Bullying dan Emeliy

1042 Kata
Hari sekolah mereka berakhir saat itu, semua para murid mulai bubar jalan sendiri-sendiri menunggu jemputan keluarga nya atau mengendarai kendaraan umum terkadang juga menggunakan bus khusus untuk para siswa nya. "Kau langsung pulang" " Ya, aku langsung pulang ke rumah" cetus Edbret kalem, mereka ber-dua tengah berjalan beriringan menuju gerbang depan. Tengah asik berbincang-bincang ekor mata teman Edbret itu menangkap aktif tak layak dengan segera Kurt menarik pakaian Edbret, Edbret anak yang notabene nya lebih pendek beberapa centi di tarik mendadak tentu ia hampir saja oleng dan berjinjit agar tak jatuh tersungkur akan serangan mendadak Mendengus tak suka, Edbret tentu saja merapikan pakaian nya usai acara terik menarik pakaian di kenakan nya oleh Kurt, " kau ada masalah apa dengan ku" datar dengan memandang wajah ketakutan Kurt, " kita cari jalan lainnya saja" usul Kurt menarik dirinya Baru saja ia ingin protes Kurt menarik nya kuat-kuat, "kenapa kita harus putar balik, kan lebih cepat lewat sana" dumel nya " Shht.. jangan keras-keras, sudah nurut" makin di buat penasaran Edbret mengintip dari balik rangkulan Kurt dirinya dapat melihat seorang anak lelaki berkepala plontos, ah. Dia kan anak sekelas nya Melihat apa di lakukan oleh anak itu, lantas tak membuat Edbret ingin protes dia melihat di sana beberapa anak sedang merundung anak lain, jujur saja dia meringis ngilu korban lebih kecil dari nya tertelungkup sedang lainnya melempar berungkali buku-buku dari dalam tas anak tengah di risak " Kenapa begitu" heran Edbret sama sekali tak mengerti kenapa teman mereka seperti begitu, terlalu aneh anak tadi nya di puji pintar dalam kelas malah terlihat jadi penindas. Merasa sudah jauh dari lokasi eksekusi tadi, Kurt mengajak Edbret lebih cepat bergegas melewati jalan alternatif lainnya agar cepat sampai ke depan jalanan Kini Kurt menggambil nafas serta mengeluarkan nya pelan-pelan, mengelus d**a berbarengan dengan ke-dua nya telah keluar, bebas dari lingkungan sekolah hanya tinggal menunggu jemputan "Dia memang begitu, hanya baik di depan guru-guru saja, bahkan nilai nya selalu bagus walaupun nakal" Kurt membalas perasaan tanya belum sempat di balas nya tadi saat dalam lingkungan sekolah. Rasa nya tak masuk akal, Anak itu terlihat baik jika di kelas bahkan diri nya tak melihat anak korban pembullyan ketika jam istirahat Sama sekali tak mendapat kan respon dari si pendek, Kurt menggoyang pundak agar anak itu kembali ke kesadaran nya biasa, " jangan heran begitu, beginilah susah nya nepotisme" Siapa yang nepotisme? " Apakah dia sepenting itu, memang dia anak nya salah satu donatur?" Ulang nya penasaran. Kurt menggeleng hingga rambut lurus nya ikut bergoyang, " bukan itu" jelas nya, "hampir mirip, hanya saja anak itu adalah anak dari orang berada di sini, orang tua nya adalah orang pintar dan di segani oleh orang makannya anak nya nakal banyak yang tutup mata, selagi dia mempunyai nilai tinggi dalam mata pelajaran" Edbret memandang marah tak lama ia tersadar diri nya pun tak berani untuk melawan. Asik menyelami pikiran masing-masing ke duanya tersadar oleh panggilan seseorang pada Kurt, ternyata Kurt sudah di susul ibu nya Seorang wanita berpakaian necis dari balik kemudi serta kaca mata hitam bertengger di batang hidung, rambut terurus dengan baik namun di Gelung rapi, tipe orang tua pekerjaan keras serta wanita karier, Edbret melambai tangan mengantar kepergian Kurt bersama ibu nya. Audi hitam Keluarga Kurt melaju menjauh dari sana " Kau kenapa ada di sini, tak lewat jalur depan kenapa" suara yang sumbernya berasal dari Yuline, gadis itu juga sudah pulang rupanya, dengan malas dan ogah-ogahan Edbret menimpalinya " Yah, ini kan bukan urusan mu" ketus nya Yuline memajukan bibir nya kesal, mendadak adik nya itu selalu berubah sikap dengan nya, mereka bak musuh, sebenar nya tak seburuk itu hanya seperti orang asing saja terlepas dari nama Stone sebagai nama marga keluarga mereka, kedua Stone sama-sama memiliki sifat keras kepala. " Kurasa kau harus belajar tata Krama, aku melihat kau dengan teman mu tadi bisa berbicara normal, ku kira hanya emeliy saja kau ingin bergaul" sindir nya dengan sarkas Apa dia mengikuti ku? Astaga kalau Kurt tau dia kakak ku pasti akan merepotkan, wanita seperti nya terlalu sulit di tangani Marah, kesal? Edbret lebih memilih tak mempedulikan kakak nya itu untuk sekarang, mereka lebih memilih jemputan mereka segera datang Ayolah, aku malas lama-lama di sini! Apa tak ada orang lain selain kita. Kepala Edbret memindai sekitar yang hanya di isi orang lalu lalang. Apa-apaan ini, suasana macam apa. Ya Tuhan kenapa ayah lama sekali. Yuline memainkan sepatu sneaker merah nya, menendang krikil kecil sekena nya Canggung sekali- Aku benci suasana Seperti sekarang- . Seorang gadis dengan kaca mata hitam serta rambut kepang nya nampak sedang asik menulis, duduk di anak tangga beranda rumah sama sekali tak akan menggangu suasana khitmad telah ia bangun walaupun jalanan terkadang menganggu pendengaran dengan suara bising kendaran. " Yuline" sapa seseorang ikut bergabung duduk, "kau sudah selsai menggambar" senyum gadis kecil mengembang menampilkan untaian kawat gigi memagari gigi putih nya Edbret hanya memasang wajah lesu, dia terlalu malas melanjutkan gambaran nya mood nya sedang buruk Wajah di tekuk Edbret terlalu mudah tersirat bagi nya, se-introvet apapun adik nya tetaplah menjadi sosok yang mudah terbaca. " Hey boy, kau tak menemukan inspirasi gambar mu?" Tak ada balasan dari lawan nya, Edbret malah menyamankan punggung pada dingin nya lantai rumah. " Cobalah kau Keluar dari kamar mu itu, kau jangan jadi tikus" Yuline memukul paha nya, " aku tak menemukan inspirasi di otak ku walaupun aku jalan ke bulan sekali pun" kukuh nya " Memang sudah kau coba" marah Yuline tetapi dia hanya bercanda Edbret berakhir tiduran menyamping, masa bodo dengan kaus kuning bergambar sponge Bob kesukaan nya akan terlihat kotor nanti, ada benda hebat di sebut mesin cuci kan? Apa guna nya. " Kau tak ingin bermain sana?" " Terlalu malas" " Kau tau tidak di rumah kosong sebelah sana ada penghuninya Sekarang" Edbret sontak berjingkat kaget melotot horror, "maksud mu, hantu" lirih nya. Yuline jika tak ingat adik nya itu terkadang bisa terlalu pemikir ia engan untuk mengusili dia, toh mereka hanya ber-dua saja, jika satu-satunya adik kesayangannya ngambek maka habis sudah ia di omeli ke-dua orang tua mereka " Bukan hantu, manusia biasa. Kalau tak salah kemarin aku ikut menyambangi keluarga itu bersama ibu, mereka punya anak perempuan nama nya emeliy, seusia mu mungkin kalian akan bersekolah di sekolah yang sama nanti nya"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN