Aku keluar sebentar, mengawasi keadaan sekitar, takutnya ada Bu Salmah atau Pak Sahya. Suara ketukan palu terdengar sampai keluar, semoga saja tidak menimbulkan kecurigaan orang yang lewat.
Git, lagi apa? tanya Bu Safitri yang tiba-tiba keluar.
“Eh, ini, Bu, lagi cari angin saja, jawabku sekenanya.
“Enggak kerja? Eh, berisik banget ya itu yang gedor-gedor, kata Bu Safitri.
“Enggak, Bu, sahutku, kemudian aku menghampiri ibu satu anak itu. Yusuf lagi bongkar keramik, Bu, siapa tahu ada petunjuk pelaku pembunuh itu, jelasku hati-hati.
“Astaghfirullah, kalian ini nekad banget. Bu Safitri menepuk pundakku.
Ibu enggak kerja? tanyaku.
“Enggak, lagi kurang sehat, Git,” balasnya.
Aku kembali ke kosanku setelah memberitahu Bu Safitri agar tak memberitahu siapa pun masalah pembongkaran keramik yang kami lakukan.
Sebenarnya Bu Safitri kurang setuju dengan apa yang kami lakukan, tetapi ia tak bisa melarang kami. Terlebih putrinya juga sering kerasukan kuntilanak itu. Ia hanya mendoakan apa yang kami lakukan menemukan titik terang.
Aku pun tak mengerti mengapa mau melakukan dan terperangkap dalam masalah ini. Sebenarnya bisa saja aku dan Yusuf pergi begitu saja dari sini, biar orang lain yang diganggu si kunti, tetapi pasti aku merasa sangat bersalah dan tak enak hati. Ditakutkan juga si kunti malah menghantui kemana pun aku pergi karena tak mau membantunya. Selain itu, rasa penasaranku mulai bergejolak apalagi dengan tingkah Mas Ahmad.
Aaahh, teriak Yusuf dari dalam, membuatku segera menghampirinya.
Ada apa? tanyaku dengan jantung berdebar, mengira Yusuf menemukan sesuatu.
“Keramiknya pecah satu, hehe, sahut Yusuf.
Aku menghela napas dan mencibir. Jantungku hampir loncat mendengar teriakannya tadi. Sudah dua keramik berhasil dibongkar Yusuf meskipun yang satunya pecah. Sekarang giliranku memahat garis keramik.
“Git, stop! perintah Yusuf saat tanganku baru mau memukulkan palu.
Perlahan Yusuf melangkah dan menutup pintu sambil mendaratkan telunjuk di bibirnya. Sepertinya ia tak ingin pintu yang ditutup sampai menimbulkan bunyi sedikit saja.
Ada apa? tanyaku heran.
“Ssstt. Kemudian Yusuf menutup gorden, tentu saja kamar menjadi gelap.
“Ada Pak Sahya. Kayanya mau lanjut bersihin kebun lagi. Kita berhenti dulu, kalau ia dengar dan tahu kita merusak kosannya bisa-bisa ngamuk. Yusuf kini duduk di sebelahku setelah menyalakan lampu.
Jantungku berdetak tak berirama, keringat dingin mulai membasahi dahi. Tanganku mendadak kebas, aku seperti sedang melakukan kesalahan yang takut tertangkap basah oleh orang lain.
Aku dan Yusuf sebisa mungkin tak menimbulkan suara sedikit pun. Kami berdua benar-benar membisu dan tak bergerak bagai patung. Tiba-tiba saja pintu kamarku diketuk seseorang. Aku terbelalak dan napasku seperti terhenti.
Yusuf mengisyaratkan agar kami tetap tak bersuara. Perlahan ia melangkah ke jendela, mengintip orang yang mengetuk pintu. Bulir bening sebesar biji jagung perlahan turun dari dahi Yusuf.
Yusuf mengendap-endap kembali duduk di sebelahku dan berkata, Pak Sahya.
Jantungku semakin berdegup kencang. Kami tetap diam agar Pak Sahya mengira tak ada orang di sini. Beberapa kali pintu diketuk dan akhirnya pria berkumis tebal itu pergi juga.
“Jangan-jangan Pak Sahya dengar di sini berisik, Suf, kataku mengira-ngira.
“Entahlah, semoga saja enggak. Sebentar aku coba intip lagi, bisik Yusuf kembali mengintip lewat jendela.
Gimana?
“Enggak ada, kukira ia mau lanjut bersihin kebun tapi malah ke sini dan sekarang pergi. Mau ngapain ya? Yusuf menautkan kedua alisnya seraya menghela napas.
Aku mengangkat bahu. Aku sempat berpikir untuk tidak melanjutkan membongkar keramik ini, tetapi malah semakin penasaran dengan isinya. Apalagi sudah dua keramik berhasil kami bongkar.
“Sudah lanjutin saja, nanti aku mengawasi di luar,” ujar Yusuf, bangkit mematikan lampu dan keluar. Tak lupa ia menutup pintu.
Dua puluh menit berlalu aku berhasil membongkar empat keramik lalu memanggil Yusuf. Aku mengunci pintu dan menyalakan lampu. Di bawah keramik masih ada pasir yang menutupi sesuatu. Aku dan Yusuf menyingkirkan pasir itu ke pinggir dengan tangan karena tak ada alat.
Jantungku kembali berdetak tak berirama. Aku dan Yusuf terperangah menyaksikan yang ada di bawah keramik ini. Kami beradu pandang untuk beberapa saat bahkan mulut Yusuf terbuka lebar. Ternyata bukan mayat perempuan seperti yang aku bayangkan selama ini. Ada banyak barang terkubur di sini. Sepertinya barang-barang ini sengaja dikubur.
Ini, Yusuf memberikan sarung tangan yang entah dari mana ia dapatkan.
Apa ini? tanyaku tak mengerti.
“Jangan biarkan sidik jarimu menempel di barang-barang ini. Kita enggak tahu semua ini milik siapa. Cerdas juga temanku ini.
“Kamu dapat sarung tangan ini dari mana?
“Dari tempat kerja, sudah enggak usah banyak nanya. Yusuf mulai mengambil dan melihat barang dari bawah satu per satu.
Aku pun melakukan hal yang sama dengan Yusuf. Ada beberapa baju perempuan, kaus, celana dan rok bahkan pakaian dalam perempuan. Kemudian ada satu tas punggung dan tas tangan. Aku membuka satu per satu tas tersebut, mengambil isinya. Ada sebuah dompet perempuan di tas tangan. Kubuka dompet tersebut ada tujuh lembar uang berwarna merah dan sebuah foto tersemat. Foto dua orang seperti suami istri, usianya sekitar setara dengan ibuku.
Saat aku sedang mengamati foto tersebut, istighfar Yusuf mengagetkanku. Tentu saja pandanganku langsung tertuju padanya. Temanku ini sedang memegang sebuah bingkai foto berukuran sedang, matanya terfokus ke benda yang ia pegang dan mulutnya menganga.
Iini, ucap Yusuf terbata, menunjuk bingkai tersebut.
Kenapa? tanyaku seraya menghampiri dan melihat bingkai yang dipegang temanku.
Foto seorang perempuan cantik mengenakan kemeja kotak-kotak biru putih. Rambutnya tergerai sebahu, kulitnya putih mulus, senyum merekah di bibir manisnya. Jauh lebih muda daripada foto di dompet. Mungkin foto di dompet itu orang tuanya.
Aku rasa barang-barang yang terkubur ini milik perempuan yang ada di foto. Banyak pertanyaan mulai muncul dalam benakku.
“Ini, Git, ini. Telunjuk Yusuf menunjuk-nunjuk perempuan di foto.
“Jangan-jangan ini foto si demit itu, tebakku.
“Iiya benar aku pernah mimpiin perempuan ini, Git. Sepertinya ia yang dibunuh, kata Yusuf.
Mungkin pembunuh itu sengaja mengubur semua barang perempuan ini untuk menghilangkan jejak, tetapi siapa pembunuhnya ya? Kalau bukan Mas Ahmad mungkin pacarnya, kurasa Mas Ahmad tahu tentang semua ini.
Aku harus segera menemui laki-laki itu dan memaksanya untuk menceritakan semuanya. Aku dan Yusuf membereskan semua barang dari bawah keramik. Kami sepakat untuk menemui Mas Ahmad sekarang juga.
Kalau di bawah sini cuma barang perempuan itu lalu di mana mayatnya dikubur? Kukira mayatnya ada di bawah sini, tetapi setidaknya kami menemukan petunjuk tentang perempuan itu.
Aku teringat sesuatu dan kembali memeriksa dompetnya. Ternyata benda yang aku cari ada di sana. Sebuah kartu identitas milik perempuan yang fotonya sama dengan yang di bingkai. Ternyata ia bernama Rosita dan alamatnya di Jawa Tengah. Sepertinya ia ke kota ini untuk bekerja.
Tiba-tiba saja suara ketukan pintu terdengar saat kami masih membereskan barang-barang ini. Sontak aku dan Yusuf mengalihkan pandangan ke arah pintu.