Penghuni Baru 2

1102 Kata
Yusuf yang berada di belakangku meremas pundakku. Kami saling pandang saat aku menoleh ke belakang. Terkejut saat gadis di depan kami mengatakan dirinya dibunuh. “Git, itu orang apa setan? bisik Yusuf dengan suara bergetar. Napasku terasa sesak, melihat seorang gadis yang baru saja memberikan sepiring makanan tiba-tiba berkata dibunuh. Gadis itu terus menunduk. Tubuhku bergetar hebat. Aku hanya bisa menggeleng untuk menjawab pertanyaan Yusuf. “Manusia, Git, kata Yusuf menunjuk kaki gadis yang menapak ke tanah tersebut. Tiba-tiba gadis berambut sebahu tersebut terkulai pingsan di teras kosanku. Aku dan Yusuf panik, tak tahu harus berbuat apa. Mariaa, panggil seorang wanita paruh baya dari kosan sebelah. Ternyata kosan di sebelahku ada penghuninya. Aku tak tahu kapan kosan itu ditempati karena kemarin masih kosong. “Tadi ada yang pindah ke situ, ucap Yusuf sambil nyengir. Ibu cari siapa? tanyaku, masih membiarkan tubuh gadis pingsan di teras yang basah. “Maria, anak saya. Tadi saya suruh ngasih makanan ke situ. Oh iya saya Ibu Safitri baru pindah, ucapnya. Jadi, gadis yang pingsan ini anaknya si ibu itu. Aku dan Yusuf buru-buru menggotongnya ke kosan sebelah. Jantungku berdetak kencang, takut disalahkan oleh ibunya. “Loh, ini anak saya kenapa begini? tanyanya panik kemudian membantu merebahkannya di kasur milik mereka. “Kakami enggak tahu. Waktu ia ngasih makanan tiba-tiba berkata 'saya dibunuh' dan pingsan, jelasku dengan hati-hati. Ibu Safitri segera mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya ke hidung Maria, berharap anaknya segera sadar. Yusuf dengan sok tahu mengambilkan segelas air dari galon milik Bu Saftiri. Lalu, ia memberikannya kepada Bu Safitri yang langsung meneguknya. Yusuf melongo dan menggaruk kepalanya yang aku yakin tak gatal. Aku menahan tawa seraya mengipasi Maria yang masih pingsan. Aku tahu maksud Yusuf, segelas air yang diberikannya itu untuk Maria saat sadar nanti. Maria, bangun, Nak, ucap Bu Safitri mengusap pucuk kepala anaknya. Kasihan ibu dan anak ini baru juga pindah ke sini sudah diganggu si kuntil. Sepertinya gadis ini tadi kerasukan si kuntil. “Aduh, kepalaku sakit, ucap gadis bernama Maria yang baru saja siuman. “Ya udah, istirahat aja, Dek, ucapku, kami permisi dulu ya, Bu. Kalau ada apa-apa panggil aja kami, imbuhku kepada Bu Safitri. Bu Safitri mengiyakan sambil memberi segelas air minum kepada anaknya. Sementara itu, aku dan Yusuf kembali ke kosan. “Cantik juga ya gadis itu. Yusuf cengar-cengir, tangannya menyuapkan makanan ringan yang diberikan Maria tadi. “Lumayan. Kamu tadi dengar 'kan gadis itu bilang dibunuh? tanyaku yang langsung dijawab Yusuf dengan anggukan. “Aku rasa ia kesurupan tadi, ujar Yusuf, mulutnya penuh makanan. Aku dan Yusuf saling pandang. Kurasa perkiraan kami sama. Yusuf yang tiba-tiba menjentikkan jarinya membuatku terlonjak. “Jangan-jangan si kuntil yang suka ganggu kamu itu ngasih tahu kalau ia dibunuh, Git,” ucap Yusuf. Ya, aku juga memiliki perkiraan yang sama dengan Yusuf. Mungkin ia memang minta tolong dan memberitahu kami bahwa ia dibunuh, tetapi maksud dan tujuannya apa memberitahu kami apalagi dengan cara yang membuat kami ketakutan. Aku terus merenungkan semua perkataan si kuntil, selalu minta tolong dan terakhir ia bilang dibunuh. Malam semakin larut, hujan kembali turun membuat suasana malam semakin mencekam. Kulihat si kuntil di bawah pohon mangga berdiri seperti mengamati ke arah kosan kami. Aku yang sudah terbiasa dengan pemandangan ini, hanya bergidik melihatnya. Aku masih tak mengerti maksud demit perempuan itu minta tolong dan mengaku dirinya dibunuh. Jangan-jangan ia dibunuh dan gentayangan. Ah, mana ada orang mati gentayangan. Selama aku mengaji, guruku selalu bilang bahwa tak ada orang mati yang rohnya gentayangan seperti itu. Pasti ia jin yang hanya ingin menyesatkan kami kaum manusia. Yusuf sudah terkapar di kasurnya yang ia gelar tadi. Sementara aku masih belum ada tanda-tanda mengantuk menghampiri. Dengkur temanku sangat mengganggu pendengaran. Terpaksa aku menutup hidungnya dan membuat ia gelagapan, tetapi masih terlelap. “Tolong! Saya dibunuh, rintih si kuntil di depan jendela. Jantungku mulai berpacu lagi. Napasku seakan berhenti. Aku tak mengerti kenapa ia selalu datang dan menggangguku. Padahal semua kosan di sini sekarang terisi penuh. Aku mencoba tak menghiraukannya. Kututup telingaku dengan bantal sambil terus membaca ayat-ayat suci. Tak ada suara ribut-ribut dari sebelah, mungkin demit perempuan itu tak mengganggu mereka. Sebenarnya aku penasaran dengan si kuntil ini. Ia selalu menerorku dan minta tolong kepadaku juga. Aku masih tak mengerti dengan tujuannya. Kalau ingin menyesatkan, maaf Anda salah alamat. Bagaimanapun aku akan tetap ingat Allah. Suara pintu diketuk terus menerus. Jantungku semakin kencang berdetak. Sepertinya hujan pun semakin deras. Aku tak akan membuka pintunya. Aku yakin itu ulah demit perempuan itu lagi. “Permisi, tolong, suara perempuan dari luar yang terdengar sangat cemas. Aku membangunkan Yusuf, kemudian membuka pintu. Ternyata Bu Safitri yang berdiri di depan pintu basah kuyup. Yusuf yang baru terjaga bangkit dan berkata,Agit, kuntil. Ia segera berbalik dan membenamkan wajahnya di batal. Aku tersenyum dan menanyakan kedatangan Bu Safitri selarut ini. Kemudian Yusuf sudah berada di belakangku lagi setelah mendengar penjelasan Bu Safitri. Kami bergegas ke kosan Bu Saftri. Di sana Maria sedang duduk menyila dengan wajah tertunduk. Samar terlihat bibirnya menyeringai. Ternyata si kuntil tak kehabisan akal. Setelah kepanasan oleh ayat-ayat suci yang kulantunkan, ia lari ke kosan sebelah dan merasuki Maria lagi. “Sudah kubilang, aku dibunuh, tolong, ucapnya tetap dengan wajah yang menunduk. Aku dan Yusuf tak tahu harus berbuat dan berkata apa. Sementara Bu Safitri terlihat panik. Ia ingin mendekati anaknya, tetapi selalu ditepis. “Maria memang sering kesurupan. Ia gampang sekali dirasuki. Kami pindah dari kontrakan lama karena di sana selalu diganggu. Eh, di sini, kok, malah lebih seram. Baru juga malam pertama anak saya sudah diganggu begini, jelas Bu Safitri. Aku dan Yusuf saling pandang. Kami jadi iba kepada Bu Safitri dan anaknya. Kasihan sekali mereka. “Wahai kau yang sedang merasuki tubuh gadis ini, tolong keluarlah, ucap Yusuf tiba-tiba membuatku dan Bu Safitri melongo. “Hiiihiii, aku tak akan keluar sebelum kalian menolongku, sahut demit yang sedang merasuki Maria. Sebenarnya aku ingin tertawa melihat kelakuan temanku, tetapi aku tahan dan menghentikan Yusuf saat ia akan bicara lagi. “Kakami akan menolongmu, tapi tolong keluarlah. Kalau tidak kami akan usir kamu dengan ayat-ayat suci Al-Qur'an," ancamku dengan takut-takut. Demit itu malah tertawa dan terkadang meratap. Kemudian ia mulai teriak-teriak dan menjambak rambut Maria. Kami bertiga mencoba menenangkan meskipun takut, tetapi kasihan tubuh Marian pasti akan kelelahan nanti. Aku dan Yusuf membaca ayat kursi membuat si kuntil yang masih berada di tubuh Maria semakin histeris. Kami terus mencoba mengeluarkannya dengan terus membaca ayat suci meskipun ini kali pertama kami berhadapan dengan orang kesurupan. Tiba-tiba saja Maria tersadar mungkin demit itu kepanasan lagi. Sebenarnya aku hanya asal bicara saja tadi. Bagaimana kalau si kuntil menagihku untuk menolongnya. Aku tak tahu harus berbuat apa? batinku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN