24. Sisi Lemah, hanya karena satu orang

2352 Kata
"Lo ngga naksir sama Bianca kan, anying?" Christian terbahak, ia tertawa kencang sekali mendengar penuturan Jonathan. Sahabatnya itu sampai menatapnya tajam, setajam silet. Cuman karena Bianca? "Menurut Lo?" Jonathan menghela, ikut mendudukan diri di sebelah cowok itu. Jonathan dan Christian sedang tidak di kelas, mereka lagi di ruang rahasia yang hanya mereka yang tau. Tapi sekarang, tambah lagi Bianca. Bahkan Violett ngga tau keberadaan ruangan ini. Perlu diketahui, bahwa orang tua Christian dan Jonathan adalah pemegang saham terbesar di sekolah ini. Mereka bisa bebas melakukan apapun, merugikan atau ngga, tidak masalah. Mau mereka bakar sekolah pun gapapa. Karena yang akan menanggung semua perbaikan sekolah adalah orang tua mereka. "Ya mana gua tau?" Christian terkekeh, baru pertama kali mendengar Jonathan sewot. Dari kecil cowok itu memang sudah cool, cuek, dan dingin. Bahkan sewot saja tidak pernah. Atau mungkin pernah tapi Christian ngga tau. Jonathan kembali menghela. Emang kalo sama Christian itu ngga pernah bisa serius. Cowok itu selalu membalas ucapannya dengan kekehan atau tawa menggelegar. "Kalo kata gua sih ngga. Tapi ya ngga tau juga, Lo enak banget ngelus rambutnya Bianca." Christian menoleh, kebetulan Jonathan juga sedang memperhatikannya. "Bisa aja Lo nikung, kan?" Pecah sudah tawa Christian. Cowok yang terkenal galak dan menyeramkan di sekolah kini tertawa ngakak. Puas banget dia ngetawainnya. Sampe Jonathan nonjok muka cowok itu cukup keras. Jadilah tawanya berhenti, digantikan ringisan kecil. "Anjing emang Lo." Christian hendak tertawa, namun rahangnya sakit. "Serius gua, sat. Kalo Lo naksir sama Bianca... Ya gua gapapa sih, gua dukung malah." Christian tertawa hebat mendengarnya, menghiraukan sakit di rahang dan daerah pipinya. Menertawakan Jonathan sekarang sangat menyenangkan. Kapan lagi kan ngetawain pangeran es nya sekolah? "Yakin Lo dukung?" Ucapnya disela-sela tawa. Jonathan pengen banget nonjok muka tengil Christian sampe bonyok, tapi inget kalau mereka sahabat sehidup semati. Christian sakit Jonathan juga bisa ngerasain. "Yakin. Lo sama Bianca cocok sih." Seriusan deh, wibawa seorang Jonathan hilang saat ini juga. Liat aja, anaknya lagi sibuk cubit-cubit selimut kasar. Bibirnya agak melengkung ke bawah. Tapi bagi Christian, ini biasa sih. Semua ekspresi yang orang lain ngga pernah liat, udah dia liat semuanya, tanpa terkecuali. "Yikin, Li simi biinci cicik sih. Hilih ee." Jonathan ketawa dengar cibiran Christian. Ngga biasanya nih Christian begini. Tapi seketika, tawanya berhenti, wajah berseri Jonathan berubah drastis. "Lo suka kan sama dia?" Hening. Baik Cristian maupun Jonathan lebih memilih diam. Christian sibuk menunggu Jonathan menjawab, sedangkan cowok itu sibuk memikirkan jawaban dan perasaannya sendiri. "Gua denger semuanya." Kekehan keluar dari keduanya. Jonathan naik ke atas setelah puas berdebat dengan Violett. Baru kali ini ia berucap kasar bahkan sampai membentak dan meneriaki gadis itu. Dan rasanya,,, melegakan. Tidak parah memang, tapi untuk ukuran orang yang selalu nurut dan lembut kaya Jonathan, itu udah wah banget. Pintu tertutup dengan sedikit suara. Jonathan mati-matian menahan umpatannya kala melihat Christian tengah bersandar sambil memainkan hp nya. Kamar remang-remang, jadi wajah cowok itu yang terkena cahaya handphone seperti hantu. "Ngagetin Lo anjing!" Maki Jonathan. Ia duduk di kasurnya, pikirannya melayang entah kemana. Tenang, mereka bukan penyuka sesama jenis yang lagi tidur bareng. Di kamar Christian ada dua kasur, satu untuk Jonathan dan satu untuk dirinya sendiri. Berbeda dengan kamar Jonathan yang hanya memiliki satu kasur, Christian mau tidak mau tidur di sofa, gelar kasur tipis atau matras di lantai. Makanya lebih sering Jonathan yang nginep di rumahnya. Sama-sama enak. Terkekeh pelan, Christian menyimpan handphone, "abis dari mana Lo?" "Ngapain bangun?" Menarik senyum paksaan, Christian sudah bisa menebak kalau bukan jawaban yang keluar dari mulut sahabatnya itu. "Gua denger suara pecahan, kaget." "Kenapa ngga turun? Mastiin gitu? Kalo ada maling?" Christian menggeleng pelan, masih dengan senyum tipisnya. "Ngga lah, ngapain banget. Gua liat Lo udah ngga ada di kamar, pasti udah turun buat ngecek. Jadi ya biar Lo aja, males banget gua." Lemparan bantal dirasa Christian setelah ia selesai berucap. Siapa lagi? Jonathan lah. Mendengus sebentar, tiba-tiba Jonathan tertegun, mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Kalau Christian udah bangun, apa cowok itu dengar pertengkarannya dengan Violett? "Lo... Denger sesuatu?" Tanya Jonathan waspada. "Denger, kan udah gua bilang, suara gebrakan kenceng gitu." Jonathan mengernyit, sebentar, bukannya cowok itu bilang dia bangun karena suara pecahan? Kok jawabannya ngga pasti gini. Aneh... Tapi ya namanya juga Jonathan, mana peduli. Ia mengangkat bahunya tak acuh dan mulai memainkan ponsel. "Emang kenapa? Ada apaan di bawah?" Jari-jari panjangnya berhenti menari di atas layar ponsel. Otaknya sibuk mencari jawaban yang tepat. "Tadi gua haus, terus turun. Ngga sengaja nabrak meja, terus mungkin ada yang jatoh kali tapi guanya ga sadar. Ya siapa tau aja Lo denger kan." Gantian Christian yang mengernyit sekarang, perlahan matanya membulat. Jonathan sadar ngga ya sama jawabannya yang beda-beda? "Oh iya, Violett udah tidur?" "Hm, udah mungkin. Ngga tau juga, dari siang ngga ketemu." Menarik napas pelan, Christian menatap Jonathan yang masih asik dengan ponselnya. Memandang cowok itu lama. "Dia udah ngga kaya dulu lagi ya, berubah." Reflek kepala Jonathan sangat kencang, cowok itu langsung menghadap Christian, lalu mengangguk pelan dengan senyum terpaksa. "Iya, dia berubah." Christian memandang Jonathan sendu. Cowok itu memainkan jarinya di atas layar ponsel yang mati, entah karena apa. "Udah lama dia ngga nyakitin diri sendiri, sekarang..—" "Iya, sekarang dia udah ngga gitu lagi. Mungkin self-harm nya udah hilang." Mereka saling diam, Christian tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena Jonathan lebih dulu menyela, padahal bukan itu maksudnya. Sedangkan Jonathan sibuk memikirkan jawaban atau ucapan yang meyakinkan Christian bahwa adiknya sudah berubah. "Violett sekarang udah gede, udah bisa bedain mana yang salah dan mana yang benar." Christian tertegun, ia menatap aneh pada sahabatnya. "Dulu dia masih kecil banget, kemana-mana harus gua gendong, nempel banget sama gua, manja." Kekehan keluar dari mulut Jonathan. Namun mata cowok itu tidak bisa berbohong, terlihat bahwa ia sedang merasa sakit. "Sekarang juga masih nempel, masih manja. Tapi udah dewasa banget, Udah bisa mi,—" "Udah malem, cepet tidur." Jonathan heran, Christian juga heran. Mereka heran dengan satu sama lain. Heran kenapa Jonathan membahas hal tersebut dan heran kenapa Christian ngga mau membahas itu. "Udah gua duga sih, Lo pasti denger semua. Secara kita ngomong teriak-teriak tengah malem. Alesan Lo juga ngga masuk akal." Jonathan terkekeh. Ia memejamkan matanya mengingat kejadian malam itu. Dimana pertama kalinya ia membentak dan melawan Violett. Gadis itu sudah seperti adik baginya, adik yang sangat berharga, itulah kenapa Jonathan ngga pernah mau bikin cewek itu kecewa atau nangis, dengan cara ia mengabulkan semua kemauan gadis itu. "Jo," panggil Christian, dahi Jonathan membentuk garis-garis halus melihat cowok itu memandangnya sendu. "Maaf." Cicit Christian. Sumpah, Jonathan benci banget kalau Christian udah dalam mode lemah begini. Walau depannya sangar, aslinya Christian lembut dan penyayang banget. Violett ngga pernah kekurangan kasih sayang dari cowok itu. Ia rela meninggalkan apapun untuk membelikan gadis kecilnya makanan enak. Dulu Violett sangat dimanjakan, benar-benar seperti seorang ratu diantara dua raja. Apapun kemauan gadis itu pasti terwujud, saat itu itu. Apapun. Dan sekarang, mereka menyesalinya. Harusnya dulu mereka bisa lebih tegas. Kalo mereka tegas, Violett ngga akan jadi seperti ini. "Ngapain minta maaf? Ngga gua terima." Jonathan menatap langit-langit ruangan yang putih bersih. Gambaran malam itu seakan terputar nyata di atas sana. "Violett berubah ya, Jo. Gua ngga nyangka dia bakal jadi kaya gini." Jonathan menghela napasnya kasar. Selalu seperti ini, selalu Christian yang menyesal atas perubahan signifikan dari diri Violett. Apapun masalah yang diperbuat gadis itu, selalu Christian yang nanggung. Terkadang Jonathan tidak suka dengan sifat Christian yang begitu, tapi ya gimana, dia juga begitu, caranya memperlakukan Violett sama seperti Christian memperlakukan adik satu-satunya. "Gua juga ngga nyangka, Yan. Kenapa harus gua gitu lho, bikin gua ngerasa bersalah aja." Helaan napas terdengar pasrah. "Gua ga mungkin nerima perasaan Violett. Dia ngga suka sama gua, tapi terobsesi. Awalnya kagum, dan sekarang merembet kemana-mana." "Maaf, Jo." "Ngapain Lo yang minta maaf? Bukan salah Lo." Sarkas Jonathan. Muak sekali mendengar permintaan maaf cowok itu. Christian terkekeh, memperhatikan Jonathan yang masih terlentang melihat ke atas. "Tengil. Gara-gara Lo nih adek gua begini." Jonathan mengalihkan pandangannya, menatap Christian tajam. "Taik. Gara-gara Lo juga ya. Ngga bisa jaga Vio baik-baik, anaknya jadi sesat gini kan." "Kan Lo yang mau jagain dia." "Yakan karena Lo jarang main sama dia." "Kata siapa? Tiap detik gua maen sama dia." "Halah, buktinya dia nyariin gua tuh, mainnya sama gua, mandi sama gua, tidur sama gua, semua sama gua." "Lo pembantunya." "Sialan, Lo aja jadi Abang ngga bener. Jadi ke gua kan dia." "Lo pelarian berarti." Mereka berdua tertawa keras. Perdebatan tak berbobot seperti itu ternyata menyenangkan juga, hanya dengan itu, mood mereka sedikit membaik. "Lo cakep si, wajar aja adek gua suka." Jonathan menoleh. Christian sedang menatap lurus entah ke arah mana, membuatnya dapat dengan jelas melihat rahang tegas Christian. Dibanding dengan Jonathan, Christian memiliki wajah yang lebih sangar dan tegas. Persis seperti preman senior. Kalau tidak disandingkan dengan gelar cogannya sekolah, orang-orang akan langsung menganggap Christian preman. Apa lagi gaya cowok itu yang sembrono namun justru terlihat keren. Seperti sekarang, cowok itu mengangkat satu kakinya dan melipatnya di bawah paha. Tangannya menahan berat badannya ke arah belakang. Sedikit menyinggung senyum, Jonathan kembali menatap langit-langit ruangan. Pikirannya melayang, begitupun Christian. "Kenapa gua cakep ya, Yan." Christian menoleh, merasa aneh dengan pertanyaan laki-laki itu. "Coba aja kalo gua ngga cakep, Violett ngga mungkin terobsesi sama gua. Gua juga ngga akan nyakitin perasaannya." Jonathan tersenyum, membayangkan bagaimana kalau ia benar-benar terlahir dengan wajah biasa dan hubungannya dengan Violett terjalin baik. "Ngga usah ngomong gitu, najis banget. Merendah untuk meroket Lo." Christian menatap Jonathan sinis. Namun juga sayu. Dia tahu, tidak ada yang salah disini. Violett tidak salah karena menyukai Jonathan, Jonathan juga tidak salah karena tidak membalas perasaannya, dan Bianca, gadis itu bahkan tidak tahu apa-apa, bagaimana bisa disalahkan. Yang salah hanya perasaan yang tidak seharusnya muncul. Tapi yang namanya perasaan, tidak bisa diatur. Christian tidak tega kalau harus mengalahkan adik semata wayangnya, namun mengingat bagaimana nekatnya dia dulu, membuatnya harus rela, apapun yang terjadi dengan Violett, itu memang seharusnya. Jonathan diam, terus memperhatikan sahabatnya yang diam merenung. Entah apa yang dipikirkan, tapi Jonathan yakin, cowok itu tengah merindukan adiknya. Adiknya yang dulu, Violett yang ceria dan lugu. "Jo," "Hm?" "Jagain Bianca." Christian berucap sambil melihat bingkai kecil yang berisikan foto dirinya, Jonathan, juga Violett. Senyum mengembang yang hampir tidak pernah muncul sekarang. "Iya." "Jagain dia, jangan biarin deket-deket sama Vio." Jonathan melihat senyum miris terbit di wajah lelaki itu. Menyedihkan, ketika harus berucap demikian menyangkut orang yang paling berharga dalam hidupnya. "Tanpa Lo bilang juga bakal gua jaga." "Gua bakal jaga dia." Alis Jonathan naik, apa-apaan? "Maksud Lo?" "Gua bakal jagain dia juga. Gua ngga mau kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi. Lo tau seberapa hancurnya gua saat itu kan?" Tanpa sadar keduanya diam, tertuju pada satu orang dan pada satu kenangan buruk yang jelas. Karena Violett, semuanya berantakan. Tapi, Violett begitu karena mereka. Tidak ada yang bisa disesali lagi. "Udah lah ngga usah melow," ucap Christian. Dia termenung sebentar sebelum melanjutkan, "yang penting sekarang Bianca ngga kenapa-napa." Christian sedikit membalikan badannya, menatap Jonathan penuh peringatan. "Tapi jangan sampe nyakitin Vio, awas aja." Jonathan terkekeh, ia bangun dari posisi tidurnya dan menjitak kepala Christian cukup kencang. "Gila kali." *** Jonathan melangkahkan kaki panjangnya cepat, keringat sedikit menetes dari pelipisnya, banyak orang menatapnya kagum, gimana ngga, Jonathan keliatan seksi banget. Cowok itu ngga lari, hanya jalan cepat. Tapi dampaknya besar banget untuk sekolah ini, apa lagi cewek-ceweknya. Mereka teriak heboh saat Jonathan lewat depan mereka, menatapnya dengan pandangan terpesona, dan yang cowok juga ikut-ikutan, walau terkadang mereka malah merendahkan Jonathan, merasa bahwa Jonathan ngga seganteng dirinya, yang tentu dapat balasan berupa lemparan buku. Kaki panjangnya berhenti tepat di pintu bertuliskan, 10 IPA 2 Menghela napas sejenak, Jonathan mendorong gagang pintu hingga suasana kelas yang sedang berisik nampak di hadapannya. Kelas yang awalnya berisik langsung diam dengan wajah kaget dan takut begitu melihat siapa yang ada di depan pintu. Kecuali satu orang, Violett, langsung berlari kecil hingga sampai di depan Jonathan, ia tersenyum manis, membuat senyum Jonathan ikut mengembang. Melihat Violett yang hanya diam dengan senyum manisnya, Jonathan sedikit mengernyit, kenapa Violett keliatan seneng banget? "Mana?" "Eh? Hah?" Mendengus malas, Jonathan harusnya sudah bisa menduga hal ini. Violett selalu mengulur-ulur waktu. "Makanan, katanya Lo beliin gua makanan?" Seakan tersadar sesuatu, Violett membulatkan mulut dan lari ke belakang, menuju tempatnya, mengambil sesuatu dari laci meja, menghiraukan tatapan aneh yang dilontarkan anak kelasnya. Violett kembali lagi dengan senyum manisnya, sekarang di tangannya sudah ada kotak makan yang tidak begitu besar. "Nih," katanya menyodorkan, "bukan beliin sih, aku bikin sendiri. Tadi pas pelajaran prakarya kita disuruh masak gitu, jadi aku sekalian masakin ini ke kakak." Jonathan menerima kotak makan tersebut, sedikit mengintip dan heran sendiri melihat isinya. "Sushi?" "Iya! Itu sushi sama Yakiniku, tadi pengen bikinin katsu sebenernya, tapi kan tadi udah makan di kantin, jadi aku bikinin itu aja." Jonathan mengangguk, sedikit terkekeh dengan tingkah Violett, gadis itu menjelaskan dengan penuh semangat. Padahal sushi ngga perlu dimasak, Yakiniku juga tinggal panggang, tapi Violett bilang dia masak makanan ini susah payah. Dia bahkan menelpon Jonathan bilang kalo ada hal penting, selama pembicaraan mereka di telpon, Violett berucap dengan nada memaksa namun juga ketakutan, yang mau ngga mau harus dituruti. Jonathan kesini terburu-buru ya karena Violett, takut terjadi sesuatu yang buruk dengan gadis itu. Tapi Jonathan tidak marah, lagian dia mana bisa marah ke Violett. Bisa sih, tapi ngga akan berlangsung lama. "Ini aja? Ngga ada yang lain? Tadi di telpon bilangnya.. —" Violett buru-buru menutup mulut Jonathan, menatap teman-teman sekelasnya yang masih memperhatikan gerak-gerik mereka. "Heheh, gapapa, biar kakak dateng aja tadi." Ucapnya pelan. Jonathan menghela pelan, lalu tersenyum membalasnya. Mengusap puncak kepala Violett, sebelum pergi meninggalkan gadis itu dengan perasaan campur aduk. Violett senyum penuh kemenangan, hatinya berdesir merasakan sentuhan halus di kepalanya. Ia memegangi bagian yang diusap Jonathan dengan wajah memerah, sebelum berbalik dan menerima sorakan dari teman-teman sekelasnya. "CIE VIVIIII.." Jonathan jalan meninggalkan area kelas sepuluh dengan kotak makan berwarna abu-abu di tangannya. Menatap kotak itu dengan pandangan sulit diartikan, lalu menghela napas kasar. Selalu begini, dia selalu dibuat khawatir agar datang, namun ternyata hanya hal-hal tak berguna lah yang terjadi. Tapi apa boleh buat, Jonathan tidak bisa menolak dan tidak bisa marah. Violett mengikatnya terlalu kuat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN