25. Pulang barengggg

1747 Kata
Gerimis mulai turun, seperti mengerti suasana hati Bianca sedang buruk. Bianca mendongak, menatap rintikan hujan yang nampak nyata di matanya. Sekarang ia lagi ada di halte bus, menunggu bus tentu saja. Supirnya tiba-tiba menelpon dan mengatakan bahwa ban mobil pecah, padahal cewek itu sudah bilang ingin dijemput hari ini. Setelah penuturan Vanesha yang sangat tiba-tiba itu, kelas jadi ricuh. Vernand, Leon, dan Franky berteriak marah. Bahkan cowok kalem seperti Franky pun marah. Ia tidak berteriak kencang, hanya menggeram marah dan memukul meja. Leon heboh, ia langsung menendang segala macam benda yang ada di sekitarnya. Sedangkan Vernand, cowok yang notabenenya adalah adik kembar Vanesha, tentu dia yang paling marah. Sangking marahnya, Vernand sampai harus ditahan Gilang dan Reyhan agar tidak keluar kelas. Akhirnya, tangan cowok itu harus rela berdarah karena ia melampiaskan kemarahannya pada tembok tak bersalah di kelas. Vernand keliatan marah, banget. Dan kalau sudah marah, cowok itu benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan seperti Vernand yang biasa dikenal. Sekelas kaget luar biasa, maka dari itu, karena mereka ngga mau kena amukan seorang Vernand, semua lari keluar. Menyisakan ke lima manusia dengan pikiran yang kacau. Bianca menunduk mengingat bagaimana Sabahat karibnya menangis. Ia juga ikut merasakan sakitnya. "Eca..." Bianca mengangkat kepala, melihat siapa yang memanggilnya dengan suara berat dan napas tak beraturan. Alis Bianca dipaksa menyatu saat melihat siapa cowok di depannya. "Nathan?" Cowok itu berdiri tepat di depan Bianca, membuatnya harus mengangkat kepala guna melihat wajah cowok tersebut. Tubuh Nathan menjulang tinggi membuat tubuh mungil Bianca tak terlihat dari depan. Nathan menghela napasnya, ia duduk di sebelah Bianca dengan pandangan lurus. Masih sibuk mengatur napas. Bianca merogoh tas ranselnya, mengeluarkan botol minuman yang masih penuh dan menyodorkannya pada Nathan. "Nih, minum. Cape banget kayanya." Ucap Bianca seolah menjawab pertanyaan di otak Nathan. Nathan menerimanya dengan riang, segera ia meminum air putih tersebut dalam sekali teguk. Bianca kaget. Nathan terkekeh pelan melihat wajah Bianca yang melongo dengan mulut bulat membentuk huruf 'O'. "Ngga usah gitu mukanya, minta banget di gigit?" Bianca segera merubah ekspresi wajahnya, sedikit mencibir karena tak suka perkataan Nathan. "Emang muka gua bakpao apa Lo gigit-gigit?" Nathan tertawa, membuat Bianca ikut tertawa pelan melihat wajah cowok itu sedikit lebih rileks. "Lo kenapa bengong?" Mereka terdiam cukup lama, Bianca tidak menjawab pertanyaan Nathan, ia diam menunduk seolah kejadian di kelas terulang kembali. Nathan juga tidak ada niatan maksa Bianca untuk jawab, dia ikut diam nunggu cewek itu sendiri yang mau cerita. Kalau masalah kelas, pasti diceritain. "Vanesha," Nathan sedikit mengernyit, masih menatap lurus, begitupun Bianca yang masih menunduk. "Dia... Dia putus sama Farrel." Bukannya kaget atau apa, Nathan justru tertawa kecil sambil meminum air yang tersisa, matanya menatap lurus ke depan dengan senyum manis di bibirnya. "Udah gua duga sih." "Hah?" Ini kenapa Nathan tenang banget sih? Dia malah senyum-senyum ngga jelas, heran Bianca. "Mereka pasti putus." "LO!" Bianca menunjuk wajah Nathan terkejut, "Lo ngedoain mereka putus ya?" Nathan hanya menatap ujung jari telunjuk Bianca yang berada tepat beberapa senti di depan wajahnya. "Ngga, gua ngga doain mereka putus. Tapi udah keliatan." "Keliatan gimana?" Jujur Bianca bingung, Nathan tenang banget cuyyy. "Farrel ngejauhin Vanesh, Lo ngga sadar?" Bianca menggeleng kencang, memang ia tidak merasa Farrel menjauh kok, atau Vanesha yang menjauh, tidak. Menghela napas pelan, Nathan memusatkan perhatiannya pada cewek itu, "Farrel tuh berusaha menjauh, mereka bahkan ngga pernah ngantin bareng lagi, Farrel selalu diem kalo Vanesh mulai ngoceh, dia juga jadi sering tukeran tempat sama Leon atau Vernand, dan beberapa hari, dia ngga masuk sekolah kan?" Bianca tertegun, baru menyadari perubahan interaksi dari Farrel. Bagaimana cowok itu memperlakukan sahabatnya, dan bagaimana Vanesha yang masih setia dan sabar. Semua seakan terputar di otaknya, beberapa kali Farrel memang minta tukeran tempat sama cowok-cowok di kelas, dan selalu pindah dalam jangka waktu panjang, seminggu sampai dua Minggu biasannya. Farrel juga selalu pergi ke kantin duluan, dan ngga pernah makan bareng Vanesha lagi. Saat guru masih di kelas, cowok itu bakal izin sampai jam istirahat selesai, atau kalo ngga gitu, dia ngga akan ke kantin. Walau dipaksa, dia tetap ngga mau. Tapi pas Vanesha balik dari kantin, Farrel udah ngga ada di tempatnya. Memang sangat terlihat, hubungan mereka mulai renggang, tapi bagaimana bisa Bianca ngga sadar sama sekali? Dia bahkan ngga sadar kalau Farrel pindah tempat karena berusaha ngejauhin Vanesha. Tapi, ada satu yang mengganjal di pikirannya. "Kenapa dia ngejauh?" Nathan terkekeh, merasa bahwa pertanyaan yang dilontarkan Bianca tidak masuk akal. Seharusnya ia sudah bisa menebak ini dari awal, karena memang sangat terlihat. "Lo tau kan Farrel udah lama deket sama anak IPS? Kabarnya sih cewe itu mau pindah, dan Farrel juga ikut pindah, jadi dia mau mutusin Vanesha hari ini." Mata Bianca membola, "hari ini?" "Hm, kayanya pas sebelum kalian dipanggil deh, atau pas gua baru pergi mau ngelatih, nah disitu gua liat Farrel sama Vanesha lagi ngomong, bukan ngomong sih, adu debat." Katanya cepat-cepat meralat ucapannya. "Gua liatnya sih sekilas, tapi gua bisa tebak lah, orang Vanesh sampe nangis bengong gitu." "Kenapa ngga Lo bilang? Atau samperin kek, tenangin gitu lho!" Tangan Bianca terangkat lalu meremas-remas udara. Gemes banget sama Nathan kayanya. "Mana bisa gua bilang ke kalian, disitu posisinya gua mau pergi ngelatih, dan Lo tau sendiri selama latihan hp disita sementara. Kalo samperin, pengen sih gua samperin, tapi mepet banget tadi, gua langsung ditarik Bagas gara-gara kelamaan." Bianca menghela pelan, tidak bisa menyalahkan Nathan karena posisi cowok itu juga sedang tidak menguntungkan. Lagian, Nathan ngga mungkin ngga bantu Vanesh, pasti ada alasannya. Menatap rintikan air yang jatuh di tanah, pikiran Bianca kembali melayang. Ia tidak menyangka bahwa akan jadi seperti ini. Vanesha dan Farrel seperti raja ratunya IPA 1, mereka benar-benar lengket, kemana-mana selalu bareng. Dan kabar yang putus tiba-tiba begini sangat mengejutkan, apa lagi karena Farrel yang ternyata suka sama cewek lain. Bianca pusing. Nathan menatap Bianca cukup lama, lalu terkekeh pelan begitu sadar bahwa gadis itu tengah berpikir dengan bibir melengkung ke bawah. "Ngga usah cemberut." Katanya, tangan Nathan meraup wajah mungil Bianca dan kedua ibu jarinya menarik ujung bibir Bianca, memaksanya agar tersenyum. "Senyum dong, senyuuuum." Bianca tertawa begitu melihat muka Nathan yang dijelek-jelekan, "jelek beneran Lo mah!" "Heh, orang cakep gini dibilang jelek." Melihat Bianca yang terus tertawa kecil membuat Nathan jadi ikut tertawa. Tangannya terulur untuk mengacak rambut gadis itu. "Ngga usah terlalu dipikirin, lagian Vanesh ngga bodoh sampe ngeharapin Farrel lagi. Dia cuman lagi sakit hati aja, jadi ngamuk. Malah lebih bagus kan? Setidaknya Vanesh ngga mendam semuanya sendiri." Menganggukan kepala pelan, Bianca membenarkan semua ucapan Nathan. Vanesha itu bukan cewek bodoh yang akan melakukan hal tidak masuk akal, cewek itu pintar dan tau bagaimana mengatasi situasi, apa lagi yang kaya begini. "Farrel juga, kalo dia emang udah ngga suka sama Vanesh ya jangan dipaksain. Emang lebih baik mereka putus, karena kalo pun lanjut, keduanya bakal sama-sakit, mereka cuman akan nyakitin diri sendiri." Bianca menatap Nathan kagum. Nathan memang yang paling bijak, cowok itu selalu bicara benar dan tepat. Tapi Bianca masih terus dibuat kagum setiap kali cowok itu bersabda. "Iya sih," menyandarkan punggungnya pada tembok di belakang, matanya menatap lurus ke depan dan mulutnya terus bergerak tanpa suara, komat-kamit. "Terus kenapa? Apa yang Lo pikirin?" "Sebenernya gua setuju sama Lo, mereka memang lebih baik putus. Tapi kaya yang, ko bisa gitu lho? Mereka asem-adem aja selama ini, berantem juga ngga pernah. Terus tiba-tiba putus begini tuh, kaya what the hell men." Bianca berucap penuh ekspresi, tangannya bahkan bergerak ikut menjelaskan, membuat Nathan tertawa melihat tingkah gadis itu. "Ya namanya juga pacaran, wajar kali putus," ikut menyandarkan punggungnya, Nathan menatap Bianca dalam, melihat gadis itu dari samping, "justru itu, dalam hubungan berantem itu hal yang wajar, dan mereka ngga pernah berantem, justru ngga wajar kan?" Kembali menganggukan kepala, Bianca menoleh ke samping, menatap Nathan yang juga sedang menatapnya. Mereka bertatapan selama beberapa detik, sebelum Bianca duduk tegak dan memutus kontak mata mereka. "Hm, ya udah lah ya, emang kayanya mereka lebih baik putus, tapi...—" "Vernand?" Tebak Nathan tepat sasaran. Bianca membulatkan mulutnya, kembali kagum karena Nathan bisa menebak dengan benar. Cowok itu selalu benar dan tepat. "Iya. Gua tuh takut banget Vernand bakal macem-macem. Tadi aja dia ngamuk besar di kelas, untung ada Reyhan sama Gilang yang bantu nenangin. Tapi kalo diluar sana gimana? Siapa yang bakal nenangin dia?" Menghela pelan, Bianca meremas jari-jarinya khawatir, "gua tuh takut dia ngelakuin hal tak terduga. Lo tau sendiri Vernand kalo udah marah apa aja bisa dia lakuin." "Lo takut dia datengin Farrel terus berantem? Lo takut kan Vernand hilang kendali?" "Iya, Vernand tuh ganas, kalo udah begini cuman Vanesh yang bisa nanganin. Tapi dia sendiri lagi patah hati, merasa kecewa sama Farrel. Jadi kalopun mereka berantem, Vanesh mana mampu misahin?" Farrel mengangkat ujung bibirnya membentuk senyum lembut, Bianca tuh selalu begini, khawatir sama sesuatu yang belum terjadi, tapi mungkin terjadi. Cewek itu selalu khawatir sama hal-hal buru yang kemungkinan besar memang terjadi. "Ngga usah khawatir elah, pasti ada yang nahan Vernand kalo cowok itu ngamuk. Leon? Dia yang paling deket sama Vernand, pasti dia bisa nahan dan bantu redain emosi anak itu. Franky? Dia pasti bisa nenangin Vanesh." Menarik tangan kanan Bianca dan mengusapnya lembut, "banyak yang bisa bantu, Ca. Ngga melulu Lo yang harus turun tangan. Tenang lah, yang ada Lo sakit kalo terus dipikirin." Menarik napas pelan dan dalam lalu menghembuskan kasar. Bianca merasa lebih baik setelah mendengar ucapan Nathan. Cowok itu benar, selalu ada yang bisa nenangin kedua anak kembar itu, dia ngga harus khawatir berlebihan begini. Mereka terdiam cukup lama, masih dengan Nathan mengusap lembut telapak dan jemari Bianca, membuat cewek itu lebih relax. "Udah reda, Ca. Pulang bareng gua aja ayo, bus masih lama." Bianca menatap jalanan, gerimis udah ngga turun lagi, rintik air udah ngga terlihat di genangan lagi. Langit tidak mendung, namun nampak teduh. Melirik jam di pergelangan tangan Nathan, Bianca mengangguk pasrah. biasanya bus akan datang lebih lama saat hujan karena jalan entah mengapa tidak rata dan membuat jalannya bus terhalang, jadi, agar tetap membuat penumpangnya nyaman, bus akan di delay sampai hujan sedikit reda dan jalan dibuka. Nathan menghentikan elusan di tangan Bianca lalu berdiri, merapikan sedikit rambut Bianca yang berantakan akibat angin, Nathan membantu Bianca berdiri dan berjalan ke motor. Motor besar berwarna biru yang hampir setiap hari dipakainya. Nathan duduk di atas jok motornya dan memberi Bianca jaket. Kebiasaannya setiap Bianca nebeng. "Naik cepetan, keburu ujan lagi." Mengangguk, tangan Bianca memegang pundak Nathan, bertumpu pada pundak lebar itu sebelum naik dan menyamankan posisi di motor. Rasanya agak aneh, udah lama ngga nebeng ke Nathan. "Siap? Meluncuurrrr."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN