Penghuni Baru

1043 Kata
Kami bertiga menyantap makan malam dengan lahap. Kedua temanku masih saja mengejekku yang mengompol tadi. Lucu memang, tetapi menjengkelkan saja kalau mereka terus mengejekku. “Suf, kamu jadi ya pindah ke sini, bujukku, khawatir Yusuf tak jadi dengan niatnya pindah. “Iya, iya, Git, balasnya, membuatku senang dan tenang. Aku menonton acara komedi di televisi sedangkan Yusuf berbaring di lantai membaca komik. Sementara Toni kembali menonton video ceramah. Salut, Toni sepertinya benar-benar ingin belajar lebih baik lagi. Aku pasti mendukungnya. “Git, kosan ini lucu ya, ucap Yusuf sambil terkekeh. Aku dan Toni spontan menatapnya. Diganggu hantu, kok, lucu. Ada-ada saja Yusuf ini. “Diganggu hantu, kok, lucu, ujarku kembali menatap layar televisi. “Bukan. Coba lihat ini! Yusuf menunjuk keramik yang berada di bawah punggungnya seraya bangkit dan duduk. Memangnya kenapa? tanya Toni tak mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. “Ini keramik warnanya beda dari yang lain, yang lain putih semua, ini enam warnanya cokelat gini. Lucu, ucapnya sambil terbahak. Kemudian aku dan Toni memperhatikan keramik tersebut. Aku baru sadar memang keramik itu berbeda dari yang lain. Variasi itu, bagus, kata Toni yang melanjutkan nonton. “Masa variasi begini. Kalau variasi di tengah-tengah, dong, haha. Yusuf terbahak-bahak. Si Yusuf perkara keramik saja dibahas. Aku cuma menggeleng melihatnya tertawa renyah seperti itu. Tiba-tiba suara lengkingan terdengar dari luar. Yusuf yang sedang terbahak mendadak berhenti. “Astagfirullah tuh kuntil malah ngikutin aku ketawa,” ujar Yusuf, wajahnya berubah pucat dan mendekatiku. Aku dan Toni senyum-senyum melihat Yusuf yang ketakutan. Ia semakin menempelkan tubuhnya ke punggungku sambil terus mengumpat. Aku yang risih mencoba melepaskan diri. “Git, tiap malam kamu diganggu begini, iihhh ngeri, ucapnya bergidik, matanya memindai sekeliling kamar kosku. “Aku mengangguk. Aku dan Toni menyuruh Yusuf agar tak menghiraukan kuntilanak yang terus tertawa melengking. “Itu suara kuntilanak kayanya jauh gitu, Git, ucap Yusuf lagi, “katanya kalau terdengar jauh berarti ia dekat, hhiii, Yusuf semakin bergidik dan membenamkan wajahnya dipunggungku. Masa sih? Aku baru tahu kalau suara kuntilanak terdengar jauh ternyata kuntilanaknya dekat. Si Yusuf ada-ada saja. Tak banyak gangguan malam ini. Hanya suara kuntilanak dan pocong yang terlihat samar di dekat pohon pisang saja saat aku dan Yusuf keluar membeli makanan ringan. Semua itu membuat Yusuf ketakutan padahal sebelumnya ia berlagak berani. Aku cuma tertawa melihat tingkahnya saat bergaya seperti ustaz yang berdoa mengusir demit yang kemudian sembunyi di belakangku dan Toni saat suara kuntilanak terdengar lagi. *** Pagi ini aku berangkat kerja. Meninggalkan kedua temanku di kosan. Toni mau tutup bengkel hari ini. Ia mau membantu Yusuf pindahan ke kosanku. Yusuf pun bolos kerja. Aku membelikan mereka sarapan dulu sebelum berangkat. Aku benar-benar bersyukur Yusuf mau pindah ke sini. Sepertinya niatku untuk mencari kosan baru akan batal. “Git, berangkat kerja?” “Eh, iya, Mas, ucapku membalas pertanyaan Mas Ahmad. Aku bingung dengan Mas Ahmad, ia sepertinya betah saja sendiri jadi penghuni kosan di Gang Sempit. Kayanya ia tak pernah diganggu dedemit. “Mas, mau ke mana?” tanyaku basa-basi. “Cari sarapan, Git, sahutnya. “Mas, apa enggak pernah diganggu dedemit di kosan? tanyaku penasaran. “Sering, nantilah aku cerita. Main ke kosanku, kita ngopi, ucapnya seraya melambaikan tangan dan menyebrang. Aku tersenyum dan mengangguk. Menunggu angkutan yang akan membawaku ke tempat kerja. *** Sore ini langit terlihat mendung sekali. Awan terlihat hitam bersiap menurunkan butiran air ke bumi. Aku tiba di kosan sebelum hujan. Barang-barang di kamarku bertambah oleh barang-barang Yusuf. Alhamdulillah ia tak membatalkan kepindahannya. Jadi aku tak harus mengungsi ke warung Bang Tio atau menginap di tempat kerja. Toni pamit pulang. Ia tak menginap malam ini. Jadi tinggal aku berdua dengan Yusuf. Aku menyuruhnya cepat karena sepertinya rintik hujan mulai turun. Hujan turun sangat lebat. Untungnya Toni sudah pulang, semoga ia tak kehujanan di jalan. Angin berembus sangat kencang. Pohon-pohon di luar bergoyang cukup kuat. Yusuf menutup pintu agar air hujan tak masuk. “Astaghfirullah, ucap Yusuf menjauh dari ambang pintu. Sementara pintu masih terbuka. Ada apa? tanyaku menghampirinya. “Iitu. Yusuf menunjuk ke arah luar. Segera aku memeriksanya. Tak ada apa pun. Kemudian aku menutup pintu. “Enggak ada apa-apa, ucapku, berlalu ke kamar mandi. “Ada kuntilanak, Git, hhiii. Ikut neduh kali ya, ia enggak mau kehujanan, ujar Yusuf sambil nyengir melirikku. Si Yusuf kalau ngomong tak pernah disaring. Mana ada kuntilanak takut kehujanan. Aku membiarkannya mengoceh mengejek kuntilanak yang katanya ada di teras. *** Cukup lama hujan turun. Aku mengobrol dengan Yusuf sambil menikmati makanan ringan, membicarakan tentang Toni yang tak bisa mengaji. Ternyata Yusuf pun baru tahu. “Gini-gini aku anak ustaz, Git, ucapnya. Alah paling ia cuma membual saja. Masa anak ustaz pecicilan kaya Yusuf. Aku hanya tertawa mendengarnya. “Eh kamu jangan ketawa, aku beneran anak seorang ustaz. Bapakku guru ngaji di kampung, jelasnya memasang wajah serius. “Masa anak ustaz takut sama demit, haha, ledekku. “Ya jangan disangkutin gitu, dong, ucapnya nyengir sambil menaik turunkan alisnya. Ah, aku tetap tak percaya. Yusuf ini terkenal sering bercanda. Ia lebih banyak bercanda daripada bicara serius. Itulah yang membuat kami sebagai teman-teman jarang mempercayainya. Azan Magrib berkumandang, aku dan Yusuf salat berjamaah. Ia sebagai imamnya karena aku tak mau dan tak berani menjadi imam meskipun makmumnya cuma seorang dan itu temanku. Tak disangka suara Yusuf sangat merdu saat melantunkan surah Al-Fatihah dan surah pendek, membuat hati terasa tenang. Apa benar yang dikatakannya kalau ia anak ustaz? pikirku. Selesai salat hujan mulai mereda. Aku menanyainya tentang anak ustaz dan suaranya yang merdu. Ternyata ia meyakinkanku bahwa benar anak seorang ustaz. Sepertinya keluarga Yusuf adalah keluarga yang agamis dilihat dari foto-foto yang ditunjukkannya. Namun, Yusuf yang pecicilan dan suka bercanda membuat orang tak akan menyangka hal itu. Assalamualaikum, ucap suara perempuan di luar. “Astaghfirullah, si kuntil datang lagi, ucap Yusuf. “Hush, mana ada demit ngucap salam, ujarku, waalaikumussalam, imbuhku seraya membuka pintu. Seorang gadis berdiri di depan pintu membawa sepiring makanan. Cantik. Sepertinya usianya di bawahku. “Siapa, Git? Yusuf tiba-tiba ada di belakangku. “Ini dari Ibu. Kami baru pindah ke sini. Gadis itu menunjuk kosan di sebelah kosanku. “Oh, terima kasih, ucapku melempar senyum, begitu pun dengan laki-laki di belakangku tersenyum lebar melihat gadis di depan kami. “Saya Agit dan ini Yusuf, kataku memperkenalkan diri. Tiba-tiba gadis itu menunduk dan berkata, tolong, saya dibunuh.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN