"Lagian gua bukan robot yang bisa disuruh-suruh se-enaknya gitu. Dipikir gua bakal tunduk kali sama dia."
Bertepatan dengan itu, seorang laki-laki datang menghampiri mereka dengan peluh yang membanjiri tubuhnya. Nathaniel Edgar, salah satu dari sekian banyak laki-laki yang dekat dengan Bianca dan Vanesha.
"Haus, Ca. Minum gua mana?" Nathaniel, matanya mencari dimana minuman yang ia pesan tadi.
"Lupa, minum s**u pisang gua aja, nih." Bianca menyerahkan satu botol s**u pisang, biarlah minuman kesukaannya ini dihabiskan Nathaniel, tadi ia tidak sempat membeli cola karena insiden yang katanya mempermalukan Christian.
Nathaniel meminumnya dan mereka berdua kembali ke kelas sambil bercanda. Meninggalkan Vanesha yang menatap khawatir ke arah mereka, lebih tepatnya Bianca. Ia yakin, sangat yakin bahwa dua pangeran sekolah itu tidak mungkin melakukan hal aneh pada Bianca seperti siswa lainnya, karena jika Jonathan adalah Pangeran sekolah, maka Bianca adalah ratunya.
Tapi ia tetap merasa tidak tenang, hari-hari Bianca akan berubah suram mulai sekarang. Jonathan, terutama Christian pasti tidak akan membiarkannya hidup tenang, mereka pasti merencanakan sesuatu yang membuat Bianca keluar dari sekolah dengan sendirinya.
"Ca, hati-hati."
***
Sekarang jam pelajaran tengah berlangsung, dan betapa bosannya Bianca mendengarkan Bu Jelita, guru sejarah, tengah bersabda di depan. Dan semakin malas saat melihat Vanesha sedang bercanda ria dengan sang pacar di hadapannya. Benar-benar memalukan.
"Bianca! Kamu memperhatikan saya tidak?!" Suara yang menakutkan memenuhi indera pendengaran Bianca. Dengan cepat ia duduk tegak dan menatap Bu Jelita dengan mata yang sedikit berat dan pipi yang merah sebelah. Ia tadi sempat tidur.
"I-iya, Bu? Sa-saya dengerin ibu ko, beneran deh." Dustanya. Bianca menatap ke depan dengan khawatir, takut-takut Bu Jelita marah dan berakhir menghukumnya. Guru satu ini memang terkenal karena selalu memberikan hukuman yang tidak masuk akal.
Bu Jelita menatap sangar Bianca, "berdiri!" Titahnya dan langsung dituruti, memperhatikan gadis berotak cemerlang itu baik-baik, dan tak lama pandangannya melembut, berubah menjadi sedikit khawatir.
"Kamu sakit, nak? Matamu merah, sayu banget lagi. Bibir kamu pucat itu, ke UKS sana."
Pertanyaan atau cenderung pernyataan yang diucapkan Bu Jelita menarik perhatian satu kelas, terutama Vanesha yang menatapnya sambil melotot dan mulut melebar. "Sakit?"
Apa? Sakit? Vanesha tidak salah dengar?
Dari tadi Bianca baik-baik saja, bahkan ia bisa mempermalukan Christian di depan banyak orang. Kenapa gadis itu sekarang sakit?
Tapi dilihat-lihat lagi, mata Bianca memang merah, sangat sayu. Bibirnya juga hanya sedikit kering, bukan pucat.
Vanesha langsung menatap Bianca keki, ini mah Bianca-nya aja yang habis bangun tidur, keliatan banget. Lihat, salah satu pipi Bianca bahkan memerah, dan yang putih bersih. Pasti anak itu tidur menjadikan sebelah pipinya sebagai tumpuan.
Sakit dari mananya sih? Itu guru matanya belekan kali ya, jelas-jelas Bianca segar bugar begitu, cuman kelihatan loyo aja efek baru bangun tidur.
"Ke UKS, Bianca. Ibu ga mau kamu tidur di kelas dan menganggu jam pelajaran saya."
Dengan perasaan bahagia dan senyum yang terbit dengan jelas, Bianca segera keluar dari kelas terkutuk itu. Tidak lupa mengejek Vanesha dengan menjulurkan lidah dan tertawa remeh. Membuat satu kelas, bukan hanya Vanesha merasa geram, mereka merasa diledek bersamaan.
"Bianca sialan." Umpat Vanesha. Namun ia kembali tersenyum begitu melihat Bu Jelita menatap dirinya galak. Laki-laki di sebelah Vanesha, yang adalah pacarnya, hanya tertawa melihat tingkah gadisnya itu.
Sekarang Bianca berjalan pelan di koridor yang sepi, di samping kiri-kanannya terdapat loker para siswa yang bersekolah disini. Ia memang sengaja tidak langsung ke UKS dan menghilangkan kantuknya, tapi lebih memilih untuk pergi ke lokernya, mengambil dompet dan buku novel yang belum dihabiskan, lalu ke kantin untuk membeli beberapa cemilan. Ia lebih memilih makan di kantin karena sepi, jika di tribun maka ia akan menjadi pusat perhatian seluruh kelas.
Mengeluarkan kunci lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci, Bianca segera mencari dompetnya yang sengaja ia taruh di paling bawah, paling belakang, dan paling pojok, disembunyikan di tumpukan buku-buku tebal seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia.
"Novel..novel..novel..novel." Gumam Bianca. Matanya sibuk mencari novel yang akan ia baca, karena ia memang memiliki sedikit banyak novel dalam tumpukan bukunya di loker.
Sampai saat ia hendak menutup pintu loker berwarna oranye itu, tangannya ditarik, badannya diputar dan punggungnya menghantam loker dibelakang.
"Aww."
Bianca menatap kesal pada orang yang kini berdiri gagah di hadapannya dengan senyum miring.
"Lepas!" Bentak Bianca. Senyum iblis yang menakutkan semakin terbit di bibir pemuda itu, ia menyukai bentakan Bianca, terutama saat gadis itu berusaha melepaskan diri, ia makin menyukainya.
"Kenapa harus dilepas, hm?" Jonathan membalas tatapan kesal Bianca dengan pandangan remeh. Ia benar-benar suka bagaimana gadis ini dengan berani membentaknya.
"Lo ada urusan apa sama gua, hah?" Bianca kesal luar biasa saat Jonathan justru menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sedikit wajahnya dan sedikit mengelus keningnya. Bianca merasa direndakan.
"Lepas, dasar iblis!" Marahnya. Dan Jonathan justru semakin memajukan badan, mempersempit jarak diantara keduanya. "Nga-ngapain, Lo?" Bianca menyumpahi dirinya sendiri saat mendengar nada gugup yang meluncur dari mulutnya.
Jonathan sungguh menyukai mimik wajah ketakutan Bianca yang sangat kentara. Matanya sedikit bergetar tapi tetap membalas tatapan tajam yang sengaja ia berikan, dan itu justru jadi point plus baginya. Tidak pernah ada seorangpun yang seberani Bianca, yang ada justru para jalang yang berusaha menggodanya dengan memberikan badan dan melakukan hal menjijikan.
Bianca merapatkan bibirnya kuat-kuat, bahkan tidak sengaja menggigiti bibir merahnya karena gugup. Ia mengaku gugup, ia tidak pernah mendapatkan tatapan se-intens itu, dan lebih menakutkan lagi saat Jonathan lah yang melakukannya. Memang tampan, tapi yang Bianca lihat tidak lebih dari wajah seorang iblis menyebalkan, bukan tampang tampan yang selama ini dibangga-banggakannya.
"Berusaha menggoda, heh?" Bisik Jonathan. Napasnya yang hangat menerpa kulit leher Bianca halus dan pelan. Membuat sang gadis menggeliat merasakan hal aneh dan geli.
"Minggir lo pengecut! Beraninya ko sama cewe!" Gertak Bianca.
Dan inilah yang paling ditakuti, tatapan Jonathan yang memancarkan kemarahan menatapnya tajam dan dalam, menusuk dinding pertahanan Bianca. Membuat Bianca benar-benar mati kutu sekarang.
Bianca terus menatap was-was pada Jonathan, berusaha agar matanya tidak bergetar dan tidak memancarkan ketakutan. Karena dengan begitu, Jonathan pasti akan merasa menang dan terus menganggunya dengan cara seperti ini. Ia tidak boleh terlihat lemah, okay?
Semakin mempersempit jarak, Jonathan terus menatap Bianca yang sedang berpikir, sejenak ia berhenti dan mencoba mencari tahu apa yang akan dilakukan gadis ini, tapi apa yang bisa dilakukan seorang gadis disituasi seperti ini? Posisi ini sangat menguntungkan Jonathan, dan Bianca pasti tidak akan berkutik seperti anak anjing, bukan?
Jonathan semakin memajukan wajahnya, dengan pemikiran yang matang dan demi menyelamatkan dirinya sendiri, Bianca memberanikan diri dan menggerakkan kakinya, membuat Jonathan melotot dan berteriak kesakitan.
"Argh!" Jonathan berteriak dan menatap Bianca marah. Bianca baru saja menendang bagian paling sensitifnya dengan kekuatan dalam, sangat kencang dan tepat sasaran.
Bianca sukses, sekarang Jonathan mundur dan memegangi pertengahan antara kedua pahanya. Rasanya pasti sangat nyeri, dan bukannya melarikan diri, Bianca justru merasa bersalah dan menatap penuh penyesalan pada Jonathan.
"Kalian!" Tepat sebelum Jonathan mengeluarkan makiannya, Bu Jelita muncul di ujung lorong, menatap marah dan bingung pada Bianca dan Jonathan.
"Ngapain disini? Bianca? Bukannya kamu harus ke UKS? Apa sudah tidak sakit?" Tanya Bu Jelita dengan nada menyeramkan, bagi Bianca, karena Jonathan sudah sangat biasa mendapat marah dari para guru di sekolah ini.
"Eee... Anu Bu, saya...baru ngambil obat, iya obat heheh." Tatapan penuh selidik diberikan oleh guru sejarah itu, "mana obatnya?"
"Ini di kantong saya, heheh."
Kagum. Jonathan kagum melihat Bianca, gadis yang terkenal baik, pintar, dan lembut, berbohong dengan lancarnya. Sangat bukan tipikal gadis kebanggaan sekolah.
Bu Jelita mengangguk paham, tidak curiga sama sekali, "kamu ngapain disini? Bolos lagi?"
Jonathan menatap datar Bu Jelita, guru ini memang selalu berprasangka buruk padanya. Dan sekarang ia tahu, kenapa Bianca bisa dengan mudah membohongi guru ini karena gadis itu yang memberi kesan baik dan tidak mungkin berbohong.
"Yaelah Bu, jangan nethink mulu. Saya tuh disini lagi bantuin Bianca. Tadi dia oleng, saya liat hampir jatoh, jadi saya tolongin."
"Benar Bianca?" Yang ditanya mengangguk cepat dan gugup, ia harus menyelamatkan Jonathan jika ingin diselamatkan juga, karena jika tidak, maka Jonathan akan membeberkan semuanya pada Bu Jelita.
Menghela napas pelan, "Ya sudah, Jonathan kamu bantu Bianca ke UKS ya." Bu Jelita meninggalkan keduanya, walau ia sudah tahu bahwa ada kebohongan yang diucapkan dua orang itu, tapi biarlah. Toh dia sedang malas meladeni orang-orang yang membuat masalah.
Bianca menatap punggung Bu Jelita dengan pandangan horor, bagaimana bisa? Bagaimana bisa guru itu dengan santai membiarkan Jonathan yang notabenenya Casanova sekolah mengantarkannya ke UKS?
Guru sudah gila kali ya?
"Ngga usah diliatin gitu Bu Jelitanya."
Bianca menoleh mendapati Jonathan tengah menatapnya remeh. Kembali ia berikan tatapan maut yang bukannya terlihat menyeramkan justru terlihat lucu di mata Jonathan.
"Ngga usah sok galak, gua ngga takut sama Lo." Terkekeh pelan, Jonathan kembali mendekatkan dirinya pada Bianca, menatap mata gadis itu dalam.
Bianca diam, matanya memancarkan kilat kebencian, dan Jonathan sadar akan hal itu. Tapi yang namanya Jonathan Alexander tetaplah Jonathan, ia mana peduli mau se-benci apapun Bianca padanya saat ini, ia hanya ingin mengusili gadis itu saja kok.
"Lo belom tanggung jawab soal yang tadi."
Bianca mengernyitkan dahinya, bergerak gelisah berusaha menjauh dari Jonathan.
"Apaan sih? Tanggung jawab apaan? Perasaan gua ngga ngehamilin Lo deh."
Jonathan menatapnya datar, kemudian beralih menatap ke bawah membuat Bianca tersadar. Ia langsung tahu apa yang dimaksud cowok ini.
"I-itu, anu...—" Menelan air liurnya dengan susah payah, Bianca merasa tenggorokannya sangat kering. Terlalu kering, hingga suaranya sulit untuk keluar.
"Apa?" Suara tegas Jonathan mampu membuat Bianca merinding, ia menunduk tak berani menatap mata tajam Jonathan. "Maaf."
Bibir Jonathan tanpa sadar menarik senyum kecil dan singkat. Mendengar cicitan Bianca barusan, entahlah, Jonathan hanya merasa lucu. Gadis yang berani mempermalukan Christian dan menendang aset berharganya tiba-tiba menjadi penakut seperti ini.
Melepas Kungkungannya pada Bianca, Jonathan merapihkan sedikit rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu.
Jonathan akui kok, Bianca cantik, sangat cantik.
"Ke UKS, cepetan."