Seminggu sudah aku bekerja menjadi sekretaris Darren. Semakin kesini Darren semakin menunjukkan perhatiannya padaku. Yaa bukannya aku GR. Tapi begitulah kenyataannya. Dia jadi sering mengirim chat atau telpon. Bahkan sering kali dia menawarkan untuk mengantar jemputku. Tapi aku selalu menolak dg alasan aku ga mau jadi bahan gosip satu kantor, karena baru bekerja sebentar udah deket banget sama CEO yg jadi idaman semua cewe. Dan untungnya Darren mau mendengarkan alasanku. Tapi sebagai gantinya, aku harus selalu makan siang bersamanya. Yaa walaupun ga ada yg tau kita sering makan siang bersama tp aku yakin sebagian karyawan pasti sudah mulai curiga karena setiap siang kita selalu pergi bersama.
Selain itu Darren juga pernah beberapa kali mengajakku untuk dinner. Dan aku juga menolaknya dg berbagai alasan. Aku tau maksud Darren mengajak dinner. Pasti ujungnya akan membahas soal perasaan. Karena aku masih memiliki hubungan dg Ken dan masih berusaha untuk menjaga hubungan itu, maka aku menolak Darren secara halus. Karena aku selalu menolak ajakan Darren, Darren pernah marah bahkan kita sempat ribut dan di kantorpun dia jadi berubah cuek dan jutek. Tapi meskipun begitu, malamnya Darren tetap mengirim chat. Dia tak pernah lelah untuk mencoba dan meyakinkan ku.
Darren : Ra jalan yuuukkk. Jangan bilang kamu ga mau lagi
Aku. : Yaa kalo kamu udah tau jawabannya ngapain nanya
Darren : Kenapa si Ra setiap diajak jalan ga mau. Ada aja alasannya. Apa karena kamu udah punya cowo?
Aku. : Iyaa Ren. Kamu udah tau kan. Jadi aku mohon kamu harus ngerti posisi aku
Darren : Aku ga masalah kamu udah punya cowo atau belum Ra. Tapi aku beneran suka dan sayang sama kamu
Aku. : Darren plis jangan buat aku di posisi sulit oke
Darren : Aku ga meminta kamu untuk memilih. Aku cuma minta kasih aku kesempatan untuk nunjukin keseriusan aku ke kamu. Aku tau kamu ragu karena image aku sebagai playboy dan aku juga terlalu cepat menyatakan perasaan kan Ra?
Aku. : Udahlah Ren, kamu itu seorang CEO yg tampan, ga sulit untuk mencari yg lebih dari aku. Lagian apa yg kamu suka dari aku?
Darren : CEO juga manusia Ra. Aku udah suka dari awal kita ketemu di cafe waktu dulu yg kamu ngomelin aku. Aku tau kamu beda dari cewe lain Ra
Aku. : Aku minta kamu tolong hargai keputusan aku Ren
Darren : Aku akan buktiin ke kamu keseriusan aku Ra
Aku ga membalasnya lagi. Aku hanya menghela nafas berat. Aku berada di posisi sulit. Dulu aku harus memilih antara Kaysan dan Ken. Sekarang masa iyaa aku harus memilih Ken atau Darren? Tapi tunggu apa aku udah mulai suka sama Darren yaa? Yaa jujur aja, aku nyaman dg perhatian dan sikapnya. Yg sebenarnya tak beda jauh dg Ken. Makannya ga sulit rasanya untuk membuat ku nyaman. Apalagi aku dan Ken hubungannya LDR, sedangkan Darren, Darren ada di setiap hari ku. Tapi aku masih berusaha untuk tetap menjaga hubungan ku dg Ken. Apalagi Ken besok akan tiba di Jakarta menemui ku. Yaa walaupun tidak 100% kedatangannya untuk menemui ku karena dia ke Jakarta ada urusan bisnis. Tapi setidaknya Ken sudah menyempatkan waktunya.
Pagi ini aku berdandan seperti biasa tak ada yg istimewa. Hanya saja yg biasanya aku memakai setelan celana dan blazer. Sekarang aku memakai dress putih selutut dg motif bordir bunga dibagian bawah, dan memakai blazer biru muda. Rambut selalu aku gerai dg Curly bagian bawah. Lalu aku memakai high heels warna yg senada dg blazer ku. Aku sengaja memilih baju itu untuk menyambut Ken. Karena semalam Ken bilang akan menjemputku di kantor untuk makan siang bersama. Dan malamnya Ken berjanji akan main ke rumah dan mengajakku jalan. Aku sangat bahagia mendengarnya karena aku akhirnya bisa bertemu dg Ken. Yaa rindu yg selama ini tertahan akhirnya tumpah juga. Untuk itu aku memberikan penampilan baikku selama Ken di Jakarta. Karena Ken hanya sebentar disini.
Jam makan siang kurang 15 menit lagi. Aku sudah mulai membereskan pekerjaan ku, sebelum aku tinggal makan siang nanti. Tiba-tiba hpku berdering, ada panggilan dari Ken.
" Assalamualaikum sayang, share Lok kantor kamu yaa? Sebentar lagi aku otw. " kata Ken dg antusias
" Waalaikumsallam Ken. Oke aku share Lok sekarang yaa. Aku juga lagi beres beres nih. Aku tunggu yaa. " jawabku yg sama sama antusiasnya
" Oke sayang see you. " kata Ken
" See you too. " jawabku lalu mematikan telponnya dan mengirim lokasi kantorku pada Ken
Setelah semua pekerjaan aku selesaikan, aku memasukkan barang barang ku ke dalam tas. Dan tiba-tiba Darren masuk ruangan ku tanpa mengetuk pintu. Yaa itu udah jadi kebiasaan dia sekarang. Dulu yg katanya aku ceroboh tidak menutup pintu, tp nyatanya sekarang itu udah jadi kebiasaan dia, masuk begitu aja. Walaupun udah jadi kebiasaannya, aku tetap aja dibuat kaget setiap dia muncul.
" Udah rapi aja, masih ada 10 menit lagi dari jam makan siang. " Katanya sambil menghampiri ku dan duduk di hadapan ku
" Yaa pak. " jawabku singkat
" Dih jutek amat si, perasaan udah ga ada masalah dan ga marahan kan? " kata Darren sambil menatapku dg menyangga dagunya
" Yaa ampun Ren, ini masih di kantor dan masih jam kerja. Kan kamu yg bilang sendiri kalo harus profesional saat itu. " kataku sambil menghela nafas panjang
" Oke oke maaf. Makan siang bareng kan? " tanya Darren sambil menaikkan alisnya
" Aduh maaf yaa Ren, kali ini aku ga bisa. Aku udah ada janji. " kataku sambil menaruh tas di pundakku lalu aku berdiri
" Sama siapa? " tanya Darren dg nada penuh penekanan dan ikut beranjak dari duduknya
" Sama... " aku bingung harus bilang apa, aku takut menyakiti perasaan Darren. Karena aku udah sering menyakiti dg setiap menolak ajakannya. Tapi untuk makan siang, baru kali ini aku menolaknya
" Sama cowo kamu? Cowo kamu lagi di Jakarta kan? " tanyanya dg tegas. Padahal udah tau jawabannya masih juga nanya. Tapi Darren tau darimana yaa semua itu
" Iyaa. Ko kamu tau? " tanya ku sambil mengerutkan kening karena penasaran darimana Darren tau Ken ada di Jakarta
" Ga penting juga aku tau darimana. Pantes aja penampilan kamu beda. " katanya sambil pura pura bermain HP. Sebenarnya Darren suka menstalking sosial mediaku, dan semua yg berhubungan dg ku. Yaa termasuk Ken
" Aku duluan yaa. " pamitku lalu melangkah menuju pintu tp aku dicegah olehnya dg memegang tanganku
Lalu Darren menarik tanganku dan aku jadi dekat dg nya. Yaa jarak kita hanya beberapa senti saja. Aku langsung takut dg perlakuan Darren yg tiba tiba. Aku mundur perlahan tp tangan Darren satunya menahan punggung ku. Darren menatap ku intens. Aku jadi semakin dag dig dug dibuatnya.
" Darren plis ini masih di kantor. " kataku memberanikan diri memecah suasana yg hening dan menegangkan
Darren menarik ku ke dalam pelukannya. Yaa dia memelukku erat, sangat erat. Lebih erat dari waktu kejadian di lift. Dia mengusap rambutku lembut. Darren memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang. Aku bisa mendengar nafasnya. Dia seperti sedang menahan emosi dan mengontrol perasaannya. Sungguh diluar dugaan. Aku pikir Darren akan berbuat macam macam. Tapi ternyata Darren masih bisa menahannya dan menghargai ku.
" I love you. " bisiknya dalam pelukan lalu mengecup puncak kepalaku
" Aku mau kamu setiap hari memakai pakaian seperti ini walaupun cowo mu ga ada di Jakarta. Aku mau kamu memakainya untuk ku. " katanya lagi sambil mengurai pelukan
Aku tak menjawab ucapannya. Aku masih shock dg perlakuannya. Dari menarikku ke dalam pelukannya sampai dia membisikkan kata i love you dan mencium puncak kepalaku. Aku hanya menatapnya saja. Darren yg sadar dg kebingungan ku. Dia lalu meminta maaf.
" Maaf, aku cuma cemburu. Aku ga tau harus gimana melampiaskannya. Gih pergi, cowomu udah nunggu dibawah. Hati hati yaa. " katanya sambil merapikan rambutku ke belakang telinga dan melepaskan tanganku
Aku hanya mengangguk dan pergi meninggalkannya di ruanganku. Aku berjalan pelan, karena masih tak habis pikir dg kejadian tadi. Aku mencoba mencerna semuanya. Di ruanganku, Darren langsung menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan matanya. Darren sedikit menyesali perbuatannya. Tp sikap itu jauh lebih baik daripada dia mencium bibirku tiba-tiba. Begitu pikirnya. Yaa karena dia berpikir aku akan marah jika dia melakukan itu. Memang aku akan marah tp sejujurnya aku lebih ke shock daripada marah. Aku semakin dibuat dalam posisi yg sulit sekarang.
Di dalam lift aku masih terdiam mengingat kejadian tadi. Aku jadi merasa bersalah jika harus pergi dg Ken. Tp Ken kan cowo aku, sedangkan Darren? Dia bukan siapa siapa cuma sebagai bos di kantor dan teman di luar kantor. Walaupun Darren beberapa kali mengungkapkan perasaannya. Dan kenapa aku jadi merasa seperti ini sekarang? Apalagi dg perlakuan Darren barusan. Yaa aku bermonolog dalam hati. Aku segera menggelengkan kepala lalu memejamkan mata menetralkan perasaan dan ekspresi ku. Aku ga boleh keliatan aneh di depan Ken. Aku ga mau mengecewakannya yg udah jauh jauh menemui ku.
Aku keluar lift dg perasaan yg masih sama tp berusaha untuk menutupi kalo ga pernah terjadi apa apa. Aku lalu menuju parkiran mencari Ken. Ken yg melihatku keluar lalu melambaikan tangannya. Akupun tersenyum sambil melangkah menghampirinya. Dan dari jendela lantai 7 tepatnya dari ruanganku. Ada seseorang yg memperhatikan aku dan Ken. Yaa siapa lagi kalo bukan Darren. Darren melihatku dan Ken dari atas. Melihatku yg berpelukan dan di cium keningnya oleh Ken.
" Ready baby? " tanya Ken sambil mengedipkan sebelah matanya lalu menaruh tangannya di pinggang
" Ready " kataku singkat sambil melingkarkan tanganku ke tangannya
Lalu kami berdua berjalan bergandengan menuju mobil dan mobilpun melaju meninggalkan kantor. Darren yg melihatnya hanya memejamkan matanya.
Aku dan Ken sampai disebuah resto. Kami memesan makanan lalu makan sambil mengobrol banyak hal. Menceritakan tentang pekerjaan, bernostalgia kebersamaan kita di Jogja dulu. Dan ntah kenapa aku beberapa kali melamun. Sampai Ken harus menyadarkan ku. Padahal aku udah berusaha untuk tidak berbeda. Tapi ntah kenapa juga bayangan kejadian dg Darren tadi suka tiba-tiba muncul. Apalagi waktu aku dan Ken menceritakan kebersamaan kita di Jogja. Bayangan kebersamaan Darren seminggu ini juga ikut hadir. Astaga ada apa dengan ku? Kenapa aku jadi begini? Tanyaku dalam hati
Ken yg menangkap keanehan ku dari tadi. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.
" Sayang kamu ga papa? Aku perhatiin kamu jadi sering diam melamun? " tanyanya sambil menyudahi makannya
" Eeemmmm ga papa ko Ken. Aku ga papa. " jawabku agak gugup lalu meminum minuman ku
" Beneran ga papa? Atau ada yg kamu sembunyiin dari aku? " tanya sambil menaikkan alisnya
Aku yg mendengarnya langsung tersedak minuman. Kenapa Ken bisa tanya seperti itu? Emang sikapku keliatan banget lagi nyembunyiin sesuatu yaa? Tanyaku dalam hati
" Eh ga ko Ken, ga ada apa apa beneran. " jawabku sambil menggoyangkan tangan ke kanan kiri. Ken hanya mengangguk
Aku tau Ken ga puas dg jawaban ku. Dan aku tau Ken pasti masih penasaran bahkan curiga dg sikapku. Haduh terus aku harus gimana? Tanyaku dg diri sendiri
(Di kantor)
Darren keluar ruanganku dan kembali ke ruangannya. Di ruangannya Darren pun hanya termenung. Dia memikirkan aku. Lagi ngapain yaa Kyara sama cowoknya? Sikap gue tadi ke Kyara bego ga si? Apa ntar Kyara jadi ilfil dan ga mau deket gue lagi karena kejadian tadi? Sumpah gue jadi gila di buatnya. Bener bener Kyara. Cuma dia yg bisa bikin gue begini. Begitulah kira-kira percakapannya dg dirinya sendiri. Sampai sampai Darren ga mendengar ada suara ketukan pintu dari Linda resepsionisnya. Dan akhirnya dia masuk ke dalam dan menyadarkannya dari lamunan.
" Linda ko kamu ga ketuk pintu dulu. " katanya sambil mengubah ekspresi nya menjadi seperti biasa
" Maaf pak tadi saya udah ketuk tp bapak ga denger jadi saya langsung masuk. Bapak ga makan siang sama Bu Kyara? " kata Linda sambil menganggukkan kepalanya
" Ada apa kamu kesini? " tanya Darren mengalihkan pembicaraan
" Maaf pak ini ada yg harus di tandatangani. " kata Linda sambil memberikan sebuah berkas
" Bukannya sekarang masih jam istirahat? " tanya Darren sambil mengambil berkas lalu menandatanganinya
" Jam istirahat udah lewat 5 menit yg lalu pak. " katanya sambil mengambil berkasnya lagi lalu menutupnya
" Terus Kyara udah pulang belum? " tanya Darren sambil melihat jam tangan lalu menengok ke arah Linda
" Kurang tau pak. " jawabnya singkat
" Yaa udah lanjut kerja. " kata Darren sambil mengibaskan tangannya, tanda menyuruh Linda pergi
" Baik pak saya permisi. " pamitnya sambil menganggukkan kepala lalu undur diri dari ruangan Darren.
Lalu Darren berjalan menuju jendela, ia melihat ke arah parkiran mencari Kyara. Sambil melamun dan termenung. Dan ga berapa lama, Darren melihat Kyara dan cowonya.
Setelah makan siang. Ken kembali mengantar ku ke kantor. Ken jadi agak lebih pendiam setelah pertanyaan terakhir di resto. Yaa mungkin Ken masih mencurigai ku. Begitu sampai di parkiran kantor.
" Nanti malem aku ke rumah yaa sayang. " kata Ken sambil membukakan pintu mobilnya
" Oke Ken aku tunggu. Jam berapa? " tanyaku yg mencoba untuk biasa
" Kamu pulang jam berapa? " tanya Ken balik
" Biasanya si jam 5 Ken. " kataku sambil melirik jam tangan
" Oh oke aku ke rumah abis isya aja yaa. " katanya sambil mengusap rambutku
" Iyaa Ken. Aku duluan yaa, udah telat 5 menit nih. " kataku buru buru
" Oke semangat sayang. " kata Ken lalu mencium keningku
" Bye. " pamitku singkat sambil melambaikan tangan lalu berlari ke dalam. Ken tersenyum dan membalas lambaian tanganku
Saat aku sudah masuk ke dalam kantor. Ken membalikkan badan menuju mobil. Tp sebelum itu Ken sempat melihat ke atas, dan melihat ada seorang cowo di dekat jendela yg menatap ke arahnya. Ken hanya mengerutkan kening, dan bertanya dalam hati. Siapa yaa? Terus ngapain dia liatin gue? Eh dia liatin gue atau liatin Kyara? Tanyanya dalam hati. Kecurigaan Ken semakin menjadi karena dia menghubungkan dg sikapku tadi di resto. Tapi Ken ga mau ambil pusing, dan mencoba untuk tetap seperti biasa. Meski hatinya bertanya tanya. Tapi Ken membiarkan itu semua. Dia menunggu aku yg bercerita sendiri. Yaa Ken menunggu kejujuran ku. Tapi ntah kapan aku bisa jujur. Karena sama perasaan ku sendiri aja, aku belum bisa jujur memutuskan.
Aku memasuki ruangku. Dan aku terkejut karena Darren sudah berdiri disana. Ntah kapan dia masuk. Atau dia ga beranjak dari semenjak aku pergi? Ntahlah pikirku sendiri.
" Udah kangen kangenannya Hm? Sekarang jam berapa? Sampai lupa waktu dan ga profesional Hm? " tanya Darren tanpa jeda sambil menatapku tajam dg tangan dimasukkan ke dalam saku celana
" Maaf pak saya telat 5 menit. " kataku sambil menundukkan kepala
" Yaa udah lanjut kerja. Ini untuk pertama dan terakhir. Saya ga mau kejadian ini terulang lagi. " Darren menghela nafas berat dan berkata dg tegas tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap dalam posisinya
" Baik pak. " jawabku singkat sambil menganggukkan kepala lalu berjalan menuju kursi dan melewatinya
Darren melihatku sampai aku terduduk dan mulai mengerjakan pekerjaan ku. Dia tak pernah melepaskan tatapannya. Lalu dia keluar dari ruangan ku tanpa sepatah katapun.