Aku dan Yusuf menarik Maria menjauh dari pintu kosan Mas Ahmad. Mata gadis itu semakin melotot. Aku dan Yusuf didorongnya sampai terjatuh. Kembali gadis itu menggedor pintu kosan Mas Ahmad. Orang di dalamnya tetap tak membuka pintu. Aku dan Yusuf begadang lagi menghadapi dedemit ini. Sampai kapan seperti ini, aku sudah lelah.
Aku semakin yakin Mas Ahmad pelakunya atau menyembunyikan sesuatu. Aku dan Yusuf harus segera membuat Mas Ahmad buka mulut. Yusuf menarik lagi Maria, menyeretnya sampai depan kosan. Aku membuntuti mereka. Kali ini si demit tak banyak tingkah, ia menuruti Yusuf.
Duduk! perintah Yusuf.
Maria duduk di teras dan menunduk. Bu Safitri membawakan air minum untuk kami. Kemudian ia duduk di samping anaknya seraya mengusap punggung sang anak.
“Kami sudah lelah dengan kelakuanmu, tolong katakan! Maumu apa? cecar Yusuf, tergambar jelas di wajahnya rasa kesal dan lelah. Memang aku pun sudah lelah dengan gangguan si demit, mengganggu waktu istirahat kami.
Cepat, bentak Yusuf.
Si demit terus menunduk, lalu terisak. Isak tangisnya terdengar sangat menyayat hati, seperti tersakiti.
“Tolong, saya dibunuh! Saya mau pelakunya dihukum seberat-beratnya dan jasad saya dikubur dengan layak huhu, tangis si demit yang kemudian keluar dari tubuh Maria.
Kami bertiga bengong. Aku tak tahu bagaimana cara menemukan pelakunya, tak memiliki bukti.
“Siapa yang dibunuh? tanya Bu Safitri.
“Kami juga enggak tahu, Bu. Semenjak Agit tinggal di sini, sering diganggu dan akhirnya seperti ini, kata Yusuf.
Bu Safitri bergidik, wajahnya menggambarkan rasa iba. Lalu ia memberikan segelas air kepadanya anaknya. Sudah larut malam aku dan Yusuf pamit.
“Kita harus temukan jasadnya, Git. Kasian kunti itu, ucap Yusuf.
Tapi gimana caranya? tanyaku.
Yusuf bergeming. Ia mengurutkan dahinya. Sementara aku merebahkan diri, menatap langit-langit kamar, membayangkan Mas Ahmad sebagai pelakunya. Namun, ia selalu mengelak. Jalan satu-satunya kami harus memaksa Mas Ahmad untuk buka mulut. Rasa kantuk menguap begitu saja. Sepertinya malam ini aku tak akan tidur. Begitupun Yusuf yang malah mengetuk-ngetuk keramik cokelat.
“Kamu ngapain, sih? tanyaku heran.
“Coba kamu dengar saat keramik cokelat sama putih aku ketuk, suaranya beda, yang cokelat dalamnya seperti kosong, jelas laki-laki yang lebih tinggi dariku itu.
Segera aku memeriksanya, benar suaranya beda. Jangan-jangan ada sesuatu di dalamnya atau mungkin mayat perempuan itu dikubur di sini. Isi kepalaku membayangkan yang bukan-bukan. Aku bergidik kalau memang ada mayat di bawah keramik itu. Selama tinggal di sini berarti aku tinggal bersama mayat.
“Hhiii. Aku menggeleng seraya memejamkan mata.
Kenapa? tanya Yusuf memperhatikanku.
“Enggak, cuma ngebayangin aja kalau di bawah keramik ini ada mayat, ujarku.
“Kita bongkar saja, gimana? Orang ini asal saja kalau bicara.
Gila kamu, kalau beneran ada mayat gimana, Suf?
Yusuf seolah mendapatkan ide. Ia ingin membongkar keramik ini untuk menjawab pertanyaan yang ada di benak kami. Sebenarnya aku sangat penasaran, tetapi masa iya mau bongkar keramik ini.
“Kita jangan kasih tahu siapa-siapa. Kalau ada orang yang tahu, nanti malah menimbulkan pertanyaan, kata Yusuf, mengetuk-ngetuk lagi keramik-keramik itu.
Sepertinya anak ini benar-benar nekad. Aku masih gamang dengan ide temanku. Akan tetapi, kami harus segera mencari tahu pelaku pembunuh perempuan tersebut. Mungkin ide Yusuf untuk membongkar keramik bisa memberi kami petunjuk, tetapi bagaimana agar tak ada orang curiga? Pastinya membongkar keramik akan berisik. Lagi pula kami tidak punya alatnya semacam palu atau pahat.
“Aku besok enggak masuk kerja, ah, mau bongkar keramik ini saja. Itung-itung istirahat, enggak enak badan juga, ujar Yusuf.
Benar nekad ini orang sampai rela tak kerja hanya karena rasa penasarannya dengan isi keramik ini. Sepertinya aku juga izin saja, badanku rasanya tak karuan. Setiap malam begadang membuat badanku terasa lelah. Aku mau tidur seharian saja.
“Aku juga mau izin, mau istirahat seharian, ucapku sembari memeluk guling.
“Eeh, bantuin bongkar ini, Git, sergah Yusuf.
Aku tak mengindahkan temanku. Malam ini aku ingin istirahat, tidur nyenyak dan mimpi indah tanpa dedemit yang menggangu.
***
Azan Subuh berkumandang, aku segera bangkit ke kamar mandi. Mandi subuh membuat badan terasa lebih segar. Kulihat Yusuf masih terbaring di kasurnya. Aku membangunkannya untuk salat berjamaah.
Setelah salat Subuh, Yusuf membicarakan lagi rencana semalam. Ia sangat yakin akan membongkar keramik cokelat ini. Sejenak aku berpikir mempertimbangkan rencana Yusuf.
Daripada penasaran aku ikut sajalah membantu Yusuf, siapa tahu menemukan petunjuk di bawah keramik tersebut dan cepat menemukan pelaku pembunuhannya.
“Nanti aku coba pinjam alat buat bongkar keramik ini ke Toni, kata Yusuf.
“Oke, aku ke depan dulu cari sarapan, ujarku sambil berlalu.
Di luar aku memperhatikan sekeliling, menghirup udara pagi sedalam-dalamnya lalu mengembuskanya perlahan. Segar. Mataku tertuju ke pohon mangga, jambu dan pisang di kebun depan. Sejenak terbayang si demit perempuan berdiri di sana dengan wajah sedih dan meratap. Kasihan juga, mungkin ia ingin keadilan sampai-sampai jin qorin-nya menghantui kami para penghuni kosan.
Aku berjalan ke depan gang mencari makanan untuk mengisi perut pagi ini. Kulihat warung Bang Tio di seberang jalan. Aku segera menghampirinya.
Bang, sapaku.
“Eh, Git, balasnya seraya menyuruhku masuk.
“Kopi dua dibungkus ya, Bang.
“Siap, tunggu sebentar ya. Bang Tio segera membuatkan kopi pesananku.
Aku ingin menceritakan tentang kejadian di kosanku, tetapi ragu. Nanti sajalah kalau sudah jelas pelakunya.
“Ini kopinya. Eh, gimana di kosanmu? tanya Bang Tio, tangannya menyerahkan kopi kepadaku.
“Masih begitu, Bang, aku sama Yusuf harus cari pelaku pembunuhan demit itu, jelasku.
“Maaf aku enggak bisa bantu, tapi nanti coba aku cari tahu. Kalau ada informasi, kukabari, ucap Bang Tio menghela napas.
Aku mengangguk dan berlalu hendak membeli lontong sayur untuk sarapan. Setelah itu aku kembali ke kosan.
Bengkel Toni sudah buka belum? tanya Yusuf saat aku tiba di kosan.
“Belumlah ini masih pagi, sahutku membuka lontong sayur dan menyantapnya.
Aku merasa terjebak di sini, harus mencari tahu pelaku pembunuh perempuan itu. Sebenarnya bisa saja aku dan Yusuf pergi dari sini, tetapi ... ya sudahlah siapa tahu bisa membantu menemukan pelakunya.
Sekitar pukul sembilan Yusuf pergi ke bengkel Toni mengambil palu dan pahat. Ia sudah mengirim pesan kepada Toni agar membawa kedua alat tersebut.
“Kalian beneran mau bongkar keramik ini? tanya Toni yang ikut ke kosanku bersama Yusuf.
“Iya dong. Siapa tahu ada petunjuk, aku sudah lelah diganggu jin qorin perempuan yang dibunuh itu, ucap Yusuf.
Toni mengangguk dan berkata, Baiklah, aku ke bengkel dulu nanti siang aku ke sini lagi bantu kalian, ujar Toni pamit.
Yusuf mulai memahat garis-garis keramik cokelat tersebut. Sementara aku melihat dan menemaninya. Kami sepakat untuk bergantian memahat garis-garis keramik tersebut karena alat yang dibawa Toni hanya satu.
Suara pukulan palu terdengar menggema di dalam kosanku. Sebenarnya aku takut menimbulkan kecurigaan orang-orang. Apalagi kalau ada pemilik kosan lewat. Kalau Bu Safitri tak perlu dikhawatirkan, ia pasti mengerti apa yang kami lakukan.