Mobil hitam itu melambat tepat di sebuah perempatan jalan.
Lili yang sejak tadi diam sambil sesekali melirik keluar jendela langsung menunjuk ke arah depan. “Mas, berhenti di sini aja.”
Adit menoleh sekilas ke arahnya, lalu melihat ke jalan yang masih basah terguyur hujan. “Rumah kamu bukannya masih agak jauh ke dalam?”
“Dikit kok, nggak apa-apa,” jawab Lili cepat, sedikit berusaha meyakinkan.
Adit mengernyitkan dahi kecil, tidak sepenuhnya percaya. “Hujan deras begini kamu mau jalan kaki?”
“Iya, sebentar saja sampai.”
“Kenapa nggak sampai depan rumah saja? Biar nggak terlalu basah.”
Lili menggigit bibir bawahnya pelan. Jujur saja, di dalam hatinya masih ada rasa was-was. Walaupun Mas Aditya terlihat sopan dan baik, tapi tetap saja mereka baru bertemu dan berbicara kurang dari satu jam. Belum lagi, pria di hadapannya ini terlihat terlalu tampan, terlalu rapi, dan terasa agak misterius bagi gadis seumurnya.
Lili berdeham pelan, berusaha menjawab dengan sopan. “Ya… masa saya langsung mengajak orang yang baru saya kenal sebentar ke rumah, Mas. Takutnya bapak-ibu saya nanti salah paham.”
Adit terdiam beberapa detik mendengar alasan itu. Lalu, tanpa sadar sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis. Gadis ini lucu, polos, tapi tahu batasan dan berhati-hati. Itu justru hal yang bagus.
“Bagus,” gumamnya pelan.
“Hah? Apa?” tanya Lili bingung.
“Kamu hati-hati di jalan. Bagus juga kamu tidak gampang percaya sama orang asing,” jelas Adit, matanya menatap lurus ke mata Lili. “Biasanya banyak orang yang langsung percaya begitu saja.”
Lili langsung mengangkat bahu sedikit. “Ya harus hati-hati dong. Kalau saya diculik gimana?”
Adit menatapnya lebih lama dari seharusnya. Tatapannya terasa dalam, tajam, dan terlalu fokus sampai membuat Lili sedikit gugup.
“Kalau saya orang jahat…”
“Hmm?”
“…kamu nggak akan saya turunkan sampai di sini,” jawab Adit tenang.
Lili langsung membelalakkan matanya. “Mas ini ngomongnya kok bikin takut gitu sih!”
Adit akhirnya terkekeh pelan. Entah kenapa, hari ini rasanya terasa berbeda. Sudah lama sekali ia tidak merasa sesantai ini berbicara dengan seseorang. Dalam kesehariannya, semua orang berbicara dengan nada formal, penuh hitung-hitungan, dan terasa membosankan. Tapi gadis SMA di sampingnya ini? Jujur, sedikit ceroboh, polos, dan tanpa sadar berhasil membuat suasana di dalam mobil terasa lebih hangat.
Mobil akhirnya berhenti tepat di pinggir jalan. Sopir di depan segera membuka payung besar, namun sebelum sempat membukakan pintu, Lili sudah buru-buru memegang gagang pintu.
“Terima kasih banyak ya, Mas Aditya!”
“Tunggu, pakai payung dulu—”
Terlambat.
Byurrrr!
Begitu pintu terbuka, tubuh kecil itu langsung tersapu guyuran hujan yang deras. Rambut dan ujung seragamnya langsung basah seketika.
“Lili!” panggil Adit secara refleks.
Namun gadis itu malah tertawa kecil, lalu menaruh tas sekolahnya di atas kepala sebagai pelindung seadanya. “Nggak apa-apa! Saya lari saja!”
“Pakai payung dulu, nanti sakit!”
“Nggak usah! Makasih ya!”
Adit menghela napas panjang sambil menggeleng. Bandel. Benar-benar keras kepala. Ia terus menatap jendela, mengikuti gerakan tubuh kecil itu sampai menghilang di tikungan jalan menuju kawasan perumahan di dalam. Entah kenapa, rasanya ada yang terasa mengganjal, sulit untuk sekadar pergi begitu saja.
“Pak,” panggil Adit pelan kepada sopirnya.
“Iya, Pak?”
“Tunggu sebentar di sini.”
“Baik, Pak.”
Adit masih memandangi jalan yang tadi dilalui Lili. Rasanya aneh. Baru pertama kali bertemu, tapi seolah ada sesuatu yang tertinggal di sana.
Sementara itu, di dalam kawasan perumahan yang terjaga keamanannya, Lili akhirnya tiba di depan gerbang besar rumahnya yang bercat putih gading. Penjaga keamanan yang sedang berjaga langsung membelalakkan mata melihat kondisi majikannya itu.
“Nona Lili?!”
Lili menyeringai kecil, merasa bersalah. “Hehe… sore, Pak.”
“Ya Allah, Nona kehujanan sampai basah kuyup begini?!”
Belum sempat mereka berbicara lebih lanjut, pintu utama rumah terbuka lebar. Seorang wanita paruh baya yang dikenal sebagai Bibi Sari, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di sana, hampir saja menjatuhkan handuk tebal yang sedang ia bawa.
“Astaga! Nona Lili kenapa begini?!” serunya panik.
Lili segera masuk ke dalam rumah yang hangat. “Bibi, dingin sekali…”
“Ya ampun! Cepat masuk, nanti masuk angin!”
Pak Satpam ikut cemas berdiri di ambang pintu. “Aduh… Nona kan badannya mudah sekali sakit kalau kena hujan.”
Lili meringis kecil. “Iya, iya…”
“Bukan cuma iya-iya saja!” omel Bibi Sari sambil segera menarik tangan Lili masuk lebih dalam. “Tuan dan Nyonya sedang ada urusan di Jepang, kalau Nona sampai sakit gimana nanti?”
Lili tertawa kecil melihat kekhawatiran wanita itu. “Bibi ini lebay deh.”
“Lebay apanya?! Tahun lalu cuma kehujanan lima menit saja Nona langsung demam sampai tiga hari lho!”
“Itu kan dulu, sekarang kan sudah lebih kuat badannya.”
“Sama saja! Masih sama saja kalau kena hujan deras begini!”
Bibi Sari segera menyodorkan handuk besar dan kering. “Cepat ganti baju dan mandi air hangat sekarang juga!”
“Siap, Bibi.”
“Setelah itu harus minum teh jahe hangat!”
Lili langsung manyun. “Jahe lagi?”
“Iya, biar hangat dan tidak masuk angin!”
“Tapi saya tidak suka rasanya pahit…”
“Tidak ada debat! Harus diminum!”
Lili akhirnya menghela napas panjang dan pasrah. “Okeee…”
Di luar pagar rumah yang tinggi itu, mobil hitam perlahan melintas pelan. Adit tanpa sengaja melihat bangunan besar yang terlihat megah namun tetap terlihat asri dan rapi. Matanya sedikit menyipit mengamati gerbang yang kokoh itu.
Jadi… Lili Samantha juga berasal dari keluarga berada.
Entah kenapa, mengetahui hal kecil itu justru membuat rasa penasarannya semakin bertambah.
“Pak,” panggilnya pelan.
“Iya, Pak?” jawab sopirnya.
“Besok ada jadwal apa saja?”
Sopirnya tidak langsung menjawab, melainkan menyampaikannya kepada sekretaris pribadi Adit yang duduk di kursi penumpang depan. Wanita muda itu segera membuka buku catatan dan tabletnya.
“Besok pagi ada rapat dengan para investor, lalu makan siang dengan klien dari Jepang, dan sore ada jadwal pemeriksaan di cabang perusahaan,” jelasnya jelas.
Adit terdiam beberapa detik, seolah memikirkan sesuatu. Lalu ia bertanya dengan nada santai namun terdengar serius.
“Kalau jam pulang sekolah anak SMA biasanya sekitar jam berapa ya?”
Sekretaris dan sopirnya saling bertukar pandang sekilas, sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang tidak biasa itu. Namun keduanya tetap menjawab dengan sopan.
“Umumnya sekitar jam tiga atau empat sore, Pak. Tergantung sekolahnya,” jawab sekretarisnya.
Adit mengangguk pelan, kembali menatap jalanan di depannya. Sebuah senyum tipis samar terukir di bibirnya.
“Baiklah. Atur jadwalnya agar selesai paling lambat jam tiga sore besok.”
“Baik, Pak. Apakah ada keperluan khusus?”
Adit hanya tersenyum samar, tidak menjelaskan lebih lanjut.
“Tidak ada. Hanya saja… ada hal kecil yang ingin saya selesaikan.”
Di dalam hatinya, satu hal sudah ia putuskan. Pertemuan sore ini bukanlah yang terakhir.