bc

Obsesi CEO Pada Lili Samantha

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
HE
age gap
fated
friends to lovers
arranged marriage
mafia
heir/heiress
sweet
bxg
kicking
brilliant
city
childhood crush
addiction
like
intro-logo
Uraian

Lili Samantha tak pernah menyangka hidupnya berubah sejak bertemu Aditya—CEO muda tampan berusia 27 tahun yang selalu dipanggil Mas Aditya. Di saat teman-teman seusianya sibuk memikirkan ujian sekolah, Lili justru menjadi pusat perhatian seorang pria dewasa yang terlalu mencintainya. Aditya bukan hanya menyayangi—ia terobsesi. Menunggu Lili lulus SMA, menjaga, melindungi, bahkan memastikan tak ada lelaki lain mendekat. Tapi bisakah cinta sebesar itu benar-benar menjadi kebahagiaan?

chap-preview
Pratinjau gratis
Ditengah Hujan
Sore itu langit tiba-tiba berubah gelap. Awan hitam menutupi seluruh cakrawala, dan tidak lama kemudian hujan turun dengan derasnya bukan gerimis, tapi air yang jatuh seolah ditumpahkan dari atas. Di halte bus yang sederhana, Lili Samantha berdiri memeluk tasnya, mencoba menaungi tubuhnya dengan payung kecil yang hampir tidak berfungsi menghadapi angin yang berhembus kencang. Lili adalah siswi kelas dua SMA yang dikenal sebagai gadis tercantik di sekolahnya. Di mana pun dia lewat, pasti menarik perhatian. Banyak cowok yang berusaha mendekat—ada yang memberi surat cinta, ada yang menunggu di gerbang sekolah, bahkan ada yang berani mengantar pulang. Tapi Lili selalu bersikap dingin dan cuek. Baginya, semua itu hanya gangguan. Dia lebih fokus pada pelajaran dan tidak mau terlibat hal-hal yang tidak perlu. Saat dia sedang memandangi jalanan yang mulai tergenang air, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depan halte. Suara mesinnya halus, dan ketika pintu terbuka, seorang pria turun dengan gerakan yang tenang dan berwibawa. Dia tampak masih muda, sekitar dua puluh tujuh tahun. Mengenakan jas hitam yang rapi dan terlihat mahal, kemeja putih bersih, serta dasi yang diikat rapi. Wajahnya tampan dengan garis tegas, kulitnya bersih, dan tatapannya tajam namun terasa dingin—sama seperti aura seorang pemimpin perusahaan yang sudah terbiasa memegang kendali. Itu adalah Adit Pratama, seorang pengusaha muda yang sudah memiliki beberapa perusahaan besar di usianya yang masih muda. Adit menutup pintu mobil dan berjalan mendekat, membawa payung besar yang melindunginya sepenuhnya dari hujan. Dia berhenti tepat di depan Lili, membuat gadis itu menengadah menatapnya—karena pria itu jauh lebih tinggi darinya. “Dek, hujan deras sekali. Lebih baik naik saja dulu, nanti kamu sakit,” ucap Adit dengan suara rendah dan tenang. Lili langsung mundur selangkah, matanya menatap penuh kewaspadaan. Dia mengamati pria di hadapannya dari atas sampai bawah: jas yang terlihat sangat mahal, jam tangan di pergelangan tangannya yang pasti bernilai jutaan, dan wajah yang terlalu tampan untuk sekadar orang asing yang menawarkan tumpangan. “Maaf, Mas… kita kenal?” tanya Lili dengan nada sopan namun tegas. Adit tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai menyentuh matanya—masih terasa dingin namun tidak menakutkan. “Belum. Tapi kita bisa saling kenalan, kan?” Lili langsung mengerutkan kening, perasaannya mulai curiga. “Mas bukan orang yang cari-cari kesempatan, ya?” Adit malah tertawa kecil. Suara tawa itu membuat ekspresi dingin di wajahnya sedikit mencair, terlihat lebih manusiawi. “Kalau aku bilang iya?” “Wah, bahaya juga ya,” gumam Lili pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Adit tidak menjawab. Dia hanya menatap gadis di depannya lebih lama dari yang seharusnya. Seolah waktu berhenti sejenak. Cantik. Itu kata pertama yang terlintas di pikirannya. Tidak hanya cantik secara fisik, tapi ada sesuatu yang berbeda—mata yang jernih dan jujur, rambut panjang hitam yang sedikit basah terkena air hujan, seragam SMA yang sederhana namun justru membuatnya terlihat alami dan memikat. Selama ini banyak wanita yang berusaha mendekatinya, dengan penampilan yang sempurna dan kata-kata manis, tapi tidak ada yang membuatnya merasa seperti ini. Adit bahkan tidak mengerti kenapa dadanya terasa berdebar aneh. Biasanya, dialah yang dikejar-kejar wanita. Tapi sekarang? Dia justru tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis yang baru pertama kali dilihatnya ini. “Nama kamu siapa?” tanya Adit akhirnya. Lili ragu sejenak, tapi merasa tidak ada salahnya menjawab. “Lili.” “Nama lengkapnya?” “Lili Samantha.” Adit mengangguk pelan, seolah berusaha menghafal setiap hurufnya. “Nama yang cantik,” gumamnya pelan. “Hah?” “Namanya. Kedengarannya