Jonathan menatap Bianca heran, jadi itu yang ada dipikiran gadis ini? Gemas, Jonathan kembali menyentil dahi gadis itu, sekarang dengan sedikit lebih kuat hingga kepala Bianca terdorong ke belakang.
"Otak Lo harus dibersihin tuh, isinya sinetron semua."
Bianca mengelus keningnya kasar, sumpah ya, Jonathan itu selalu melakukan kekerasan fisik padanya. Dari pertama kali bertemu, selalu ada organ tubuh Bianca yang menjadi korban ke-ganasan tangan cowok itu.
"Sakit!" Jonathan hanya terkekeh melihat bagaimana lucunya Bianca yang sedang mengusap dahinya sambil sesekali mengoceh tidak jelas tanpa ada niat membatu gadis itu.
Jonathan menarik tangan Bianca lembut, namun gadis itu menahannya dan tidak ingin mengikuti Jonathan, membuat Jonathan kembali menghadapnya penuh tanda tanya. "Kenapa?"
Bianca hanya menggeleng pelan sambil menunduk, kebiasaannya saat takut.
Menghela napas pelan, Jonathan memegang dagu gadis itu dan mengangkat kepalanya, memaksa agar dia mau menatap Jonathan. "Kalo ngobrol sama orang biasain liat wajahnya."
Bianca menatap wajah Jonathan sendu, ia hanya diam dan kembali menggeleng, membuat pria itu kembali menghela napas secara kasar.
"Kenapa, Ca? Ngomong, jangan diem aja."
"Gua ngga mau."
Melihat mata Bianca yang hampir mengeluarkan air mata, oke Jonathan mengerti sekarang. Gadis itu tengah ketakutan, Bianca takut. Tidak tau untuk apa, tapi sepertinya Bianca takut sama Jonathan, seperti katanya tadi, Bianca takut Jonathan macem-macem.
"Lo takut, hm?" Tanya Jonathan lembut. Satu tangannya digunakan untuk mengangkat kepala Bianca dan satu lagi memegang bahu gadis itu.
Bianca mengangguk pelan. Katakan ia cengeng, penakut, lebay, tapi Bianca memang tidak pernah membayangkan akan berteman atau dekat dengan berandal seperti Jonathan, ia jelas merasa takut. Apa lagi faktor keluarganya yang posesif dan sedikit melarangnya pergi jauh-jauh terutama dengan cowok membuat Bianca semakin gelisah. Ia anak rumahan, hampir tidak pernah keluar rumah kecuali urusan penting dan mendesak. Itu membuat Bianca takut untuk dekat-dekat dengan orang semacam Jonathan, itu sebabnya Bianca selalu judes.
"Ngga usah takut, gua ngga akan ngapa-ngapain Lo, ko. Janji." Jonathan mengulurkan jari kelingkingnya bermaksud untuk berjanji.
Dengan ragu bianca membalas Jonathan, ia menautkan jeri kelingkingnya pada kelingking cowok itu lalu disusul dengan jari telunjuk dan terakhir itu jari yang bertemu. Itu adalah caranya membuat janji.
Jonathan cukup terkejut awalnya, namun ia hanya mengikuti kemauan gadis itu, hingga kini ia bisa melihat wajah Bianca sedikit tenang.
"Anak pinter, udah ayo." Ucap Jonathan dengan senyum mengembang. Ia mengacak-acak rambut Bianca sebentar lalu menarik tangan gadis itu agar duduk di jok motornya.