"Kak Jo kemana, bang?"
Makanan telah tersedia di meja makan. Disusun oleh satu laki-laki dan satu cewek yang asik memainkan handphone.
Christian menoleh sebentar lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya, menghiraukan pertanyaan sang adik yang menurutnya tidak penting.
"Jawab, bang. Aku nanya lho."
Menghela napas pelan, Christian menarik bangku dan duduk di depan Violett. Menatap manik mata gadis itu sebentar, lalu mengambil sedikit nasi dan lauk mengisi piringnya.
"Udah pergi duluan tadi, buru-buru katanya."
Violett mengernyit bingung, merasa tidak puas dengan jawaban kakaknya itu. "Buru-buru? Tumben, kenapa?" Wajar Violett bertanya, cowok itu ngga pernah memikirkan sekolahnya dan hampir tidak pernah datang pagi seperti saat ini.
"Ngga tau, katanya ada urusan." Jawab Christian sambil menggeleng pelan.
Ia menarik napas dan menghembus perlahan, menatap sayu adiknya yang sibuk memasukan makanan ke dalam mulut.
"Kenapa?"
Christian melotot kaget, menyibukkan diri dengan makanannya seolah tidak mendengar ucapan gadis itu. Lupa kalau Violett orangnya pekaan banget.
"Vi," panggil Christian pelan. Ia merasa harus menanyakan sesuatu. Membuat gadis itu berdehem pelan menjawab pertanyaannya.
"Tangan, kenapa?"
Violett menatap kakaknya sebentar, lalu mengalihkan pandangan pada tangannya yang sudah tidak dibalut perban.
"Abang udah tau, ngapain nanya." Jawabnya cuek.
Beginilah Violett, ia sangat cuek dan tidak peduli dengan apapun, itu sifat aslinya yang memang menurun dari garis keluarga. Hampir seluruh keluarganya cuek dan dingin. Tapi Violett, ia hanya akan berbuat demikian saat berada di rumah, berbeda sekali pas gadis itu sedang di luar atau bersama Jonathan.
Walau cowok itu sudah tau sifat asli Violett, gadis itu tetap kekeh mempertahankan image ceria yang sudah ia bangun.
Entah apa tujuannya, tapi gadis itu semakin menyeramkan saat mengeluarkan sifat asli dan bohongannya dalam waktu dekat.
"Kenapa lagi sih?" Christian menghentikan acara makannya, menatap Violett dalam berharap agar gadis itu jujur.
Violett itu pembohong...
"Ngga, stres aja, terus lepas kendali."
"Udah diobatin? Kenapa ngga diperban?"
Mengangguk lalu menggeleng, "udah, tapi ngga mau diperban. Ntar make jaket aja." Jawabnya mengangkat jaket berwarna merah marun.
"Kenapa ngga diperban aja sih? Kalo make jaket ntar kegesek lukanya."
"Ngga mau."
Christian mengusap wajahnya kasar, frustasi dengan sikap adiknya. Violett itu suka melakukan tapi tidak mau menanggung malu.
"Abang kenal Bianca?"
Christian mendongak, menatap gadis yang juga sedang menatapnya intens. Christian sadar, sangat sadar, bahwa Violett baru saja mengubah topik.
"Ngga kenal juga sih, cuman tau aja." Menganggukan kepala lalu mendengus kasar, memori Christian sontak berputar ke saat cewek itu dengan berani mempermalukannya di kantin yang sangat ramai. Tak sadar bahwa adiknya menangkap semua perilakunya.
"Kenapa?"
Christian tersentak. Violett bertanya pelan, namun menusuk. Entah ini hanya perasaannya saja atau Violett memang sengaja bertanya dengan nada biasa namun menuntut seperti ini?
"Bianca kan? Abang tau doang sih, anak emasnya sekolah, dia princessnya IPA 1 tuh, kawanannya cogan semua." Jawab Christian sadar bahwa adiknya hanya ingin mengetahui semua tentang gadis itu.
"Princess?" Beo Violett, Christian mengangguk lalu memasukan sepotongan steik besar dengan lahap.
Tak sadar bahwa Violett tengah menggenggam gelasnya kuat-kuat.
"Dia, deket sama kak Jo?"
Lagi-lagi Christian mengangguk, ia terlalu sibuk meresapi nikmatnya daging steik yang tersaji, matanya yang tertutup membuat siapa saja tahu bahwa daging di piringnya memang terasa begitu enak.
"Kenapa ngga Lo jauhin?"
Christian tertegun sebentar, detik selanjutnya ia kembali sibuk menikmati sarapannya dan sesekali minum air.
"Buat apa dijauhin? Suka-suka dia lah mau deket sama siapa aja." Christian menuangkan air putih lalu meneguknya dalam sekali tegukan. "Lagian dia baik, cantik lagi, gua suka sih dia deket sama Jonathan, ngasih pengaruh baik."
Violett tersenyum manis saat Christian menatapnya bingung. Menggeleng pelan dan ikut menyantap sarapan yang tersaji. Masih sisa setengah, tapi Violett udah ngga selera.
Meneguk habis minumannya, Christian berdiri dan pergi setelah memakai jas sekolah. Violett hanya menatap kepergian kakaknya diam. Meremas gelas kacanya hingga hampir pecah, gadis itu segera berdiri dan menghampiri sang kakak.
Memakai jaket merah marunnya dengan tergesa-gesa lalu masuk ke dalam sedan hitam keluaran terbaru milik kakaknya.
Violett tidak merasa sakit sama sekali saat memakai jaket, ia sudah terlalu terbiasa dengan rasa sakit yang lebih. Juga karena sayatannya yang berada beberapa senti di bawah lipatan tangan, membuatnya tak terlihat dan tak bergesekan dengan karet tangan jaket.
Christian menggeleng maklum saat pintu dibanting oleh gadis itu, menimbulkan suara kencang yang membuat siapa saja takut mobilnya akan rusak.
Keadaan hanya hening, tidak ada yang mau membuka suara.
Christian menyetir dan Violett terdiam menatap keluar jendela. Melihat berbagai jenis kendaraan berlalu lalang di jalan yang sangat padat.
Pagi ini sangat cerah, mungkin siang nanti akan sangat terik, matahari sedang senang-senangnya menghangatkan bumi dengan cahayanya.
Walau cerah, keadaan dua orang di dalam mobil sedan hitam tidak seperti itu. Mereka sedang kalut dengan sendirinya.
Christian dan Violett memang kakak adik, mereka juga cukup akur dibanding kakak adik pada umumnya. Namun entah mengapa saat ini keduanya tidak ada yang berminat membuka percakapan ringan.
Mungkin hanya Christian yang diam, cowok itu sibuk dengan jalan. Tapi tidak sama Violett, gadis itu tengah berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
Wajahnya memerah dan bibirnya terkatup rapat. Rasa kesal yang menggerogoti tubuhnya membuatnya menggigit bibir mungilnya kencang, membuat daging empuk itu sedikit membengkak dan semakin memerah.
'Bakal gua bikin Jonathan ngejauhin Lo, bahkan semua orang...
Princess, ngga ada princess selain gua. Liat aja, gelar princess Lo akan segera hilang secepat mungkin.
Lo ngga cocok jadi princess.'
***
Jonathan risau, benar-benar risau. Kakinya tak berhenti melangkah, berlari ke segala tempat di sekolah ini, Jonathan bahkan beberapa kali menabrak orang yang sedang berjalan, membuat sedikit kerusuhan di Starlight High School.
Bianca hilang.
"Ya ampun, Ca. Lo dimana sih." Gumam Jonathan pelan.
Ia sudah mencari kemana-mana, ke kelasnya, lapangan, perpustakaan, studio sekolah, kantin, belakang sekolah, bahkan sampai ke rooftop. Tapi yang dicari tidak juga kelihatan batang hidungnya.
Jonathan panik bukan tanpa alasan, ia tadi mendapat kabar dari Vanesha bahwa gadis itu sedang bersama adik kelas yang cantik banget, siapa lagi kalau bukan Violett? Hanya Violett yang mendapat julukan adik kelas tercantik.
Vanesha sahabat dekat Bianca, jelas ia tidak mungkin berbohong padanya.
"Woy," seru seseorang. Jonathan segera menoleh karena merasa dirinyalah yang dipanggil.
Seorang pria menghampirinya, Jonathan mengernyit karena tidak mengenal siapa laki-laki yang berdiri di hadapannya kini. Karena ini bukan daerah kelasnya, ia ada di daerah kelas sepuluh, yang jelas ia tidak kenal siapa-siapa.
"Nyariin Violett ya? Di kantin tuh."
Jonathan tertegun, sekarang ia tahu siapa laki-laki ini, dia adik kelas yang berada di kelas yang sama dengan Violett. Mendengar ucapannya, jelas Jonathan bisa menyimpulkan bahwa Violett berkata aneh-aneh pada teman sekelasnya tentang hubungan mereka.
Tapi biarlah, Jonathan tidak peduli. Yang ada di pikirannya sekarang hanya Bianca.
Jonathan mengangguk pelan dan pergi dari situ. Berjalan pelan menuju kantin. Ia bukan ingin menemui Violett kok, dia cuman mau beli minum dan istirahat sebentar. Jama istirahatnya habis karena mencari gadis itu.
Perlahan tapi pasti kakinya mulai memasuki area kantin. Sedang sepi, karena memang saat ini bukan jam istirahat. Hanya ada satu cewek sedang duduk di pinggir sambil menikmati milkshake nya.
Tunggu... Cewek?
Jonathan menajamkan pengelihatannya guna memastikan siapa gadis yang sedang duduk santai sambil memainkan handphone, detik berikutnya ia berjalan cepat dan duduk di depan gadis itu.
Itu Bianca.
Bianca sedikit tersentak, ia mengangkat kepalanya dan semakin kaget melihat siapa yang ada di depannya.
"Jonathan?"
"Kemana aja? Ngapain disini?"
Bianca semakin kaget ketika Jonathan melontarkan pertanyaan dengan nada sewot.
"Hah? Engga kemana-mana?" Jawabnya sedikit kikuk.
"Dicariin kemana-mana malah ada disini." Dengusan kasar keluar dari cowok itu, ia menatap Bianca sejenak, lalu beralih pada ponselnya yang menyala menunjukkan roomchat dengan seseorang.
"Siapa?" Bianca semakin heran, tidak biasanya cowok itu kepo.
"Hm? Nathan, dia nanyain gua dimana."
Jonathan hampir mengumpat. Kenapa tidak terpikir olehnya menelpon gadis ini sih? Ia malah mengelilingi sekolah layaknya orang gila.
"Ngapain disini?" Jawabnya berusaha menetralkan diri. Ia tidak mau nampak sangat bodoh di depan gadis ini.
"Jajan, ngga liat nih?" Bianca menyodorkan milkshakenya seolah menjawab apa yang sedang ia lakukan.
"Kenapa ngga masuk kelas? Udah bell dari tadi."
"Oh, kelas jamkos, tadi dikasih tau Nathan."
Jonathan mengangguk pelan. "Deket banget ya sama Nathan."
Bianca menatapnya heran, dahinya berkerut sempurna. "Ya deket lah? Dia itu sahabat gua, paling deket sama gua dari pada Lele, Vernand sama Engki."
Jonathan hanya mengangguk malas, tidak tau kenapa ia tidak suka dengan topik kali ini. "Sama siapa kesininya?"
"Sama...—"
"Eh ada kak Jo?" Jonathan hampir mengeluarkan u*****n paling kasarnya saat melihat Violett datang dengan makanan di tangannya dan duduk di sebelah Bianca.
"Kak Bianca mau?" Tawar gadis itu. Bianca menggeleng pelan dan lanjut menyeruput milkshakenya yang masih cukup banyak.
Violett mengangguk pelan, pandangannya beralih pada Jonathan. "Kak Jo ko bisa disini? Aku liat tadi asik banget ngobrol sama kak Bianca, ngomongin apa sih?"
Jonathan hanya menatapnya diam. Sedangkan Bianca sudah terkekeh pelan mendengar ucapan Violett yang sangat menggemaskan.
"Ngga ngomongin apa-apa, ko. Kamu mesen apa? Ko lama banget?"
Violett menoleh dan mengulurkan makanannya. "Ini lho, kimbab. Tapi tadi sayurnya baru dimasak, jadi lama deh."
Bianca kembali terkekeh, Violett ngomongnya sambil cemberut gitu, lucu banget. Pengen Bianca jadiin adik, dari pada Beben, yang ada dia emosi mulu.
Jonathan hanya diam melihat interaksi keduanya. Mereka terlihat cukup dekat, padahal Violett baru masuk sekolah tiga hari, tapi gadis itu bisa langsung menarik perhatian Bianca.
Jonathan tidak senang.
Ia hanya semakin khawatir melihat kedekatan keduanya.
"Lho kak Jo kenapa diem aja? Ngga pesen makan ka?"
Bianca ikut menoleh melihat Jonathan yang hanya diam entah memikirkan apa. Ia mengernyit teringat sesuatu.
Bianca menatap Violett dan Jonathan bergantian, "kalian deket?" Dan dibalas anggukan semangat oleh gadis itu.
"Iya ka! Deket banget malah. Dia kan temennya bang Chris, sering banget nginep di rumah." Bianca tersenyum melihat binar di mata Violett kala gadis itu menjawabnya.
"Nginep?"
Jonathan hendak menjawab, namun Violett lebih dulu menyelanya. "IYA! Aku tuh dari kecil dijagainnya sama kak Jo, dia dulu yang selalu ngajak aku jalan-jalan keliling kota. Dari pada bang Chris, ka Jo lebih cocok jadi Abang aku."
Sumpah, Jonathan rasanya ingin meraup wajah Violett saat ini juga. Tapi tidak bisa. Udah mana Bianca ketawa lagi, apa gadis itu ngga kesel ya?"
Tak sadar tangannya menggebrak meja cukup keras, membuat dua gadis di depannya ini tersentak kaget.
"Eh, maaf, tadi ada nyamuk."
Bianca diam menatapnya heran, sedangkan Violett tertawa renyah.
"Ka Jo mah ih, kebiasaan." Nada manja dibuat-buat Violett jadi bikin Bianca ikut tertawa pelan.
Sedekat itukah mereka?
Tapi Bianca segera menggeleng. Kalopun dekat, ya kenapa?
Ia tak ada hak untuk itu.
"Mau kak?"
Jonathan menatap keduanya datar, ia tidak suka dengan situasi ini. Violett seolah-olah memberi tahu bahwa mereka memang sangat dekat, sangat dekat.
"Ngga laper, haus." Secara tiba-tiba Jonathan menarik minuman Bianca, membuat dua gadis itu sedikit terdiam.
Bianca mah diem aja, sudah biasa makanannya direbut begitu sama Jonathan. Selama mereka dekat, semua yang Bianca makan sering asal diambil sama cowok itu, lalu dengan tidak sopannya ia mengomentari makanan atau minuman tersebut, meledek seleranya.
Berbeda dengan Bianca, Violett justru diam karena menahan sesuatu. Tangannya meremas erat pinggir meja.
Jadi mereka sudah sedekat itu?
"Rasa strawberry." Gumam Jonathan dengan senyum kecil.
Tapi masih terdengar jelas oleh dua orang itu.
"Apa? Lo mau ngatain lagi?" Bianca merucap galak. Matanya melotot tak terima lalu hendak menarik kembali minumannya.
Namun tangan Jonathan lebih dulu bertindak cepat, menahan tangan Bianca dan menarik minumannya sedikit jauh.
"Manis, gua suka."
Jonathan tersenyum, Bianca mencibir, sedangkan Violett diam dengan wajah tak menentu.
"Jangan dihabisin, Jo, ah!" Kesal Bianca, ia berjalan memutari meja dan berdiri tepat disebelah cowok itu, hendak mengambil paksa minumannya.
Jonathan ikut berdiri, memperlihatkan perbedaan tinggi mereka yang sangat kontras. Bianca jadi kecil banget berdiri di samping cowok itu.
Mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, mau tidak mau Bianca harus melompat meraih gelasnya. Tapi tetap saja tidak sampai.
Padahal Bianca cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia. Tapi karena memang cowok-cowok di sini sangat tinggi, terutama Jonathan, membuatnya sangat mungil jika bersampingan dengan mereka.
Jonathan sama Bianca kalo lagi jalan bareng kaya ayah sama anak.
"Jo... Ish!" Masih berusaha meraih gelasnya, Bianca tak sadar kini badan mereka menempel. Terlihat seperti berpelukan malah.
Bianca yang menaruh satu tangannya di pinggang cowok itu sebagai tumpuan, dan Jonathan menahan bahu gadis itu agar tidak lompat terlalu tinggil, dan yang satu lagi mengangkat gelas milkshakenya tinggi-tinggi.
Untung ngga tumpah.
Violett hanya diam menyaksikan dua orang itu sibuk bercanda dan tertawa. Ia bahkan tidak pernah seperti itu dengan Jonathan.
Meremas ujung meja semakin kuat, telapak tangannya bahkan sudah memerah hampir ungu.
Karena kesal melihat adegan di depannya, Violett menggebrak meja kuat-kuat, ia berdiri dan menatap menereka nyalang.
Namun, tak dihiraukan.
Dua orang itu masih asik dengan kegiatannya hingga tidak sadar Violett sudah mengeluarkan tatapan bencinya.
Merasa tidak akan direspon dan pertengkaran mereka akan lama, Violett melangkahkan kaki keluar dari kantin dan membawa piring datar berisi kimbab miliknya.
Perkara Milkshake doang, Bianca mampu membuat Violett merasa amat marah.
Cuman gara-gara Milkshake muka Violett sampai memerah sempurna.
Sedangkan Bianca masih berusaha dan Jonathan asik memperhatikan raut gadis itu.
"Jo! Ish jangan diangkatttt."
Jonathan hampir tertawa melihat muka Bianca yang sudah memerah sempurna.
Kantin mereka itu seperti memiliki gedung sendiri. Tempat memesan makanannya ada di dalam ruangan besar, disitu juga bisa makan karena bangku meja yang tersedia sangat banyak, menyesuaikan banyaknya murid di Starlight.
Ada juga tempat makan tepan di luar kantin, seperti outdoor. Hanya saja makanan di luar tidak selengkap di dalam.
Dan mereka ada di luar, jadi tentu saja wajah Bianca merah. Sinar matahari sangat terik siang ini, beberapa siswa bahkan rela membawa makanannya ke dalam kelas karena tidak sudi terbakar matahari kalau harus makan di kantin luar.
Merasa kelelahan, Bianca berhenti dan menendang tulang kering Jonathan kencang. Membuat cowok itu meringis dan sedikit menunduk, hampir saja milkshake nya tumpah.
"Makanya ngga usah belagu, Lo!" Bianca mengambil paksa gelasnya dari tangan Jonathan, ia duduk dan baru sadar bahwa Violett sudah tidak lagi bersama mereka.
"Ya kan Jo! Gara-gara Lo ni ah, Violett jadi pergi kan!" Bianca berteriak cukup kencang, untung tidak ada murid lain selain mereka disini.
Jonathan mengangkat bahunya tak peduli, lalu duduk dan menarik lagi gelas Bianca, meminumnya tanpa rasa bersalah.
"Biarin aja sih, ngga penting juga."
Bianca memaki Jonathan dalam hati, ia berdiri dan bergegas pergi dari sini. Kalo ngga bisa kemakan emosi dia.
"Eh eh, Ca! Tungguin napa!" Jonathan berlari menyusul Bianca, meninggalkan gelas minuman mereka.
Makanan dan minuman di kantin Starlight geratis tis tis. Karena sudah dimasukan dalam spp bulanan mereka.
Mempercepat langkahnya hingga kini mereka berjalan bersebelahan, Jonathan merangkul Bianca membuat tubuh mereka semakin dekat, Bianca bahkan tidak bisa jalan dengan benar.
"Lepas."
"Ngga mau, wlee."
Sumpah, rasanya Bianca mau narik habis lidah Jonathan dan memotongnya kecil-kecil. Gedeg banget.
Jonathan tengil banget ya ampun.