Kau!

1117 Kata
“Ada-ada aja tuh orang pemandian jenazah dipakai buat ikan hias. Jangan-jangan si Kunti minta tolong karena pernah dimandiin di situ dan enggak rela pemandiannya dijadiin buat ikan hias, ucap Yusuf seenaknya. “Ah, kamu yang ada-ada aja. Mungkin pemandian itu sudah enggak dipakai, Suf. Aku menimpali tanpa meliriknya. Perasaanku tak enak tentang Mas Ahmad. Masih menjadi tanda tanya besar kenapa ia salah tingkah saat aku menceritakan Maria yang kesurupan. Selepas salat Magrib aku dan Yusuf bermain ludo di ponselku. Aku tak ingin terus memikirkan semua yang terjadi untuk saat ini. Lelah sekali setiap saat diganggu dedemit di sini. Terlebih lagi sekarang muncul masalah baru. Aku dan Yusuf tertawa lepas saat pion ludo kami saling mendahului. Aku menghela napas panjang. Rasanya sudah lama aku tak tertawa lepas seperti ini. Hari-hariku hanya diwarnai ketegangan dan ketakutan semenjak kos di sini. “Git, kamu kepikiran enggak si kuntil minta tolong apa ya? Tiba-tiba Yusuf bertanya, jarinya menyentuh dadu di layar poselku. Aku diam sejenak memperhatikan dadu Yusuf yang memunculkan lima titik. Pion Yusuf melangkah lima kali. Pikiranku kembali melayang memikirkan semua yang sudah terjadi. Temanku ini sungguh keterlaluan. Baru saja aku melupakan semua kejadian di kosan ini malah nyeletuk nanya seperti itu. Rasanya aku ingin melupakan saja semuanya dan tak ingin terlibat dengan urusan si demit perempuan itu. “Eeh, malah bengong bukannya jawab. Tangan Yusuf menepuk pundakku, membuat aku terlonjak. “Udah, ah, enggak usah dibahas dulu.” Tanganku mengambil makanan ringan dari dalam plastik. Yusuf memonyongkan bibirnya. Kedua alisnya terangkat sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lama-lama bibirnya berubah tersenyum dan ternyata satu pionnya sudah mencapai finis duluan. Yusuf mengakhiri permainan ludo kami meskipun sebenarnya belum berakhir, tetapi ia bosan katanya. Aku pun merasa sudah tak bersemangat bermain lagi setelah temanku yang masih mengenakan sarung kotak-kotak hijau itu membahas lagi dedemit. Azan Isya berkumandang, kami menunaikan salat Isya berjamaah. Yusuf sebagai imamnya karena suaranya sangat merdu saat melantunkan ayat suci Al-Qur'an, membuat hati terasa tenang. Selepas salat Isya, Yusuf menyambar gitar yang menggantung di dinding belakang pintu. Gitar yang sudah lama tak kumainkan. Boro-boro main gitar dan nyanyi-nyanyi, yang ada ingin lari dari sini setiap kali diganggu dedemit. Sampai-sampai aku harus begadang di warung Bang Tio beberapa malam. Yusuf keluar kosan. Ia memetik senar-senar gitar sambil bernyanyi. Suaranya memang merdu, setiap kali bernyanyi selama kami kumpul-kumpul di kosan lama. Namun, aku tak menyangka suara Yusuf lebih merdu saat membaca ayat suci. Pintu terbuka lebar memamerkan isi kosan. Televisi kunyalakan. Aku merebahkan diri di kasur busa, istirahat untuk sejenak. Kupejamkan mata sesaat, tetapi indera pendengaranku masih berfungsi. “Dari mana, Mas? Suara Yusuf tiba-tiba berhenti bernyanyi. Bicara sama siapa tuh anak, batinku membuka mata. “Dari depan, sahut lawan bicara Yusuf. Aku bangkit dan menghampiri mereka ke luar. Ternyata Mas Ahmad yang ditanya Yusuf. Mas Ahmad duduk di teras. Ia menyuruh Yusuf memainkan gitar lagi. Mereka berdua bernyanyi bersama. Aku berdiri di ambang pintu, tersenyum sambil mendengarkan mereka berdua bernyanyi. Merdu juga suara tetangga kosanku ini. Kami bertepuk tangan setelah lagu selesai. “Mas, kata Agit, Mas naro ikan hias di pemandian jenazah, ya? Ngeri banget, sih, Mas, cetus Yusuf seenaknya. Astaga, nih, anak lemes banget mulutnya, batinku kesal. Maksudku tak usah ia tanyakan ke Mas Ahmad. Cukup tahu saja dulu dari ceritaku. Memang ini anak benar-benar tak bisa menjaga mulutnya. Mas Ahmad melirikku dengan tak enak. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Ingin rasanya aku sumpal mulut temanku itu pakai baju si kuntil. “Iya, itu udah enggak dipakai. Daripada terbengkalai, aku manfaatin aja,” timpal Mas Ahmad. Kami bertiga berbincang hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Mas Ahmad selalu salah tingkah dan mengalihkan pembicaraan saat aku atau Yusuf menceritakan Maria yang kesurupan. “Eh, rame ternyata di luar, sapa Bu Safitri yang baru saja membuka pintu. Disusul putrinya yang melempar senyum kepada kami. Iya, Bu. Maaf keganggu ya, ucapku. “Enggak, malah seneng rame begini, timpalnya. Eh, itu siapa? tanyanya menunjuk Mas Ahmad. “Ahmad, Bu, tinggal di belakang kosan yang Ibu tempati, sahutnya dengan senyum sedikit dipaksakan. “Oh, tetangga juga ternyata. Baru lihat saya, ujar Bu Safitri tanpa memudarkan senyum yang tersungging di bibirnya. “Mas Ahmad kerja, Bu, dan jarang keluar, ucapku yang dibalas anggukan Mas Ahmad. Kulihat Yusuf mencuri pandang sambil memamerkan gigi-giginya kepada Maria yang berdiri di samping ibunya. Lelaki genit memang si Yusuf ini. Bu Safitri dan Maria duduk di teras kosan mereka. Mungkin mereka pun merasa seperti ada teman kalau ramai seperti ini. Setidaknya bisa mengusir rasa ketakutan. Belum istirahat, Bu? tanyaku. “Belum, enggak bisa tidur banyak nyamuk,” balas Bu Safitri. Aku mengangguk tanda setuju. Memang lumayan banyak nyamuk, mungkin karena di depan kosan kami ini ada kebun. Tak lama kemudian Mas Ahmad hendak pamit karena sudah malam. Tiba-tiba Maria yang tadinya duduk di samping Bu Safitri kini berada tepat di hadapan Mas Ahmad sambil merentangkan kedua tangannya. “Hah, kok, tiba-tiba ia di sini, ucap Yusuf melotot melihat gadis yang masih SMA itu. Maria menyeringai dengan sorot mata tajam memandang Mas Ahmad yang berdiri di hadapannya dengan wajah yang tegang. “Loh, Maria, kamu ngapain di situ? Sini!” perintah Bu Safitri yang sekarang berdiri. Diam! bentak putrinya dengan tegas. Suaranya berubah menjadi lebih berat, seperti bukan suaranya. Bu Safitri beristighfar karena terkejut. Aku dan Yusuf pun kaget mendengarnya. “Permisi. Mas Ahmad melangkah, tetapi dihalangi oleh Maria. Tiba-tiba saja Maria mencekik leher Mas Ahmad. Ia menggeram, urat-urat di matanya memerah dan melotot seperti mau loncat. Aku dan Yusuf langsung membantu Mas Ahmad. Yusuf memegangi tangan Maria. Ia mencoba melepaskan tangan gadis itu, tetapi sepertinya cengkramannya cukup kuat. Aku pun membantu Yusuf sedangkan Bu Safitri berteriak minta tolong yang aku yakin tak akan ada yang mendengar. Tubuh Mas Ahmad terdorong hingga ke lantai. Ia terlentang dengan kedua tangan memegang tangan Maria. Wajahnya sudah pucat, sepertinya ia mulai kehabisan oksigen. “Kau! Suara Maria menggeram, berat. Gimana ini, Git? tanya Yusuf yang masih berusaha melepaskan cengkraman tangan Maria dari leher Mas Ahmad. “Tak tahu, ayo, bantu saja Mas Ahmad, ujarku. Wajah Mas Ahmad semakin pucat. Cengkraman tangan Maria malah semakin erat. Aku dan Yusuf terus berusaha melepaskannya sambil membaca ayat kursi dan surah An-Nas. Kalau cengkraman tangan Maria tak bisa dilepaskan, bisa-bisa Mas Ahmad kehilangan nyawa. Sementara Bu Safitri masih teriak minta tolong. “Kerasukan lagi kayanya ini anak, bisik Yusuf, aku hanya mengangguk. Kami terus melafalkan ayat kursi. Akhirnya, Maria terkulai dan pingsan di atas tubuh Mas Ahmad. Kami memapahnya ke dalam kosan Bu Safitri. Kini Bu Safitri mencoba menyadarkan anaknya yang sudah terbaring di kasur. Kami kembali ke luar, melihat keadaan Mas Ahmad yang kini duduk sambil memegangi lehernya. Ia batuk-batuk. Aku mengambilkan segelas air minum yang langsung ditenggaknya. Yusuf menepuk-nepuk bahu laki-laki berjenggot tipis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN