"NATHAN! UJANNYA MAKIN DERES!"
Bianca, pelaku yang membuat banyak pasang mata menatap mereka kesal segera menutup mulutnya rapat-rapat.
Mereka masih di jalan, dan sekarang lagi lampu merah. Hujan makin deras, tapi mereka bahkan masih beberapa kilo lagi untuk sampai di rumah Bianca.
Suara Bianca teredam sama hujan yang terus turun, membuatnya harus teriak supaya cowok yang sedang mengendarai motor yang ia naiki bisa mendengarnya jelas.
Tapi ia teriak terlalu kencang, bukan cuman Nathan yang dengar, tapi semua motor yang ikut berhenti menatapnya kesal.
Ya suara Bianca kan udah cempreng dari sananya ya, ditambah dia teriak sampai kebablasan, bisa dibayangin semembahana apa suara Bianca saat ini.
Melihat Bianca menyembunyikan kepala di pundaknya, Nathan terkekeh kecil. Bianca lucu banget ya ampun.
"Haha, makanya ngga usah teriak-teriak, gua denger kali, ngga b***k nih." Canda Nathan masih dengan tawa menghiasi kalimatnya.
Bianca mencubit pinggang Nathan cukup kencang, membuat cowok itu meringis namun tidak bisa mengusap bekas cubitannya karena lampu tiba-tiba berganti warna, menyuruh untuk segera jalan.
"Lo berisik," sarkas Bianca, ia menatap tajam cowok itu dari spion, memberinya tatapan penuh kekesalan, "ya kalo gua ngga teriak Lo mana bisa denger."
"Lagian keburu panik." Cicit Bianca dengan suara terlampau pelan, berharap agar tidak ada yang mendengar.
Namun Nathan adalah cowok peka dengan pendengaran yang masih sempurna, suara sekecil itupun mampu ditangkap indera pendengarannya yang tajam.
Bianca masih terus menyembunyikan kepalanya di bahu lebar Nathan, berlindung dari air hujan yang semakin deras.
"Terobos atau berhenti?" Tanya Nathan dengan suara kencang, tapi tidak teriak.
"Terobos aja, nanggung."
Namun nasib baik tidak mendukungnya.
Tepat setelah Bianca menjawab demikian, hujan turus dengan sangat deras, mengguyur jalanan, membuat semua orang kuyup.
"Neduh dulu, Ca!"
Nathan membawa motornya ke salah satu toko yang bagian depannya tertutup sedikit atap. Mematikan gas dan langsung memapah Bianca untuk duduk di tangga.
Toko ini cukup tinggi, jadi butuh beberapa anak tangga untuk memasuki toko. Nathan dan Bianca duduk disitu.
Mereka duduk sebelahan, dengan Bianca yang terus menunduk sambil memeluk dirinya sendiri.
Walau hanya ditutupin sedikit atap, mereka tetap terlindung dari hujan, ya tapi tetap sih ada sedikit percikan air mengenai mereka.
Melihat Bianca yang terus mengusap dirinya kasar, Nathan berinisiatif melepas jaket dan memasangkannya ke Bianca. Namun terhenti saat sadar bahwa jaket yang ia gunakan sudah basah kuyup karena menerobos hujan tadi.
Memutar otak berusaha mendapatkan ide, Nathan menegakkan kepala begitu teringat sesuatu. Ia berjalan menuju motor dan membuka bagasi, mengeluarkan beberapa pasang baju hangat.
"Banyak banget, jualan Lo?" Ucap Bianca dengan bibir bergetar begitu Nathan sudah duduk manis di sebelahnya.
Dingin banget.
Dari kemarin cuaca tidak bagus, terus menurun, kadang naik sedikit dan malamnya langsung dingin luar biasa. Sedang terjadi perubahan suhu ekstrem di kota ini.
Dan sekarang, suhunya bahkan hampir menyentuh angka delapan belas derajat Celcius.
Nathan mendecak pelan, disituasi begini aja Bianca masih sempat-sempatnya nanya hal ngga berguna kaya gitu.
"Bukan lah." Ujar Nathan sedikit sinis.
Menyodorkan salah satunya ke Bianca, kembali mendecak begitu melihat tatapan waspada gadis itu. "Ini kardigan mama, kemaren gua nganterin nyokap tapi kardigannya ketinggalan." Jelas Nathan seolah menjawab pertanyaan yang ada di benak gadis itu.
Bianca mengangguk mengerti, memakai kardigan yang sedikit kebesaran dan kembali mengusap lengannya pelan, sedikit merasa hangat. Kardigannya ngga terlalu tebal tapi ngga tipis.
Melihat Bianca yang sepertinya mulai merasa hangat, Nathan mendekat lalu memasangkan jaket tebal anti air ke bahu cewek itu.
"Pake, biar ngga kecipratan air lagi." Ucap Nathan masih fokus membenarkan jaketnya agar nyaman di pakai gadis ini.
Bianca mengerjab sebentar, menatap Nathan yang masih fokus dengan urusannya. Memperhatikan fitur wajah yang cowok itu miliki, unik dan hampir sempurna.
Rasanya udah agak lama mereka ngga sedekat ini. Tapi rasanya baru kemaren mereka lomba tatap-tatapan.
Kalau biasanya Bianca akan risih atau menolak, tidak suka berdekatan dengan laki-laki manapun, kali ini berbeda.
Dengan jarak sedekat inipun ia masih merasa nyaman dengan Nathan. Tidak risih apa lagi sampai menolak perlakuan cowok itu.
Sudah terlalu biasa.
"Nah, beres." Nathan menjauhkan badan dan menepuk sedikit bahu Bianca. Menyadarkan cewek itu dari lamunannya.
"Kenapa Lo? Sakit?" Nada khawatir yang keluar dari mulut cowok itu membuat Bianca semakin merasa aman, apa lagi saat punggung tangannya yang hangat menyentuh keningnya.
"Ngga, gapapa."
Kalau sama Jonathan Bianca merasa sedikit risih atau merasa ada yang aneh, gimana gitu berdekatan dengan cowok itu, beda lagi sama Nathan. Ia justru merasa aman dan terlindungi oleh lelaki ini. Tidak akan risih dengan sentuhannya.
Karena dari dulu, memang Nathan yang melindunginya dari apapun itu.
Menjilat bibirnya yang terasa kering, Bianca melihat Nathan yang mulai memakai jaketnya juga, memperhatikan tiap gerak-gerik yang dilakukan cowok itu.
Namun, mata Bianca membesar begitu Nathan menatap balik dirinya. Ingin mengeluarkan alibi namun suara bersin yang nyaring lebih dulu keluar.
"Kedinginan?" Tanya Nathan tenang namun tersirat khawatir di dalamnya.
Bianca mengangguk, kemudian menggeleng, mengangguk lagi dan kembali menggeleng. Nathan hanya menatap jengah cewek yang masih sibuk mengusap kasar hidungnya yang sudah memerah sempurna.
Entah kenapa, Bianca selalu melakukan hal aneh di beberapa waktu tertentu. Seperti sekarang, entah karena apa dia tiba-tiba begitu. Ngga selalu, tapi sering.
Menghela pelan, Nathan menarik Bianca mendekat, merangkul cewek itu, mencoba memberi kehangatan.
Tubuh Bianca menegang begitu tangan Nathan melingkar di bahunya. Jaket yang dikenakan cowok itu cukup besar, sehingga mampu membungkus Bianca sampai ujung, namun harus berdempetan kaya gini. Bikin posisi mereka kaya lagi pelukan.
"Biar ngga kedinginan."
Bianca mendongak, menatap Nathan yang tengah menunduk memperhatikan hidung dan pipinya yang memerah.
Bukan malu, Bianca memang real kedinginan. Ya walau ada sedikit malu-malunya sih.
Lagian siapa juga yang ngga malu sama perlakuan manis begini, apa lagi Nathan yang gantengnya bisa dibilang kelewatan.
Posisi mereka sekarang kaya lagi pelukan, hampir ciuman. Bianca yang mendongak dan Nathan yang nunduk, mereka tatap-tatapan dalam posisi itu selama beberapa detik.
"Idung Lo merah banget, Ca. Kaya badut." Hingga suara ledekan Nathan memecah suasana.
"Enak aja! Lo mah ish! Nyebelin banget!"
Nathan ketawa pelan ngeliat Bianca yang cemberut gitu. Tangannya terulur mencubit dan menarik bibir gadis itu hingga membuatnya teriak kesal.
Membiarkan gadis itu menggerutu mengeluarkan kekesalannya, Nathan semakin menarik Bianca mendekat, menghilangkan jarak diantara keduanya dan memeluk gadis itu longgar.
Mencoba memberi kehangatan yang sesungguhnya.
Bianca juga tidak sadar, ia terus berceloteh ria. Kedua tangannya berada di d**a Nathan, kakinya ditarik mendekat supaya bisa dipeluk. Bianca merasa kehangatan menyebar dalam dirinya, namun tetap tidak sadar akan posisi mereka.
Menghiraukan tatapan semua orang melihat mereka iri namun juga gemas.
Tidak sadar dengan satu orang yang sudah menarik gas kencang dengan emosi yang tidak stabil.
***
"Jo, pulang ngga?"
Sekarang Christian dan Jonathan sedang berada di koridor sekolah hendak menuju parkiran depan.
Suasana sudah sepi.
"Iya lah, udah ngga minat lagi disini." Jawab Jonathan acuh. Ia memutar-mutar kunci motornya dengan wajah datar, membuat Christian menatapnya jengkel.
"Ujan tapi, Jo. Ntar Lo kuyup gimana?"
"Santai elah, udah biasa juga."
Christian menghela dan mengangguk pelan. Mereka hanya diam selama menyusuri koridor, hingga sampai pada parkiran.
Segera mereka menuju ke motornya masing-masing.
Motor mereka tidak basah, karena parkiran ini ditutup atap kanopi, sehingga semua motor yang terparkir disini aman dari hujan maupun matahari panas.
Jonathan segera menaikir motor besarnya yang berwarna hitam pekat dan mengenakan helmnya yang selalu full face.
Setelah siap di atas motor, Jonathan mulai menyalakan dan memanaskan mesinnya sebentar.
"Yakin, Jo? Jangan gila ah." Seru Christian. Ia juga sudah duduk nyaman di jok motornya.
Jonathan memutar bola matanya malas. "Yakin, Yan. Bacot banget, ngga gila gua."
"Ke rumah gua aja lah, ngga usah pulang Lo."
Terkekeh pelan, Jonathan menarik kaca helmnya ke atas, sehingga matanya nampak. "Ya kali ngga pulang," Jonathan kembali terkekeh, ia menatap yakin pada Christian. "Santai sih, yang ada kalo gua ngga pulang malah makin diamuk. Tau sendiri bokap."
Christian menghela, sudah tau bahwa akan begitu jawaban dari Jonathan. Ia mengangguk pelan dan menjalankan motornya agar bersampingan dengan cowok itu.
"Ya udah lah, mau gimana. Kalo dia mulai, Lo balik aja dah ke rumah gua, bawa sekalian baju-baju Lo. Pindah ke rumah gua." Sarkasnya.
Jonathan semakin terkekeh geli. Ia menurunkan lagi kaca helmnya dan menarik gas nya.
"Balik gua." Ucap Jonathan sebelum menjalankan motor keluar dari parkiran.
Christian menatap punggung Jonathan nanar, menghela dan sedikit bergumam. Ia hanya mampu berharap agar cowok itu tidak lagi dalam masalah.
Motor Jonathan melaju cepat meninggalkan area sekolah. Kaca helmnya di naikan guna menatap jalanan dengan leluasa.
Entah kenapa, kali ini Jonathan sedikit berat untuk pulang ke rumah. Maka dari itu ia memperlambat laju motornya. Menatap jalanan yang sepi.
Sebenarnya hujan sudah tidak begitu deras, makanya Jonathan berani pulang. Dia ngga pakai jas hujan atau apa, badannya hanya terlindungi oleh jaket jeans yang tidak seberapa tebal.
Merasa bosan dengan kegiatannya sekarang, Jonathan mencoba memainkan motornya, membuat ia seperti orang mabuk yang lagi naik motor.
