Pemandian Jenazah

1036 Kata
Kejadian semalam membuat aku dan Yusuf lelah. Pangalaman pertamaku menghadapi orang kesurupan. Aku cuma pernah lihat saja sebelumnya, tak pernah menangani seperti semalam. “Semalam itu pengalaman pertamaku menghadapi orang kesurupan, Git, hahah, ujar Yusuf, mulutnya penuh makanan. “Sama aku juga baru pertama kali menghadapi orang kesurupan," balasku yang sedang sarapan juga. Lucu ya kita, ucap Yusuf. “Lucu apanya? tanyaku heran. “Ya lucu aja. Baru pertama kali nanganin orang kesurupan, sok berani padahal kita sendiri takut, hahaha, sahutnya. Aku hanya tersenyum lalu menghabiskan sisa sarapanku. Aku dan Yusuf segera berangkat kerja setelah selesai bersiap-siap. Kami berjalan menuju jalan raya bersama. “Bang. Tiba-tiba Maria mengagetkan aku dan Yusuf dari belakang. Sepertinya ia mau berangkat sekolah. “Astaghfirullah, ucap Yusuf, sebelah tangannya mengelus d**a. Maria yang berada di antara kami tersenyum. Gadis ini ternyata manis juga, tetapi buatku kalau sering kerasukan ngeri juga. “Bang, di sini banyak hantunya, ya, ucap gadis berambut sebahu itu, kedua tangannya ia letakkan di bahuku dan Yusuf. “Maksudmu?” tanyaku pura-pura tak tahu. Aku mengedipkan mata kepada Yusuf, memberi kode agar ia tak mengatakan apa pun yang sudah terjadi. Aku khawatir gadis ini jadi ketakutan. Yusuf cuma nyengir. “Iya, di sini tuh banyak hantunya, Bang. Oh iya, Abang tahu kunti yang merasuki semalam? Ia itu jin qorin perempuan yang dibunuh, ucap Maria membuatku dan Yusuf kaget. “Hah, kok, kamu tahu?” tanyaku yang berhenti mendadak. “Ya tahu lah, Bang. Orang ia bilang sendiri, sahut Maria. “Kamu bisa lihat hantu? tanya Yusuf, membeliak. Maria hanya tersenyum. Lalu ia berlalu sambil melambaikan tangan. Aku dan Yusuf beradu pandang. Sepertinya Maria seorang indigo. *** Saat pulang kerja aku mampir ke warung Bang Tio, memesan kopi. Sepertinya masalah baru mulai muncul di kosan. Aku masih terngiang-ngiang ucapan Maria pagi tadi. “Kenapa, Git? tanya Bang Tio, menyodorkan segelas kopi hitam di depanku. “Bang, aku mau tanya, boleh? “Tanya aja, Git. Pakai nanya boleh apa enggak dulu, ucapnya sambil terkekeh. “Sebenarnya pernah ada kejadian pembunuhan enggak, sih, Bang, di dekat kosanku? tanyaku menatap serius Bang Tio. “Pembunuhan? Enggak pernah dengar, Git. Memangnya kenapa? Bang Tio malah nanya balik. Aku menjelaskan kepada Bang Tio semua yang sudah terjadi sampai kesurupan Maria pun aku ceritakan. Bang Tio terlonjak mendengar semua ceritaku. Selama ia tinggal di sini tak pernah mendengar ada pembunuhan seorang perempuan. Aku rasa pembunuhan ini tak diketahui siapa pun. “Dulu ada perempuan yang kos di tempatmu, Git. Ia suka beli kopi dan makanan ringan ke warung Abang, tapi aku enggak tahu siapa namanya dan sudah lama sekali enggak ke sini lagi. Mungkin sudah pindah, jelas Bang Tio. Jangan-jangan perempuan yang kos di kamarku sekarang yang sudah dibunuh, tetapi siapa pembunuhnya. Aku merasa terjebak dengan semua ini. Segera aku pamit pulang setelah menghabiskan sisa kopi di gelasku. Tak lupa membeli beberapa makanan ringan. Aku melangkah menyusuri Gang Sempit menuju kosanku. Perlahan mataku memindai gang tersebut. Ya, gang ini cukup menyeramkan kalau diperhatikan. Sepertinya memang daerah sini angker. Selain perempuan itu mungkin masih banyak lagi dedemit penunggu di sini. Apalagi di kebun depan kosanku. Aku menghela napas panjang. Tak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Dimintai tolong oleh dedemit, tetapi aku tak tahu harus berbuat apa. Agit, panggil Mas Ahmad sedang berdiri di depan kosanku. Eh, Mas, sahutku sambil tersenyum. Baru pulang kerja? tanyanya. Iya, Mas. Mas, dari mana? tanyaku melihat bungkusan di tangannya. “Ini abis beli makan, Git. Ayo, main ke tempatku, ajaknya. Aku mengikuti Mas Ahmad ke kosannya. Bermain-main sebentar bolehlah ya, lagi pula Yusuf juga belum pulang. Saat tiba di kosan Mas Ahmad mataku menangkap sesuatu benda yang menurutku tak enak saja dipandang dan membuat bulu kuduk merinding. “Gimana, Git, masih suka diganggu makhluk di sini? tanyanya seraya menyuruhku masuk. “Masih, Mas. Semalam saja penghuni baru di sebelahku anaknya kesurupan. Aku duduk di dalam kosan Mas Ahmad yang sedikit lebih besar dari kosanku. Kosan Mas Ahmad tak selembap dan seseram kosanku. Di sini lebih terang dan cukup nyaman menurutku meskipun ada sedikit hawa merinding. Sudut mataku masih terus fokus ke benda yang berada di teras kosan Mas Ahmad. Aneh, benda seperti itu dijadikan hiasan. Ingin aku menanyakan kepada Mas Ahmad, tetapi ada hal yang lebih penting yang harus kuceritakan. “Mas, semalam anak yang kos di sebelahku itu kesurupan sampai dua kali, kasihan. Oh iya, kunti yang suka ganggu aku itu masuk ke tubuh gadis itu dan bilang kalau ia dibunuh. Aku ceritakan semua yang terjadi semalam. Ah, masa, Git? tanyanya. “Iya, Mas. Kira-kira, Mas tahu enggak ada kejadian pembunuhan di sini? tanyaku. “Hah, eh, aku engenggak tahu, Git. Lagi pula aku di sini baru enam bulan 'kan. Mungkin sebelum aku ke sini. ucapnya sedikit gugup. Gelagat Mas Ahmad menjadi aneh. Ia seperti salah tingkah. Kemudian ia mengambilkan segelas air putih untukku. Aku hanya mengangguk mendengar jawaban Mas Ahmad. “Apa Mas Ahmad enggak pernah diganggu? tanyaku. “Sering, Git, tapi ya sebisa mungkin aku berdoa saja agar dedemit di sini pergi, ucapnya. Aku kembali mengangguk. Ternyata memang bukan cuma aku saja yang jadi sasaran. Mungkin si kuntil memang minta bantuan kepada siapa pun yang tinggal di kosan ini. “Oh iya, kunti itu juga minta tolong tapi enggak tahu minta tolong apa. Ia cuma bilang tolong saya dibunuh. Kira-kira apa maksudnya ya, Mas? “Ah, masa sih, Git. Mungkin iseng aja kali, mau nakut-nakutin, sahut Mas Ahmad. Mungkin juga sih, tetapi masa sampai berkali-kali ia minta tolong seperti itu. Aku memutuskan untuk tak membahas dulu soal demit perempuan ini. Sepertinya Mas Ahmad kurang suka dengar cerita ini. Aku pamit pulang, sudah azan Magrib. Yusuf ternyata sudah pulang. Ia sedang melahap nasi bungkus sambil nyengir melihatku datang. “Suf, aku abis dari tempat Mas Ahmad. Aku cerita kejadian semalam, tapi ia kaya enggak mau bahas gitu deh. Jadi kaya salah tingkah juga, jelasku kepada Yusuf. “Mungkin Mas Ahmad takut kali, Git, timpal Yusuf. Iya juga sih, mungkin ia takut makanya tak ingin membahas hal-hal seperti itu, tetapi waktu itu ia yang memberitahuku agar tak takut dengan dedemit. “Oh iya, masa di teras kosannya ada pemandian jenazah, Suf. Dipakai buat ikan hias pula, ucapku menatap Yusuf. “Hah, masa sih? Orang aneh hhiii, sahut Yusuf bergidik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN