Dilema

1503 Kata
"Iya, memang benar kami putus, dan sekarang sedang mencoba untuk berdamai. Ayo, Indah," ajak Bang Dion. "Apa maksudmu?" Bang Rangga tiba-tiba mengambil kerah baju Dion Victory dan melayangkan pukulan ke wajahnya. Mereka berdua terlibat dalam perkelahian yang sengit, hingga beberapa pria datang untuk melerai mereka. Dion Victory melihat Bang Rangga dengan tatapan penuh kemarahan. "Apa kamu?!" serunya sambil melotot. "Maaf, Dion. Tadi pagi aku melihat dia juga sedang makan bakso dengan Sania Wijaya Kesuma," ujarku sambil menggandeng Dion Victory menjauh dari kerumunan. "Dilihat dari cara bicaranya, dia terlihat sombong. Apakah dia pernah tertarik padamu sampai begitu penasaran?" sahut Dion Victory dengan wajah agak kesal. "Hmmm, iya abang itu dulu tidak berhenti berusaha mendekati ku waktu kami sama-sama co-assistant di satu rumah sakit... Aku juga jujur tidak suka saat bertemu dengannya, tapi semakin kita membenci, malah semakin kita dipertemukan," jawabku mencoba bersikap bijak. "Sudahlah, makanlah dulu. Nanti hilang selera makan kita membahas orang yang tidak penting," kata Dion Victory sambil dengan cepat menyantap udon-nya lupa akan wajahnya yang penuh luka. Tidak sampai 10 menit, mangkuknya sudah bersih, bahkan tidak ada tetes kuah yang tersisa. "Aku heran, kamu mengunyahnya begitu cepat saat makan. Aku masih makan setengahnya, kamu sudah habis semuanya," aku melotot ke arah mangkuknya yang sudah bersih. Bang Rangga makan sambil sesekali melihat ke arah meja kami, itu membuatku merasa tidak nyaman. Dion pun kesal, sehingga dia mendesakku untuk cepat menghabiskan makananku agar kita bisa pergi dari tempat itu. "Ishhhh, dia memang aneh. Kalau suatu hari kamu dan aku tidak berjodoh, jangan sampai kamu berjodoh dengannya," Dion secara tidak sadar menggandeng tanganku. Aku tidak menolak karena berpikir bahwa Dion cukup perhatian padaku. "Ayo, kita pulang. Ibu sudah meminta agar tidak pulang terlambat," ujarku mengajak Dion untuk mengantarku pulang. Dion singgah sebentar ke outlet Chatime dan membelikan minuman kesukaanku, lalu kita mampir ke J.Co untuk membelikan setumpuk donat. "Untuk siapa ini?" tanyaku padanya. "Tentu saja untukmu. Bawa pulang dan bagikan dengan ibumu di rumah. Cukup banyak?" tanyanya lagi. "Ahh, tidak perlu sebanyak ini. Kamu pikir aku sangat rakus sampai bisa menghabiskan selusin donat J.Co ini?" kataku sambil mengambil donat-donat tersebut dari tangannya. Lalu, kita menuju ke parkiran dan berjalan pulang. "Jadi, kita sudah balikan, ya?" tanya Dion sambil tersenyum padaku. "Siapa bilang?" tanyaku sambil menggoda. "Tadi kamu mau aku gandeng tangannya," sahutnya dengan sedikit kesal. "Terus, itu tandanya aku mau balikan?" tanyaku sambil menahan tawa melihat mukanya yang cemberut. "Yahhhh, perlu diservice seperti apa lagi?" tanyanya padaku dengan serius. "Aku hanya bercanda. Ini terakhir kali aku maafkan, jangan ulangi lagi. Oh ya, bulan depan aku akan segera berangkat internsip. Apakah kamu siap menjalin hubungan jarak jauh?" tanyaku padanya. "Nah, gitu dong... Internsip? Di mana?" tanya Dion sambil mencubit pipiku sambil menyetir keluar dari mall. "Iya, internsip kedokteran adalah program kerja sementara yang dilakukan oleh mahasiswa kedokteran setelah menyelesaikan pendidikan dasar di fakultas kedokteran. Program ini bertujuan untuk memberikan pengalaman praktis dan mempersiapkan mahasiswa kedokteran untuk menjadi dokter yang kompeten," jelasku agar dia mengerti. "Di mana?" tanya Dion sekali lagi padaku. "Di Balige. Aku akan internsip selama setahun, 6 bulan di rumah sakit umum daerah dan 6 bulan di puskesmas," ujarku pada Dion yang menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Harus ya? Kalau tidak ikut, bagaimana?" tanya Dion dengan serius. "Ya, kalau tidak internsip, aku tidak akan bisa mendapatkan sertifikat kompetensi untuk praktek di masyarakat nantinya. Lagian, nanti aku akan mendapatkan gaji meskipun sedikit selama setahun yang dibayar per bulan oleh masyarakat," ceritaku. "Jadi, kamu akan pergi selama setahun?" tanya Dion padaku. "Iya... Apakah kamu siap menjalin hubungan jarak jauh?" aku menatap mata Dion yang sedang berpikir keras. "Hmm... Kebetulan," ujarnya tiba-tiba dengan senyuman ceria. "Kebetulan?" tanyaku mulai was-was. "Whattttt..." tanyaku terkejut, tidak menyangka akan mendapatkan jawaban yang abstrak seperti itu. "Iya, ya syukurlah. Ada alasan bagiku untuk pulang ke kampung dan sekaligus mengenalkanmu pada orangtuaku," ujarnya sambil kembali menyalakan mobil dan melaju kencang di jalan. Demi Tuhan, aku tidak pernah membayangkan akan ada hari di mana aku terjebak dalam cinta seperti ini. Setahun bukanlah waktu yang sebentar. Bagaimana jika... bagaimana jika... Pikiranku menjadi kacau memikirkannya. Akhirnya, kami sampai di rumah. Aku turun dengan membawa kotak J.Co tanpa berpamitan dengannya. Pikiranku sudah kosong. Setelah ibu membuka pintu, aku memberikan kotak J.Co tersebut padanya dan langsung masuk ke kamar. Dion berpamitan dengan ibu dan tidak berkomentar mengapa aku tidak pamit dengannya. Mungkin hatinya senang karena akan bertemu denganku selama setahun di Balige. "Indahhh... Ini apa, Nak?" tanya ibu mengetuk pintu kamarku. "Ini dari Dion untuk mama. Aku mau tidur dulu, capek, Ma," jeritku dari dalam kamar. Aku pun mandi dan berganti pakaian tidur, lalu mencoba memejamkan mata. Tidak lama kemudian, ada panggilan masuk dari nomor asing. Setelah berdering sekitar 10 kali, akhirnya aku mengangkatnya. "Halo, Indah. Sudah tidur?" tanya suara di seberang telepon. itu suara bang Rangga Baxtier, dapat darimana dia nomor handphone ku. Rasanya aku ingin menghilang saja dari dunia ini daripada terus berpapasan dengan nya. "Hmmm.. Iya bang.. Kenapa itu bang?" tanya ku menguap "Besok Indah ada waktu? Ada yang mau abang bilang sama Indah. " ujar nya dengan nada serius Haduh apalagi yang mau dibilang nya. Batinku dalam hati. Perasaanku tidak enak dari awal aku jumpa dengan bang Rangga Baxtier waktu makan bakso dengan sania. "Besok Indah sibuk bang.. Mau pergi sama Haga dan Irene sebelum kami berangkat internsip." ujarku asal jawab "Ohh... ya sudah.. Nanti ada waktu kabari ya." ujarnya menutup telepon Tidak berapa lama, datang lagi nomor asing menelpon. "Ya napa itu lagi bang ?" ujar ku mengangkat telepon "Ini aku Steven William.. Abang siapa?" tanya Steven William mantan ku sebelum Dion Victory "Ahhh tidakkk tadi senior menelpon." ujarku lagi berbohong. "Kamu besok sibuk?" tanya nya sama ku Aku bingung menjawab nya kali ini. Tapi aku juga ingin menikmati masa- masa single aku sebelum menikah dan menghadapi kutukan janda yang turun temurun di keluarga ku. "Sore paling. Kenapa?" tanya ku akhirnya setelah berpikir agak lama "Ayo kita berjumpa. Aku sudah berpacaran dengan banyak wanita, tapi tidak pernah kujumpai wanita seperti mu, mereka hanya mau sama uang ku bahkan ada yang bersedia menyerahkan ke hotel bersama ku." ujar Steven William "Terus wanita seperti apa memang nya aku ini? dan apa yang kamu lihat dari aku? katamu aku keras kepala cerewet dan tidak mengerti kemauan mu." ujarku sambil tersenyum "pokoknya besok sore kita ketemu. Sudah ya." Steven William pun mengakhiri telepon nya Aku pun mematikan handphone ku dan menutup mataku dan menghitung domba. Katanya menghitung domba adalah cara paling ampuh untuk bisa tidur. Tapi aku sudah menghitung hingga 100 ekor tapi tidak bisa juga tidur. Akhirnya aku pun mencari obat antihistamin yang berfungsi sebagai obat tidur juga lalu meninum nya, barulah aku bisa tidur denfan nyenyak hingga esok pagi. "Indah... Indah... Indah... bangun, Nak. Ada yang mencarimu," kata ibu sambil mengetuk pintu dan membangunkanku. Akhirnya, aku pun terbangun dan menyalakan handphone-ku. Ternyata sudah jam 10 pagi. Aku melihat banyak pesan masuk dari Irene, Beauty, dan Haga yang mengajakku untuk pergi membeli barang-barang yang akan dibawa saat internsip. "Iya, Bu. Segera, Biar aku mandi dulu dan siap-siap," ujarku sambil menuju kamar mandi untuk mencuci muka, menggosok gigi, dan mandi. "Maaf ya, Haga dan Irene, sudah lama menunggu?" tanyaku pada mereka setelah berpakaian dan keluar dari kamar. "Ahh, baru 30 menit kok. Ayo, kita pergi mencari barang yang akan kita bawa saat merantau," ujar Irene dengan antusias. "Sarapan dulu, Nak," kata ibu sambil menyuruh Haga, Irene, dan aku untuk sarapan terlebih dahulu. Kami pun duduk di meja makan dan menikmati sarapan berempat. "Kalian sudah mendapatkan tempat tinggal di Balige nanti?" tanya ibu. "Kami mendapatkan rumah dinas, Bu. Kebetulan kami juga akan internsip di Balige bersama dengan mahasiswa kedokteran dari kampus lain," ujarku sambil menyantap nasi gurih buatan ibu yang lezat rasanya. "Baiklah, semoga kalian baik-baik di kota orang. Jaga sikap, jaga bicara, saling mengalah, dan jangan membuat masalah," pesan ibu kepada kami bertiga. "Ya, siap, Ibu," ujar Irene meniru perkataan polisi sambil memperagakan hormat polisi kepada atasan. Kami semua tertawa melihat tingkah Irene yang menggemaskan. Setelah kami selesai makan, Haga menyalakan mobilnya dan kami berangkat ke Petisah untuk mencari baju yang akan kami bawa saat merantau. Haga membeli tiga setel pakaian dan selusin tanktop, Irene membeli dua setel pakaian dan selusin celana dalam, sedangkan aku membeli tiga setel pakaian. Setelah itu, kami makan mie pecal di luar Petisah. Handphoneku terus berdering, Haga dan Irene menyuruhku untuk mengangkatnya. Aku melihat ke layar handphone, itu dari bang rangga, aku mengabaikan dan melanjutkan makan mie pecal ku. "Dari siapa sebenarnya sampai Indah tidak mau mengangkatnya?" tanya Haga padaku tanpa banyak memperdulikan, sambil santai menikmati mie pecalnya. "Tidak penting," jawabku sambil meminum es dawetku. "Indah... Indah... itu..." ujar Irene sambil menyenggol kakiku di bawah meja. "Indah.." ujar haga pelan dengan tersenyum paksa "Sombong ya, Indah? Tidak mau mengangkat telepon dari abang," ujar Bang Rangga yang sudah berdiri di belakangku. Haga dan Irene hanya tersenyum pada Bang Rangga. "Aku tidak ingin berbicara dengannya," jawabku dengan suara rendah, mencoba menghindari tatapan mereka. Bang Rangga Baxtier menatapku dengan sedikit kekecewaan. "Indah, aku hanya ingin berbicara denganmu. Ada hal penting yang perlu aku sampaikan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN