Laki-laki Misterius 3

1072 Kata
“Bangun, Ton! Ayo, sarapan tapi cuci muka dulu sana. Aku menggoyangkan tubuh Toni yang masih terkapar di kasur. Iyaa, ucap Toni seraya menggeliat bak cacing kepanasan. Toni beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Udara cukup dingin pagi ini. Aku masih memikirkan laki-laki yang beberapa kali berdiri di depan kosan ini. Setiap ingin menanyakan kepada Bang Tio selalu lupa. Coba nanti kutanyakan ke Toni, barangkali ia tahu. Gangguan tadi malam itu benar-benar membuatku ketakutan. Untung ada Toni, tak terbayangkan kalau aku sendirian. Hari ini aku berencana untuk mencari kos baru. Sepertinya aku tak akan bertahan kalau terus di sini. “Ini sarapan dulu. Kuberikan sebungkus nasi uduk kepada Toni yang wajahnya masih basah. Terima kasih, ucap Toni, membuka bungkusannya. “Ton, tadi malam kamu ingat enggak ada yang gandeng tangan kamu? tanyaku yang sedang menikmati nasi uduk. “Iyalah ingat, ih, serem. Ada hantu bayangan pula. “Nah, aku lihat ada tangan hitam keriput, jari dan kukunya runcing yang gandeng lenganmu, kataku. Toni terkejut mendengar ceritaku. Semua aku ceritakan kepada Toni yang ia tak tahu. Aku juga bilang alasan tak langsung memberitahunya semalam, aku khawatir ia tambah ketakutan. Ah, benar saja ia memang ketakutan setelah aku cerita. “Udahlah, Git, kamu pindah kosan aja, ucap Toni. Lagi pula aku enggak bisa setiap malam menginap nemenin kamu, imbuhnya. Benar juga, Toni tak mungkin setiap malam menginap. Ia juga punya keluarga. Ah sudahlah memang aku harus pindah dari sini kalau mau tenang. Namun, terbayang lagi separuh uang sewa yang akan melayang begitu saja. Hatiku mencelos membayangkannya, tetapi biarlah daripada terus menerus diteror demit. “Oh iya, Ton, sudah berkali-kali aku lihat ada laki-laki berdiri di depan sana. Aku menunjuk ke depan. Kukira demit juga, tapi kayanya manusia deh, imbuhku. Laki-laki? “Iya, kamu tahu enggak itu siapa? tanyaku. “Laki-laki yang mana? Enggak tahu, ah, ucapnya, seperti malas membahas hal-hal misterius. “Kamu tiap hari di sini serba enggak tahu, ungkapku. Ia diam saja malah menyantap nasi uduk yang sudah kubeli. Sepertinya lapar sekali temanku satu ini setelah semalam menghadapi para demit. Ah, setiap aku tanya tentang laki-laki itu, Toni selalu bilang tak tahu. Ia memang serba tak tahu, tahunya cuma di bengkel saja. Sudah cukup siang, Toni pamit pulang. Katanya mau libur buka bengkel dulu hari ini. Aku pun masih libur. Mau ikut Toni, tak enak juga. Biarlah aku di kosan ini sendirian sambil menunggu laki-laki mencurigakan itu. Sepeninggal Toni aku beres-beres dan mandi. Setelah itu aku bersantai sambil nonton televisi. Hampir saja lupa hari ini aku mau nyari kosan baru. Segera aku bersiap. Berkeliling berjalan sekitar sini. Hampir semua kosan yang kutemui penuh. Ada beberapa yang kosong, tetapi harga sewanya lumayan. Memang fasilitasnya juga bagus, sudah ada kasur dan lemari, kamar mandinya juga bersih bahkan ada beberapa yang dipasang AC. Pastinya sangat nyaman dengan fasilitas seperti itu, tetapi gajiku akan habis hanya untuk membayar sewa kosan. Lagi pula lebih baik aku kirim ke orang tua di kampung daripada untuk bayar sewa kos. Kosan yang biasa saja sudah cukup bagiku. Seperti kosan berhantu itu sebenarnya sudah cukup, andai tak berhantu aku cukup betah di sana. Seharian mencari tempat baru membuatku lelah juga. Nanti sajalah kapan-kapan aku lanjutkan. Besok aku kerja lagi. Sebelum kembali ke kosan aku membeli nasi bungkus dulu agar tak keluar lagi, lelah sekali rasanya. Perutku juga lapar sekali. Setelah membeli nasi bungkus, Bang Tio memanggilku. Namun, aku hanya melambai. Aku sudah ingin cepat-cepat merebahkan tubuh. Nanti sajalah aku main ke warungnya. Saat aku sedang memutar kunci pintu, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Sontak aku kaget dibuatnya dan langsung membalik badan. Laki-laki itu, laki-laki misterius yang selalu kulihat. Laki-laki yang membuatku penasaran. Ternyata ia manusia dan sedang berdiri di hadapanku sekarang. Assalamualaikum, ucapnya lembut, suaranya khas seperti santri. “Wawaalaikumussalam, sahutku gugup. Ia yang berkali-kali berdiri di depan kosku sekarang benar-benar beradu pandang denganku. Antara panasaran dan takut menghadapinya. Aku takut ia berbuat jahat, tetapi masa mau berbuat jahat mengucap salam. Kupandangi ia dari ujung kaki sampai kepala. Aku perkirakan ia lebih tua dariku. Wajahnya cukup tampan dan berjenggot tipis. “Kenalin saya Ahmad, ungkapnya. “Oh iya, Mas, saya Agit,” balasku memperkenalkan diri. Tiba-tiba rasa laparku hilang berganti penasaran dengan laki-laki di depanku ini. Berkali-kali ia menampakkan diri dan sekarang berani menghampiri. “Kamu baru ya tinggal di kosan ini. Mas Ahmad menunjuk kamar kosku yang masih tertutup. Iya, Mas, baru seminggu.” Aku jadi gugup dan kehilangan kata-kata padahal ada beberapa hal yang ingin kutanyakan. “Saya tinggal di kosan sana. Ia menunjuk kosan yang menghadap ke barat. Oh, ternyata kosan itu ada penghuninya. Kukira kosong juga, tetapi memang terlihat lebih terawat, sih. Berarti selama seminggu ini aku tak sendiri. Akan tetapi, tetap saja aku akan merasa seperti sendiri karena kami terhalang satu pintu kosan di sebelah kamarku. “Kalau kamu dengar cerita orang kalau kosan ini berhantu, enggak usah didengar. Biarin aja!” cetusnya tiba-tiba. “Maksudnya, Mas? tanyaku. “Pasti banyak orang yang bilang kosan ini berhantu. Enggak usah kamu dengar. Setiap tempat yang kita tinggali pasti ada makhluk lain juga. Hidup masing-masing aja,” jelasnya. Bagaimana bisa aku hidup masing-masing dengan makhluk astral yang ada di sini sedangkan mereka, terutama si kuntil terus saja mengganggu setiap malam. Memangnya, Mas Ahmad sering ada yang mengganggu? tanyaku penasaran. Menurutnya, ia juga pernah beberapa kali diganggu, tetapi lama-lama jadi terbiasa. Cuma Mas Ahmad ini yang bertahan cukup lama di kosan ini, sekitar enam bulanan. Selama ia tinggal di sini tak ada satu pun yang bertahan lama menghuni kosan ini. Sama persis dengan yang diceritakan Bang Tio. “Kalau kamu pindah berarti kamu sudah kalah oleh makhluk hina seperti mereka. Padahal sebagai manusia kita makhluk paling mulia, katanya seperti menahanku untuk pindah setelah aku ceritakan mengalami gangguan setiap malam dan hendak pindah. Mereka akan menertawakan imanmu, Git, tambahnya lagi. Aduh, Mas Ahmad ini bawa-bawa masalah iman segala. Padahal kami baru saling kenal beberapa menit lalu, tetapi perkataannya cukup menyinggung. “Maaf, aku tak bermaksud menyinggung hanya menyemangati agar kamu meyakini kita sebagai manusia enggak usah takut dengan makhluk seperti mereka yang hanya akan menyesatkan, ucapnya seperti bisa membaca pikiranku saja. Semua yang dikatakan Mas Ahmad ada benarnya juga. Kalau aku pindah dari sini imanku dipertaruhkan. Aku yang salatnya masih bolong-bolong, ngajinya jarang-jarang, puasa pun kadang bolong beberapa hari dalam sebulan, tetapi aku masih meyakini Allah selalu ada untuk hamba-Nya. Namun, gangguan yang terjadi kadang membuat nyaliku ciut apalagi setelah kejadian semalam. Tekadku yang sudah bulat untuk pindah kini ragu lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN