Kediaman Wijaya
"Dis.... Dis.... Dis.... " Teriak Syina dari arah dapur.
Syina teriak dari arah dalur menuju ke ruang tengah.
"Ada apa sih nak teriak - teriak?" Tanya papa kepada anaknya Syina.
"Hehehe ini pah mau tanya sama Gadis. Tadi kamu di antar Leon Leon itu dis?" Tanya Syina penasaran, saat ini Syina berdiri di depan kakaknya Arkan.
Gadis lantas tidak langsung membalas pertanyaan Syina, Gadis melihat terlebih dahulu ke arah Arkan dna Arkan menatapnya penuh selidik dan wajah datarnya.
Gadis kemudian mengangguk menjawab pertanyaan Gadis. Arkan yang melihat itu semakin cemburu bisa - bisanya Gadis diantar cowok lain tanpa bilang dia.
"Dis Leon kan ganteng Dis bule banget wajahnya tipe lo juga kan Dis." Ucap Syina kompor.
Mama Jessica yang melihat raut wajah Arkan kemudian membantu Gadis agar tidak kena amuk Arkan.
"Kak Arkan juga bule tuh mukanya cakep banget anak mama ini." Ucap mama Jessica membela anaknya dan Gadis.
"Ckkk beda mah, bosen kali ya Dis lihat muka kak Arkan datar." Ucap Syina minta persetujuan dari Gadis tetapi Gadis menjawab dengan gelengan kepala.
Arkan yang sudah diliputi rasa cemburu kini mulai tidak nyaman dengan obrolan topik yang Syina buat. Arkan berjalan menuju kamarnya untuk menenangkan diri.
"Jangan suka goda kakakmu Syina." Nasihat nenek kepada Syina saat melihat Arkan pergi begitu saja tentu sang nenek tahu penyebabnya.
Gadis yang melihat hal itu meringis dan pusing memikirkan bagaimana cara meminta maaf dan menjelaskan kepada Arkan.
Syina mengajak Gadis ke dapur, di dapur telah banyak bahan - bahan yang akan dibuat untuk brownies dan bolu. Brownies atas permintaan Syina dan Syina, sedangkan bolu untuk Arkan karena ini kesukaannya maka Gadis akan membuat bolu spesial sedangkan para orang tua ingin bika ambon. Gadis akan membuat kue dengan ekstra.
Gadis mulai mengajari Syina dan Syila untuk menakar berat bahan yang akan di gunakan. Gadis juga memberitahu langkah - langkah selanjutnya dalam membuat brownies.
Setelah Gadis memberikan instruksi kepada keduanya kini gadis mulai membuat bolu
lapis Surabaya. Lapis Surabaya dimana bolu ini juga termasuk jenis kue tradisional Indonesia dari jenis sponge cake alias bolu yang juga sangat terkenal. Bolu lapis surabaya ini biasanya memiliki tiga lapisan.
Tiga lapisan tersebut umumnya berwarna kuning, cokelat, lalu kuning lagi yang pastinya sangat mudah dikenali. Nah untuk membuatnya, adonan terigu mentega dan telur akan dipanggang dalam tiga loyang berbeda. Nantinya ketiga lapisan bolu tersebut akan direkatkan dengan selai baik selai buah, mocca, atau cokelat.
Gadis kini telah menyelesaikan membuat bolu lapis surabaya kesukaan Arkan. Gadis menaruh bolu tersebut di tempat yang aman dari jangkauan Syina. Setelah Gadis membuat bolu kini dia membuat kue bika ambon. Syina tadi membeli bahan jadi bika ambon Gadis tinggal mengikuti instruksi di kardusnya. Setelah lama menunggu bika ambon kini kue sudah jadi semuanya dan dihidangkan di ruang tengah.
"Wahhhh dah jadi tinggal nunggu kak Edward sama kak Nino nih." Jelas Syina antusias.
"Iyaa sayang iya. Gadis bawain bolunya untuk Arkan ke kamarnya ya. Takutnya dia masih badmood." Jelas mama Jessica yang melihat raut wajah Gadis yang sedari tadi gelisah.
"Iya tante." Jawab Gadis.
"Mulai sekarang jangan panggil tante panggil mama sama papa ya sayang." Jelas mama Jessica dan dijawab anggukan kepala oleh Gadis.
Gadis menuju lantai 3 rumah ini, Gadis menggunakan lift yang tersedia. Gadis sudah sampai di depan pintu Arkan, Gadis mulai mengetuk pintu Arkan.
Tokk...
Tokk...
Tokk...
"Kak Arkan ini Gadis tolong buka pintunya ya." Gadis meminta kepada Srkan agar dibukakan pintu, suara Gadis juga selembut mungkin.
2...3...4...5 detik tidak ada sahutan maupun tanda- tanda pintu akan di buka. Gadis kemudian berbalik menuju lantai 2 tapi sebelumnya Gadis berbicara kepada Arkan.
"Kalau begitu aku turun lagi ya kak, aku taruh bolu khusus untuk kakak di bawah. Maaf ya kak." Ucap Gadis putus asa.
Sebelum Gadis masuk lift terdengar bunyi pintu di buka, Gadis menoleh dan tersenyum. Arkan mendekat kepada Gadis dan memegang tangan Gadis untuk dibawa masuk ke dalam kamar.
"Kamu harus dihukum karena bandel engga bilang ke aku kalau diantar cowok." Ucap Arkan dengan wajah yang serius.
"Emang mau dihukum apa sama kakak? lari di halaman rumah?" Tanya Gadis sambil bercanda.
Arkan yang mendengarkan jawaban Gadis mendengus saat ini Arkan tidak ingin bercanda karena ia masih kesal dengan Gadis.
Gadis yang melihat Arkan masih kesal dan marah kepadanya hanya bisa menghela nafas. Gadis ingin memeluk Arkan dan meminta maaf tetapi untuk memeluk Arkan Gadis masih canggung dan takut Arkan risih kepada.
Saat keduanya dalam keadaan hening tiba - tiba mongmong datang menuju Gadis dan melompat kepangkuan Gadis.Mongmong tadi sedang tiduran di dekat sofa yang ada di kamar Arkan, sedangkan Arkan kini sedang tiduran menyender penyangga tempat tidur dengan Gadis di depannya.
"Owwww gemasnya anak mama." Ucap Gadis sambil memeluk mongmong yang sedang menggusel - gusel Gadis.
"Kamu tahu mongmong papa sedang marah sama mama, mama dicuekin sama papa padahal mama sudah buatin papa bolu kesukaannya." Adu Gadis kepada mongmong dan dijawab mongmong dengan gonggongngannya.
Arkan yang melihat interaksi antara mongmong dan Gadis sangat gemas, tetapi Arkan masih bersikukuh tetap cuek dengan wajah datarnya. Arkan ingin sekali memeluk Gadis saat Arkan mendengar Gadis memanggilnya dengan sebutan papa.
"Ya sudah ayo kita ke bawah mongmong, kita main sama yang lain saja ya." Ajak Gadis kepada mongmong.
Akhirnya Gadis dan mongmong keluar dari kamar Arkan, Arkan tidak ingin menahan Gadis karena ia masih kesal, marah dan cemburu. Gadis keluar kamar Arkan dengan wajah sedih.
"Papa masa marah sama Gadis mongmongg padahal baru beberapa hari jadian. Semoga papa mongmong suka ya dengan bolu buatan aku. Ahh sekarang kamu harus memanggil Gados dengan sebutan mama, ok." Gadis berbicara dengan mongmong saat berada di lift.
Setelah kepergian Gadis Arkan menghelas nafas sedih karena Gadis tidak mencoba menjelaskan kepadanya tentang Leon. Arkan melihat bolu yang dibuat Gadis kemudian mengambilnya dan memakannya, cita rasa bolu buatan Gadis sangat disukai Arkan, memakan bolu buatan Gadis membuat mood Arkan lebih baik.
Saat bunyi dentingan pintu lift terbuka, semua anggota keluarga yang berada di ruang tengah menoleh ke arah lift dan keluarlah Gadis dan anjing kesayangan Arkan. Mereka yang disitu melihat Gadis datang hanya dengan mongmong sudah menduga bahwa Arkan sedang marah, ya Syina, Syila, Nino dan Edward sudah tahu bahwa Arkan dan Gadis sudah menjalin hubungan terlihat dari gerak - gerik keduanya.
"Sini - sini gabung sayang." Nenek Lia memanggil Gadis agar ia bergabung.
"Sedang marah ya Arkannya?" Tanya Syila kepada Gadis dan dijawab dengan anggukan kepala.
"Sudah biarin nanti juga baikan sendiri." Ucap papa Arka menenanggkan Gadis.
"Oh ya Dis baju batik gue gimana, mau nyoba nih." Edward kemudian mengubah topik pembicaraan.
"Oh iya kamu belum nyoba ya, apa mau sekarang? kalau mau sekarang aku bisa nyuruh karyawanku ngambil bajunya." Tawar Gadis kepada Edward.
"Boleh dong sekalian mumpung ada lo disini jadi enak deh kalau mau rubah ukuran." Jawab Edward.
"Ok aku hubungin ya, sekalian nenek sama mama papa bisa fitting ulang ya." Tawar Gadis dan di iyakan oleh mereka.
Setelah menunggu mereka sekarang fitting baju, Rara yang mengantarkan tadi langsung pamitan tidak bisa menemani Gadis karena sudah ada janji dan Gadis memakluminya karena ini bukan hari kerja.
"Gimana nek ada yang buat nenek kurang nyaman?" Tanya Gadis kepada nenek yang sedang mencoba rok jariknya.
"Nenek mau dibagian pinggnagnya dilonggarin dikit ya sayang." Jelas nenek kepada Gadis dan Gadis langsung mengukur pinggang nenek dan mencatat ukuran nenek.
Saat semua sedang sibuk fitting kini Arkan keluar dari lift, Arkan melihat Gadis sedang mengukur neneknya. Arkan yang melihat mongmong selalu mengikuti gerak Gadis langsung memanggilnya dan mongmong tidak mendekat kepada Arkan dan tetap mengikuti di sebelah kaki Gadis.
"Emang enak di cuekin balik sama mongmong." Goda Syina dan tentu Arkan membalas dengan mengepiting kepala Syina.
"Kakak kakak sakit tahu, mama ma ini kak Arkan ma." Teriak Syina sambil memukul lengan Arkan.
"Arkan adiknya kesakitan lepas dong." Mama menegur Arkan tetapi Arkan tidak menggubrisnya.
"Yaudah Dis biarin Arkan nyoba bajunya sendiri engga usah diurusin. Anak bandel gitu, jangan mau ya Dis sama Arkan emosian." Ancam mama kepada Arkan tetapi yang diajak berbicara yaitu Gadis. Arkan yang mendengar ancaman sang maam langsung melepaskan Syina.
"Dasar ancamannya." Gerutu Arkan yang di tertawakan oleh papa dan kakaknya.
Nino dan Edward sudah biasa dengan situasi ini sehingga mereka memilih untuk diam dan melihat saja.
****
Arkan kini mengajak Gadis kembali ke kamarnya, setelah fitting Arkan membawa Gadis dan mongmong ke kamarnya untuk meminta penjelasan Gadis tentang Leon.
Sampai di dalam kamar Arkan memeluk Gadis dari belang, kepala Arkan berada di leher Gadis. Gadis tentu geli tetapi ia juga menikmati saat Arkan manja kepadanya.
"Kalau pacar sedang marah itu di peluk atau di cium bukan ditinggalin." Arkan memulai pembicaraan kepada Gadis.
cupp
Gadis kemudian mencium pipi Arkan tetapi tidak lama.
"Kurang lama sayang, dan bukan di pipi tapi di bibir." Bisik Arkan kepada Gadis.
"Dasar kakak mesum." Gadis memukul tangan Arkan yang memeluk pinggangnya, Gadis tersipu mendengar jawaban dari Arkan.
"Aku masih canggung kak untuk memeluk kakak terlebih dahulu. Aku juga merasa takut kakak risih." Jelas Gadis memberi pengertian kepada Arkan.
"Hei sayang sekarang kamu engga usah canggung lagi ya aku milik kamu dan kamu milik aku dan satu lagi kamu harus memanggil aku sayang juga." Ucap Arkan.
"Hmmm boleh engga aku panggil kakak aja, soalnya aku malu manggil sayang." Jelas Gadis kepada Arkan.
"Biasakan ya manggil sayang atau kita saling memanggil mama papa kaya mongmong." Goda Arkan yang dihadiahi Gadis cubitan.
"Jelasin dong tentang kamu yang bisa diantar ke sini sama Leon itu." Pinta Arkan kepada gadisnya.
"Jadi.... "