BAB 9

1173 Kata
"Yang anak butuhkan dari orangtua bukan hartanya, bukan kekayaan, ataupun warisan. Tetapi mereka butuh kasih sayang yang tulus." ***** Pagi-pagi sekali Edel terbangun dari tidurnya. Kakinya terasa ngilu. Begitu juga dengan tangannya. Rasa nyeri yang amat sangat sakit menyerang tubuhnya. Belum pernah sebelumnya dia begini, rasa sakitnya begitu hebat. Edel menggeram di kamar. Bahkan rasa sakitnya melebihi rasa sakit di pinggangnya kemarin. Rasanya seperti ditusuk-tusuk menggunakan jarum es. Ditambah udara pagi ini yang cukup dingin karena semalam bumi telah diguyur hujan. Edel berusaha turun dari tempat tidurnya untuk mencari kotak P3K. Biasanya di situ ada obat-obatan untuk pegal-pegal mamanya. Mungkin saja kali ini dia juga pegal-pegal seperti mamanya. Mungkin juga karena aktivitasnya kemarin lumayan padat. Dia baru pulang dari sekolah sekitar jam 23.00 karena pentas sekolah selesai pada jam itu. Baru saja kakinya menempel lantai, rasa dingin yang luar biasa menusuk-nusuk dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Edel terpaksa mengangkat kembali kakinya ke kasur. Mencoba mencari kaus kaki barangkali terselip di bawah selimut. "Mana sih kaus kaki gue? Mana dingin banget." Terpaksa Edel membungkus kaki dan badannya menggunakan selimut tebalnya. Meskipun sulit untuk digunakan jalan, Edel berusaha keluar kamar. Walaupun kaki dan tangannya masih sakit karena kedinginan, Edel bersikeras menuruni tangga. Gadis itu berjalan ke dapur karena di sanalah tempat kotak P3K diletakkan. Badan Edel sudah membiru kedinginan. Buku-buku kukunya sudah memutih. Saking eratnya dia menggenggam selimut sampai tangannya memerah. Semua terasa berputar, Edel tidak bisa melihat lebih jelas lagi. Belum sempat tangannya meraih kotak obat yang tinggal beberapa centi di atas lemari, Edel jatuh pingsan. Gelas yang berisi air di atas meja dapur jatuh dan menimbulkan suara nyaring. Air di dalamnya ikut tumpah bersamaan dengan jatuhnya Edel. Dirumahnya tidak ada siapa-siapa. Bi Ima, pembantu di rumah ini baru akan datang jam 07.00 pagi. Sedangkan pak satpam mungkin masih istrirahat di pos depan rumah. Wajah Edel semakin pucat, dia belum juga sadar. Selimut yang digunakannya tadi perlahan terlepas. Sekarang lantai rumah sudah sempurna menyentuh tubuh Edel. Di dalam hatinya Edel berharap agar segera ada orang yang datang dan memindahkannya ke tempat yang lebih hangat. ***** Bi Ima yang baru saja tiba di dapur langsung meletakkan tas belanjanya begitu saja. Dia tidak peduli belanjaan tersebut akan tercecer ke lantai. Melihat Edel pingsan di dapur, membuat bi Ima syok berat. Selama bi Ima bekerja di sini. Belum pernah dia melihat Edel pingsan ataupun mengeluh sakit. Kemarin juga Edel masih terlihat baik-baik saja meski tidak keluar kamar untuk makan siang. Satu pemikiran terlintas di kepala bi Ima. Apa mungkin karena tidak makan kemarin sekarang jadi pingsan begini? Bi Ima segera memanggil pak satpam untuk membawa Edel ke atas. Tak lupa bi Ima juga menghubungi kedua orangtua Edel. Sedangkan Revan sudah izin kalau beberapa hari ini dia ingin mempersiapkan pernikahannya. Kemungkinan tidak akan bisa dihubungi. "Halo nyonya. Non Edel pingsan. Tadi saya waktu baru ke dapur non Edel sudah tergeletak di bawah." "Bagaimana bisa? Apa kamu tidak menjaga Edel? Anak itu pasti hhhhh ... Saya akan segera pulang bersama tuan." Bi Ima ingin meneruskan penuturannya. Tapi lebih dulu mama Edel menutup teleponnya. Hanya harap-harap cemas yang bisa dilakukan bi Ima. Meskipun Edel bukan anaknya sendiri. Tapi baginya, Edel adalah seorang anak yang sangat menurut dan berbakti kepada orang tuanya. Tidak sekalipun dia membantah perintah mama atau papanya. Apa mungkin ada masalah lain yang dipendam anak itu? ***** Matahari sudah berada tepat diatas kepala dan kedua orang tuanya belum pulang juga. Edel hanya berpikir kalau mereka hanya berniat pulang, dan tidak benar-benar melakukannya. Dia sudah sadar sejak pukul 09.00 pagi. Badannya masih agak lemas, tapi Edel tidak mau dibawa ke dokter dengan alasan dia hanya butuh istirahat. Sesibuk itukah orangtuanya sampai-sampai harus mengabaikan anaknya sendiri? Edel sebenarnya tidak mau mengungkit-ungkit hal ini. Tapi setidaknya di saat seperti ini mereka bisa pulang sebentar untuk melihat kondisinya. Terkadang membayangkannya membuat Edel tersenyum miris. Sebuah keluarga yang selalu terlihat bahagia dari luar tanpa pernah ada keretakan sekalipun ternyata menyimpan sejuta kesedihan di dalamnya. Tidak ada yang namanya keluarga sempurna. Entah anak yang tidak bisa diatur atau memang orang tua yang terlalu sibuk. Sekarang Edel sedang berada pada posisi yang kedua. Dulu sebelum sibuk, kakaknya Revan mau menemaninya untuk sekadar main keluar atau menonton anime, tapi sekarang keadaan sudah berbeda. 'Kak sekarang ada dimana? Masih sibuk sama mbak Yuna?' Tak lama setelah Edel mengirimkan pesan singkat tersebut Revan membalasnya. 'Sebentar lagi kakak sudah mau pulang. Kamu mau oleh-oleh apa? Apa mau kakak belikan lagi film-film terbaru dari kartun kesukaanmu itu atau novel lagi?' Edel juga penyuka anime tapi tidak terlalu parah. Edel paling suka dengan doraemon. Karakter, moral, serta animasi-animasi yang luar biasa telah berhasil membius Edel. Edel jatuh cinta kepada kartun keluaran Negara Jepang itu. Selain yang pertama dia telah dibuat jatuh cinta kepada hujan. Kedua ini dia dibuat jatuh cinta dengan film Doraemon. Yang ketiga nanti Edel masih belum tahu apa yang akan membuatnya kembali jatuh cinta. Edel tersenyum sendiri membaca balasan dari kakaknya itu. Mamanya saja tidak pernah menanyakan perihal keinginannya. Apa-apa sudah diatur. Jika saja punya keinginan untuk membeli sesuatu seperti novel yang berjejer di rak bukunya saat ini, Edel harus menggunakan uangnya sendiri. Dia tidak mau membuat repot kedua orang tuanya. Meskipun sebenarnya hal itu kecil bagi mereka. 'Kakak sudah pulang saja Edel bahagia sekali. Edel sendirian di rumah. Kalau kakak memaksa tidak apa jika mau membelikan novel terbaru atau boneka lagi mungkin?' Aneh memang. Tapi itulah Edel. Tidak suka berbasa-basi. Tapi juga tidak mau langsung menerima pemberian orang lain tanpa berbasa-basi. "Edel kamu di kamar nak? Mama baru bisa pulang. Tadi ada meeting sebentar dengan klien." 'Seharusnya tidak usah memperdulikan aku Ma, pekerjaanmu kan jauh lebih penting'. Sayangnya Edel hanya bisa menyimpan rapat-rapat kata itu dalam hatinya. Tidak tega juga melontarkan kata tidak pantas seperti itu ke mamanya. Edel memperlihatkan senyumnya di depan mamanya. Terkadang tidak semua anak senang dengan perlakuan orang tuanya. Memang sebagian besar orangtua selalu menekan anaknya agar bisa sempurna. Tujuan mereka tidak salah, hanya saja terkadang itu menimbulkan beban tersendiri untuk sang anak. Tetapi, selama kamu masih hidup di dunia ini tidak akan pernah kamu temui kesempurnaan. Malah kamu akan menemui kehancuran jika terus mencari kesempurnaan. Mungkin selama ini hanya cinta seorang ibu kepada anaknya yang bisa dikatakan sempurna. Tidak akan pernah berkurang terkikis waktu. Dan tidak akan terpengaruh gelombang usia. Selang beberapa menit setelah mamanya datang, Revan pulang sendirian tanpa Yuna. Dia langsung menghampiri kamar Edel karena mendapat info dari pak satpam kalau Edel baru saja pingsan. Pikiran Revan tak keruan saat ini. Baru beberapa saat tadi dia sms-an sama Edel. Dan baru pula dia mendapat kabar kalau Edel pingsan. Revan kalut dan langsung memeluk adiknya begitu erat. "Del kamu nggak papa? Apa ada yang sakit? Periksa ke dokter ya." Revan mendakup pipi Edel menggunakan kedua telapak tangannya. "Nggak usah kak. Edel udah mendingan, nggak ada yang sakit. Tadi palingan cuma kecapekan." "Kalau menduga saja tidak akan bisa mendapatkan kebenarannya. Pokoknya kamu ikut kakak." "Kak." Edel merengek, merayu kakaknya agar tidak diajak ke dokter. Jujur, dia sama sekali tidak mau berurusan lagi dengan ruangan putih besar yang penuh obat-obatan itu. Tapi yang namanya Revan tidak akan puas jika keinginannya belum terpenuhi. Revan meggendong Edel menuju mobilnya. Mamanya juga ikut tapi masih dengan ponsel yang setia menempel di telinganya. Mamanya memang di sini, tapi pikirannya melayang entah kemana. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN