Kutatap sekali lagi ruangan yang telah empat tahun kutempati bersama Mas Adam. Hatiku remuk redam. Rasa sakitnya begitu dalam. Air mataku kembali merebak. Kutenteng tas berisi barang-barang pribadi yang jumlahnya tak seberapa, berikut pakaian Aby. Keputusanku sudah bulat, aku akan berpisah dengan sosok yang telah mengisi hatiku sekaligus mengkhianatiku. “Dek,” panggil Mas Adam. Rupanya ia menanti di luar kamar. Aku melengos, tak kuasa menatap wajahnya tanpa merasakan sakit di dalam sana. “Begini kamu mencari seorag istri, Dam? Bukannya menyelesaikan masalah baik-baik, malah kabur dengan selingkuhannya. Sekarang mau kabur lagi, he?” Ibu mertua meneriakiku. Telunjuknya menudingku. Namun, aku sama sekali tidak berniat untuk membalasnya. Ucapannya tak lagi menyakiti hatiku, putranya telah