bagus,” jawab Adit, meskipun sebenarnya yang dia maksud bukan hanya nama itu—tapi pemilik nama itu juga. Lili hanya diam, masih merasa tidak nyaman. “Terima kasih. Tapi saya harus menunggu bus, sebentar lagi pasti lewat.” “Hujan akan makin deras. Dan kamu lihat sendiri, jalanan mulai macet. Bus bisa datang satu jam lagi,” kata Adit tenang. “Saya tidak akan berbuat apa-apa. Saya hanya akan mengantar kamu sampai depan rumah, itu saja.” “Tapi saya tidak kenal Mas…” “Namaku Adit. Adit Pratama. Sekarang kamu sudah tahu namaku, kan?” Lili terdiam. Pria ini terlihat sopan, tapi ada sesuatu yang membuatnya merasa Adit bukan orang yang mudah dibantah. Namun di sisi lain, hujan benar-benar semakin deras dan angin mulai menusuk tulang. “Saya tinggal tidak jauh dari sini, lima menit berjalan saja,” ucapnya mencoba menolak lagi. “Kalau lima menit, kenapa tidak diantar saja? Lebih cepat dan kamu tidak perlu basah kuyup,” desak Adit lagi, namun nadanya tetap lembut. Sebelum Lili sempat menjawab, suara klakson terdengar dari dalam mobil. Sopirnya sedikit membuka jendela dan berkata, “Pak, hujan makin deras, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan.” Adit melirik sekilas, lalu kembali menatap Lili. “Pikirkan baik-baik. Saya tidak akan memaksamu. Tapi saya tidak enak melihat gadis seumur kamu berdiri di sini sendirian.” Lili masih ragu, tapi melihat hujan yang tidak kunjung reda dan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan, akhirnya dia mengangguk pelan. “Baiklah… terima kasih. Tapi tolong antar sampai perempatan saja, tidak perlu sampai depan rumah.” Adit tersenyum lagi, kali ini senyumnya terasa sedikit lebih tulus. “Baiklah. Silakan masuk.” Dia membukakan pintu mobil untuk Lili, lalu memastikan gadis itu duduk dengan nyaman sebelum melangkah ke sisi pengemudi. Di dalam mobil, suasananya hangat dan beraroma wangi yang lembut. Lili duduk di ujung kursi, mencoba menjaga jarak, sementara Adit duduk di kursi depan bersama sopirnya. Sepanjang perjalanan, tidak banyak percakapan. Adit sesekali melirik ke kaca spion belakang, melihat gadis yang sedang memandangi pemandangan di luar jendela. Dia terlihat pendiam, sesekali mengusap rambutnya yang basah sedikit. “Sudah sampai perempatan yang kamu maksud,” kata Adit ketika mobil berhenti. Lili segera membuka pintu. “Terima kasih banyak, Mas Adit. Maaf sudah merepotkan.” “Tidak apa-apa. Hati-hati di jalan.” Lili mengangguk, lalu berlari kecil menuju rumahnya yang tidak jauh dari situ. Adit tetap duduk di mobil sampai sosok gadis itu menghilang di balik pagar rumah, sebelum akhirnya memberi isyarat pada sopir untuk melanjutkan perjalanan. Di dalam mobil, suasana kembali hening. Adit bersandar di kursi, menatap keluar jendela dengan tatapan yang jauh. Bayangan wajah Lili terus terlintas di pikirannya—mata jernihnya, senyumnya yang sedikit ragu, dan cara dia berbicara dengan sopan namun tegas. Sesuatu yang baru saja dia rasakan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. “Pak, kita langsung ke kantor pusat?” tanya sopirnya, Pak Budi yang sudah bekerja bersamanya selama lima tahun. Adit tidak segera menjawab. Dia masih memikirkan pertemuan singkat tadi. Setelah beberapa saat, dia berbicara dengan nada tegas yang membuat sopirnya sedikit terkejut. “Pak Budi.” “Iya, Pak?” “Cari tahu semuanya tentang gadis SMA yang baru saja saya antar tadi.” Pak Budi menoleh sekilas, ragu mendengar perintah itu. “Maaf, Pak? Maksudnya?” “Namanya Lili Samantha. Cari tahu di sekolah mana dia bersekolah, alamat lengkapnya, siapa orang tuanya, di mana dia tinggal, dan hal-hal lain yang perlu saya ketahui. Semuanya.” “Untuk apa, Pak? Dia hanya gadis yang kebetulan kita temui di halte…” Adit menatap keluar jendela, melihat tetesan air hujan yang mengalir di kaca. Ekspresinya kembali dingin dan penuh tekad. “Karena mulai hari ini…” ucapnya pelan namun tegas, “…saya ingin dia menjadi milikku.” Pak Budi terdiam, tidak berani bertanya lebih lanjut. Dia sudah mengenal Adit cukup lama—jika bosnya sudah berkata seperti itu, maka tidak ada yang bisa mengubah keputusannya. Adit masih memandangi jalanan yang basah, dan di dalam hatinya, dia tahu satu hal: pertemuan singkat di tengah hujan itu bukan sekadar kebetulan. Itu adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah seluruh hidupnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
721.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
958.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
346.7K
bc

Not just, the Beta

read
342.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook