengan Shaka yang tampil dengan tuxedo dengan bentuk kerah melengkung dan terbuka memperlihatkan bentuk d**a. Tampilan nya lebih gagah karena dilengkapi dengan aksesoris dasi kupu kupu untuk menegaskan bentuk leher. Dengan menggunakan bahan satin untuk memberikan tampilan yang Berkilau membuatnya lebih glamour dan shining.
Walaupun pernikahan mengundang banyak kagum dari semua undangan, tapi tidak dengan Shanum. Dirinya masih tifak percaya apa yang terjadi hari ini. Senyum manis tetap terpancar di wajahnya ketika menerima ucapan selamat dari para tamu.
Jauh disana berdiri teman - teman dari Shanum. ada Renata, Nadya, Dhika dan juga Alvian yang Statusnya sudah berubah menjadi mantan kekasih.
" Harusnya gue yang disana Num. Dampingin lu untuk terima ucapan selamat dari para tamu. Apa memang aku dan kamu gak berjodoh Num. Aku sangat mencintaimu Num. Apakah aku bisa melupakanmu??? " Ucap Alvian dalam hati sambil terus memandang Shanum dari kejauhan.
" Lu yang sabar ya Al, mungkin kalian gak berjodoh " Ucap Renata yang memperhatikan arah pandangan Alvian
" Sudah - sudah acara sedihnya, jangan buat Shanum bertambah sedih. lebih baik kita makan, atau mau ke pelaminan dulu ucapin selamat buat Shanum??? " Tanya Nadya
" Kayaknya kita ke atas dulu lah, baru isi perut. " Ucap Renata walaupun dia tahu pasti makanan itu gak akan bisa tertelan dengan lancar melihat Shanum.
Mereka sepakat akan ke pelaminan terlebih dahulu baru akan menikmati jamuannya. Dengan langkah pasti akhirnya mereka sampai di pelaminan.
Shanum mulai sedih dan akan meneteskan air matanya ketika para sahabatnya mulai mendekat. Tapi dengan cepat Renata menenangkannya.
" Selamat ya sayang, lu harus tabah. Semoga semua baik baik saja. " Ucap Renata sambil memeluknya
" Makasih Ren. " Ucap Shanum dengan suara yang mulai bergetar
" Selamat Num. Aku tahu ini susah, tapi jalani lah dengan ikhlas. Aku siap jadi pendengarmu kalau kau membutuhkan. " Ucap Nadya sambil memeluknya
" Makasih Nad untuk semuanya. " Ucap Shanum lagi
" Selamat Num. Semoga langgeng ya. " Ucap Dhika
" Makasih Dik "
Ketika giliran Alvian yang akan memberikan selamat, air mata Shanum mulai mengalir. Alvian memberikan sapu tangan yang ada di saku nya.
" Selamat Num. Berbahagia lah. Jangan kau sia - siakan pengorbanan ku. " Ucap Alvian setengah berbisik dan di balas anggukan oleh Shanum.
Setelah mereka melakukan sesi foto, Mereka meninggalkan pelaminan menuju meja perjamuan. Tapi diantara mereka tidak ada yang berselera makan walaupun makanan yang disediakan sangat menggugah selera.
" Gue pulang duluan ya " Ucap Alvian
" Lu gak makan dulu bro??? " Tanya Dhika
" Gue masih kenyang. Kalian aja. " Ucap Alvian
" Gue juga gak lapar. Gue ikut lu pulang ya Al. Tadi gue diantar supir sekarang udah pulang. " Ucap Renata
" Boleh, kalian mau tetap disini?? " Tanya Alvian pada Nadya dan Dhika
" Kalau kalian pulang ngapain gue tinggal. Bagus gue sama Dhika balik. " Jawab Nadya.
" Kalau gitu ngapain bengong, yuk ah kita otw. " Ajak Renata
Mereka pun meninggalkan tempat resepsi.
Setelah mengantar Renata pulang, Alvian pun melanjutkan perjalanan. Bukan menuju rumahnya tapi menuju club malam.
Club tempat berkumpul bersama teman temannya dahulu sebelum mengenal sosok Shanum dalam hidupnya.
Baru memasuki club sudah di sambut suara bising dan lampu disko yang membuat mata pusing.
" Hai broo, lama baru jumpa. kemana aja lu?? " Tanya temannya yang bernama tommy yang bekerja sebagai bartender di club malam itu.
" Biasa bro, gue sibuk. " Jawabnya
" Pasti lagi ada masalah, mumet kan??? "
" Gak juga, gue lagi pengen kesini aja. "
" Iren masih disini, pasti dia bakal senang banget tahu lu datang "
" Lu jangan selalu comblangin gue sama Iren, gue gak suka. "
" Tapi dia cinta mati sama lu bro. "
" Terserah lu. Kasih gue Vodka. "
Tommy pun memberi segelas Vodka pasa Alvian. Dia ingin mabuk malam ini untuk menghilangkan sejenak kegalauan yang ada dihatinya. Dia hanya berharap ketika bangun esok bagi semua yang dilaluinya hanya mimpi belaka.