Siapa yang Lewat?

1032 Kata
Aku tak tahu maksud Mas Ahmad berkata seperti itu. Ia seperti menghalangiku untuk pindah. Mungkin agar ia tak sendirian lagi di sini meskipun beda kamar, tetapi setidaknya ada teman. Sebenarnya aku nyaman di kosan ini kalau saja tak ada gangguan sangat dekat ke tempat kerja, tak perlu berangkat Subuh. Aku cukup tenang karena Mas Ahmad juga penghuni di kosan ini. Ternyata aku tak sendiri. Niat untuk pindah kosan sepertinya kuurungkan. Aku akan coba seminggu lagi di sini. Kalau tak bisa bertahan juga, aku benar-benar akan pindah. Ponselku berbunyi saat sedang menyantap nasi bungkus. Ternyata dari Yusuf. [Git, di kosan sama siapa?] tanya Yusuf. [Sendiri. Toni enggak tahu nginap lagi atau enggak.] [Oh, boleh enggak aku nginap di sana?] tanyanya lagi, mataku langsung berbinar membaca pesan ini. [Yang bener? Boleh banget,] balasku dengan sangat senang hati. [Oke, thanks. Nanti habis Magrib aku ke situ, ya.] [Siap, ditunggu.] Akhirnya, aku ada teman juga malam ini meskipun nanti malam Toni tak menginap lagi tak apa, ada Yusuf yang menemani. *** Suara pintu diketuk saat aku sedang salat Magrib rakaat terakhir. Bulu kudukku mulai meremang. Salat pun mulai tak khusyuk, tetapi aku tak ingin membatalkan salat yang sebentar lagi selesai. Jantung bertedak cepat kala ketukan pintu terus terdengar. Dengan sekuat tenaga aku bertahan. Saat akan mengucap salam untuk mengakhiri salatku, terdengar suara memanggil namaku dari luar. Agit, buka pintunya, kata suara dari luar. Seperti suara Toni, segera aku mengakhiri salat dan langsung membuka pintu. Kukira si demit perempuan mengganggu lagi ternyata Toni yang datang. “Kukira kamu enggak mau nginap lagi, Ton, ucapku, membereskan sajadah dan sarung. “Aku sudah janji mau nemenin kamu, lagian di rumah juga lagi enggak betah, sahut Toni yang terlihat murung. Memangnya kenapa? tanyaku penasaran. “Ya gitu, deh. Biasa suami kakakku ngomong yang enggak-enggak. Aku sadar enggak berguna cuma nyusahin Ibu, bengkel juga dikasih Kakak, tapi ya segini juga aku udah berusaha berubah, enggak kaya dulu yang sering kabur-kaburan, enggak nurut sama orang tua. Aku juga mau bahagiain Ibu, makanya aku berusaha untuk berubah, jelas Toni panjang lebar. Toni memang anak yang bermasalah di keluarga, tetapi ia belum pernah cerita kenapa sampai seperti itu. Mungkin saat masih kecil cuma kenakalan anak-anak pada umumnya. Namun, saat sudah besar sepertinya memang ada masalah yang membuatnya seperti itu. “Sabar, Ton. Namanya juga mau berubah pasti banyak rintangan dan ujiannya. Kalau boleh tahu ada masalah apa sampai kamu begini? Maksudnya sampai kamu enggak mau sekolah, enggak mau ngaji, kabur-kaburan, tanyaku menyelidik. “Nanti sajalah kukasih tahu. Aku malas membahasnya," balasnya. Aku cuma mengangguk, tak ingin memaksa temanku ini untuk bercerita. Kasihan juga kalau memang ada masalah yang membuatnya jadi tak mau sekolah bahkan sampai kabur dari rumah. Pintu sengaja kubiarkan terbuka agar udara malam juga masuk. Sambil menunggu Yusuf, aku dan Toni sibuk dengan ponsel masing-masing. Git, panggil seseorang, yang ternyata Mas Ahmad. Eh, Mas, mau ke mana? tanyaku basa basi. “Mau ke depan cari makan, sahutnya, menyunggingkan senyum. Aku mengangguk dan Mas Ahmad pun berlalu. Kuceritakan tentang Mas Ahmad kepada Toni. Ternyata Toni memang tak tahu. Temanku ini tahunya cuma bengkel saja padahal sudah lama di sini. Televisi kunyalakan, Toni berbaring di kasur sedangkan aku menyender ke pintu. Posisiku tepat berada di ambang pintu. Sudah azan Isya Yusuf belum juga datang. Aku juga tak menghubunginya. Tak berapa lama ada seorang laki-laki yang lewat ke arah depan gang. Aku tak mengenalnya, mungkin hanya orang lewat. Setelah orang itu lewat mungkin baru tiga atau empat langkah, Yusuf tiba di kosanku. “Yus, siapa yang barusan lewat, ya? tanyaku saat Yusuf baru menginjakkan kaki di teras. “Hah, yang lewat mana? Enggak ada yang lewat, Git, jawab Yusuf, wajahnya terlihat bingung. “Masa enggak ada, sih? Orang belum lama, kok, laki-laki lewat kamu datang. Masa enggak ketemu? tanyaku sambil keluar melihat ke gang. Benar yang Yusuf bilang tak ada siapa pun di gang. Lalu laki-laki yang barusan lewat pergi ke mana. Aku langsung membisu, masuk dan menutup pintu. Toni dan Yusuf saling pandang dan menatapku. Kalau manusia pasti ia bertemu dengan Yusuf di gang. Tak mungkin kalau sampai tak bertemu, tetapi Yusuf bilang tak ada siapa pun di gang. Sudah dipastikan yang tadi itu demit. “Emang tadi ada yang lewat, Git? tanya Toni. Iya, sahutku singkat. Tirai jendela pun langsung kututup. Toni menceritakan semua yang sudah kami alami kepada Yusuf. Aku khawatir Yusuf ketakutan dan malah tak jadi menginap. Namun, di luar dugaanku, ia malah tertawa sambil mengejek kami. “Kalian berdua sama demit aja takut, tenang sekarang ada Yusuf. Mereka enggak bakal berani ganggu kita, ujar temanku yang berjenggot tipis ini. Sombongnya, paling ketakutan juga kalau sudah mengalami dan merasakan diganggu. Coba saja kita lihat nanti kalau si demit ganggu. Aku masih kaget dengan kejadian tadi dan masih memikirkan yang lewat tadi. Aku benar-benar jelas melihat laki-laki lewat, tetapi tak ada. “Oh iya, Git, di sini masih ada kosan kosong enggak" tanya Yusuf tiba-tiba. “Ada, tuh sebelah. Memangnya kenapa? tanyaku. “Aku mau pindah ke sini, deh. Di sana airnya susah keluar. Tiap komplain ke yang punya malah ngomel-ngomel, balas Yusuf. Mendengar hal itu, ide langsung muncul di otakku. Daripada Yusuf tinggal di sebelah lebih baik tinggal bersamaku saja. Biarlah ia tak usah bayar untuk tiga bulan ke depan asalkan mau di sini. Yusuf setuju dengan saranku. Aku senang bukan main. Akhirnya, ada teman aku tinggal di sini meskipun Toni tak menginap, tak masalah. Rencananya Yusuf besok atau lusa mau mengangkut barangnya ke sini. Aku tak bisa membantunya karena besok harus kerja kecuali Sabtu dan Minggu. Biar Toni saja yang membantu Yusuf. Kami mengobrol menceritakan malam saat aku dan Toni diganggu habis-habisan. Lagi-lagi Yusuf tertawa mendengarnya. Memang kalau diceritakan kami pun ingin tertawa, berbeda saat sedang mengalaminya. Televisi yang menyala tiba-tiba mati. Kami semua terkejut dan saling pandang. Tak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun. Kami bertiga membisu. Yusuf yang berkoar tadi pun kini diam. Aku ingin tertawa melihat wajahnya yang pucat. Televisi nyala lagi dengan sendirinya. Toni mulai mendekati aku sedangkan Yusuf masih terpaku menyaksikan pemandangan yang sudah biasa aku dan Toni lihat dan rasakan. Tok tok tok. Bunyi pintu yang diketuk membuat kami semakin merapatkan tubuh satu sama lain. “Aagiit, bukaa,” lirih suara seseorang memanggil namaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN