22. CHRISTIAN KENAPA?!

2270 Kata
Sebenarnya dulu Violett tidak tergila-gila pada Jonathan seperti sekarang. Ia benar-benar hanya menganggap lelaki itu kakaknya yang perhatian pengganti Christian kalau sibuk. Dulu kalau ada cewek yang dekat dengan cowok itu, Violett akan menjadi orang pertama yang menyambut gembira kabar tersebut. Tapi semakin lama, ia semakin tidak suka saat ada cewek yang mendekat padanya, bahkan menyentuh saja tidak akan Violett biarkan. Ia semakin ingin memiliki Jonathan seutuhnya, tidak memperbolehkan yang lain untuk mendekati cowok tersebut. Sifat posesifnya perlahan tapi pasti mulai keluar saat ia memasuki tahun pertama sekolah dasar. Dan semakin melunjak saat tahun ketiga sekolah dasar. Violett akan senang memamerkan Jonathan pada teman sekolahnya, tapi ia tidak akan suka bila ada yang menatap cowok itu memuja. Rasanya mau Violett korek matanya itu. Dan puncaknya saat tahun pertama sekolah menengahnya hampir habis, saat itu Jonathan akan segera pindah. Ada satu cewek cantik yang terkenal seantero sekolah mendekati Jonathan, dan direspon baik oleh cowok itu. Hubungan mereka sangat baik sampai banyak orang mengira mereka menjalin hubungan karena sangking dekatnya. Violett tersenyum, namun dalam hati ia menyumpah sarapahi gadis murahan yang dengan berani mendekati prianya duluan. Iya, entah sejak kapan Violett menganggap Jonathan adalah prianya, hanya miliknya seorang. Dan akhirnya, Violett bertindak nekat. Ia mendekati gadis itu perlahan, membuatnya nyaman dan berakhir dengan gadis itu terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Violett membully kakak kelasnya itu di gudang sekolah, hingga kondisinya benar-benar kacau. Kancing atas baju gadis itu sudah terlepas beberapa. Dan beruntungnya gadis itu ia bisa lari menyelamatkan diri dari Violett. Ia berlari keluar sekolah. Namun saat sudah di luar, ada sebuah truk melaju cukup kencang. Gadis itu bisa saja selamat karena jaraknya memang cukup jauh, namun naas ia justru tertabrak hingga terlempar beberapa meter ke depan. Penyebabnya? Tentu saja Violett yang dengan sengaja mendorong gadis itu. Dan hasilnya Jonathan dan Christian lah yang harus menanggung malu atas ulah Violett. Gadis itu sama sekali tidak peduli dan lebih memilih jalan-jalan. Bahkan setelah semua itu, Violett masih tetap mendekati Jonathan tanpa rasa bersalah, masih mengklaim bahwa cowok itu adalah miliknya. Jonathan tentu hanya diam, karena kalau ia berani berontak, maka yang menjadi taruhan adalah gadisnya. Atau orang tua gadis itu yang sama sekali tidak bersalah. Fyi, Violett dan Christian lebih sering tinggal di rumah sendirian karena hampir setiap hari orang tua mereka pergi keluar kota mengurus bisnis. Jadi, orang tua gadis itu bahkan tak mengerti kenapa Violett mampu melakukan hal tersebut. Kalau dibilang kurang kasih sayang, big no. Masa kecil Violett penuh dengan kasih sayang. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menjadikannya gadis baik yang penuh dengan didikan. Tapi gadis itu melunjak, semua yang dia inginkan harus tercapai. Alhasil, Christian dan Jonathan lah yang pusing. "ARGHHH!" Suara pecahan terdengar nyaring, serpihan-serpihan kaca dan keramik berserakan di lantai kamar mandi. Violett, gadis berwajah bulat itu baru saja melempar piring datar —berisikan kimbab yang ia bawa dari kantin— sekuat tenaganya. Wajahnya memerah sempurna, beberapa helai rambutnya menutupi wajah imut yang gadis itu miliki. Ia marah. Sangat marah. "Kenapa? Kenapa mereka bisa begitu?!" Racaunya. Ia memandang pantulan dirinya pada cermin lalu tertawa sinis. Bergumam sendiri di depan kaca itu. "Mereka sengaja? Sengaja pengen bikin gua panas? Iya?!" Bentaknya sambil menunjuk cermin dengan telunjuk. "ARGH SIALAN LO BIANCA!" Makinya dan kembali melempar vas bunga tepat ke pantulan wajahnya yang terpampang di cermin. Membuat kaca itu retak dan wajahnya tidak simetris. "ARGHHH!" Violett jongkok. Menekuk dua lututnya dan menenggelamkan kepala disitu. Ia menangis, menjambak rambutnya kasar. "UDAH SEDEKET APA MEREKA?!" Suara teriakan Violett menggema di kamar mandi yang cukup luas itu. Mungkin karena sedang jam pelajaran jadi tidak ada yang mendengar, atau karena kamar mandi ini terletak di pojok. Menjambak rambutnya lagi, Violett terlihat seperti orang yang sedang depresi sekarang. Kacau, sangat kacau. Masih dengan gumaman-gumaman tak jelas, Violett menangis sambil sesekali menyiksa dirinya sendiri. Tak lama kemudian ia menegakkan kepalanya, berdiam sejenak lalu berdiri tegak menghadap cermin. Ia menatap pantulan dirinya yang pecah terbagi menjadi beberapa bagian. Mengulas senyum manis namun menyeramkan, Violett menghela napas pelan lalu merapikan rambutnya yang seperti singa. Ia mengeluarkan sisir dari saku jaketnya, menyisir rambutnya dengan pelan lalu mulai mengatur rambut itu sebisanya. Lalu beralih merapikan pakaiannya yang sangat berantakan. Kembali menyungging senyum, Violett menatap dirinya yang sudah rapih puas. Ia berbalik dan keluar dari kamar mandi masih dengan senyum manisnya. Sekarang wajahnya terlihat sangat ramah, persis seperti anak kecil yang masih polos. Violett tersenyum ramah saat beberapa orang menyapanya riang. Sedikit berdecih karena tahu kalau orang-orang itu hanya caper. Kenal saja tidak. Sesekali ia memekik riang kala bertemu dengan temannya secara tidak sengaja. Ia benar-benar terlihat seperti anak gadis yang polos dan baik. Jarak dari kamar mandi tersebut dengan kelasnya memang cukup jauh, ditambah ia harus menaiki tangga menuju kelas. Kelasnya berada di lantai satu, dan kamar mandi itu ada di lantai dasar, lebih dekat dengan kantin. Violett disambut hangat begitu menginjakkan kaki di pintu kelasnya. Violett sangat disukai oleh teman-teman sekelasnya. Ia dijadikan putri agung di kelas ini. Itulah mengapa ia tidak suka saat tahu bahwa Bianca memegang gelas yang sama dengannya. Ia tidak suka gadis itu diperlakukan baik layaknya ratu. Hanya ia, Violett yang boleh. Egois? Ya, tentu. Tapi itulah Violett. "VIVIIIIII!" Riang seisi kelasnya saat Violett masuk. Vivi, adalah panggilan manja atau panggilan kesayangan yang diberikan kelas padanya. Mereka tidak selalu memanggilnya dengan sebutan itu, hanya sesekali seperti sekarang ini. Beberapa gadis menghampirinya dan mengapit lengannya, menuntunnya ke bangku. Bangku Violett berada di belakang, jadi ia harus melewati gerombolan cowok yang asik menatapnya kagum. Biarpun sekelas, mereka tetap kaget dan kagum melihat betapa moleknya gadis itu. "Vi," panggil seseorang pria yang memiliki wajah cukup imut dan suara yang tidak begitu berat. Violett menoleh. Ia hendak menuju bangkunya yang tepat berada di pojok kiri, dan ia dengan sengaja lewat dari sisi berlawanan, pojok kanan, membuatnya berjalan sedikit lebih jauh. "Eh, Adam? Kenapa?" Adam sempat tertegun sebentar agak kaget saat mendengar suara halus Violett menjawabnya lembut. Tersenyum senang, Adam senang karena hanya Violett yang tidak memanggilnya Ajis. "Tadi pacar Lo nyariin." Alis Violett dipaksa berdekatan, membuat dahinya mengeluarkan sedikit kerutan. "Hah?" "Si Jonathan lho," Violett membulatkan bibirnya menanggapi, ia diam menunggu lelaki itu melanjutkan ucapannya. Kan, dia selalu mengaku bahwa ia memiliki hubungan dengan Jonathan. Tidak dengan gamblang bilang kalau ia dan Jonathan berpacaran, hanya setiap ucapan yang keluar dari mulutnya mengarah ke situ. Membuat siapa saja yang mendengar pasti langsung salah paham. "Dia tadi nyariin Lo, gua liat dia lari-larian keliling sekolah, mukanya panik banget. Eh malah ketemu depan lorong tadi. Nyariin Lo kan pasti?" Violett kembali mengernyit heran, namun detik berikutnya mengangguk pelan, "ooh, iya." Dengan senyuman manis menghiasi wajah cantiknya. "Tuh kan, panik banget dia tau. Jadi gua kasih tau aja deh Lo di kantin. Bener kan?" Oh, jadi Adam pelakunya. Ia memang sempat bertemu cowok itu di kantin saat bersama Bianca, namun dihiraukan. Tidak tahu bahwa akan berdampak besar. Kalau saja Adam tidak bocor, maka Bianca pasti sudah mengetahui isi hatinya selama ini, mengetahui perasaannya pada Jonathan. Namun belum sempat berbicara, ia keburu diduluin Jonathan. Tapi, Violett pastikan, lain kali ia akan berhasil. Setidaknya dengan itu Bianca akan menjauh dengan sendirinya. "Oh, iya. Makasih ya, Adam." Adam tersenyum lebar menatap Violett yang berbalik dan menjauh duduk di kursinya. Rasanya pipinya seperti merona, senyum gadis itu sangat sangat sangat manis. Adam berbalik dan kembali ngobrol riang dengan teman-temannya, mendapat sorakan karena salting cowok itu sangat kelihatan. Kentara banget. Sedangkan Violett, ia hanya diam menatap lurus ke depan. Pikirannya mulai terbayang kejadian di kantin tadi. Dimana Bianca dan Jonathan bercengkrama riang, tertawa lepas, dan saat mereka melakukan hal konyol di depan gadis itu. Tangannya mengepal kuat. Hatinya terasa panas. Melipat bibirnya, tangan Violett sedikit memukul pada meja. Hingga salah satu temannya datang dan duduk di depan gadis itu. Membuat Violett mau tak mau memasang wajah seperti biasa, ruang dan polos Mereka mulai ngobrol, walau pikiran Violett melayang kemana-mana, ia masih bisa merespon temannya dengan baik, tidak membuatnya curiga sama sekali. *** Bianca terus memberontak minta dilepas. Jonathan ini benar-benar yaaa! Dia malu tau ngga sih?! Semua pasang mata menatap mereka tanpa berkedip. "Lepas Jo, ish!!" Kesal Bianca. Ia berusaha melepas tangan cowok itu dari pundaknya. "Kenapa sih? Ngga mau ah, enakan juga gini." Bianca mendecak. Iya Jonathan enak, lah dia? Encok bos. "Beraatt!" Kalau Bianca sudah merengek atau bertingkah lucu seperti ini, Jonathan mana tahan. Ia menatap gadis itu jahil, lalu menarik hidung mancungnya kuat, membuat Bianca mengaduh dan mendorongnya kuat. Jonathan terkekeh pelan melihat wajah kusut gadis itu. Mungkin Bianca udah kesel banget sampai mukanya kelihatan serem banget gitu. "Ngga usah ngambek. Ayo." "Dih apa-apaan Lo? Mau kemana?" Berontak gadis itu. Jonathan menarik tangannya kencang, membuat Bianca lagi-lagi berontak minta dilepas. Mau gadis ini tuh apa sih? "Kelas lah, gua anterin." Jawabnya ringan. Ia semakin menarik tangan Bianca dan mempercepat jalannya. Tangan Bianca halus banget, kaya p****t bayi, Jonathan jadi pengen ngelus-ngelus. Dan dilakukan dong, tentu saja. Jempolnya mengusap punggung tangan Bianca sesekali, kadang dia sengaja memutar tangannya merasa tidak nyaman. Namun tentu hanya alibi. Jonathan beneran suka banget pas tangannya dan tangan Bianca bergesekan. Sampai di depan kelas IPA 1, kaki panjang cowok itu mampu menariknya cepat, Jonathan memang jalan, tapi Bianca lari. Leon yang kebetulan sedang membuang sampah di luar kaget melihat Jonathan di depan, apa lagi saat melihat tangannya dan tangan Bianca bertautan. "EH EH?! APAAN NIH? LEPAS-LEPAS!" Leon mendekat dan melepas paksa genggaman kedua orang itu. Ia menatap tajam Jonathan, namun semakin lama mata Leon malah bergerak gelisah, berusaha agar tidak bertatapan dengan cowok itu. Takut coy, mata Jonathan tajam banget, kaya mata elang. Serem. "Ngapain Lo? Enak ya megang-megang temen gua." Ucapnya berusaha galak. Leon membusungkan d**a seolah menantang. Jonathan hanya tersenyum sinis melihatnya, tahu bahwa cowok itu hanya bersikap sok, tidak beneran berani. Biasa, tipekel anak tengil pada umumnya. "Lo ngga liat? Gua cuman nganterin dia doang. Emang salah?" Nah loh, bulu kuduk Leon malah berdiri mendengar nada sinis dalam ucapan cowok itu. Makin menambah kesan seramnya cuy. Sekarang Leon yakin, Jonathan memang semenyeramkan itu. "Salah lah, jelas! Temen gua ini mahal ya, berani bayar berapa Lo megang-megang tangannya?" Bianca mau menghilang aja rasanya. Ini kenapa dia jadi kaya barang gini sih? "Udah segala modus lagi si Mahmud." Cibir cowok itu. Mulut Leon gatal pengen ngatain cowok ini, tapi nyalinya terlalu ciut. Bahkan ia memalingkan wajah saat mencibir Jonathan. Aura cowok itu kuat banget. "Modus? Siapa? Lo nuduh?" Mampus lah. Sebenarnya Leon pengen banget jawab, tapi lidahnya kelu, tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Hendak menjawab, Christian datang. Menghampiri Jonathan dan ikut menatap Leon tajam. Ini kenapa Leon jadi kaya anak yang takut dihukum bapak dan om galaknya sih? Dia nunduk sedangkan dua cowok itu natap dia setajam silet, nyalang. "Ngapain disini, Jo?" Bianca termenung sebentar. Baru pertama kali dia dengar Christian bicara lembut gini. Ternyata enak cuy, suara cowok itu nagih banget. 'Enak banget dipake telponan, huaa.' Bianca teriak histeris dalam hati. Suaranya kalem-kalem tapi nusuk gitu. "Oh? Ini, nganterin dia nih." Jonathan menunjuk Bianca dengan dagunya. Christian mengangguk paham, beralih menatap Leon dengan bingung. "Kenapa Lo?" Sumpah, Leon rasanya mau meninggal aja. Apa lagi pas dengar cerita Bianca kalau cowok itu ternyata pimpinan geng preman. Keringet dingin dia. "Hah? E-engga. Ini kelas gua ya, wajar kali gua disini!" Christian mau ngakak aja rasanya. Leon tuh gugup banget ngomongnya, tapi masih sok-sokan galak. Netranya beralih menatap Bianca yang berdiri di sebelah cowok itu, sedikit mundur mungkin karena Leon mengarahkan badannya melindungi gadis itu. Jadi begini? Bianca benar-benar diperlakukan layaknya putri, tepat seperti cerita Jonathan. Wajar lah kalau cowok itu nonjok sahabat-sahabat cowok Bianca, mereka dekat banget, terlalu dekat malah. Bianca jadi kelihatan kaya cewek yang pacaran sama banyak cowok. "Bianca?" Duh, Bianca beneran mau mimisan dengar Christian manggil nama dia pakai suara rendah gitu. Merinding... "I-iya, kenapa?" Santai Bianca, santai. Jangan gugup, tetap bertingkah cool. Jangan kelihatan saltingnya. Christian menatapnya dalam, sangat dalam, Bianca bahkan hampir pingsan dibuatnya, Jonathan juga udah pengen banget nendang cowok itu. Ini Christian ngga ada niat nikung kan? Masalahnya cowok itu bersikap kaya cowok-cowok romantis. Dengar aja suaranya. "Hati-hati," ucapnya nyaris seperti bisikan. Bianca balas menatapnya bingung. "Hah? Hati-hati kenapa?" Christian berjalan selangkah, mendekatkan diri pada gadis itu. Sontak Leon segera menghadangnya dengan tubuh dan tangan cowok itu hampir memeluk Bianca. Jadi posisinya Leon membelakangi Christian. Memutar bola matanya kesal, Christian balas menatap tatapan tajam Leon tak kalah tajam. "Gua ngga akan ngapa-ngapain dia. Minggir." Ucapnya penuh perintah. Leon yang memang udah ketakutan langsung aja tuh menjauh, memberi jarak agar Christian dan Bianca bisa berhadapan. Christian kembali melangkah, semakin mendekatkan diri, namun masih tersisa jarak yang lumayan. Jadi badan mereka ngga benar-benar menempel. Jonathan udah gatal rasanya pengen nonjok, tapi masih ditahan. Inget kalau dia ngga boleh bersikap kasar di depan Bianca, apa lagi ini sama sahabatnya sendiri. Masih punya akal Jonathan tuh, ngga kemakan emosi sesaat. "Ke-kenapa sih?" Lucu banget plis, pantesan Jonathan suka, tipenya cewek-cewek gemes gitu sih. Christian menyungging senyum. Tangannya bergerak mengacak puncak kepala Bianca dan diperbaiki lagi, membuatnya mengelus rambut cokelat Bianca halus. Senyum Christian semakin nampak saat melihat sedikit rona kemerahan di kedua pipi gadis itu. "Hati-hati, inget, jangan percaya sama siapapun." Ia menarik lagi tangannya dan mundur. Sumpah, kalau ngga ingat cowo di depannya ini ketua geng, Bianca udah baper pasti. Bakalan bucin dia nanti. "Ayo." Jonathan benar-benar pengen nonjok muka cowok itu, saat dengan santainya ia berucap dan pergi. Ngga tau kalau Jonathan udah panas? Leon bahkan sampai bengong dengan mulut terbuka lebar. Kalau bisa, pengen banget Jonathan foto. Tapi ngga lucu banget kan, tiba-tiba motoin padahal kenal aja ngga. Jonathan beralih ke Bianca sebentar, tangannya mengacak rambut gadis itu kasar. "Gausah baper Lo!" Berakhir dengan makian yang keluar dari bibir manis Bianca.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN