Di kelas IPA 1...
"MANA FORMULIRNYA ANJIR?!"
Sekarang IPA 1 lagi berantakan banget.
Meja dan kursi berserakan, bahkan ada beberapa yang terbalik jatuh, papan tulis berisikan coretan dan gambar anak-anak, bingkai-bingkai berjatuhan, gorden sudah tidak berada di tempatnya lagi.
Bukan hanya kelasnya yang berantakan, tapi suasananya juga.
Semua anak IPA 1 tertunduk takut, mereka menyatukan tangan dan meremasnya perlahan, ngga sampai keringat dingin, tapi sumpah mereka gugup banget.
Vanesha lagi marah, marah besar.
Ia berdiri di depan sambil bertolak pinggang, matanya memancarkan aura tak bersahabat, wajahnya lesu namun galak. Dengan seorang wanita berdiri di depan cewek itu sama gugupnya dengan anak-anak lain, dia justru lebih lagi.
"Ngga bawa, Nes. Maaf." Cicitnya.
Vanesha mendecih sinis dan kembali menatapnya, "kenapa bisa ngga bawa? Lupa? Ketinggalan? Klasik tau ngga? Klasik." Cewek itu maju selangkah dan semakin menajamkan matanya, membuat gadis di depannya sedikit memundurkan badan. "Lo emang ngga bisa bertanggung jawab ya?" Sarkasnya.
Clara, gadis yang berada di depannya itu menunduk semakin dalam. Hampir mengeluarkan air mata.
"Jawab anjir, jangan nunduk doang. Ngomong sama kuman Lo?!"
Bukan tanpa alasan Vanesha sampai marah besar begini. Pasti ada, pasti. Bianca tahu betul tabiat kawannya itu. Tapi apa boleh buat? Ia hanya bisa memandang tanpa bisa ikut campur.
Tepat setelah Jonathan dan Christian pergi, Vanesha langsung menyuruh anak-anak kumpul. Ia langsung menyerang mereka dengan kalimat-kalimat pedasnya. Memandang teman sekelasnya dengan tatapan sewot.
Jadi tadi, Vanesha, Franky, dan juga Bianca sempat dipanggil Bu Ratna, guru BK kelas dua belas yang terkenal tegas.
Mereka dipanggil karena selalu mengulur waktu, ini sudah lewat tiga hari dari waktu pengumpulan formulir, dan hanya kelas mereka yang belum lengkap.
Sisa satu, benar-benar hanya satu, Clara. Entah kenapa cewek itu ngga ngumpulin tapi tetap tidak merasa bersalah. Beberapa kali Vanesha sudah ingatkan, tapi gadis itu hanya bilang iya, besok, janji. Tapi apa? Tidak ada tuh.
Habislah mereka dimarahin sama Bu Ratna. Guru itu tegas, pemilihan katanya sangat bagus, jadi benar-benar nusuk sampai ke hati.
Vanesha sampai nangis dibuatnya. Sebenarnya tidak perlu sampai semarah itu, tapi karena kelas mereka selalu membuat masalah, guru itu mungkin punya dendam pribadi, dan dikeluarkan semua saat para petinggi kelas berkumpul.
Walau Rayhan ketua kelas, tapi tiga orang ini plus Nathan lah yang lebih terkenal sebagai pemegang kelas. Istilahnya, mereka adalah orang penting di kelas. Semua masalah pasti mereka yang urus.
Rayhan tetap bantu, dia juga ikut campur tangan, tapi karena kemalasan dan kebiasaannya tidur sudah jadi rahasia umum di Starlight, jadi guru-guru tidak begitu yakin padanya.
Franky bahkan sampai sesak napas berusaha menerangkan, membela, dan meminta untuk diberi waktu tambahan. Tapi guru itu tidak mau, ia tetap memarahi mereka habis-habisan, bahkan sampai tidak bisa mengontrol kata dan napasnya sendiri.
Cuman karena formulir, harga diri ketiganya di ujung tanduk.
Dan lagi, hanya kelas mereka yang belum terbentuk kelompok, karena kelas merekalah semua harus diundur. Urutan kelompok harus berubah, persiapan semakin mepet, karena dua hari lagi, mereka akan pergi, sedangkan kelas ini belum ada kepastian apa-apa.
Awalnya lebih dari setengah tidak mengumpulkan, hanya delapan dari tiga puluh orang. Lalu hari kedua setengahnya, tujuh belas orang, hari ketiga, kemarin, ada dua puluh enam, dan tadi sudah dua puluh sembilan terkumpul.
Tapi untuk Bu Renita, itu tidak bisa. Akhirnya mereka dipanggil dan terjadilan adu mulut antara mereka.
Vanesha bukan orang yang tenang saat marah, berbalik dengan Bianca yang benar-benar diam saat marah, Vanesha bisa mengontrol emosinya, tapi ia terlalu mudah kalut.
Sedangkan Franky, anak itu terlalu pendiam. Ia bisa berbicara, tapi ia terlalu memikirkan perasaan orang lain, karena sekalinya cowok itu ngomong, bisa runyam.
Pernah sekali Franky marah besar sama salah satu siswa karena terus-terusan menyalahkan kelas mereka, tiga puluh orang di kelas itu hampir kena skors, dan dampaknya? Siswa itu hampi bunuh diri sangking malunya.
Franky kalau marah serem. Dia mempermalukan musuhnya di depan banyak orang. Cowok itu di tengah lapangan, waktu itu masih kelas sepuluh, emosinya masih belum stabil, dan terjadilah hal tersebut.
Untungnya pihak sekolah memutuskan bahwa itu bukan kesalahan Franky.
Dan sampai sekarang, siswa tersebut tidak berani masuk ke daerah IPA 1. Bahkan tak sengaja bertemu pun siswa itu langsung ngacir. Memang sebesar itu dampaknya.
Makanya kelas IPA 1 dibilang kelas yang saling melengkapi. Yang blak-blakan ada, yang diem-diem menghanyutkan ada, yang tenang dan kalem ada, bahkan yang tidak peduli dengan masa depan kelasnya pun ada.
"JAWAB HEH!" Vernand menatap kakaknya heran. Pasti ada yang tidak beres. Kakaknya itu jarang, sangat jarang marah besar seperti ini.
Terakhir kali pas mereka masih umur sepuluh tahun.
"Santai, Nes. Anak orang takut itu."
"DIEM LO!" Leon menutup mulutnya rapat-rapat. Memang benar, tidak boleh bercanda barang sedikitpun di situasi seperti ini.
Tadi dia hanya mencoba, siapa tau suasana bisa mencair kan, ngga setegang ini.
Tapi malah dia yang kena.
"Mau Lo tuh apa sih? Gua udah tiap jam ngingetin Lo soal formulir! Simple, tapi ini memperlihatkan seberapa ngga bertanggung jawabnya diri Lo! Seberapa ngga pedulinya Lo soal beginian."
Vanesha mengatur napasnya pelan. Menatap tajam pada gadis yang masih setia menundukkan kepalanya.
"Sengaja kan Lo? Sengaja pengen bikin gua marah? IYA?!" Sentak Vanesha. Clara sampai terlonjak mendengar gadis itu berteriak.
"Emang dari dulu Lo tuh ngga suka sama gua. Ini Lo jadiin alat buat bales gua kan? Biar gua dimarahin guru dan dipermalukan?"
Oh iya, Vanesha memang punya dendam pribadi dengan Clara. Baginya, sosok Clara adalah sampah, dan bagi Clara, sosok Vanesha adalah orang tak berguna.
"NGAKU AJA LO!"
Bianca mendekat, ia harus menyelesaikan ini, kalau dibiarkan terus bisa-bisa mereka malah kelahi disini.
Franky juga ikut maju, namun tak berusaha menenangkan ia hanya menonton dan memperhatikan. Karena dia ahlinya.
Franky lebih condong ke pemerhati. Ia adalah pemerhati yang handal.
"Tenang dulu, Nes. Lo ngga harus sampe bentak-bentak begitu, kontrol emosi Lo."
Bianca mengusap punggung gadis itu perlahan. Membantu Vanesha mengatur napasnya. Walau emosi dan marah, Vanesha masih bisa berpikir jernih, ia bisa dikasih tau, karena ia tahu bahwa marah begini bukan penyelesaian.
"Tapi gua cape, Ca. Gua cape selalu dibilang ngga becus sama Bu Ratna. Itu guru malu-maluin gua depan anak kelas dua belas, cuy! Kesel lah gua."
Iya, mereka bertiga dipanggil ke depan kelas dua belas IPA 3. Dimana semua orang dapat melihat mereka. Kelas itu sangat strategis, gampang dilihat dan ditemui. Jadi tadi mereka jadi tontonan asik untuk kakak kelas.
"Ya udah, Lo jangan lampiasin semua ke Clara. Dia mana tau Lo habis dimarahin."
"Dia," Vanesha menunjuk Clara dengan telunjuknya, "tau."
"Dia tau gua bakal dimarahin abis-abisan sama guru, dan berkahir dipermalukan. Dia sengaja, Ca, sengaja!" Gemas Vanesha.
Vanesha bahkan menunjukkan gerak-gerik ingin menerkam gadis berambut sepunggung itu.
"Dia tuh masih dendam sama gua, jadi dia sengaja ngga ngumpulin formulir biar gua dimarahin, terus dimalu-maluin, dan akhirnya jadi bulan-bulanan anak sekolah."
Bianca masih setia mendengarkan. Ia tahu temannya ini masih ingin mengeluarkan sesuatu.
"Dia pengen gua jadi aib kelas ini, Ca. Jadi aib sekolah."
Clara mengangkat kepalanya, menatap Vanesha dengan tatapan sewot namun takut. "Ngga! Gua ngga pernah mikir begitu!"
Tertawa sinis, Vanesha melirik Bianca sekilas. "Seorang siswa dari sekolah terhormat ternyata memiliki sifat yang buruk, ia bersikap tidak sopan pada gurunya sendiri. Baguskan judulnya?"
Clara mengatup bibirnya dalam. Merasa tertampar.
Vernand maju, berdiri di samping kakaknya, jaga-jaga kalau gadis itu tiba-tiba lepas kendali.
Jadi posisinya, Vernand-Vanesha-Bianca, kalau dilihat dari pintu.
"Bener, Ra?"
Clara memang biasa dipanggil Ara, terdengar lebih akrab dan jatuhnya lucu. Kaya ada unsur-unsur Korea nya gitu.
Clara diam, kepalanya yang sudah sempat mendongak kembali terjatuh menatap ujung kakinya dalam. Padahal tidak ada yang bagus dari sepatunya itu, hanya fakta bahwa sepatunya sudah tidak dicuci seminggu lebih, jadi kelihatan kotor..
Vernand menghela pelan, "gua kira Lo udah bisa lupain semuanya. Masih dendam ternyata?"
Vernand sama aja dengan Vanesha sebenarnya, hanya saja cowok itu lebih bisa mengatur nada bicaranya, tapi sekalinya marah, Vanesha ikutan takut.
"Lupain bisa ngga sih? Yang salah Lo, yang dihukum Lo, kenapa Lo juga yang dendam?"
Clara mengangkat kepalanya, menatap ketiga orang itu dengan mata memerah menahan tangis. "Gua ngga terima." Seraknya.
Vanesha hampir menampar cewek itu kalau aja Bianca ngga nahan dia cepat-cepat. Bianca memang yang paling gercep, kalau beginian doang,
Aslinya mah lemot.
"Masih ngga terima? Udah setahun lho, Ra. Apa lagi yang ngga diterimain? Ngga baik dendam lama-lama. Inget? Batasnya tiga hari doang."
Clara menatap Bianca penuh harap. Bianca lah yang paling normal dan baik dalam mengambil keputusan.
"Gua ngga dendam, gua ngga nyangka kalau bakal jadi gini."
Kalau guru di Starlight marah, maka akan berakhir dengan muridnya yang malu. Pokoknya kalau mereka ada masalah atau bikin guru marah, maka sedetik kemudian mereka akan habis dipermalukan depan umum.
Karena ini Starlight High School, sekolah dengan harga diri setinggi langit.
Berisikan orang-orang penting dan para petinggi, hanya orang kaya raya yang bisa bersekolah disini. Kehormatan sangat penting bagi mereka.
"Lo pikir ngga bakal gini? LO PASTI TAU ANJIR! LO PASTI UDAH TAU KALO BAKAL BERAKHIR KAYA GINI!"
Franky mendekat, menarik Vanesha karena cewek itu terus maju semakin mendekati Clara.
Disaat begini, Leon sangat takut mau berucap. Ia adalah sosok yang humoris dan tidak suka ikut campur. Sama kaya Franky, Leon lebih condong ke memerhatikan. Ia lebih baik memberi saran dari pada ikut bertengkar.
Seperti cowok humoris pada umumnya, Leon serem banget kalo marah. Benar-benar bukan Leon yang dikenal orang lain. Sangat berbeda.
"Udah,"
Vanesha yang masih memberontak berhenti mendadak, menatap Franky tidka terima. Udah apa maksudnya?
"Ngga usah diperpanjang."
Kenapa ngga ada Nathan? Cowo itu tiba-tiba dipanggil bang Raka untuk melatih junior mereka. Karena tidak mungkin mengharapkan Jonathan.
Jadi kalau tidak bisa ketuanya, maka disitulah fungsi wakil ketua.
Tapi, kenapa disaat begini Nathan selalu hilang sih? Kenapa cowok itu selalu pergi di situasi genting?
Kalo udah begini, biasanya cuman Nathan yang mampu menengahi. Kalau ada cowok itu, dari tadi masalah udah kelar, ngga akan sampai Vanesha marah-marah begini.
"Jangan pake emosi."
Vanesha makin emosi dengar ucapan Franky.
"Jangan pake emosi gimana maksud Lo? Gua harus ketawa-tawa gitu? Ketawa karena tau Bu Ratna mempermalukan gua?"
Franky menggeleng. Sudah bisa ditebak, orang kalau emosi selalu nethink. Padahal bukan gitu maksud dia.
"Ngga, Nes. Udah ngga usah ribut lagi. Lo marah-marah udah lama banget."
Satu kelas sujud syukur pas dengar Franky berucap demikian. Hampir satu jam mereka diam menunduk menerima semua amarah Vanesha.
"Udah, tenangin dulu aja," Franky berbalik menatap Clara, kasian juga cewek itu. "Udah gausah nunduk mulu. Ntar pulang Lo bareng gua, ambil formnya, kumpulin hari ini juga."
Clara menatapnya dalam, mengangguk pelan dan berbalik hendak kembali duduk. Sebelum itu ia sempat melirik Vanesha sebentar, cewek itu masih sibuk ditenangin sama Vernand juga Bianca.
Tersenyum miris, Clara keluar dari kelas. Tidak kuat melihat cewek itu ditenangin oleh adik juga sahabatnya.
Sejujurnya, Clara ngga dendam apa lagi benci sama Vanesha. Ia hanya iri, iri melihat Vanesha diperlukan baik di kelas. Sedangkan dia? Hanya menjadi murid biasa yang tidak pendapat perhatian.
Bukannya IPA 1 ngga solid, tapi Clara hanya lupa, lupa kalau dulu kelas kerepotan karena cewek itu nangis, satu sekolah gempar karena anak cowoknya sibuk lari-larian, entah beliin minum, makan, atau nyari kipas dan seragam ganti.
Clara juga lupa, surprise ulang tahunnya tahun lalu, anak kelas butuh waktu satu bulan menyiapkan semua itu.
Kostum, sound, dialog, prank-prank ngga jelas, alibi, semua dilakuin kelas itu supaya ulang tahunnya berjalan lancar, sesuai rencana.
Pas ulang tahun Clara, dia dikasih kejutan dengan drama kecil-kecilan yang pengeluarannya puluhan juta, atau mungkin ratusan. Karena mereka ngerayainnya dua kali, di tempat yang udah dibooking dan di kelas.
Hadiah mahal dan berkesan yang ia dapatkan, seolah meluap entah kemana.
Clara lupa, karena keserakahannya. Bukan serakah sih, dia cuman iri.
Karena teman segengnya semua menjauh perlahan. Tidak ada pertemanan yang berjalan lama, mungkin terkecuali untuk Bianca dkk, persahabatan mereka bisa berlangsung abadi.
Beralih ke kelas IPA 1 yang sekarang mulai tenang. Disana masih terdapat beberapa murid lain juga Vernand dan Bianca yang berusaha menenangkan Vanesha.
Entah kenapa, gadis itu terlihat berbeda sekali hari ini.
Vanesha duduk di bangku Bianca, sedangkan pemiliknya jongkok mengusap bahunya lembut. Vanesha tidak bisa menutupi wajahnya karena Bianca tetap bisa melihatnya dari bawah.
Vernand duduk di meja dan mengusap-usap rambut Vanesha pelan. Kakaknya suka banget kalo rambutnya diusap begini, bisa meredakan emosinya.
"Kenapa, Nes?" Tanya Bianca lembut.
Ini yang disukain dari Bianca, gadis itu lembut banget, sangat lembut. Apapun yang berhubungan dengan gadis itu, pasti lembut dan halus. Bianca biasa bersikap manja, namun ia kadang terlihat seperti kawan yang baik.
Sifat lembutnya membuat banyak orang tertarik. Dan karena itu anak cowok di kelas ini ekstra banget ngejaganya. Semua cowok yang mau mendekati Bianca harus dapat izin dan restu dari mereka. Mereka harus yakin bahwa cowok yang mendekati Bianca adalah cowok baik-baik.
Apalagi empat sahabat cowok yang paling dekat dengannya.
Maka dari itu, setiap kali Jonathan berkunjung ke kelasnya atau sekadar mengajaknya ke kantin, dia akan diusir secara bar-bar dengan teman-temannya.
Vanesha memeluk Bianca, membuat cewek itu sedikit oleng namun untungnya berhasil menahan badannya agar tidak jatuh ke belakang.
Elusan di kepala Vanesha terhenti. Vernand menatapnya sedih, kakaknya jarang banget nangis begini, dia gadis yang kuat, nangis pantang baginya.
Bianca mengganti peran Vernand untuk mengelus Vanesha, bedanya Bianca mengusap punggung gadis itu, bukan kepala.
Leon dan Franky mendekat dengan wajah khawatir. Selama mereka berteman dengan Vanesha, gadis itu tidak pernah menangis sesegukan seperti ini, apa lagi sampai terang-terangan menunjukkan kesedihannya pada mereka.
Vanesha selalu dianggap kuat, itu sebabnya ia tidak ingin menangis depan banyak orang.
Ia hanya akan menangis sendirian.
Setelah dirasa mulai tenang, Bianca mengendorkan pelukannya dan memaksa Vanesha agar menatapnya.
Capek juga jongkok sambil nahan berat badan cewek itu.
"Tenang dulu tenang,"
Franky ikut duduk di sebelah Vernand, sedangkan Leon di meja tepat belakang Vanesha.
Vanesha menarik napas cepat dan menghela pelan. Terus seperti itu sampai sesegukannya hilang.
Ia menatap Bianca sedih, mata dan hidungnya merah.
Kalau bukan di situasi seperti ini, Leon dan Vernand bakal ngakak sambil motoin cewek itu.
Tapi untuk sekarang, ngga dulu.
"Kenapa?"
Tuh kan, emang kalo urusan begini tuh Bianca jagonya. Cewek itu selalu bisa membuat orang merasa tenang dan di dengarkan.
Buktinya Vanesha langsung tenang.
Coba kalo Leon, Vernand, atau Franky yang nenangin?
Bukannya tenang, itu cewek malah naik darah gara-gara mereka. Kan ga lucu kalo Vanesha nangis kejer sambil ketawa ngga kalah kejer.
Yang ada dikatain gila.
"Fa-farrel," Vanesha kembali sesegukan setelah nama Farrel, cowoknya, disebutkan.
"Farrel kenapa?" Bianca masih setia menunggu Vanesha menjawab pertanyaannya. Gadis itu masih sibuk mengatur napas dan sesegukannya yang sesekali keluar.
"D-dia... Dia mutusin gua, hiks."