Karena ugal-ugalan, beberapa pengendara memakinya terang-terangan, terkadang menendang motor hitam Jonathan karena hampir membuat kecelakaan, mengakibatkan cowok itu sedikit oleng.
Namun bukannya kesal atau merasa bersalah, Jonathan justru tertawa renyah dan semakin menarik gasnya sekencang mungkin. Menikmati semua u*****n yang keluar karena dirinya.
Memelankan motor dan berusaha mengontrolnya agar tidak jatuh, Jonathan hampir bergesekan dengan tanah karena seseorang tiba-tiba menendang motornya kencang.
Tiba-tiba banget, Jonathan ngga ada persiapan.
Tapi untungnya, berkat skill yang ia miliki, Jonathan mampu menahan dan mengontrol motornya agar tidak jatuh.
"Woy b*****t! Yang bener dong bawa motor!" Marah orang yang hampir membuatnya jatuh.
"Kalo ngga bisa bawa ya ngga usah sok-sokan! Najis." Bentaknya sekali lagi.
Jonathan hanya diam mendengarkan. Sesekali melirik cowok yang sedang memakinya penuh emosi.
"Ngomong apa sih Lo, ngga jelas."
"Anak anjing! Minggir Lo!" Maki cowok itu sebelum menancap gas meninggalkan Jonathan. Tapi sebelum itu, ia sempat dengan sengaja menyerempet motor Jonathan, membuatnya oleng namun lagi-lagi berhasil ditahan.
Jonathan sedikit tertawa melihat cowok itu mulai hilang dari pandangannya. Merasa lucu karena Jonathan tidak melakukan apapun padanya. Bahkan pas dia tiba-tiba ditendang, itu Jonathan lagi ngebut lurus, ngga goyang-goyang sama sekali.
Dan tiba-tiba aja ditendang. Harusnya dia yang marah dong?
Tapi bukannya marah, Jonathan justru merasa terhibur dengan makian cowok pendek tadi. Sudah lama ia tidak mendengar perkataan seperti itu dilontarkan untuknya. Rasanya menyenangkan, merasa bebas dan kembali ke diri sendiri, seperti sebelumnya.
Menatap tajam jalanan di depannya, Jonathan menancap gas, menjalankan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata membelah jalanan kota yang basah.
Mengerem mendadak begitu melihat lampu lalu lintas berganti warna menjadi merah.
Dengan kecepatan seperti tadi, motornya hampir terseret karena rem dadakan yang dia lakukan. Roda belakangnya naik dan bertumpu di roda depan, kaya mau jatuh mencium tanah.
Beberapa pengendara menatapnya sengit, namun beberapa menatapnya kagum. Mungkin baru pertama kali melihat orang melakukan stoppie lampu merah.
Jonathan tersentak saat hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Membuat tubuhnya seketika basah.
"Ah anying, tiba-tiba banget." Keluhnya begitu merasa badan mulai basah.
Segera setelah warna berganti hijau Jonathan menjalankan motornya untuk berteduh di salah satu toko di pinggir jalan.
Memarkirkan motornya dengan baik dan menepuk-nepuk badannya yang basah.
"Ck, bakal lama ini."
Pergerakan Jonathan berhenti begitu melihat dua orang sedang bertatapan dengan posisi pelukan di seberangnya.
Menajamkan mata berusaha memastikan siapa dua orang tersebut.
"Ck, sialan."
Tangannya mengepal begitu tau siapa mereka. Nathan dan Bianca. Jonathan yakin, yakin banget kalo itu mereka berdua.
Nathan bahkan memeluk Bianca terang-terangan, dan cewek itu juga diam aja ngga menolak atau menjauh.
Padahal kalo sama dia, Bianca disentuh aja takut.
Matanya memerah menahan kesal, tangannya terkepal kuat melihat kejadian di depannya.
Panas.
Udara yang tadi sangat dingin, mampu membuat siapa saja menggigil berubah panas dan suram.
Tidak lagi merasa bebas dan menikmati kebebasannya.
Merasa ada yang menggerogoti hatinya dan mood yang tiba-tiba jatuh. Jonathan kembali menaiki motor dan pergi dari situ dengan emosinya yang tidak jelas.
Terus menancap gas tidak peduli apapun yang terjadi.