20. Siapa Violett dan Kenapa?

2630 Kata
"Aduh pegel." Bianca mengangkat tangan dan perlakukan peregangan ringan. Membuat tubuhnya mengeluarkan bunyi nyaring. Setelah pulang sekolah ia langsung masuk kamar dan menyelesaikan beberapa tugas yang deadline nya sebentar lagi. Bianca merebahkan tubuhnya ke kasur, membuat badan yang semua pegal terasa lebih rileks. Melihat jam di dinding, Bianca beralih melihat langit-langit kamarnya. Menatap laptop selama empat jam penuh ternyata sangat melelahkan. Efeknya baru terasa sekarang. Kepala sedikit pening dan matanya agak berat. "Gila, rajin banget gua." Ucapnya tiba-tiba. Entah kenapa Bianca jadi kepikiran aja, kenapa ia repot-repot mengerjakan tugas yang ujung-ujungnya akan dicontekin anak kelasnya besok pagi. Istilahnya, kenapa dia repot ngerjain tugas buat dicontek? Matanya mulai terasa berat dan menutup sempurna beberapa detik setelahnya. Secapek itu Bianca. Dia ngga pernah natap layar laptop sampai empat jam non-stop begini, paling lama ya dua jam, karena setelah itu ia akan mengistirahatkan matanya. Kamar bernuansa pink pastel dan biru pastel itu terasa sangat sunyi. Hanya suara jam dan sesekali suara dengkuran halus Bianca yang terdengar. Tok... Tok... Tok... Suara ketukan pintu terdengar. Tapi Bianca tidak terusik Tok... Tok... Tok... Tak lama suara pintu terbuka terdengar. Seorang cowok berdiri sambil menolak pinggang melihat Bianca yang sedang tertidur galak. Cowok itu jalan mendekat, memperhatikan Bianca kesal lalu menggeleng dengan senyum simpul. Lihat, Bianca tidur dengan posisi yang tidak benar. Kaki gadis itu menggantung ke bawah dan laptopnya masih menyala sempurna di meja sisi kasur. Segara lelaki itu mengguncang badan Bianca kasar. Namun masih tidak bisa membangunkan gadis tersebut. Kalau biasanya Bianca akan langsung terbangun hanya dengan mendengar suara pintu terbuka, maka kali ini tidak. Sudah ditampar berkali-kalipun masih tidak bangun. "Anjir kebo banget." Dengusnya. Kembali berusaha membangunkan gadis itu. "BANGUN WOY!" Karena tak kunjung bangun, cowok berbadan tegak itu menyungging senyum, berniat menggunakan cara terakhir. Ia mendekatkan diri, dan membisik tepat di telinga gadis itu. Membuatnya terusik dan tak lama membuka mata. "Bangun sayang, anak-anak udah nungguin di bawah." Bianca menatap horor cowok yang berada tepat di depan wajahnya. Maju dikit lagi maka hilang sudah ciuman pertamanya. "BEBEN BEGOO!" Pria yang dipanggil Beben itu tertawa puas melihat wajah sang kakak yang merah sempurna. Bentley Davidson Garcia. Atau biasa dipanggil Beben adalah Anak bungsu dan satu-satunya anak laki-laki di keluarga Garcia. Memiliki pribadi yang berbeda dari dua kakaknya, kalau dua lainnya cenderung cuek namun lembut saat berbicara. Maka Bentley sebaliknya. Ia sangat usil dan tidak memiliki nada lembut dalam bicaranya. "Kebo banget sayangnya aku." Ucapnya mengulum senyum berusaha menahan tawanya. "Turun cepet, makan." Bianca mendengus kesal. Merapikan penampilannya dan turun menuju meja makan, duduk tepat di hadapan adiknya itu. Mereka berdoa bersama lalu makan dengan tenang. "Kenapa sih sayang? Ngga usah gitu ngeliatinnya, nanti kamu jatuh hati." Bianca pura-pura muntah mendengar ucapan Beben yang menggelikan. "Jijik, goblo." Beben tertawa renyah. Ia memasukan sesendok nasi, mengunyahnya sebenar dan menelannya sempurna. Beben melanjutkan tawanya. "Jangan jijik dong cantik, cogan gini ko. Oh iya, kamu ngga baper kan sama aku?" "t*i, ko bisa gua punya adek kaya Lo sih. Modus mulu." "Biarin dong, gini-gini cewe gua banyak." Bianca melotot, Bentley juga melotot menyadari perkataannya. "HEH? PUNYA PACAR BERAPA LO?!" "Lebay ah. Single gua." Bianca menatap sang adik sinis. Tapi ia langsung teringat sesuatu. "Ben, temen gua lagi dideketin cowo modelan elo." "Modelan gua gimana maksudnya? Cogan?" Bianca memutar mata jengah. Adiknya terlalu narsis. Memang ganteng sih, Bianca akui, TAPI KEPEDEAN BANGET. NYEBELIN. "Ngga lah. Bukan kaya Lo deh. Cowonya cuek-cuek gitu, tapi baik." Bentley mengangguk pelan. Ia berhenti menyuapkan makanan yang tinggal beberapa suap itu habis dan lebih memilih menatap wajah sang kakak penuh selidik. "Temen Lo siapa?" Bianca tergelak. Lupa kalau Bentley ini pekaan dan posesif. "Temen, ada lah temen gua di sekolah. Lo ngga kenal." "Oh." Bentley mengangguk pelan, ia kembali menyuapkan nasi dan berbicara sambil makan, "ngga kenapa-napa. Cakep ga? Kalo cakep sih ya wajar." "Ngga, ngga cakep dia." Jawab Bianca lemah. Ia memang tidak pernah merasa bahwa ia cantik kok. Malah sering insecure. "Lah, kalo jelek mah, ngapain di deketin cowo cuek gitu. Biasanya cowo cuek dingin itu famous, ngga mungkin dia ngedektin temen Lo kalo ngga cakep. Ngapain banget gitu. Bianca berhenti sejenak, menatap Bentley dalam kemudian mengangguk paham. "Gitu ya..." *** Kriek... Kriek... Jonathan mengerjab, merasa terganggu dengan suara berisik tersebut. Awalnya ia berpikir itu bukan sesuatu yang penting, jadi cowok itu lanjut tidur. Namun suara samar-samar mulai terdengar, membuat Jonathan mau tak mau bangun dari tidurnya. Jonathan mengumpat pelan kembali mendengar suara aneh itu. Dia baru banget tidur, sekarang kepalanya pusing gara-gara bangun tiba-tiba. "Shit." Jonathan tipe orang yang kalo tidur ngga bisa diganggu. Suara sekecil apapun bisa membangunkannya. Jonathan mengedarkan pandangannya, menatap ruangan gelap ini sambil mengumpulkan nyawa. Mengernyit heran ketika sadar bahwa ini bukan kamarnya. Ada cowok yang lagi tidur di kasur, tepat di bawah lampu. Ahh, ia ingat kalo ini emang bukan kamarnya, melainkan kamar Christian. Cowok itu udah tidur lelap di kasurnya. Berbeda dengan Jonathan, Christian justru tidak akan bangun walau mendengar suara sekencang apa-pun. Setelah pertengkaran kecil bersama Nathan tadi, ia langsung pulang bersama Violett, mengantar gadis itu sampai masuk ke rumahnya dengan selamat. Awalnya ia ingin pulang ke rumah, namun setelah mendapat pesan dari bibinya bahwa rumah sedang sepi, Jonathan memutuskan untuk tidak pulang dan menginap di rumah sahabatnya. Jonathan menegakan badan, melakukan beberapa peregangan sebelum bangkit dan turun untuk melihat ada apa di bawah. Mengerutkan dahinya heran, Jonathan terus melangkahkan kakinya menuruni tangga. Ia melihat siluet seseorang. Semakin mendekat, Jonathan masuk ke area dapur, ia sudah bisa memastikan siapa cewek yang sedang berdiri membelakanginya menghadap wastafel, cewek yang sudah mengganggu tidurnya. "Violett?" Violett tersentak kaget mendengar suara seseorang yang sudah sangat ia hapal. Namun gadis itu enggan untuk berbalik, membuat Jonathan menghela napas kasar. Selalu begini. Setiap dia nginep di rumah Christian hampir setiap malam ia akan menemukan Violett di dapur. Jonathan maju beberapa langkah hingga kini ia berada tepat di sebelah gadis itu, ia bisa dengan jelas melihat apa yang tengah dilakukan adik kelasnya ini. "Lagi?" Violett diam. Ia menunduk tak berniat menjawab pertanyaan yang diberi. Jonathan kembali menghela napas, kali ini lebih kasar. "Jawab." Violett menoleh menatap Jonathan dengan pandangan sulit diartikan. Mata gadis itu berkaca-kaca sambil memegang tangannya yang sudah mengeluarkan banyak darah. "Maaf." Tuhkan, selalu begini, pasti. Setiap ia memergoki gadis itu tengah menyayat tangannya, pasti selalu kata maaf yang pertama dilontarkan, tidak pernah yang lain. Padahal Jonathan tidak butuh maaf gadis itu. Untuk apa? Menatap Violett dalam, Jonathan segera menyalakan keran wastafel, membersihkan pisau dan darah yang tercecer di sekitar situ. Menarik tangan gadis itu dan memaksanya duduk di bangku meja makan. Jonathan mengambil baskom berukuran sedang serta handuk kecil dan mengisinya dengan air bersih. Meletakan baskom tersebut di meja makan, Jonathan beralih mencari kotak obat yang selalu tersedia lengkap di dapur. Jonathan menarik bangku menciptakan suara gesekan antara kaki bangku dan lantai, lalu duduk di sebelah gadis yang masih asik menundukkan kepala entah melihat apa. "Tangan." Ucapnya datar. Violett menatap Jonathan kaget, detik berikutnya mengulurkan tangan kirinya membiarkan lelaki tersebut membersihkan darah yang masih menempel. Jonathan menarik napas pelan dan dalam, lalu menghela kasar. Tangan gadis itu mulus, bersih, sudah tidak ada lagi bekas sayatan lain, namun dengan gampang cewek itu kembali menyayat tangannya cukup dalam. Darah terus keluar dari pergelangan tangannya. Dengan telaten Jonathan membersihkan luka sayatannya menggunakan handuk yang sudah basah. Sangat pelan, tidak membiarkan gadis itu meringis sakit. "Kenapa?" Violett mengangkat kepalanya, menatap cowok dihadapannya bingung. "Apa?" "Kenapa ngelakuin ini lagi?" Ulang Jonathan memperjelas pertanyaannya tadi. Ia cukup kaget melihat Bianca menyayat tangannya sendiri tadi, gadis itu sudah lama tidak melukai diri sendiri seperti ini. Violett diam tidak menjawab pertanyaan cowok itu, membuat Jonathan mengoleskan obat sedikit kasar. "Ahk," ringisnya, Jonathan menekan lukanya terlalu dalam, membuat rasa nyeri itu kembali terasa. "Ada masalah?" Jonathan kembali melontarkan pertanyaan dengan tenang, seolah tidak terjadi apapun pada gadis ini. Masih enggan untuk bersuara, kali ini Violett menjawab dengan gelengan pelan. Takut dengan tatapan tajam yang diberikan cowok itu. Jonathan menatapnya dalam dan jengah. Jonathan capek melihat gadis ini melukai dirinya sendiri, membuat Jonathan ikut merasakan sakit, yang akhirnya ia juga yang akan mengobati. Ia tidak suka melihat Violett seperti ini. Gadis itu sudah dianggap adiknya sendiri. Jonathan bahkan memberi kasih sayang penuh layaknya abang menjaga adiknya. "Tiga tahun, Vi. Tiga tahun lo berobat dan udah ngga ngelakuin ini lagi. Sekarang kenapa?" Violett menggeleng pelan, tak lama suara Isak tangis mulai terdengar. Membuat Jonathan jengah sendiri. Setiap ditanya kenapa, Violett tidak pernah memberi tahu alasannya. Ia hanya menangis dan berakhir Jonathan yang meninggalkan gadis itu. "Trauma Lo kambuh?" Masih berusaha tenang, Jonathan kembali melontarkan pertanyaan dengan lembut, tidak bermaksud menyinggung atau mengingatkan gadis itu ada traumanya. Iya, Violett punya trauma besar, trauma yang membuatnya menjadi Violett yang sekarang. "Jawab, Vi. Jangan diem doang nangis." Jujur ya, Jonathan sedih melihat Violett seperti ini. Ia sedih harus kembali mengobati luka yang gadis itu ciptakan sendiri. Tapi ia juga kesal, kesal kenapa ia tidak bisa menjadi kakak yang baik bagi Violett, tidak bisa menjadi tempat gadis itu berbagi keluh kesah. Dulu Violett gadis yang polos, riang, dan selalu menceritakan apapun padanya. Sekarangpun masih begitu, bedanya gadis itu menjadi tertutup dan tidak lagi berbagi cerita padanya. Gadis itu tidak lagi bercerita kalau tidak dipancing. Membuat Jonathan merasa tidak becus menjadi seorang kakak. "Vi..." Violett mengangkat kepalanya menatap iris gelap Jonathan. Isakannya mulai mereda, namun air matanya masih terus keluar. "Kenapa?" Jonathan menangkup wajah gadis itu dalam tangan besarnya, menghapus air mata yang tidak berhenti keluar, mengusap pipi lembut Violett. "Kenapa, hm?" Sungguh hati Jonathan sakit melihat gadis yang sudah ia anggap adik, gadis yang sudah bersamanya dari masih bayi, gadis yang ia urus sampai sebesar ini tengah menangis tanpa suara. "Ngga, gua ngga papa, kak." Jawabnya parau. Jonathan sempat terhenyak mendengar Violett menggunakan Lo-Gua. Itu tandanya gadis itu memang sedang sedih atau ada hal yang mengganggu pikirannya hingga ia bisa melakukan hal seperti ini. Tapi bukan Jonathan namanya kalau ia tidak mendapat jawaban sesuai keinginannya. "Kenapa, Vi? Bilang ke gua, bilang kalo ada yang nyakitin Lo." Violett menggeleng, menggenggam tangan kekar Jonathan yang masih bertengger di pipinya dan menurunkannya perlahan, berusaha memberi senyum terbaiknya. "Gapapa, tadi sempet stres aja." Senyum manis terbit di wajah gadis itu, padahal bibirnya masih bergetar ingin menangis. Jonathan mengangguk, walau masih khawatir, setidaknya ia bisa sedikit tenang mendengar jawaban gadis itu. Hening menyerbu. Violett dan Jonathan sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Kak Bianca." Jonathan menatap Violett dengan sedikit kerutan di dahinya begitu mendengar gadis itu mengucap nama yang sedang dekat dengannya akhir-akhir ini dengan parau. "Bianca? Kenapa?" "Deket sama dia?" Violett masih berusaha mengontrol intonasinya. Jonathan mengangguk tanpa ragu, ia menarik ujung bibirnya membentuk senyum tipis, mendengar nama gadis itu saja sudah bisa membuatnya tersenyum, entah kenapa. Violett masih mempertahankan senyumnya yang kini terlihat seperti senyum miris. "Kenapa deket-deket sama dia? Siapa yang deketin duluan?" Senyum lelaki itu memudar, ia mulai menatap Violett was-was. Apa gadis ini akan mengeluarkan sikap posesifnya? "Gua yang deketin duluan." Jonathan menjawab tegas, berusaha meyakinkan gadis itu bahwa Bianca memang tidak berniat mendekatinya. "Jauhin." "Ngga." "Jauhin, kak. Gua ngga suka Lo deket-deket sama dia." Jonathan memberinya tatapan tajam dan sinis. Tatapan yang hampir tidak pernah ia dapat dari lelaki tersebut. "Lo kenapa sih? Emang kenapa kalo gua deket sama dia? Lo ngga bisa ngekang gua begini." Balas cowok itu dengan suara mengeras. Kelihatan bahwa ia tidak suka dengan ucapan Violett barusan. "Bisa. Gua bisa, dan gua ngga mau Lo deket sama dia lagi." "Kenapa lagi, Vii?" Jonathan bertanya frustasi dan mengusap wajahnya kasar. Tak menyangka Violett bisa kembali seperti ini. "Gua ngga suka. Gua ngga suka Lo deket sama cewe lain selain gua." Ini. Ini alasan kenapa Jonathan tidak bisa berbaur dengan perempuan. Violett selalu mengekangnya, melarangnya berdekatan dengan cewek-cewek diluar sana. Siapapun. "Gua tinggal empat setengah bulan aja Lo udah dapet cewe ya." Ujarnya sambil tertawa sinis. Tawa jahat yang tak pernah Jonathan ingin. "Kenapa? Itu hak gua untuk dekat sama siapa aja. Lo ngga bisa ngelarang-larang gua." "Bisa, gua bisa." "Ngga. Lo. Ngga. Bisa." Tekan Jonathan. "BISA! GUA BISA!" Sudut bibir Jonathan kembali terangkat, membuat senyum miringnya keluar. Violett mulai lagi... "Jauhin. Jauhin dia atau gua yang bikin dia menjauh." Ucap gadis itu setelah mengatur napasnya. Jonathan berusaha tenang, walau tak bisa dipungkiri bahwa ia khawatir setengah mati dengan gadis yang dimaksud. Gadis itu tidak mengerti apa-apa, jangan sampai ia kena ulah Violett. Violett bisa melakukan apapun untuk mendapatkan kemauannya. "Ngga akan. Gua ngga akan ngejauhin cewe yang gua suka." Violett diam. Ia menatap Jonathan kosong. Tak menyangka kalimat itu yang akan keluar dari mulutnya. "Suka? Lo suka sama dia?" Violett tertawa hambar, matanya berkaca-kaca hendak mengeluarkan mutiaranya kembali. "Terus Lo anggep perasaan gua selama ini apa?" Ini yang tidak Jonathan suka. Ini juga yang Jonathan sesali. Violett salah menganggap semua perhatiannya selama ini. "Adek. Lo itu adek gua, dan akan terus begitu." Tekannya. Sudah cukup ia selalu mengalah pada gadis ini, sekarang ia akan diam saja menerima semua sikap posesifnya. "ENGGA!! Lo ngga bisa cuman nganggep gua adek! Ngga bisa!" Jonathan mau menangis rasanya melihat Violett menggeleng kencang dan berteriak sambil memukul meja seperti itu. Ini bukan seperti Violett yang ia kenal. "Bisa." Namun ia tetap berusaha tenang dan membalas semua perkataan Violett. Menatap Violett yang tengah berdiri dengan tatapan tajam dan meremehkan. Ia tidak akan mengalah kali ini. "NGGA! LO NGGA BISA!" Violett mendudukan dirinya dan mulai memukul-mukul meja. Menghela napas lelah. Jonathan lelah harus terus menghadapi gadis gila ini. Ia memegang bahu gadis itu dan memaksa supaya menatap matanya. "Dengerin gua. Lo adek gua. Jangan coba-coba nyentuh Bianca." Jonathan berucap menekankan kata perkata. Membuat hati Violett mencelos merasa sakit yang luar biasa. Gadis itu sangat berantakan sekarang. Mata dan hidungnya yang memerah, rambut berantakan, keringat yang mengalir di pelipisnya, dan muka yang tampak menyedihkan. Violettnya tidak seperti ini... "Kalo gitu jauhin. Gua ngga akan nyentuh cewe itu kalo Lo mau ngejauhin dia. Jauhin sejauh-jauhnya!" Jonathan tak habis pikir dengan jalan pikir gadis ini. Benar-benar gila. Bagaimana bisa ia mengatur hidupnya seperti ini? Tapi meski begitu, Jonathan tidak pernah menyesal memberi perhatiannya pada gadis ini. Violett adalah alasan mengapa Jonathan tidak pernah memiliki teman perempuan. Walau Jonathan tampan, ia tidak pernah berpacaran, sama sekali. Dia takut Violett akan melakukan hal keji seperti beberapa tahun silam. Dimana gadis itu hampir membunuh satu-satunya sahabat cewek yang dekat dengannya. Padahal mereka tidak ada hubungan apapun. Dan untungnya masalah itu bisa selesai dengan baik tanpa ikut campur pihak ketiga atau hukum. Tapi kali ini, Jonathan tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Ia akan melawan Violett, walau harus melukai hati adik kecilnya. "Ngga akan pernah. Lo ngga bisa ngatur hidup gua begini. Gua bebas menentukan siapa yang deket sama gua." "Kalo gitu gua yang bakal bikin dia ngejauh. Bakal gua bikin kalian ngga saling mengenal." "Coba aja. Coba kalo Lo berani." Jonathan tersenyum puas melihat ekspresi terkejut Violett. Gadis itu pasti tidak menyangka bahwa Jonathan akan menjawab begitu. Karna biasanya, Jonathan akan langsung diam menuruti gadis itu dan menjauh dengan sendirinya setelah mendengar perkataannya. Violett itu gila, berbahaya. Ia tidak boleh mengambil resiko. Jonathan berdiri menatap gadis berantakan itu tajam. Lantas mengeluarkan senyum miringnya yang sangat menyeramkan. Seumur-umur Violett tidak pernah melihat senyum itu. Mendekatkan wajahnya, "Lo bukan siapa-siapa." Bisik Jonathan tepat di telinga gadis itu. Setelah itu tersenyum remeh dan pergi meninggalkan gadis yang tengah mengeraskan wajahnya. Mengambil kotak obat lalu melemparnya asal, membalikan baskom membuat lantai dan meja becek. "AARGHH!" Violett menjambak rambutnya kasar, lantas menendang dan menonjok meja meja kuat-kuat. Membuat kepalan tangannya luka dan berdarah, juga kakinya yang ikut mengeluarkan sedikit darah. Mengangkat tangannya, Violett menatap pergelangan tangannya yang terbalut perban. Ia memukul-mukul perban itu kasar, membuatnya meringis sendiri merasa sakit. "Anjing Lo Bianca."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN